Lihat Aku Seorang

Lihat Aku Seorang
PERGI!


__ADS_3

Bimo bersalaman dengan Sandra saat sang istri mengenalkan perempuan itu padanya. Wanita pujaannya Bagas memang sangat cantik, tidak heran jika pria itu begitu tergila-gila pada jandanya Sean Ibrahim itu.


Wanita itu bahkan masih terlihat seperti gadis kuliahan yang baru berusia belasan tahun.


"Pantas saja Bagas hampir gila karena dia," bisik Bimo pada istrinya yang langsung diangguki oleh Anisa.


"Sebaiknya kita duduk di sana." Bimo menuntun istrinya dan mempersilakan Sandra untuk duduk di kursi tunggu pasien.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Bagas bisa seperti ini?" Sandra menatap pria yang ternyata adalah suami dari Anisa.


Bimo menatap Sandra. Rasanya, ia ingin sekali menyalahkan wanita di depannya itu karena kecelakaan yang terjadi pada Bagas. Namun, itu tidak mungkin.


Biar bagaimanapun, Bagas pergi karena dia sangat marah dengan tingkah laku Shena yang telah mengancam akan melakukan kejahatan pada Sandra.


Akan tetapi, seandainya saja Sandra memberikan kepastian pada Bagas dan tidak membuat pria itu galau dan patah hati, Bagas saat ini pasti masih baik-baik saja.


Bagas tidak akan memutuskan untuk berlibur seandainya saja Sandra tidak membuat laki-laki itu patah hati.


"Gara-gara patah hati, Bagas memilih berlibur untuk menenangkan diri," ucap Bimo membuat Sandra mendongak ke arahnya.


"Tapi, karena aku tidak mau dia semakin tenggelam dalam kesedihan, aku terus memberinya pekerjaan." Bimo kembali memindai wajah cantik Sandra. Sedangkan Anisa, memegang erat lengan Bimo, memberi kode pada suaminya agar tidak meluapkan emosinya pada Sandra.


Sandra tidak tahu apa-apa. Meskipun awalnya Bagas pergi karena patah hati yang disebabkan oleh perempuan itu, tetapi, yang menyebabkan pikiran Bagas kacau hingga menyebabkan pria itu mengalami kecelakaan adalah Shena.


Gadis itu yang seharusnya bertanggung jawab atas kejadian yang menimpa Bagas saat ini.


"Pria itu sedang banyak masalah. Keluarganya memaksa dia untuk menikah dengan wanita pilihan ibunya. Hari ini, ibunya memaksa dia pulang karena besok adalah acara lamaran. Keluarga Bagas sudah berjanji akan melamar gadis itu besok karena itu, ibunya memaksa pulang hari ini," jelas Bagas lagi, saat melihat Sandra masih terdiam.

__ADS_1


"Bagas melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi karena dia ingin segera bertemu dengan gadis yang akan dilamarnya besok." Bimo kembali melanjutkan ucapannya.


Sementara itu, Sandra langsung menunduk saat rasa sakit menjalar ke ruang hatinya mendengar ucapan Bimo.


"Perempuan bernama Shena itu mengancam Bagas. Shena akan melukaimu seandainya Bagas tidak mau memenuhi keinginan dia."


"Apa?" Kedua mata Sandra membola.


"Apa maksudmu dia mengancam Bagas?" Sandra mendekati pria bernama Bimo yang mengaku sebagai asisten Bagas sekaligus suami dari Anisa. Kedua matanya menatap tajam ke arah pria itu.


"Shena mengancam Bagas akan melukaimu jika Bagas tidak melamarnya besok."


Kedua mata Sandra kembali membola. Ia tidak menyangka kalau gadis itu begitu licik. Mengancam Bagas hanya karena ambisinya.


"Brengsek!" umpat Sandra dalam hati. Kedua tangannya mengepal.


"Bagas membawa mobil dengan kecepatan tinggi karena ingin segera menemui Shena. Bagas tidak mau terjadi apa-apa sama kamu."


"Bimo!" Suara seorang perempuan terdengar memanggil Bimo.


Bimo dan istrinya juga Sandra menoleh ke arah suara. Di sana, terlihat Liana dan Bimantara berjalan tergesa mendekati mereka. Di belakang sepasang suami istri itu terlihat beberapa orang mengawal mereka.


"Bagaimana keadaan putraku?" Liana menatap Bimo dengan wajah panik.


"Saya masih menunggu dokter yang saat ini sedang memeriksanya, Nyonya," jawab Bimo sambil menundukkan kepalanya.


"Ceritakan padaku apa yang terjadi. Kenapa Bagas bisa ceroboh seperti itu hingga mengalami kecelakaan?" Bimantara menatap Bimo dengan tajam.

__ADS_1


"Sewaktu saya sampai di Bandara untuk menjemputnya, tuan muda merebut kunci mobil saya kemudian meninggalkan saya di Bandara. Saat saya menyusul menggunakan taksi, di tengah perjalanan saya melihat mobilnya mengalami kecelakaan." Bimo menundukkan kepalanya.


"Maafkan saya, Tuan."


Liana memeluk Bintara sambil menangis. Wanita itu teringat bagaimana dirinya mengancam Bagas untuk segera pulang.


"Ini salahku. Harusnya aku tidak memaksanya pulang." Liana kembali menangis. Pandangannya beralih pada dua perempuan di samping Bimo.


Liana tahu, salah satu di antara mereka adalah istrinya Bimo, Anisa.


"Sandra, kamu di sini?" Liana menatap wajah Sandra yang terlihat khawatir.


"Iya, Tante. Anisa memberitahu saya kabar kecelakaan yang menimpa Bagas." Bibir Sandra bergetar.


"Untuk apa kamu datang ke sini? Seharusnya kamu senang bukan? Kalau bukan karena dirimu, Bagas tidak akan pergi ke Bali untuk menenangkan diri."


"Tante–"


"Sebenarnya apa kurangnya Bagas di matamu? Kenapa kamu tidak pernah melihat dia? Seandainya kamu memang tidak mencintainya, seharusnya kamu tidak memberinya harapan!" Liana menatap Sandra dengan tajam.


Perempuan itu sangat tahu bagaimana putranya begitu mencintai perempuan itu selama bertahun-tahun.


"Sebaiknya kamu pergi, Sandra. Saya tidak mau Bagas semakin sakit saat melihatmu."


"Tante–"


"Pergi dari sini, Sandra. Pergi!"

__ADS_1


BERSAMBUNG ....



__ADS_2