Lihat Aku Seorang

Lihat Aku Seorang
DIA TRAUMA


__ADS_3

Bagas menemui Anisa dan Bimo di apartemennya. Bimo baru saja sampai di Paris setelah menghabiskan waktu enam belas jam perjalanan.


Laki-laki itu terlihat lelah. Namun, saat ia melihat sang bos tahu-tahu sudah berdiri di depan pintu apartemennya, terpaksa lelaki itu membukakan pintu untuknya.


Bagas menatap datar ke arah Bimo. Sementara Bimo memberikan senyuman manis untuknya. Anisa yang baru saja selesai masak merasa sedikit terkejut melihat siapa yang datang.


Akan tetapi, detik berikutnya, raut terkejut itu berubah menjadi kesal. Melihat Bagas membuat Anisa merasa kesal karena mengingat kejadian di pusat perbelanjaan beberapa jam yang lalu.


Menyebalkan! Kenapa pria itu datang kemari? Mengganggu saja.


Bagas duduk di atas sofa diikuti oleh sepasang suami istri itu. Laki-laki itu duduk di depan Anisa dan Bimo. Matanya tajam seolah menguliti mereka berdua.


Bimo menarik napas panjang.


"Aku lelah ingin beristirahat. Kenapa kamu malah menggangguku? Apa kamu tahu, saat ini aku sangat ingin sekali bercinta dengan istriku." Bimo menatap kesal ke arah sahabat sekaligus bosnya itu.


Bagas mendengus kesal. Sementara itu, wajah Anisa merah padam mendengar kejujuran suaminya. Beberapa menit yang lalu, mereka memang sudah bersiap melakukan ritual suami istri.


Namun, sayangnya bos tidak tahu diri itu keburu datang. Kenapa dia tidak sabar menunggu hari esok?


Dasar bos tidak pengertian!


Bimo menggerutu dalam hati. Begitupun Anisa. Namun, meskipun begitu, wanita cantik itu tetap bersikap tenang.


Bagas menatap Anisa. Lelaki itu terlihat kesal saat mengingat kejadian beberapa saat yang lalu.

__ADS_1


"Kamu. Kenapa sikapmu tadi sangat berlebihan padaku? Seharusnya kamu membantuku agar bisa berbicara dengan Sandra bukannya malah memarahiku dan menyuruhku untuk menjauh darinya!" Bagas tersulut emosi melihat wajah Anisa yang terlihat tenang tanpa ekspresi.


"Salah sendiri nggak sabaran!" celetuk Anisa asal.


"Kamu–"


"Kamu membuat Sandra ketakutan. Gara-gara kamu, wanita itu menangis terus sampai saat aku pulang tadi," potong Anisa. Netranya menatap tajam ke arah Bagas.


"Dia terus menangis?" Bagas sungguh terkejut. Wajah kesalnya berubah khawatir.


"Bukan hanya itu, gara-gara kedatangan kamu, Sandra memutuskan untuk pulang ke Indonesia dan meninggalkan mimpinya di sini," jelas Anisa. Wanita itu menghela napas panjang, kemudian merebahkan kepalanya pada bahu suaminya.


Bimo yang mengerti kalau istrinya saat ini sedang gundah, merangkul pundak wanita yang sangat dicintainya dan sangat dirindukannya itu masuk ke dalam pelukannya.


"Aku menyayangi dia. Aku tidak ingin kehilangan dia. Apa kamu tahu, bagaimana khawatirnya aku saat melihatnya begitu ketakutan? Tubuhnya bahkan bergetar saking takutnya ketemu sama dia." Anisa masuk ke dalam pelukan suaminya.


Sementara Bagas terlihat merasa bersalah mendengar ucapan Anisa. Apalagi, saat melihat Anisa menangis karena mengkhawatirkan Sandra.


Benar kata Bimo, istri dari temannya itu begitu menyayangi Sandra. Perempuan itu tidak membiarkan siapapun menyakiti model cantik itu.


"Aku harap, untuk sementara waktu, kamu jangan mengganggunya dulu." Kata-kata yang keluar dari mulut Anisa membuat Bagas menatap ke arah wanita itu


tidak suka.


"Apa kamu gila? Dua tahun aku menunggu saat ini, dan sekarang kamu memintaku untuk tidak menemuinya?" Bagas berteriak gusar.

__ADS_1


"Bukan begitu, Pak Bagas yang terhormat, bukan tidak boleh menemuinya. Aku hanya ingin kamu lebih bersabar sebentar lagi. Kamu nggak lihat bagaimana Sandra tadi? Dia ketakutan. Dia trauma! Ngerti nggak sih, TRA–U–MA!" Anisa juga ikut berteriak kesal.


"Sayang–"


"Biar saja dia marah! Jangan mentang-mentang dia itu bos kita terus bisa seenaknya saja sama kita!" Anisa menatap Bagas yang juga terlihat marah.


Bimo mengembuskan napas panjang. Laki-laki itu mendekap tubuh Anisa untuk meredam emosinya.


"Aku hanya merasa kasihan sama Sandra. Aku takut terjadi apa-apa sama dia. Aku berencana mengajaknya ke psikiater," ucap Anisa setelah dirinya merasa tenang.


Sementara Bagas masih menahan kekesalannya. Namun, setelah Anisa menyebut psikiater, wajahnya langsung berubah.


"Psikiater? Apa dia benar-benar memerlukan itu?" Bagas menatap Anisa dengan serius.


"Kamu pikir, rasa trauma akibat perbuatan kamu itu bisa hilang dengan sendirinya?"


BERSAMBUNG ....


Author datang lagi bawa novel keren temen Author nih. Yuk, merapat dan kepoin judulnya.



Delon tidak menyangka di usianya yang ke 40 tahun dirinya menyandang status sebagai duda dan mempunyai dua anak kembar yang masing-masing berusia 20 tahun.


Hingga suatu ketika putra sulungnya yang bernama Edward meminta sekretaris pribadinya yang seumuran dengan Edward memintanya untuk merawat ayahnya yang bernama Delon yang sedang sakit.

__ADS_1


Setiap hari bertemu hingga akhirnya mereka jatuh cinta dan ingin menikah. Bagaimana tanggapan ke dua anak kembarnya dan keluarga gadis tersebut? Apakah hubungan mereka berakhir bahagia atau kandas di tengah jalan mengingat perbedaan umur mereka yang terpaut 20 tahun.


Ikuti novelku yang ke 33


__ADS_2