
Mendengar ancaman Shena, Bagas langsung meninggalkan hotel saat itu juga menuju Bandara. Lelaki itu sudah menelepon Bimo untuk segera mencarikan tiket pesawat tercepat yang akan mengantarkannya ke ibukota.
"Awas saja kau, Shena! Jika terjadi apa-apa pada Sandra, aku tidak akan segan-segan untuk menghabisimu." Bagas memukul setir. Amarahnya meluap. Seandainya saja wanita ular itu berada di sini, Bagas pasti akan menghajarnya habis-habisan, tidak peduli walaupun dia seorang perempuan.
Bagas baru saja sampai di Bandara. Sesuai keinginan lelaki itu, Bimo benar-benar mendapatkan tiket penerbangan pertama.
Setelah hampir dua jam penerbangan, Bagas kini sampai di Bandara Soekarno-Hatta. Kedua netranya berkeliling mencari sang asisten yang ia suruh menjemputnya.
Laki-laki berwajah tampan yang masih dirasuki amarah itu menatap datar ke arah Bimo saat pria itu tersenyum menyambut kedatangannya.
"Berikan kunci mobilnya." Bagas menengadahkan tangannya.
"Biar aku saja yang bawa, kamu pasti–" Bimo tidak melanjutkan ucapannya saat Bagas dengan cepat merebut kunci mobil dari tangannya.
Belum sempat Bimo memprotes perbuatan bosnya, Bagas dengan cepat masuk ke dalam mobil kemudian menyalakan mesin mobil. Bagas bahkan meninggalkan koper besarnya yang masih dipegang oleh Bimo.
"Sial!" Bimo mengumpat saat mobil miliknya sudah melesat meninggalkan area Bandara. Bagas meninggalkannya di sana.
"Dasar brengsek!"
Bimo kembali mengumpat. Tangannya meraih ponsel dalam saku bajunya.
"Sayang, tolong jemput aku di Bandara."
***
__ADS_1
Sean melirik ponselnya yang berdering. Sebuah panggilan telepon dari nomor asing. Laki-laki itu sedikit menimbang-nimbang untuk mengangkat panggilan telepon itu. Pasalnya, hari ini adalah hari minggu.
Sean paling tidak suka jika waktu liburnya bersama keluarga diganggu oleh urusan pekerjaan. Bagi Sean, siapapun yang menghubungi nomor ponselnya berarti mereka pasti akan membahas tentang pekerjaan. Oleh karena itu, Sean biasanya memilih menonaktifkan nomornya saat dirinya sedang tidak bekerja.
"Apa?" Sean berteriak kaget saat mendengar kalimat yang diucapkan si penelepon dari ujung sana.
"Aku akan menyuruh orang untuk mengawasinya. Ingat! Jika terjadi sesuatu pada Sandra, aku akan membuat perhitungan denganmu. Biar bagaimanapun, kau harus bertanggung jawab karena telah membuat Sandra terlibat masalah dengan orang lain!" ucap Sean penuh penekanan.
Panggilan terputus setelah Sean mendengar jawaban dari lelaki yang meneleponnya.
"Brengsek! Berani-beraninya kalian mengganggu dia." Kedua tangan Sean mengepal menahan amarah. Pria itu kemudian menyuruh orang-orang kepercayaannya untuk mencari keberadaan mantan istrinya. Sean menyuruh mereka melindungi Sandra dari orang-orang yang berencana mencelakai wanita itu.
Kanaya yang melihat sang suami terlihat cemas sekaligus marah, merasa heran. Pasalnya, lelaki itu terlihat baik-baik saja saat dirinya meninggalkan pria itu berapa menit yang lalu.
"Ada apa? Apa terjadi sesuatu?" Kanaya dengan lembut mengurai kepalan tangan Sean. Netranya menatap sang suami dengan penuh cinta.
"Ada apa Sean?" ulang Kanaya saat suaminya justru terlihat melamun tanpa berniat menjawab pertanyaannya.
"Lelaki yang mengejar Sandra baru saja meneleponku."
"Lelaki yang mengejar Sandra? Siapa? Memangnya siapa lelaki yang mengejar Sandra?" Beberapa pertanyaan keluar dari mulut Kanaya. Sean lupa, kalau istri cantiknya itu adalah orang yang kritis.
Kanaya tidak akan puas jika belum mendapatkan jawaban yang jelas dari pertanyaan yang diajukannya.
"Ada seseorang yang berniat mencelakai Sandra."
__ADS_1
"Apa?!"
***
Bagas melajukan mobilnya seperti orang kesetanan. Pria itu bahkan beberapa kali menyalip kendaraan lain. Perasaannya berkecamuk antara cemas dan marah.
Bagas memang menyempatkan diri menelepon Sean beberapa saat lalu. Pria itu juga sudah memberitahukan Bimo tentang ancaman Shena. Namun, rasa cemas membayangkan terjadi sesuatu pada Sandra membuat hatinya merasa tidak tenang.
Berkali-kali, lelaki itu menyebut nama Shena. Merasa geram dengan tindakan Shena yang ingin mencelakai Sandra jika dirinya tidak datang melamarnya.
"Awas saja, kau, Shena!" Mulut Bagas menggeram marah. Otaknya dipenuhi bayangan perempuan itu.
Dari penampilannya, Shena terlihat seperti malaikat. Begitu cantik dan anggun juga manja. Siapa yang menyangka jika perempuan cantik itu ternyata berhati iblis.
Bagas bahkan masih tidak menyangka kalau Shena akan melakukan hal nekad seperti itu. Bisa-bisanya perempuan itu menggunakan Sandra untuk mengancamnya.
"Shena."
Bagas menggeram sambil memukul setir. Wajahnya memerah menahan amarah yang siap meledak. Bagas menambah kecepatan mobil saat dirinya berniat menyalip mobil yang ada di depannya. Namun, naas, saat dirinya baru saja menginjak gas dan berniat menyalip, sebuah mobil berkecepatan tinggi dengan arah yang berbeda muncul di hadapannya.
Bagas terkejut, pria itu membanting setir untuk menghindari mobil di hadapannya, tetapi, jarak yang terlalu dekat dan mobil yang sama-sama melaju kencang menyebabkan kedua mobil itu sama-sama hilang kendali hingga tabrakan pun tak bisa dihindari.
Kedua mobil itu saling bertabrakan hingga menimbulkan bunyi yang cukup keras.
BERSAMBUNG ....
__ADS_1