Lihat Aku Seorang

Lihat Aku Seorang
AKU TIDAK MENGENALMU!


__ADS_3

"Aku tidak akan pergi dari sini!" seru Sandra dengan lantang.


Kedua orang tuanya Bagas juga Bimo dan Anisa menyerahkan Bagas padanya. Mereka menyuruh Sandra menjaga Bagas hari ini. Mereka bahkan sudah menyuruh beberapa orang untuk berjaga-jaga di luar agar Shena tidak masuk. Namun, entah kenapa orang-orang itu bisa lengah hingga akhirnya Shena bisa masuk ke dalam kamar Bagas.


"Heh, model nggak laku! Kamu nggak dengar ucapan Bagas? Cepat keluar dari sini!" Shena menatap Sandra remeh. Sementara itu, Sandra sudah mengepalkan tangannya erat.


Rasanya, ia ingin sekali menampar mulut wanita menyebalkan di hadapannya itu.


Akan tetapi, ia tidak mungkin melakukannya. Apalagi, saat ini mereka berada di rumah sakit. Sandra juga tidak akan berbuat sesuatu yang akan membuat Bagas tidak nyaman. Pria itu sedang sakit, jadi tidak mungkin Sandra membuat keributan di sana.


"Kedua orang tua Bagas sudah menitipkan Bagas sama aku. Jadi aku akan tetap di sini buat jagain dia." Sandra menatap Shena dengan tajam.


"Aku tahu siapa kamu, Shena. Kalau bukan karena kamu mengancam Bagas dan memaksa dia untuk melamarmu, Bagas tidak akan terbaring di rumah sakit sekarang!" ucap Sandra dengan penuh penekanan. Emosinya sudah naik ke ubun-ubun.


Shena menatap Sandra dengan kaget. Tidak menyangka kalau wanita itu juga mengetahui rahasianya yang telah mengancam Bagas.

__ADS_1


"Aku tidak peduli apa katamu, yang jelas, orang yang diingat Bagas saat ini adalah aku. Seharusnya kamu berpikir, Sandra. Dari sekian banyak orang, kenapa hanya aku yang diingat oleh Bagas? Dia melupakan kedua orang tuanya dan juga orang kepercayaannya. Tapi dia mengingatku, Sandra. Seharusnya dari sini saja kamu sudah bisa menyimpulkan bagaimana perasaan Bagas padaku selama ini bukan?" Sandra tersenyum remeh ke arah Sandra.


Meskipun Shena sendiri merasa heran dengan kondisi ingatan Bagas yang hanya mengingat dirinya, tetapi, perempuan itu tidak ambil pusing. Apalagi, dengan ingatan Bagas yang hanya mengenalnya, jelas akan mempermudah rencananya untuk mendapatkan pria itu.


"Bagas mencintaiku. Kalau bukan karena kamu menggunakan aku untuk mengancamnya, dia tidak mungkin datang padamu!" Sandra berteriak marah. Wanita itu tidak lagi menahan emosinya mendengar ucapan Shena.


Sandra menatap Bagas yang hanya terdiam menatap perdebatan antara dirinya dengan Shena. Bagas menatap datar pada Sandra.


Brengsek, kau Bagas! Kenapa di saat aku ingin membuka hati untukmu, kamu justru melupakan aku?


Sandra menatap Bagas dengan kedua mata berkaca-kaca. Seandainya Bagas yang sekarang adalah Bagas yang dulu, sudah pasti Sandra tidak akan tinggal diam diperlakukan seperti itu. Apalagi, di depan Shena.


"Kalau dia mencintaimu, tidak mungkin dia tidak mengenalimu, Sandra." Shena tertawa kecil.


"Jangan-jangan, selama ini kamu hanya menghalu dan mengaku-ngaku Bagas sebagai kekasihmu," lanjut Shena sengaja memanas-manasi Sandra. Perempuan itu bahkan dengan percaya diri memeluk Bagas kemudian menghadiahi ciuman pada kedua pipi Bagas.

__ADS_1


Sandra mengepalkan kedua tangannya. Apalagi, saat melihat Bagas tidak menolak Shena sama sekali.


Suatu hari nanti, jika kamu sadar dari amnesia, aku pasti akan membalasmu, Bagas. Berani-beraninya kamu menerima ciuman dari wanita lain selain aku.


Sandra menggeram kesal. Namun, dengan sekuat tenaga ia menahan amarahnya. Hatinya sakit melihat Bagas begitu mesra dengan wanita itu.


"Bagas, apa kamu benar-benar melupakan aku? Apa kamu benar-benar lupa jika kamu sangat mencintai aku? Aku Sandra, Bagas. Orang yang selama bertahun-tahun ada di hatimu. Apa sedikit pun tidak ada yang bisa kamu ingat tentang aku?" Sandra menatap Bagas dengan rasa sakit di hatinya.


Sekali lagi, dirinya sungguh sangat menyesali karena dulu ia terlalu egois untuk mengakui perasaan cintanya pada lelaki itu.


"Aku mencintaimu, Bagas. Sebesar cinta yang kamu miliki untukku. Apa kamu benar-benar tidak mengingatku sedikit pun?" Air mata Sandra mengalir membasahi pipi mulusnya.


Sekuat apa pun ia mencoba, tetap saja, hatinya tidak bisa menahan rasa sakit.


"Maafkan aku. Tapi, aku sungguh-sungguh tidak mengenalmu!"

__ADS_1


BERSAMBUNG ....



__ADS_2