Lihat Aku Seorang

Lihat Aku Seorang
87. Rekan Baru


__ADS_3

Kembali ke dunia kerja.


Akhirnya waktu perpisahan dengan Firman datang. Laki-laki itu mengemasi barang-barangnya dan berpamitan dengan semua orang. Dia ingin memeluk Aran untuk terakhir kalinya, namun gadis itu mendorongnya jauh.


"Jangan macam-macam ya Kak, aku memanggilmu Kakak saja suamiku marah, apalagi kalau sampai tahu aku memelukmu. Jangan membuatku dalam masalah!"


Memanggil Firman kakak saja sudah menjadi pengkhianatan bagi Aran, apalagi sampai memeluk Firman. Bisa jadi itu tidak akan berakhir hanya dengan pertengkaran semalam.


"Cih!"


"Sudah sana! pamit ke yang lain dulu, aku akan mengantar Kak Firman turun ke bawah."


Saat Firman berlalu pergi ada yang terasa aneh di hati Aran. Bagaimanapun dia sudah mengenal Kak Firman sejak lama, mereka sudah menjadi rekan kerja bahkan sebelum dia bertemu dengan Sekretaris Han. Tapi ini sudah menjadi pilihan Kak Firman.


Memang ya, jadi pihak yang ditinggalkan selalu ada yang mengganjal di dalam hati.


Namun Aran tidak mau mencampuri keputusan yang sudah dibuat Firman, dia juga tidak ingin menahan laki-laki itu. Dia pernah mengalami perasaan sakit karena cinta yang tidak terbalas, hingga dia bisa merasa sedikit berempati. Walaupun sekarang dia ada diposisi yang berbeda dengan Firman.


Gadis itu juga penasaran dengan rekan barunya siapa. Apalagi katanya seniornya dulu saat ada di kampus.


Nggak mungkin orang itu kan. Hihh, nggak mungkinlah.


Ada senior yang dulu sangat populer di kampus, Aran cukup dekat dengannya. Bahkan mungkin sedikit dimanfaatkan, karena seniornya itu tahu kalau Aran menyukainya. Ya semacam teman yang tahu kalau temannya suka padanya, bukannya menolak atau menerima tapi menggantung hubungan. Dan disela-sela menggantung itu Aran dimanfaat sebaik mungkin sebagai seorang teman.


Kalian menyebut orang semacam itu apa? Sok kecakepan kalau Aran menyebutnya sekarang. Walaupun kalau dulu, gadis itu mengakui seniornya tampan.


Hiii, memikirkannya saja sudah membuatku mual.


Aran mampir membeli kopi demi mendapatkan suplai energi, setelah memikirkan seniornya yang menyebalkan di kampus dulu. Kalau mengesampingkan kenangan itu, sebenarnya perkuliahan Aran sangat menyenangkan.


Gadis itu berdendang memasuki lift, ada beberapa orang yang sudah ada di dalam lift. Tidak ada yang dikenali Aran, dia merapat ke pinggir saat lift naik menuju lantai ruangannya.


Di dalam ruangan terlihat ramai. Semua orang berkumpul di tengah ruangan, bahkan ada direktur segala. Aran mempercepat langkah meletakkan gelas kopinya ke meja, lalu ikut nimbrung.


"Kenapa?"


"Pengganti Firman datang. Tampan. Hihi." Salah satu rekannya menyahut. "Kau kenal tidak, katanya satu kampus denganmu?"


Hah! Mana?


Aran menoleh ke arah direktur yang sedang bicara. Kaki Aran mundur selangkah, saat melihat laki-laki berbadan tinggi yang bahunya sedang di tepuk direktur.

__ADS_1


"Kenalkan semuanya, Jeromian, dia akan menggantikan tugas-tugas Firman, tolong ajari dia. Karena sudah berpengalaman kau pasti bisa gampang menyesuaikan diri dengan rekan-rekanmu." Direktur menepuk bahu laki-laki itu lagi. "Dia biasa dipanggil Jero."


Sekedar info, Jeromian masuk melalui jalur orang dalam. Melalui suami nona muda anak Presdir yang pernah berseteru dengan Aran. Info ini hanya diketahui para petinggi.


"Terimakasih Direktur, mohon bimbingannya. Saya akan bekerja dengan sebaik mungkin." Laki-laki itu menundukkan kepala, lalu mengepalkan tangan mengudarakan semangat.


Dia memang tinggi, wajahnya tampan, senyumnya ramah. Membuat karyawan wanita berbisik-bisik membicarakannya.


Tepuk tangan menyambut perkenalan karyawan baru. Kecuali Aran, gadis itu masih terlihat sangat terkejut dengan kebetulan yang rasanya sangat mustahil ini.


Kak Firman seharusnya aku menahanmu pergi! biar aku tidak perlu melihat wajah laki-laki ini.


"Aran!" Direktur memanggil Aran, membuat semua orang jadi hening. "Dia rekan kerjamu yang baru, kalian saling kenal? katanya dia senior di kampusmu."


Semua orang terlihat antusias menunggu. Dan senior Aran bernama Jero itu terlihat tersenyum samar.


Ah, kau sudah tahu ya aku bekerja di sini. Hah! tapi maaf saja ya sekarang aku sudah menikah dan tidak akan terpesona dan menempel padamu. Sekarang kau itu cuma tiang penyangga gedung untukku.


Yang terlihat tampan di mata Aran sekarang hanya suaminya, Mouhan Fernandez, selebihnya hanya tiang abu-abu penyangga gedung.


Aran tertawa kecil lalu menganggukkan kepala.


Aran berusaha bicara dengan nada datar dan biasa, supaya rasa tidak sukanya tidak terlalu terlihat oleh orang lain.


Jero berjalan mendekati Aran, berdiri tepat di samping gadis itu. Langsung merangkul Aran tiba-tiba, bukan hanya Aran yang kaget tapi yang lain juga. Karena tidak menyangka kalau hubungan mereka ternyata sedekat itu.


"Kami sangat akrab dulu waktu di kampus, benar kan Aran?" Jero tertawa. "Waktu mendengar katanya ada karyawan bernama Arandita aku langsung teringat padamu. Ternyata benar ini kamu. Hehe, Aran, bagaimana kabarmu, mohon bantuannya ya."


Yang lain malah ikut tertawa dengan pertanyaan sok akrab yang ucapkan Jero. Aran menarik tangan Jero dan menjatuhkannya, dia bahkan menggeser tubuh supaya menjauhi laki-laki di sampingnya ini.


"Kami tidak seakrab itu kok. Senior ini nanti yang lain bisa salah paham, kita kan hanya teman yang saling membantu dulu karena satu organisasi."


Ya, teman yang kau manfaatkan dengan baik.


Aran tersenyum garing, lalu menunduk pada direkturnya untuk kembali ke meja kerjanya. Hah! sial, gumam gadis itu saat melihat meja Firman. Karena meja itulah yang akan ditempati Jeronke depannya selama bekerja.


Kenapa aku dulu polos banget si, bisa menyukai orang licik sepertinya. Aran menjatuhkan kepala ke atas meja. Menyesali sesuatu yang sudah berlalu benar-benar hal tidak berguna. Karena toh merubahnya sudah tidak mungkin karena itu sesuatua yang sudah lewat.


Saat perkenalan sudah selesai, mereka kembali ke meja untuk bekerja. Jero masih belum melangkah ke meja kerjanya, masih berbicara dengan rekan kerja perempuan. Haha, hihi terdengar jelas di meja Aran. Bahkan dia masih mendengar namanya disebut-sebut. Dia tidak perduli, karena dia malah memikirkan suaminya.


Aku kangen Kakak, sekarang dia sedang apa ya? Hemm, mungkin sedang bersama cinta pertamanya Tuan Saga.

__ADS_1


Aran tergelak geli sendiri dengan pikirannya. Gadis itu tidak menyadari langkah kaki yang mendekat ke arahnya. Jero sudah berdiri di belakangnya, menundukkan kepala sementara Aran duduk di bawahnya.


"Aran..."


Aran yang mendongak karena namanya dipanggil menjerit kaget, saat kepalanya terangkat ternyata Jero ada di atasnya.


"Senior, apa yang kau lakukan!" Aran mendorong kursinya, supaya laki-laki itu mundur ke belakang. "Bisakah senior jangan seperti ini, yang lain nanti bisa salah paham." Ada yang melirik dari meja kerja mereka, melihat pembicaraan Aran dan karyawan baru.


"Kenapa kau memanggilku senior. Hei." Menyenggol lengan Aran dengan sikunya. "Bukannya dulu kau memanggilku kakak, kita kan sangat akrab dulu waktu di kampus, sekarang panggil aku kakak saja. Kau membuatku sedih."


Hah! Tidak tahu malu juga ada batasnya donk, kau pikir aku tidak kesal padamu, kau akrab denganku dulu kan karena ada maunya.


"Maaf Senior, sepertinya sekarang hubungan kita tidak sedekat itu."


"Ah, apa kau masih marah karena dulu aku menolakmu dan mau kita tetap berteman."


Tangan Aran terkepal geram, karena rasanya Jero sengaja mengatakannya dengan suara agak keras supaya didengar oleh yang lain. Dan benar saja, mereka seperti kumbang yang berdengung karena mendapat gosip baru.


Karyawan baru pengganti Firman ternyata seniornya Aran, dulu Aran pernah nembak tapi ditolak. Mungkin headline yang akan beredar seminggu ini begitu bunyinya.


"Kau kan tahu, aku sudah sangat nyaman berteman denganmu, kalau kita pacaran aku nggak mau kita jadi musuhan."


Hah! karena didiamkan dia jadi seenaknya ya. Aku tidak perduli dengan masa lalu! Ya, kau hanya aib dunia perkuliahan ku. Aku juga yang bodoh termakan wajah tampan dan senyum ramahmu.


"Senior."


"Panggil aku Kak."


Aran mengangkat tangannya, menunjukkan cincin yang ada di jari manisnya. Awalnya jero tidak paham, tapi setelah Aran menunjuk cincinya lagi, wajahnya mulai terlihat berubah.


"Aku sudah menikah senior, haha. Jadi, aku tidak butuh nostalgia masa kuliah dulu. Maaf." Aran menarik kursinya mendekat ke meja. Meninggalkan Jero yang terlihat shock saat mendengar Aran sudah menikah.


Karena sebenarnya banyak rencana yang sudah dia buat sebelum masuk ke stasiun TV ini, salah satunya adalah gadis bernama Aran ini. Tapi kenapa dia sudah menikah!


Dengan lesu dia duduk di kursinya, melirik Aran yang terlihat fokus mengerjakan apa pun yang sedang dilakukannya itu.


Aran, dulu mereka punya hubungan friendzone, dia tahu Aran menyukainya, karena itu dia memanfaatkan Aran. Dari titip absen sampai mengerjakan tugas kuliah pernah dia lakukan. Tapi, saat gadis itu menyatakan cinta, dia dengan entengnya bicara, kita berteman saja.


Sial! aku pikir akan seru karena ada dia, tapi kenapa dia malah sudah menikah. Jero melihat Aran lagi, gadis itu benar-benar sama sekali tidak melirik kearahnya sedikitpun.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2