
Hari ini masih senja, langit masih berwarna kemerahan ketika mobil yang dikendarai Han memasuki gerbang utama. Tuan Saga kembali lebih awal, setelah menyelesaikan jadwal sorenya. Hari ini dia ingin makan malam bersama istri dan anaknya.
Ana pekerja di taman yang sedang menyiram tanaman, menundukkan kepala saat mobil yang dibawa Han melintas.
"Han." Saga bicara sambil melihat foto-foto yang dikirim Daniah siang tadi siang. Erina yang sudah mulai aktif bergerak, dan tengkurap sendiri.
"Ia Tuan Muda."
"Bagaimana Jen?" Diusapnya hpnya dan tersenyum lagi. Saga rindu pada istri dan anaknya. Padahal belum seharian mereka berpisah.
"Nona Jen bekerja dengan baik di divisi yang baru ini. Revan juga membantunya kalau ada yang tidak diketahui nona. Apa Anda mau memanggil Revan?"
Jen masih terlalu kecil, bagi Saga adiknya itu masih bocah. Masih terlalu jauh baginya untuk memikirkan pernikahan sekarang. Bahkan Jen saja belum berani mengatakan tentang hubungannya dengan Revan. Walaupun tahu, Saga akan pura-pura tidak tahu.
"Apa Anda akan menyetujui kalau Revan meminta izin, kalau paman, Anda pasti tahu kan sikapnya bagaimana."
Ayah Revan termasuk orang yang sangat kaku, laki-laki itu pasti akan marah besar pada Revan. Karena merasa anaknya sangat kurang ajar, berani-beraninya menyukai adik Tuan Saga. Tapi, Han melirik kaca spion. Kalau Tuan Saga menganggukkan kepala, itu akan menjadi berkah sekaligus hadiah istimewa untuk ayah Revan. Namun, paman tidak akan berani berfikir sampai pada titik itu.
Mobil sampai di depan rumah, Saga tidak menjawab pertanyaan Han. Saat Han keluar dari mobil dia menundukkan kepala melihat Nona Daniah yang berjalan ke arahnya sambil menggendong Nona Erina. Pak Mun juga ada di sebelahnya.
Deg.
Entah kenapa, setiap melihat bayi berpipi gempal dan rambut kruel-kruel itu dari kejauhan Han merasa takjub dan gemas. Han baru beranjak dari tempatnya berdiri setelah melihat semua orang masuk ke dalam rumah.
Kenapa Nona Erina semakin terlihat lucu dan menggemaskan begitu.
Mobil melaju keluar dari gerbang utama. Pikiran Han masih nyangkut pada bayi mungil dalam pelukan Nona Daniah tadi. Nona Erina tumbuh dengan menggemaskan setiap kali dia melihatnya, bukannya Han tidak menyukainya, namun ada bagian dihatinya yang juga sedang perang batin.
Bagaimana mungkin, aku mendidik gadis kecil imut dan lucu begitu sebagai penerus keluarga!
Sekarang Han belum mau memikirkan terlalu jauh, karena Nona Erina juga baru menginjak usinya yang beberapa bulan. Namun, rasanya akan terjadi sebuah perseteruan di hatinya kelak. Kalau waktunya datang.
Ah, andai saja tuan muda dan nona memiliki anak lagi, seorang anak laki-laki yang akan ditunjuk menjadi penerus keluarga. Semua pasti akan lebih mudah.
Tuan Saga tidak mau membahasnya, karena rasa trauma melihat Nona Daniah yang melahirkan kala itu. Han juga paham. Hanya saja dia berharap, ada setitik celah untuk menggoyahkan hati Tuan Saga.
Jalanan cukup macet menuju kantor Aran. Han terlambat 10 menit, yang dijemput sudah melambaikan tangan sambil memegang segelas kopi. Dia berlari saat menangkap pandangan mobil Han di depan kantornya.
Kalau Aran, ingin memiliki berapa anak ya kelak, aku jadi menantikan saat itu tiba. Anak kami nanti akan mirip siapa ya?
"Kakak, aku merindukanmu." Aran masuk ke dalam mobil, langsung mendaratkan kecupan di pipi Han.
__ADS_1
...🍓🍓🍓...
Sesampainya di dealer mobil. Seperti janji Han tadi pagi.
"Nah, pilihlah yang mana yang kau suka."
Han membayangkan reaksi Aran akan seperti Nona Daniah dulu, karena tadi pagi gadis itu juga menolak. Laki-laki itu jadi menunggu reaksi lucu istrinya.
Para petugas dealer menunggu, diam berdiri dengan tenang. Walaupun pikiran mereka dipenuhi tanda tanya, siapa yang dibawa Sekretaris Han hari ini.
"Wah, benar ya, aku boleh pilih yang mana pun sesukaku." Aran sudah melompat kegirangan. Senang, bahkan bersemangat sambil matanya sudah mulai berkeliling melihat satu persatu mobil yang ada di dealer. Ada banyak jenis baik model atau warna.
Han tergelak tanpa suara, melihat kelakuan istrinya, yang pagi tadi jelas-jelas bilang kalau dia tidak mau. Tapi, sekarang seperti orang yang sudah mengidamkan memiliki mobil dan akhirnya mimpi itu kesampaian. Reaksi yang sangat berbeda. Tidak ada malu-malu atau penolakan.
Reaksinya berbeda sekali dengan Nona Daniah, tapi ini lucu juga. Dia memang menggemaskan. Kalau tertarik pada sesuatu matanya tidak berhenti berbinar.
Aran sudah bertanya ini dan itu pada seorang wanita yang menemaninya melihat-lihat. Dia pindah dari satu mobil ke mobil yang lainnya. Mencoba mengendarai yang sekiranya dia tertarik. Bahkan Aran terlihat memejamkan mata sambil menyentuh body mobil seperti sedang membayangkan sesuatu.
Apa yang dia lakukan. Han hanya menonton dari tempatnya duduk. Manager dealer berdiri di sebelahnya.
"Ehm, maaf Tuan, kalau saya boleh bertanya." Takut-takut membuka pembicaraan.
"Baik maafkan saya Tuan." Langsung menutup mulut rapat.
Dia merinding takut, padahal dia cuma mau bertanya siapa wanita itu yang sedang memilih mobil.
"Dia istriku." Tiba-tiba jawaban Han dari pertanyaan yang tidak berani dia ucapkan keluar.
Eh, ia. Apa! Istri! Anda sudah memiliki istri. Hiiii, entah kenapa tatapannya jadi berubah iba melihat Aran yang sedang memilik mobil. Menikahi laki-laki menakutkan seperti Sekretaris Han. Mimpi buruk apa ini, pikirnya. Dia melirik Sekretaris Han sekilas. Eh, dia tersenyum. Laki-laki itu menutup mulutnya yang menganga terkejut. Saat melihat Sekretaris Han yang tersenyum ketika melihat istrinya.
Di, dia benar-benar tersenyum! Manager itu sampai mengucek matanya.
"Anda sudah menikah rupanya," ujar laki-laki itu terbata.
Kapan dia menikah, gumam laki-laki itu lagi. Saat pikirannya sedang berspekulasi sendiri, Aran mendekat dengan wajah dipenuhi rona kebahagiaan.
"Kakak, aku pilih yang warna biru itu." Tunjuk Aran pada mobil yang sudah dia coba tadi.
Kakak! Laki-laki tadi sudah mau jatuh saking kagetnya, mendengar Han dipanggil dengan sebutan kakak. Dia tergagap saat Han memberinya kartu.
"Bereskan semua dan kirim ke rumahku."
__ADS_1
"Ba, baik Tuan."
Aran yang cuma bisa bengong saat transaksi membeli mobil seperti saat Han memborong jualan para pedagang di pinggir jalan. Tidak lebih dari lima belas menit transaksi selesai. Para pegawai dealer menundukkan kepala saat Han menarik tangan Aran keluar dari dealer.
Hah! Sudah! Ini beli mobil lho! Aran yang kebingungan sendiri. Aaaaaaa, level hidup kami memang sangat berbeda. Dia menjerit sendiri.
"Kak, berapa harta mobil tadi?"
Saat ini sudah masuk kembali ke dalam mobil, dan Han sudah membawa mobil memecah jalanan yang ramai. Waktu sudah semakin sore. Matahari sudah tenggelam.
"Aku tidak tanya." Han menjawab dengan enteng sambil menyalip mobil di depannya. "Apa kau mau kita kembali dan bertanya." Memperlambat jalan karena di depan mereka terlihat ada tanda diperbolehkan memutar arah.
"Haha, tidak usah Kak." Aran hanya bisa nyengir. "Aku tidak penasaran kok, aku juga bisa mencarinya di internet."
Terkadang dia lupa, benar-benar lupa siapa suaminya. Sekretaris Han, laki-laki yang entah berapa isi saldo rekeningnya sebagai seorang sekretaris dari Presdir Antarna Group.
"Terimakasih ya Kak." Aran mendekatkan tubuhnya, melingkarkan tangannya di lengan Han yang sedang mengemudi. "Hadiah mobilnya, terimakasih banyak."
"Kalau begitu berikan aku hadiah juga." Menurunkan tangan dari kemudi lalu menggengam tangan Aran. "Aku menantikannya."
Eh, kenapa tiba-tiba. Aran yang langsung panik ketika ditodong. Dia mau memberikan apa untuk laki-laki yang sudah punya segalanya ini.
"Kakak mau apa?"
"Hemm, entahlah. Kau pikirkan saja sendiri."
Dih, Aran bergumam bingung. Tapi sebentar saja dia terkikik kecil. Mungkin dia sedang berfikir untuk menghadiahkan tubuhnya 🤭
"Kita makan ke tempat Kak Brian, kau mau?" Pertanyaan Han membangunkan Aran dari pikiran nakalnya.
Ah, suami Kak inggrid ya, ini pertama kalinya kakak mengajak ke sana. Aran mengganguk senang.
Mereka berhenti di tepi jalan setelah mobil melambat, ada seorang pedagang keripik pisang yang sedang duduk melamun menunggu pembeli. Dagangannya menumpuk di sebuah meja kecil. Hari ini dia yang beruntung, karena Han membeli semua dagangannya yang tersisa.
Aran hanya bisa tersenyum, melihat suaminya yang langsung tancap gas bahkan tanpa menunggu pedagang itu mengucapkan terimakasih. Di kaca spion gadis itu melihat pedagang itu sujud syukur kepada Tuhan.
"Aku mencintaimu Kak, sangat mencintaimu."
Han mengusap kepala Aran sambil tersenyum. Mobil terus melaju menuju restoran milik Brian.
Bersambung
__ADS_1