Lihat Aku Seorang

Lihat Aku Seorang
102. Spesial Episode


__ADS_3

Sang waktu telah bergulir. Bulan berganti, musim berubah. Dedaunan yang tadinya gugur karena musim panas, mulai bertunas. Di bawah sinar mentari pagi, pucuk-pucuk dedaunan mulai melakukan tugasnya memproduksi nutrisi. Menghasilkan kelopak bunga berwarna warni. Bahkan bakal buah pun mulai menampakan diri. Ini artinya, waktu telah berputar sesuai ritmenya tanpa perduli apa pun yang dilakukan manusia.


Selama beberapa bulan, banyak hal yang terjadi di sekitar Sekretaris Han dan Aran. Kehidupan rumah tangga mereka yang berjalan dengan dinamis dan penuh warna. Sosok laki-laki yang yang akan mendapatkan gelar baru sebagai ayah, seperti pendahulunya. Siapa pendahulunya, tentu saja tuan yang dia layani.


Calon ayah, begitu dia dijuluki Aran.


Dan saat mereka berdua berpelukan di atas tempat tidur, setelah menuntaskan hasrat satu sama lain. Han menciumi tengkuk Aran sambil menggeser rambut gadis itu. Aran menggeliat karena kegelian, tapi Han tidak mau berhenti dia terus melakukan apa yang sudah dia mulai.


"Kakak!"


"Aku mencintai mu Aran, kau selalu membuatku merasa kurang." Muah, muah, kecupan basah berputar di tengkuk dan sekitar telinga. Aran tergelak dan menepuk kepala Han, tepukan lembut itu hangat menyentuh hati Han. Dia membisikkan lagi, kata-kata cinta dengan beragam kata, berulang dia mengatakannya, bagaimana dia mencintai Aran, bagaimana dia merasa bahagia bersama dengan gadis itu sekarang.


"Aku juga mencintai mu Kak. Tapi..." Ada rasa sendu yang tampak di wajah Aran. "Setelah kita program hamil malah sudah beberapa lama aku belum hamil juga ya?" Gejala khawatir disetiap ucapan Aran. Setiap bulan dia sudah menanti penuh harap, di jadwal datang bulannya dia selalu harap-harap cemas. Semoga bulan ini aku tidak kedatangan tamu doanya berulang kali, tapi esoknya bobol lagi, dia datang bulan, artinya gagal kan. "Maaf ya Kak, padahal Kakak sudah semangat sekali."


Aran ingat dengan pasti, bagaiman sesumbarnya suaminya, saat awal mereka mulai merencanakan memiliki anak. Kira-kira seperti ini.


Han berdehem, laki-laki itu menepuk dadanya sambil berujar dengan entengnya. Sambil menyeringai di depan Aran.


Aku sudah punya pengalaman Aran, begitu katanya dengan intonasi arogan. Ya, memang dia sudah selayaknya membanggakan itu si pikir Aran. Menghadapi drama kehamilan yang dilakukan calon ibu, Han sudah makan asam garam tentang itu. Jadi, Han sangat percaya diri.


"Mau ngidam yang bagaimana?" Dia menantang Aran. Laki-laki itu sudah siap menghadapinya. "Kau boleh memintaku melakukan apa pun Aran, demi kamu dan anak kita, aku akan melakukan sebaik mungkin." Tuan muda saja bisa pikir Han, apalagi dia. Sedangkan hampir sebagian besar yang seharusnya dilakukan Tuan Saga, dia yang menggantikannya.


"Benar ya Kak, nanti kalau aku minta ini dan itu Kakak jangan marah. Hehe." Aran seperti mau bersiap diri, walaupun tidak akan sebanyak maunya Nona Daniah, tapi dia juga ingin melihat suaminya yang tampan itu kebingungan misalnya. Aran sudah tidak sabar melihat ekspresi laki-laki itu. Ekspresi menyerah kalah, hihi. Ya, ditunggu Aran bukan kemampuan Han mengabulkan semua yang ia inginkan, tapi dia ingin melihat laki-laki itu, kalah sekali saja. Menyerah dan memohon Aran mengganti permintaan. Aneh ya? Entahlah, Aran kan memang terbilang langka. Mengejar cinta harimau gila saja sudah merupakan keanehan kan. Jadi keinginan ngidamnya ya diluar nalar orang kebanyakan.


Kembali ke waktu sekarang, saat mereka ada di tempat tidur. Aran terkikik ingat rencana ngidamnya yang entah kapan akan terealisasi. Karena sampai sekarang, belum ada tanda-tanda.


"Kakak tidak kecewa kan?"


"Kenapa aku kecewa, sudah kubilang, kehamilan mu, ada campur tangan ku dan Tuhan. Kalau kita mengharapkannya dan sudah berusaha sekeras ini." Han menoel pipi Aran, lalu tangannya mulai turun berkeliaran. "Tapi kalau Tuhan belum memberikannya, itu bukan salahmu. Jadi jangan merasa terbebani."


Han duduk, lalu mendorong bahu Aran dengan telunjuk. Gadis itu langsung jatuh terlentang, dengan tangan terbuka di atas kepalanya. Bola mata gadis itu membelalak, karena bisa menebak dari senyum yang diberikan Han untuknya. Mau apa laki-laki itu.


"Kakak! Kita kan baru selesai!"


"Yang harus kita lakukan kan, berusaha lebih keras sayang." Han tertawa melihat wajah istrinya. "Kenapa? Tidak mau?"


Aran melengos, wajah bertanya suaminya itu lho. Kenapa Kakak selalu memakai mimik wajah seperti kucing kehujanan begitu setiap minta lagi. Aku kan jadi tidak bisa menolaknya.


"Kakak itu harimau, kenapa jadi bertampang kucing!" Memutar kepala dan pandangan mata mereka bertemu. "Dasar harimau gila!"


"Haha, karena kau selalu luluh kan, kalau aku sudah begini." Seringai kemenangan menghiasi bibir Han, saat dia mulai menorehkan kecupan di dagu Aran. Bergulir ke pipi, bergerak ke hidung, memutari mata kanan dan kiri. Berakhir menggigit bibir, dan memakannya tanpa sisa, bibir merona Aran yang gelagapan mengimbangi serangan Han. Gadis itu bisa segera menguasi keadaan, dan bergerak ingin mendominasi.


Aaaaaa! Dasar harimau gila! Kau tahu kan, aku juga menyukainya, makanya kau begini. Teriakan Aran dalam hati.


"Aaaaaaahh, Kak..."


"Aku mencintai mu Aran."


Dua anak manusia itu sedang berusaha keras, untuk mendapatkan sang buah hati. Sepanjang akhir pekan, mereka bahkan tidak keluar dari rumah. Karena mereka sangat yakin, Tuhan akan melihat setiap kerja keras manusia. Hal ini kan berlaku dalam semua bidang kan. Memang maunya Han.


Han mengedipkan mata, di balik punggung Aran. Langit malam pun menyambut dengan Kelip bintang seperti menyambut senyuman laki-laki itu.


Malam semakin larut. Malam semakin memanas.


...🍓🍓🍓...


Dan hari yang mereka nantikan pun tiba.

__ADS_1


Sampailah pada kemunculan tanda garis dua, di alat cek kehamilan. Dengan tangan bergetar, Aran keluar dari kamar mandi, mau menunjukkannya pada Han. Laki-laki itu menunggu di depan kamar mandi dengan wajah tegang. Sangat jarang melihat ekspresi itu di wajah Han.


"Kak, garisnya dua." Aran mengangkat alat tes.


Mulut Han terbuka, sambil mengambil alat tes.


"Hamil? Artinya sekarang kamu hamil kan?" tanyanya memastikan.


"Ia Kak! Aku hamil!"


Aran menghambur dalam pelukan Han, buliran airmata berjatuhan tanpa bisa dia bendung. Menerjang sendiri karena saking bahagianya. Setelah beberapa bulan kosong akhirnya, Tuhan titipkan janin mungil di perutnya.


"Ini sungguhan kan Kak, ada bayi di perutku." Aran sendiri masih tidak percaya, kalau garis dua itu nyata adanya.


Han mengusap punggung Aran berulang, lalu mengangkat kepala Aran dan menciumi wajah gadis itu, dia menganggukkan kepala. Mengangkat Aran dalam dekapan, memutar tubuh gadis itu. Keduanya tertawa meluapkan kebahagiaan dan rasa syukur.


"Terimakasih Aran, kau memberiku hadiah luar biasa ini. Terimakasih Tuhan, karena memberi kami kesempatan menjadi orangtua."


Masih dalam dekapan suaminya, Aran mengamini doa. Lalu Han berjalan menuju tempat tidur, mendudukkan Aran dengan hati-hati. Namun tidak melepaskan dekapannya.


Han meraih bibir Aran, menciumi bibir gadis itu sambil berterimakasih. Berulang kali ia ucapkan.


"Aku mencintaimu sayang, aku sangat mencintaimu Aran. Terimakasih, terimakasih sudah mau mengandung anak ku." Mereka berciuman panjang dalam beberapa kali jeda tarikan nafas. Aran mengusap bahu suaminya, dia tidak bisa berkata apa-apa, karena dia sendiri orang yang paling berbahagia dengan garis dua itu. "Terimakasih Aran."


Gadis itu hanya sanggup mengekpresikan perasaan bahagianya dengan anggukan kepala, dan tepukan lembut di bahu. Sambil mereka melanjutkan ciuman panjang.


Sekarang Han, bisa merasakan sendiri, perasaan aneh yang meledak di dadanya. Rasa bahagia yang dulu dia lihat di mata Tuan Saga saat kehamilan nona, sekarang dia bisa merasakannya sendiri. Begini ya rasanya, menjadi calon ayah. Rasanya hati berdebar-debar untuk sesuatu yang tidak bisa diungkapkan. Senyum kebahagiaan menghiasi bibir laki-laki itu sepanjang hari. Han yang tersenyum karena dihujani kebahagiaan dan hadiah dari Tuhan. Sambil memeluk dan menciumi istrinya, tidak berhenti dia mengucapkan terimakasih. Sekali lagi, Aran memberikan sesuatu yang selama ini, tak pernah mampir dalam angannya. Kesempurnaan sebuah keluarga.


Hari itu mereka memberi kabar gembira itu pada semua orang. Keluarga Aran yang pertama ditelepon. Ayah dan ibu sampai loncat-loncat kegirangan. Katanya mereka akan membuat acara sebagai tanda syukur, mengundang para tetangga ke rumah. Untuk membaca doa keselamatan bagi calon cucu pertama mereka.


Yang kedua mereka beri tahu tentu saja, Tuan Saga dan Nona Daniah. Dipicu kabar bahagia ini, sepertinya Tuan Saga semakin terpancing, dia juga akan berusaha lebih keras lagi. Tapi, tentunya, dengan gaya arogannya Tuan Saga melampiaskan kekesalannya pada Han setelah memberi selamat.


"Ia, Tuan Muda."


Han menatap layar hpnya dengan waspada, menebak apa yang akan dikatakan Tuan Saga. Karena tidak melihat wajah Tuan Saga, dia jadi sulit memprediksi.


"Siapa yang menyuruh istrimu hamil duluan! Niah saja belum. Kau mau melangkahi ku!"


Aran sampai menahan tertawa tapi tetap keluar suara terkikik, saat Tuan Saga bicara di telepon. Dia mendengar suara plak! suara pukulan di badan. Lalu suara Nona Daniah terdengar, memberi mereka selamat dan doa keselamatan untuk calon bayi dan Aran.


Setelah Nona Daniah selesai bicara, Han bicara lagi.


"Maaf Tuan Muda, semoga Nona Daniah juga segera menyusul Aran. Dan terimakasih atas doanya Nona."


Tidak ada sahutan, Han menduga, Nona Daniah pasti sedang menutup mulut Tuan Saga, karena terdengar suara tawa. Dan sambungan telepon ditutup begitu saja oleh Tuan Saga, setelah terdengar suara Nona Daniah bicara. "Sayang, kemarilah." Dengan nada manja.


Aran dan Han saling pandang, lalu mereka tertawa bersamaan.


"Sepertinya Tuan Saga akan bekerja lebih keras untuk mengejar ketertinggalannya dari Kakak."


"Jangan bicara begitu."


"Hihi, ia maaf. Semoga Nona Daniah juga segera hamil anak kedua ya. Pasti seru kalau kami bersamaan hamil, nanti bisa janjian bersama ke dokter."


Semoga, Han juga bergumam dalam hati. Karena baginya, selain Aran, kebahagiaan Tuan Saga masih akan selalu menjadi prioritas dalam hidupnya. Keduanya saling berpandangan, tersenyum kemudian tertawa bersamaan, dan ciuman panjang pun berlanjut.


Padahal di luar sana, matahari telah mulai bergerak naik. Untung saja hari ini adalah akhir pekan.

__ADS_1


...🍓🍓🍓...


Positif hamilnya Aran, membuat Han semakin bersiap, menghadapi segala macam bentuk drama istri yang sedang hamil muda.


Tapi masalahnya!


Kenapa kau berbeda sekali dengan Nona Daniah saat hamil? Aran! Han bahkan sempat sanksi kalau Aran benar-benar hamil, karena baik kondisi fisik, psikis Aran berbeda sekali dengan Nona Muda Daniah saat mengandung Nona Erina.


Kalau dulu, tuan muda menghadapi kemauan Nona Daniah yang aneh-aneh, bahkan sampai tidak mau dipeluk dan di suruh tidur di sofa. Lha, sekarang yang dirasakan Han malah kebalikannya.


Sejak Hamil, Aran malah maunya menempel terus dengan Han. Tidur kalau tidak mendekap di bawah ketiak atau usel-usel di dada dia pasti belingsatan tidak tidur-tidur. Minta dikecup-kecup setiap ada kesempatan. Bukan hanya minta, dia juga lebih sering menciumi Han. Peluk-peluk sepanjang hari juga pernah terjadi. Menerjang duluan dengan segala gaya barunya.


Sampai Han pernah bertanya.


"Aran, kamu nggak ngidam seperti Nona Daniah?"


"Hemm, Kakak mau aku ngidam apa? Malah balik bertanya."


"Kamu beneran hamil nggak si? Kenapa beda sekali dengan Nona?"


"Haha."


Aran menerjang Han sampai laki-laki itu jatuh terjerembab ke tempat tidur.


Aran duduk di atas Han, menggerakkan tangannya, menari di dada yang berbalut kaos.


"Aku itu ngidamnya mau disayang-sayang, dipeluk-peluk dan dimanja kakak."


"Kok aneh. Tuan Saga dulu bahkan pernah diusir dari tempat tidur oleh Nona Daniah."


Lagi-lagi, Han yang sudah menyiapkan hati untuk diperlakukan sama merasa keheranan dan tidak terima sebenarnya. Dia kan ingin mempraktekkan ilmu yang sudah dia dapatkan.


"Kakak! Dokter juga kan bilang, ngidamnya tiap perempuan itu beda."


Tapi, kalian berdua itu terlalu berbeda! Begitu protes Han melalui kerutan disekitar matanya. Selama kehamilan, Aran memang mual-mual, tapi semua makanan dilahap habis olehnya. Tidak ada tu, drama mau makan ini dan itu tapi yang menghabiskan Han, karena semua tandas masuk ke perut Aran. Sampai Han pernah meledek, kau itu cacingan apa ngidam. Karena baik selera makan maupun nafsu makan Aran malah bertambah berkali lipat.


Aran yang masih ada di atas Han, menyapu bibir laki-laki itu dengan jemari.


"Sekarang, cium aku Kak, katakan Kakak mencintaiku. Seratus kali."


"Hah! Kenapa banyak sekali."


Aran menggoyangkan kepalanya sambil merengut. Lalu mengelus perutnya.


"Bagaimana ya, ini maunya bayi kita."


"Ah..." Han langsung merubah posisi, bangun. Hati-hati menidurkan Aran. "Karena ini maunya bayi kita, mau bagaimana lagi. Aku akan melakukannya Aran sayang, sekalipun ini kemauan mu, aku juga akan melakukannya."


Aran tergelak, sepertinya dia sudah ketahuan mengada-adakan ngidamnya. Tapi bodo amat pikirnya, karena saat kehamilan ini datang, dia merasa cintanya dan Han semakin bermekaran. Mereka semakin romantis dan berusaha memahami satu sama lain. Ya, walaupun sebelumnya juga begitu. Tapi Han lebih lembut dan berhati-hati dan tidak menggebu-gebu ketika mereka melakukan, karena ingat pesan dari dokter. Dia semakin manis dan romantis. Harimau gila itu sudah sepenuhnya menjadi kucing manis kesayangan Aran.


"Aku mencintaimu Aran..."


"Aku mencintaimu Aran..."


Cinta mereka berdua bergema di malam yang sunyi.


Penutup

__ADS_1


Akhirnya mereka tahu, kenapa selama kehamilan, nafsu makan Aran meningkat dua kali lipat. Karena ternyata, bukan hanya satu bayi mungil yang ada di perutnya. Ada dua calon jagoan yang sedang tumbuh dan berkembang di sana.


Bersambung


__ADS_2