
Mobil yang dikendarai oleh Bimo sudah sampai di depan hotel. Tanpa menunggu lama, mobil itu langsung meninggalkan area hotel setelah Bagas dan Sandra keluar dari mobil tersebut.
Mereka berdua meninggalkan sepasang pengantin baru yang akan melewati malam pertama di kamar hotel yang sudah Bimo pesan semalam saat Bagas merencanakan pernikahan dadakan.
Sandra dan Bagas berjalan beriringan. Bagas merangkul pundak sang istri sambil sesekali mengecup pipinya hingga membuat Sandra sedikit kesal. Namun, tidak mengurangi warna merah merona pada wajahnya.
Mereka menuju resepsionis. Setelah mendapatkan kunci, mereka berdua kembali berjalan dengan mesra menuju kamar hotel. Senyum pada wajah mereka terus mengembang, memancarkan kebahagiaan yang saat ini tengah mereka rasakan.
Sandra terdiam saat pintu kamar baru saja terbuka. Ia merasa dejavu. Dulu, dirinya juga pernah berada di posisi seperti saat ini. Saat Sandra menikah dengan Sean, mereka juga menghabiskan malam pengantin mereka di kamar hotel. Kamar yang dipersiapkan khusus untuk sepasang pengantin yang akan melakukan ritual malam pertama.
Sandra menatap tempat tidur yang bertaburan bunga mawar membentuk love juga sepasang angsa yang sedang berciuman. Jangan lupakan lilin-lilin yang menambah kesan romantis.
Sandra mengalihkan pandangannya pada Bagas. Menatap kedua manik mata cokelat Bagas yang juga sedang menatapnya.
"Aku harap, kamu tidak akan merasa kecewa karena malam ini bukanlah yang pertama buatku," ucap Sandra pelan.
"Memangnya kenapa kalau kamu bukan yang pertama? Aku juga bukan pria suci yang belum pernah melakukan hal itu." Bagas menjawab tanpa melepaskan tatapannya pada wanita yang sangat dicintainya itu.
"Aku hanya tidak ingin kamu menyesal." Sandra masih menatap wajah pria yang kini hanya berjarak beberapa centi saja dari wajahnya.
"Kamu benar. Aku memang menyesal. Menyesal karena tidak dari dulu aku melakukan ini padamu."
"Apa maksudmu?"
__ADS_1
"Kalau aku tahu kamu tidak akan menolakku, sudah dari dulu aku memaksamu untuk menikah denganku," ucap Bagas kemudian memeluk wanita pujaannya itu.
"Aku mencintaimu, Sandra. Sangat mencintaimu. Berjanjilah padaku, kalau kamu hanya akan melihatku seorang." Bagas mendekatkan wajahnya, lelaki itu dengan lembut meraih bibir Sandra dengan bibirnya.
Sandra membalas tautan bibir Bagas. Sudah bertahun-tahun setelah dirinya berpisah dengan Sean, Sandra baru kali ini kembali merasakan getaran cinta lagi terhadap seseorang. Sandra bahkan tidak pernah menyangka jika takdirnya justru bersama dengan orang yang dulu pernah membuat dirinya hancur.
Di saat kemelut rumah tangga yang menimpanya dulu, Sandra justru dipertemukan dengan Bagas yang saat itu masih menjadi pemain wanita. Pria itu bahkan ingin menodainya hingga membuat Sandra memilih mengakhiri hidupnya sendiri. Beruntung, saat itu Bagas langsung membawanya ke rumah sakit.
Sandra tidak menyangka jika dirinya akan mencintai orang yang dulu sangat dibencinya. Ia menyerah kalah pada pria yang kini telah resmi menjadi suaminya.
"Begitupun kamu. Aku juga ingin kamu berjanji jika kamu hanya akan melihatku seorang." Sandra membalas tatapan Bagas sambil mengulas senyum.
"Tentu saja. Selamanya, aku hanya akan melihatmu seorang." Bagas mencium kening wanita yang baru beberapa jam yang lalu menjadi istrinya.
"Hah?
****
Sandra menatap Bagas yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk yang melekat pada pinggangnya, hingga sebatas lutut.
Tubuh kekar pria itu terekspos. Dada bidang, perut rata dengan beberapa kotak yang tercetak di sana. Wajah Bagas terlihat beberapa kali lipat lebih tampan dengan rambut setengah basah. Laki-laki itu terlihat begitu ... seksi di mata Sandra.
Sandra tidak pernah memperhatikan Bagas. Wanita itu tidak pernah melihat Bagas dalam keadaan seperti itu. Wajah Sandra terlihat gugup saat pria itu menatapnya dengan tajam.
__ADS_1
Hatinya bergetar hebat dengan detak jantung yang berkejaran. Apalagi, saat tangan kekar itu menarik pinggangnya hingga dirinya secara otomatis tertarik merapat ke arah tubuh pria itu.
Bagas memindai wajah cantik di hadapannya. Saat ini, Sandra memakai baju tidur seksi yang memperlihatkan lekuk tubuhnya. Baju tidur yang sengaja ia persiapkan semalam.
Bagas bahkan sengaja menyuruh orang untuk mengganti isi koper Sandra. Anisa, perempuan itu bertugas mengganti isi koper Sandra dengan beberapa helai lingerie yang telah dipersiapkan oleh Bagas saat merencanakan pernikahan dadakannya.
Sandra yang tidak menyadari jika dirinya telah ditipu tidak lagi memeriksa isi kopernya saat menuju ke hotel. Bagas memang menyuruh Sandra untuk membawa beberapa baju ganti karena pria itu mengatakan akan menginap di hotel dalam waktu beberapa hari untuk menikmati malam pertama mereka.
"Kamu siap, Sayang?" Bagas tersenyum saat melihat wajah gugup Sandra.
"Bagas, kaki kamu–"
"Keadaanku sudah membaik," potong Bagas cepat. Saat ini dirinya memang masih merasakan sakit di bagian kakinya. Bagas bahkan merasakan nyeri saat dirinya saat ini memaksakan berdiri dengan tegak.
Beruntung, Sandra segera sadar kemudian langsung menarik tangan pria itu agar duduk di tepi ranjang.
"Sayang, percayalah! Meskipun keadaanku seperti ini, aku sudah siap untuk memuaskanmu."
"Bagas." Wajah Sandra merah padam. Namun, belum sempat mulutnya melayangkan protes, Bagas langsung mengunci bibir Sandra dengan bibirnya.
"Aku sudah bertahun-tahun menunggu saat ini, Sayang. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan hari ini."
BERSAMBUNG ....
__ADS_1