Lihat Aku Seorang

Lihat Aku Seorang
JANGAN MENATAPKU SEPERTI ITU


__ADS_3

Sandra menatap laki-laki di depannya dengan perasaan gugup. Bagaimana tidak gugup, jarak wajah lelaki itu dengannya hanya tinggal berapa centi saja.


Hembusan napas Bagas bahkan terasa menerpa wajahnya.


"Aku merindukanmu." Suara Bagas begitu lembut menyapa pendengaran Sandra. Suara yang beberapa hari ini selalu ia dengar hanya lewat ponselnya. Begitupun dengan ungkapan rasa yang saat ini pria itu ucapkan.


Hampir setiap hari Bagas menelepon Sandra. Meskipun terkadang merasa marah dan kesal, tetapi, Sandra tetap menerima telepon dari pria itu.


Namun, anehnya setelah beberapa hari, Sandra justru merasa terbiasa. Wanita itu bahkan merasa kehilangan saat Bagas tidak menghubunginya sama sekali. Seperti kemarin, Sandra menunggu sampai pagi, jangankan telepon, pesan pun tidak ada yang masuk ke nomornya.


Sandra merasa marah sampai-sampai saat beberapa yang lalu ia tidak mau mengangkat telepon Bagas sama sekali. Namun, karena ponselnya berdering, perempuan itu akhirnya dengan terpaksa mengangkat panggilan telepon dari pria itu.


Akan tetapi, siapa sangka kalau lelaki itu tiba-tiba sudah ada di hadapannya, kemudian membawanya pergi hingga akhirnya dirinya sampai di mobil ini sekarang.


Bagas masih memindai wajah cantik Sandra yang kini berada tepat di depan wajahnya. Rasanya, ia ingin sekali mencium bibir Sandra yang begitu menggodanya saat ini.


Akan tetapi, Bagas tidak ingin gegabah. Ia tidak mau Sandra ketakutan dan akhirnya kembali membencinya. Walaupun sebenarnya sampai saat ini perempuan itu masih belum menyukainya, paling tidak, kali ini hubungannya dan Sandra jauh lebih baik dibanding kemarin.


Bagas masih dalam posisi yang sama, menatap Sandra yang saat ini seolah terhipnotis. Perempuan itu bahkan memejamkan mata saat Bagas memajukan wajahnya dan menatap bibirnya dengan intens.

__ADS_1


Jantung Sandra semakin bertalu-talu bagaikan remaja yang baru jatuh cinta. Bagas tersenyum kecil melihat Sandra yang terlihat begitu menggemaskan di matanya.


"Aku akan membawamu ke suatu tempat." Bagas berbisik di telinga Sandra. Bibirnya menempel pada daun telinga Sandra, membuat perempuan itu dengan segera membuka matanya, merasakan debaran jantungnya yang semakin menggila.


Sandra dengan cepat mendorong dada Bagas agar lelaki itu menjauhinya. Sumpah demi apapun, sepertinya dirinya benar-benar gila. Bagaimana mungkin ia berpikir kalau laki-laki itu ingin menciumnya?


Bagas tersenyum saat melihat wajah Sandra merah merona. Lelaki itu kemudian mengusap-usap kepala Sandra


dengan gemas.


"Sepertinya aku harus segera menghalalkanmu."


"Melihatmu seperti ini, membuatku ingin sekali menerkammu saat ini juga." Bagas mengusap wajah Sandra kemudian segera menutup mobil sebelum wanita itu sadar kalau dirinya sudah membuat dia kesal.


Bagas segera masuk ke dalam mobil, laki-laki itu duduk di belakang kemudi, memasang seat belt kemudian melajukan mobilnya keluar dari area restoran.


Sandra yang sepertinya baru sadar dengan apa yang terjadi menatap tajam pada pria itu. Wajahnya yang tadi merah merona dan tampak menggemaskan berubah menjadi garang.


Tatapan wanita itu laksana singa yang ingin menerkam mangsanya.

__ADS_1


Dia sudah sadar rupanya.


Bagas mengulum senyum kecil melihat tatapan Sandra yang justru membuat jantungnya berdetak dengan kencang.


"Jangan menatapku seperti itu, jantungku bisa loncat kalau kamu terus menatapku seperti itu."


"Dasar gombal!" sungut Sandra kesal. Bisa-bisanya ia terpesona dengan pria brengsek itu.


"Kamu nggak percaya?" Bagas meraih tangan Sandra kemudian menempelkan telapak tangan itu di dadanya.


"Bagaimana? Kamu bisa merasakannya bukan?" ucap Bagas tanpa menoleh pada Sandra karena dia fokus mengemudi.


Sandra menatap pria itu dengan lekat. Memang benar apa yang dikatakan oleh Bagas. Sandra merasakannya. Merasakan detak jantung pria itu yang berdetak dengan cepat.


"Jangan begini, kamu sedang mengemudi." Sandra mengingatkan.


"Iya, Sayang, kamu jangan khawatir. Aku akan membawamu ke tempat tujuan dengan selamat." Tangan Bagas kembali terulur mengusap kepala Sandra.


"Sabar, sebentar lagi kita sampai, Sayang ...."

__ADS_1


BERSAMBUNG ....


__ADS_2