
"Aku merindukannya. Aku ingin bertemu dengannya," ucap Sandra tanpa sadar.
"Kamu merindukannya?"
Sandra mengangguk.
"Kamu juga ingin bertemu dengannya?"
Sandra kembali mengangguk.
"Memangnya kamu merindukan siapa dan ingin bertemu dengan siapa?"
"Pria brengsek."
"Pria brengsek?"
Sandra kembali mengangguk. Sepertinya perempuan itu belum menyadari ucapannya. Sedari tadi dia hanya mengangguk membenarkan apa yang dikatakan oleh Anisa.
"Pria brengsek siapa?" Anisa semakin penasaran.
"Sandra!" Anisa menepuk meja di depan Sandra. Wanita cantik itu sedikit tersentak.
"Ada apa? Kenapa kamu memukul meja?" Sandra kebingungan. Sementara Anisa mencebik kesal.
"Aku sedang berbicara denganmu. Tapi kau mengabaikanku!" Anisa berucap dengan kesal.
"Mengabaikanmu? Mana mungkin aku mengabaikanmu?"
"Kau mau mengelak?" Anisa menatap tajam ke arah Dara.
"Memangnya tadi kamu bicara apa? Maaf! Kepalaku pusing, aku tidak fokus." Sandra membalas tatapan Anisa dengan tatapan menyesal. Sementara Anisa justru memukul kepalanya sendiri.
__ADS_1
"Percuma saja aku bicara panjang lebar tadi kalau ternyata dia tidak mendengarkannya sama sekali.
Tapi, kalau dia tidak mendengarkan aku, tidak mungkin dia menjawab semua pertanyaanku dengan jelas bukan?" batin Anisa.
Anisa mengembangkan senyum pada wajah cantiknya. Perempuan itu kembali menatap Sandra yang masih menunggu jawaban dari Anisa.
"Kamu bilang, kamu sedang merindukan seseorang yang kini berada di Paris." Anisa Menaik turunkan alisnya.
"Apa?" Sandra tampak terkejut.
"Kamu juga mengatakan kalau kamu ingin sekali pergi menemui orang itu di Paris." Sandra kembali terkejut.
"Perasaan, aku tidak mengatakan apapun." Sandra menatap Anisa dengan senyum tipis untuk menutupi kegugupannya.
Kenapa aku bisa keceplosan di depan dia?
"Kamu mengatakannya, Sandra! Kamu bilang, kamu ingin bertemu dengan pria brengsek. Kamu juga mengatakan kalau kamu sangat merindukannya."
"Apa aku benar-benar mengucapkannya?" tanya Sandra dalam hati.
"Kamu mengatakannya tadi padaku, Sandra. Kamu bilang, kamu merindukan dia. Bukankah pria brengsek itu adalah pria yang dulu hampir saja melecehkanmu?"
"Pria yang dulu kita temui di Paris dan membuatmu bertekad keluar dari dunia modelling untuk sementara?" Anisa begitu antusias memojokkan Sandra.
Seandainya perkiraannya benar, berarti sahabatnya itu sudah mempunyai perasaan terhadap bosnya. Senyum Anisa tak berhenti mengembang pada wajah cantiknya.
Dengan begitu, pekerjaannya untuk menyatukan sahabatnya dengan bos tampannya itu berjalan lancar.
Sandra berkali-kali menepuk kepalanya. Wanita itu berkali-kali mengumpat dalam hati karena sudah mengatakan sesuatu yang tidak jelas pada Anisa. Bagaimana bisa dia keceplosan tentang Bagas?
Walaupun Anisa tidak tahu siapa pria itu, tetapi, Sandra yakin, sahabatnya itu akan terus mencecarnya hingga akhirnya akan membuatnya menyerah dan mengatakan semuanya.
__ADS_1
Sandra hanya terdiam saat mendengar semua ucapan Anisa. Dalam hati, ia terus memikirkan bagaimana cara menjawab pertanyaan Anisa. Gadis itu sangat peka. Dia pasti akan menyadari seandainya ia berkata bohong.
"Apa maksudmu mengatakan kalau aku merindukan pria brengsek yang aku temui di Paris? Bukankah kau sangat tahu kalau aku sangat ketakutan saat melihatnya?" Sandra mencoba berkelit.
Sementara Anisa menggeleng mendengar perkataan Sandra.
"Aku mendengarmu dengan jelas, Sandra. Kamu bilang, kamu ingin bertemu dengannya." Anisa masih bersikeras.
"Sudahlah! Kita baru saja ketemu, tapi kenapa malah membahas yang tidak penting?" Sandra kembali melanjutkan ucapannya saat Anisa terdiam.
"Tapi tadi kamu benar-benar mengatakannya, Sandra. Kamu bilang, kamu sangat merindukan pria brengsek itu." Anisa meneliti wajah Sandra. Ingin mencari kebohongan pada wajah cantik model tersebut.
"Anisa, Sayang. Sudahlah! Berhenti membicarakan pria itu. Beberapa hari ini pikiranku lagi galau. Aku kesepian nggak ada kamu. Apa kamu tahu?"
Anisa menggeleng pelan. Meskipun dirinya masih penasaran, tetapi, dia tidak mau membuat Sandra marah. Apalagi, Anisa melihat kalau Sandra seperti sedang tidak baik-baik saja.
"Saat ingin pulang ke sini, aku sudah membayangkan kalau aku akan sangat bahagia. Apalagi, aku akan bertemu dengan Kanaya, sahabatku. Tapi, setelah aku bertemu dengannya, ternyata tidak bisa menghilangkan rasa rinduku padamu." Sandra mengerucutkan bibirnya. Sementara Anisa terbahak.
"Jadi, kau benar-benar menyesal telah meninggalkan Paris?"
Sejenak Sandra terdiam. Namun, saat wajah dalam foto yang tersimpan di ponselnya itu terlintas, Sandra kemudian mengangguk.
"Iya. Aku menyesal karena sudah meninggalkan Paris."
Apalagi, saat ini dia ada di sana.
Sandra melanjutkan ucapannya dalam hati. Namun, detik berikutnya wanita itu menepuk kepalanya sambil menggeleng pelan.
Apa aku sudah gila? Kenapa aku terus memikirkan pria brengsek itu?
BERSAMBUNG ....
__ADS_1