
Sandra membuka matanya. Kepalanya masih berdenyut sakit. Tenggorokannya terasa kering. Entah berapa lama dirinya tertidur. Setelah meminum obat yang diberikan Sari, Sandra tertidur dengan pulas.
Sandra ingin bangkit dari ranjang. Namun, seketika ia menghentikan gerakan tubuhnya saat merasakan sesuatu yang menimpa perutnya. Wanita itu seolah baru menyadarinya.
Sandra terkejut saat melihat tangan seseorang yang melingkar pada perutnya. Wanita itu panik sekaligus marah. Tubuhnya dengan cepat berbalik menghadap seseorang yang masih dengan erat mendekapnya dari belakang.
Saat Sandra menoleh ke belakang, kedua matanya membola. Sandra merasa terkejut sekaligus tidak percaya saat melihat seseorang yang kini berada di sampingnya.
Bagas yang merasakan pergerakan di sampingnya merasa terusik tidurnya. Wajah tampannya yang masih terdapat beberapa luka lecet tersenyum saat melihat Sandra yang kini menatapnya.
"Kamu sudah bangun, Sayang?" Suara serak khas bangun tidur yang keluar dari mulut Bagas menyapa pendengaran Sandra.
Wanita yang belum sepenuhnya percaya dengan apa yang dilihat di depan matanya itu menggeleng. Sepertinya, saat ini dirinya sedang bermimpi.
Menangisi pria itu semalaman ternyata tidak membuat bayangan pria itu menghilang dari kepalanya.
"Sayang, aku masih ngantuk. Ayo kita tidur lagi." Bagas kembali mendekap wanita itu dalam pelukannya.
Sandra masih mengumpulkan kesadarannya. Telinganya menangkap detakan jantung yang berdetak dengan cepat. Posisi kepala Sandra yang bersandar pada dada Bagas membuat wanita itu dengan begitu jelas mendengar suara detak jantung Bagas.
"Kenapa mimpi ini seperti nyata?" batin Sandra. Wanita itu masih mengira kalau saat ini dirinya masih sedang bermimpi.
Sandra mengusap dada Bagas dengan pelan. Kedua matanya terpejam. Sandra sungguh mengira kalau saat ini dirinya masih sedang bermimpi.
Telapak tangan halus Sandra terus mengusap pelan dan semakin bergerak ke bawah. Sandra masih penasaran karena semuanya seperti nyata. Tangannya mengusap otot perut Bagas secara perlahan membuat sang pemiliknya menggeram tertahan.
Pria itu merasakan gejolak yang sudah lama tersimpan kembali muncul. Usapan lembut tangan Sandra membuat sesuatu dalam dirinya terlonjak bangun. Bagas menahan desahannya saat menyadari tangan Sandra sudah mulai nakal mengusap perut ratanya.
__ADS_1
"Sayang, apa kamu sedang menggodaku?" suara Bagas terdengar serak. Lelaki itu melepaskan pelukannya. Netranya memindai wajah Sandra yang tampak terkejut. Tangan Bagas mengusap lembut wajah cantik Sandra yang terlihat pucat dengan kedua mata sembab.
Hatinya terasa nyeri saat melihat keadaan wanita yang sangat dicintainya itu.
"Ka–kamu. Ini beneran kamu?" ucap Sandra tergagap saat merasakan usapan lembut tangan pria itu pada wajahnya.
"Iya, Sayang, ini aku. Maaf–"
"Jadi ini bukan mimpi?" sela Sandra masih menatap pria di hadapannya dengan tak percaya. Sandra mencubit wajah tampan Bagas yang masih dipenuhi luka lecet akibat kecelakaan itu. Bagas bahkan masih menggunakan perban yang menutupi luka di kepalanya.
Bagas meringis kesakitan saat Sandra justru mencubit di bagian wajahnya yang terluka.
"Sakit, Sayang ...."
"Bagas, ini beneran kamu?" Sandra tak menghiraukan rintih kesakitan Bagas.
"Bagas. Ini beneran kamu?" Sandra masih mengulangi lagi pertanyaannya saat Bagas hanya menjawab dengan gumaman.
"Iya, Sayang. Ini aku, Bagas. Lelaki yang kamu cintai dan juga sangat mencintaimu." Bagas memberikan ciuman pada seluruh wajah Sandra.
"Bagas." Sandra benar-benar belum percaya dengan apa yang terjadi. Bukankah pria itu kemarin mengusirnya dan juga menolaknya dengan mentah-mentah? Kenapa sekarang tiba-tiba dia ada di sini?
"Kamu sudah mengingatku?" Sandra menangkup wajah pria yang sedari kemarin membuatnya menangis karena patah hati.
"Iya, Sayang. Maafkan aku karena aku terlambat–"
"Bagaimana bisa kamu tiba-tiba mengingatku sementara kemarin kamu jelas-jelas menolakku?" sela Sandra. Wanita itu masih belum mempercayai jika lelaki itu adalah Bagas.
__ADS_1
***
Di hotel tempat diadakannya resepsi pernikahan Bagas dan Shena sudah mulai ramai. Semua tamu sudah mulai berdatangan. Sementara Shena kembali dirias oleh Luna.
Meskipun wanita itu sangat marah karena Bagas meninggalkannya di hari pernikahannya. Akan tetapi, pernikahannya harus terus berjalan.
Pihak keluarga Bimantara dan Chandra sudah memutuskan untuk tetap melangsungkan pernikahan itu meskipun tanpa Bagas. Biar bagaimanapun, nama baik keluarga dan perusahaan dipertaruhkan.
Shena bahkan tidak tahu siapa lelaki yang akan dijadikan pengantin pengganti. Memikirkan itu, membuat kemarahan Shena semakin memuncak. Akan tetapi, saat mendengar ancaman dari Bimantara dan kedua orang tuanya, mau tidak mau Shena menurut.
Lagipula, pernikahan ini juga akan menyelamatkannya dari rasa malu.
"Yang penting kamu menikah hari ini, Shena. Setelah hari ini terserah apa yang akan kamu lakukan pada pernikahanmu," ucap Ratna, ibunya Shena saat membujuk Shena untuk tetap menikah demi nama baik keluarga.
"Bimantara dan Liana sudah menyiapkan seseorang untuk menjadi pengantin penggantimu. Jangan menolak, atau mereka akan menghancurkan keluarga kita sampai tak bersisa."
"Mama."
"Mama serius, Shena. Apalagi, mereka saat ini sangat membencimu karena menganggap kamu adalah penyebab dari kecelakaan Bagas. Kalau kamu tetap tidak mau menikah hari ini, mereka mengancam akan menghancurkan keluarga kita."
"Brengsek!" Shena mengumpat saat mendengar ucapan sang mama.
"Semua karena kebodohan kamu sendiri, Shena. Seandainya kamu tidak ceroboh mengancam Bagas untuk mencelakai Sandra, saat ini semuanya pasti akan berjalan lancar seperti rencana mama sebelumnya."
Acara pernikahan akan segera dimulai. Shena duduk dengan cemas bersama dengan Ratna. Mereka berdua menatap punggung laki-laki yang sedang menjabat tangan Chandra di depan penghulu. Shena masih belum bisa membayangkan laki-laki seperti apa yang akan menikahinya karena dirinya belum sempat bertemu dengan pria itu.
"Saya terima, nikah dan kawinnya, Shena Aulia Hilmawan binti Chandra Hilmawan dengan mas kawin ... dibayar tunai!"
__ADS_1
BERSAMBUNG ....