Lihat Aku Seorang

Lihat Aku Seorang
103. Spesial Episode


__ADS_3

Lagi-lagi...


Bukannya pusing karena istrinya lemah tak berdaya selama kehamilan, tapi lebih karena shock semua tidak sesuai teori dan pengalaman selama dia menghadapi kehamilan Nona Daniah. Pengalamannya Sekretaris Han yang dia banggakan, menjadi tidak berguna.


Calon ayah itu mengudarakan protes. Mereka sedang duduk di sofa sekarang, Aran sedang menikmati camilan buah yang baru saja dipotong Han. Ada nanas, kiwi dan potongan stroberi. Buah yang rasanya asam, manis dan segar. Menyatu dan menyegarkan di mulut Aran.


Han berpindah, turun dari sofa, ke atas karpet, karena ingin membelai perut istrinya yang besar. Dia menyukai ini, karena setiap kali tangannya menyentuh perut, anak dalam perut Aran langsung membuat gerakan, seperti menjawab salam darinya. Seperti saat ini. Laki-laki itu tertawa, sambil menciumi lagi perut Aran. Sementara Aran, membelai lembut kepala Han.


"Aran, ini kan sudah hamil besar, apa tidak sebaiknya kamu mulai ambil cuti, kalau ada yang melarang mu cuti, biar aku yang menghubungi pimpinan mu." Han menebar ancaman, Aran menanggapi dengan gelak tertahan. Lagi-lagi pikirnya, suaminya selalu menyuruhnya mulai cuti sudah dari kapan itu. Tapi, tentu saja dia selalu berkilah dengan berbagai alasan. "Lihatlah, mereka aktif sekali, apa kau tidak kelelahan membawa mereka setiap hari," Han berujar lagi.


Perut yang besarnya dua kali lipat dari milik Nona Daniah dulu, tapi, seperti kelebihan energi, istri yang dia khawatirkan tetap santai menjalani hari. Sedikit sekali keluhan Aran selama kehamilan, mungkin yang paling sering diminta Aran padanya adalah memijit kaki dan bahu. Hanya itu, selebihnya semua bisa dilakukan Aran sendiri. Dia bukan ibu yang sering mengeluh. Tapi, jujur saja, karena terlalu mandiri dan tegar malah membuat Han terkadang kepikiran dan khawatir berlebihan.


"Haha, Kak, sepertinya cuma Kakak lho, suami yang bingung karena istrinya tidak ngidam yang aneh-aneh selama hamil." Seharusnya kau adalah suami paling bahagia Kak, pikir Aran.


"Karena kau terlalu berbeda dengan Nona Daniah, itu malah membuatku khawatir." Menjawab cepat, karena semua teori seperti langsung terbantahkan begitu saja.


Aran menyambut protes laki-laki yang dia cintai dengan tertawa. Kakak seperti tidak berdaya dan kalah gumam Aran, dan baginya itu lucu sekaligus menggemaskan.


Han yang sedang berjongkok di karpet, mendekat dan mencium bibir Aran. Gadis itu mundur sampai bersandar pada sofa. Mereka berciuman cukup lama. Melarutkan cinta dan kerinduan karena seharian ini tak berjumpa. Mengusir lelah dengan bercumbu dan membisikkan cinta.


Aran menyentuh kedua pipi Han dan menggoyangkannya setelah mereka selesai berciuman.


"Seharusnya Kakak senang tahu, suami lain kalau istrinya tidak ngidam aneh-aneh mereka akan senang." Membekas kecupan di bibir Han tiga kali. "Aku dan Nona Daniah kan berbeda. Dan sepertinya, mereka berdua." Aran meraih tangan Han dan meletakkannya di atas perut. Jedug, seperti tahu ayahnya menyapa, mereka jadi seperti sedang main bola. Perut Aran bergoyang lagi. Gadis itu tertawa melihat gerakan perutnya sendiri. "Sepertinya, mereka akan tumbuh mirip dengan mu Kak, sekuat ayahnya. Hehe. Terimakasih sayang, aku sungguh baik-baik saja. Aku akan cuti sesuai jadwal. Jangan khawatir. Anak kita akan lahir menjadi keren dan tangguh seperti ayah dan ibunya."


Hah! Han menghela nafas. Keras kepalanya Aran soal urusan pekerjaan sudah semakin tidak ada tandingannya. Ada saja alasan gadis itu. Aran pernah bilang, dia bosan kalau tidak melakukan apa pun. Lagipula cuma bekerja di belakang meja, tidak akan menguras tenaga. Dan aku juga kuat Kak, lihatlah. Sambil menunjukan otot lengan dan menerjang Han di tempat tidur. Membuatnya takluk dan akhirnya luluh membiarkan Aran bekerja.


Tentu saja, anak mereka pasti akan setangguh orangtuanya.


Begitulah yang terjadi, segala ketakutan Han dan kesiapan hatinya seperti menguap laksana embun di pagi hari. Aran benar-benar berbeda sekali dengan Nona Daniah, baik sejak kehamilan masih muda, maupun sekarang, saat menantikan kelahiran.


"Baiklah, tapi kau harus berhati-hati ya, kalau terjadi kontraksi sekecil apa pun, kau harus menghubungiku. Apa pun situasinya."


Kenangan suram langsung terbayang di pelupuk mata Aran. Mengenai hari mencekam sekaligus hari paling menyedihkan dalam hidupnya, saat dia dipecat dan diusir dari rumah utama. Kontraksi mendadak Nona Daniah yang merubah segala rencana. Apa mungkin dia trauma dengan hal itu gumam Aran sambil menganggukkan kepala meyakinkan suami.


"Ia Kak, aku sangat berhati-hati kalau di luar, rekan kerjaku juga tahu dan memberiku perlakuan istimewa. Dokter bilang semua aman, kalau sesuai prediksi mereka masih sekitar dua Minggu lagi kan." Bola mata yang berbinar Aran menyakinkan suaminya, kalau semua akan berjalan sesuai dengan jadwal. Semua akan baik-baik saja. Kepala bayi pun sudah masuk ke panggul dan posisi sudah aman. "Aku menantikan mereka melihat dunia Kak, aku harap Kakak bisa menemaniku nanti saat mereka lahir."


Tentu saja Aran sudah menyiapkan hati, dan dia ingin mendapatkan dukungan sepenuhnya dari orang yang ia cintai.


"Aku pasti akan selalu ada di samping mu. Tuan muda sudah memberi izin, kapan pun waktunya, walaupun sedang dalam situasi apa pun aku bisa langsung pergi kepadamu." Han meraih tangan Aran, mencium punggung tangan gadis itu. "Aku sungguh berdebar-debar Aran, menantikan kelahiran anak-anak kita. Terimakasih sudah berjuang mengandung mereka."


Walaupun saat Nona Daniah dia merasakan cemas, karena khawatir terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Perasaan gelisah menantikan buah hatinya lahir, berkali lipat adanya. Setiap malam Han selalu berdoa kepada Tuhan, semakin banyak dia berbagi di jalan menuju pulang ke rumah, meminta kepada Tuhan kebaikan untuk anak dan istrinya. Karena katanya, saat proses kelahiran, selain dokter yang membantu dan perjuangan sang ibu, keajaiban Tuhan lah yang akan banyak berperan. Dan dia mengetuk pintu Tuhan setiap malam, untuk kebaikan dan keselamatan, anak dan istrinya.


Hari itu mereka menutup hari dengan bercumbu di atas sofa. Membisikan nama-nama yang sudah mereka pilih. Saling mengucapkan terimakasih dan cinta. Bahkan saking bersemangatnya, dosisnya melebihi hari biasanya.


"Ahhhh, Kak!"


Malam menutupi, langit malam bersinar cukup indah. Bercampur antara rembulan dan kelip bintang.


...πŸ“πŸ“πŸ“...


Keesokan harinya, di ruangan meeting, salah satu ruangan yang ada di gedung Antarna Group. Suasana cukup menegangkan, walaupun raut wajah Tuan Saga terlihat biasa sekalipun, karena mereka takut membuat kesalahan, atau laporan yang akan mereka berikan, tidak memuaskan.


Pertemuan bulanan, laporan para CEO anak perusahaan milik Antarna Group dimulai. Satu persatu menunjukan laporan, slide demi slide di layar berganti. Tuan Saga terlihat tenang, hanya sesekali tangannya mengetuk meja.


Saat salah satu CEO wanita sedang membacakan laporan penjualan, suasana pun cukup tenang. Tapi, tiba-tiba, bukan Tuan Saga, karena laki-laki itu masih terdiam mendengarkan, tapi Sekretaris Han mendorong kursi yang dia duduki. Tangannya bergetar memegang hp. Laki-laki yang biasanya setenang gunung salju terlihat gelisah.


"Han.."


Suara Tuan Saga mengisi keheningan. Han langsung kembali tersadar, sedang ada dimana dia sekarang.


"Maafkan saya Tuan Muda, istri saya dibawa ke RS." Menunjukkan layar hpnya yang menghitam.


"Kau bilang masih dua Minggu lagi." Tuan Saga ingat pernah mendengar informasi ini beberapa hari lalu.


"Saya juga tidak tahu." Sepertinya, seumur hidup, baru sekali ini Sekretaris Han memberi jawaban seperti ini, terbukti seisi ruangan terkejut mendengar jawaban Sekretaris Han.


Pesan dari Dokter Harun masuk ke hp Han, bergegas dia buka. Han terlihat berangsur tenang.


"Katanya maju dari perhitungan dokter, dan sekarang mereka sedang melakukan persiapan kelahiran."


Tenanglah, Aran dan bayi kalian baik-baik saja, Aran sudah ada di ruang persalinan, sedang menunggu pembukaan jalan lahir. Kalau urusanmu sudah selesai, segera datang. Begitu pesan Dokter Harun. Dari kalimat yang tertulis sepertinya situasi aman terkendali. Membuat Han mengendurkan ketegangannya.


"Tuan Muda, saya..."


"Kenapa kau masih di sini? Dasar bodoh pergi sana!" Malah Tuan Saga yang berteriak marah karena Han terlihat kebingungan, ingatan Daniah sepertinya langsung terbayang di pelupuk mata Tuan Saga. Membuat Tuan Saga gemas dengan sikap Han yang kebingungan.


"Oh, baik Tuan Muda." Han memberi isyarat Revan untuk mengikutinya. Han menundukkan kepala dan dalam sekejap menghilang keluar ruangan. Tertinggal bisik-bisik.


"Wahh, aku baru pertama kali melihat Sekretaris Han tidak tahu harus melakukan apa."


"Istrinya kan mau melahirkan."


"Ternyata dia manusia."


"Sampai Tuan Saga memberi perintah tegas, apa saking paniknya dia, sampai terucap kata dia tidak tahu."


"Ternyata, dia memang manusia ya."

__ADS_1


"Seharusnya kita tidak perlu setakut itu kan padanya, dia juga manusia."


"Ehm, tapi dia sekretaris Han."


Semua langsung merinding.


Satu ketukan tangan Tuan Saga di atas meja, membuat bisik-bisik langsung menghilang seketika. Wajah mereka terlihat kembali tegang. Revan yang baru masuk, langsung menggantikan Han memimpin rapat, duduk di samping Tuan Saga. Tangannya terangkat, menyuruh CEO wanita melanjutkan laporannya.


Meninggalkan ruangan meeting, menuju mobil yang sedang melaju dengan cepat di jalanan. Pikiran Han campur aduk sekarang. walaupun dia sudah mendengar Dokter Harun bicara kalau semua baik-baik saja, Aran sudah mengalami kontraksi dan pecah ketuban dan sekarang sedang menunggu pembukaan jalan lahir.


Kenapa? Kenapa waktunya maju dua Minggu!


Baru tersadar, otaknya sudah kembali bekerja. Dan merasa ada yang aneh.


Rencananya Aran akan melahirkan dua Minggu lagi, jika sesuai hitungan dokter. Dan dia akan mulai cuti beberapa hari lagi setelah menyelesaikan semua pekerjaannya. Apa dia stress karena rekan kerjanya memberinya banyak pekerjaan. Pikiran negatif berlarian mencari kambing hitam. Bahkan harimau gila itu bisa datang ke kantor Aran dan menerkam siapa pun kalau itu ternyata benar adanya.


Awas saja, kalau kalian berani mempekerjakan istriku seenaknya!


Hp Han yang diletakan di phone holder dasboard bergetar, dia menekan panggilan. Mendengarkan Dokter Harun bicara.


"Sepuluh menit lagi aku sampai! Tidak terjadi apa-apa pada Aran kan?"


Dokter Harun tidak menjawab secara jelas pertanyaan Han. Hanya menyuruh Han segera datang. Berbeda dengan isi pesannya tadi. Sekarang Dokter Harun mau Han segera datang. Tapi Harun tidak menjelaskan situasinya. Bagaimana kondisi Aran.


"Dokter!" Han berteriak marah karena Harun tidak menjawab.


"Aku tutup ya, supaya kau fokus mengemudi."


Bola mata Han mendelik, belum pernah dia merasakan kesal dan marah pada Dokter Harun sebesar ini. Menelepon bukannya memberi info yang pasti malah hanya setengah-setengah bicara.


Wuzzzz, mobil melaju seperti kilat cahaya. Untung jalanan tidak terlalu ramai. Alat tilang elektronik, saatnya bekerja.


Han bahkan tidak sempat menarik kunci mobil, dia cuma menyambar hp. Saat sudah memarkirkan kendaraan. Berlari dengan cepat menuju tempat yang dulu, Nona Daniah melahirkan.


Dokter Harun menyambutnya di depan lift, langsung dicengkeram kerah jas dokternya.


"Anda tahu kan, saya sedang tidak bisa berfikir jernih, jadi bicaralah dengan benar Dokter."


Suara yang membuat tengkuk Harun merinding, laki-laki itu memukul tangan Han minta dilepaskan.


"Tenanglah! Sialan! aku kan sudah bilang semua baik-baik saja, Aran dan kedua anak mu baik-baik saja."


"Lalu kenapa Anda!" Han melepaskan tangan. Saat sudah berjalan menuju ruang persalinan. Seorang perawat yang menunggu di depan pintu menyuruhnya melakukan ini dan itu. Mencuci tangan dan memakai baju ganti. Dokter Harun masih mengikutinya, dengan iringan omelan.


"Ah, dasar gila! kau mau membunuhku. Kau lebih mengerikan dari Saga. aku menyuruhmu cepat datang, karena pembukaan jalan lahir Arah cepat sekali. Sepertinya anakmu ingin segera menerjang ke luar. Jadi cepat masuk sana!" Harun mengusap lehernya. "Istrimu baik-baik saja, jadi jangan khawatir. Kondisi anak mu juga begitu, dia cuma sudah tidak sabaran."


Han tidak menggubris ocehan Harun, kalimat Aran baik-baik saja sudah cukup baginya.


"Aaaaaa, Dokter dia mendorong. Awwww, sakit Nak!" Teriakan Aran mengisi ruangan. Tepat dengan pintu yang terbuka. Aran langsung bisa mendeteksi keberadaan suaminya. Wajah kesakitan ya langsung sumringah. Energi yang masih mengendap, langsung muncul dengan datangnya Han. "Eh, Kakak! Kakak sudah datang. Syukurlah. Kak, mereka kuat sekali mendorongnya."


Dokter memberikan instruksi, perawat juga di samping Aran bergerak sesuai instruksi dokter.


"Kau tidak apa-apa Aran? Maaf aku baru datang." Han langsung meraih tangan Aran, memeluk istrinya. Menciumi kepala Aran. Gadis dalam pelukannya meringis. "Aran."


"Kenapa?"


"Apa tidak sakit? Kenapa kau biasa saja."


Dokter dan perawat menahan senyum mendengar pertanyaan Han, tidak perlu ditanya, pasti sakitlah! begitu pikir mereka. Tapi cara bertanya Han itu bukan bernada khawatir tapi heran. Kenapa bisa begitu, karena Han sudah ditakut-takuti Tuan Saga. Rasa sakitnya istri yang sedang melahirkan, perasaan frustasi karena tidak bisa melakukan apa pun. Tapi, kenapa? Sekarang Aran terlihat baik-baik saja. Cuma meringis sesekali. Malah tertawa dengan pertanyaan Han.


"Memang cuma Kakak ya, suaminya yang kebingungan karena istrinya nggak ngidam, dan sekarang nggak kesakitan."


"Karena kau terlalu berbeda dengan Nona Daniah, aku kan jadi khawatir."


Pertengkaran kecil itu berakhir, saat Aran menjerit dan mulai mengejan. Han meraih tangan Aran yang basah. Bibir laki-laki itu bergetar memanjatkan doa.


"Kepalanya sudah terlihat, ayo dorong lagi Nona. Tarik nafas pelan, dan dorong. Ia, ia."


Han semakin erat memegang tangan Aran dan memanjatkan doa. Saat Aran mengerang kan kekuatan untuk mengejan. Sapuan tangan Han membasuh kening Aran yang dibasahi peluh.


"Aran... Aran.." Bibir Han bergetar, melihat istrinya yang mengerahkan energinya.


"Aaaaaaaaa!" Suara Aran yang melengking, bersamaan dengan tangis keras sang kakak. Satu bayi sudah melakukan tugasnya. Dan perjuangan itu belum berakhir. "Aaaaaaaaa!" Sang adik pun ikut keluar, melihat dunia.


Bukan hanya Aran dan Han yang disirami kebahagiaan. Para dokter dan perawat pun demikian. Cekatan mereka melakukan tugas dan pekerjaannya.


Kedua bayi kembar, Han dan Aran menyambut udara dunia dengan tangis keras memenuhi ruangan persalinan.


"Semuanya laki-laki Tuan, Nona Aran selamat. Semuanya sehat, normal dan lengkap.."


Tangisan Aran pecah nyeri kontraksi yang langsung menghilang seketika, berganti kebahagiaan gadis itu. Han yang terlalu bahagia saat melihat dua bayi mungil dalam dekapan dokter, tak bisa menahan ujung matanya yang ikut berair. Dia juga menangis, karena sangat berbahagia dan bersyukur.


"Aran, terimakasih Aran ku, terimakasih sayang, terimakasih sudah berjuang. Aku mencintaimu Aran." Han mendekap bahu Aran, menciumi pipi Aran yang juga basah oleh airmata. Tangisan mereka bercampur. "Mereka mirip dengan mu. Kau dan anak-anak kita. Terimakasih Aran, terimakasih sudah memberiku kesempurnaan keluarga." Semakin banyak airmata kebahagiaan yang jatuh.


"Kakak menangis, lucunya. Harimau ku bisa menangis juga ya. Terimakasih juga Kak, sudah menemaniku."


Bibir keduanya bertaut dalam kecupan ringan.

__ADS_1


Perawat dan dokter sambil terus bekerja, terlihat menahan senyum. Untuk pertama kalinya dalam hidup mereka, mereka melihat Sekretaris Han, laki-laki dingin dan menyeramkan itu menangis tersedu dalam pelukan istrinya, setelah kedua bayi kembar mereka lahir ke dunia. Airmata kebahagiaan karena Han telah memiliki keluarga yang sempurna.


Begitulah, cerita manis Sekretaris Han, yang dijuluki Aran sebagai harimau gila. Menemukan kebahagiaannya di luar cinta dan penghormatannya pada Tuan Saga. Cinta dalam bentuk lain yang manis dan hangat, bahkan memberinya banyak pengalaman luar biasanya yang selama ini hanya bisa dia lihat dari tuannya, cinta keluarga.


...πŸ“πŸ“πŸ“...


...Epilog...


Waktu yang berputar, anak-anak tumbuh dengan cara mereka sendiri. Han dan Aran pindah rumah ke sebelah rumah orangtua Aran. Mereka membeli beberapa rumah yang kemudian direnovasi menjadi bangunan megah, rumah dengan banyak kamar. Walaupun tidak sebanyak rumah Tuan Saga. Karena Han memang memakai rumah utama sebagai desain awal bentuk rumahnya.


Rumah orangtua Aran jadi terlihat menempel di samping rumah mereka.


Dan bagaimana si kembar tumbuh, dibawah pengasuhan Han dan Aran yang dibantu orangtua Aran.


Mereka memang kembar, namun dari kepribadian, keduanya jelas sekali berbeda. Sang kakak sangat mirip dengan ayahnya. Tegas dan percaya diri. Sementara adik, seperti ibunya yang ceria dan banyak bicara. Si adik lebih sering menghabiskan waktu di rumah kakek mereka.


Dan hari ini, bayi kecil itu telah masuk sekolah TK. Tumbuh menjadi duplikat ayah dan ibu mereka.


Seorang anak laki-laki berjalan menuruni tangga, dia memakai stelan jas berwana hitam, dengan kemeja putih. Dasi kupu-kupu mungil bertengger di lehernya. Menyisir rambutnya dengan rapi ke belakang seperti yang dilakukan ayahnya.


Dia berdiri di ujung tangga, agak heran karena melihat ayahnya sedang duduk sendirian, ibu belum kelihatan gumamnya.


"Di mana adik mu? Dari tadi ayah tidak melihatnya." Han bertanya karena anak pertamanya muncul sendirian.


"Ayah selamat pagi." Dia menundukkan kepala menyapa ayahnya dulu. "Dia di rumah nenek, katanya mau makan jamur krispi buatan nenek. Ibu di mana?" Dia balik bertanya, karena tumben ayahnya turun duluan. Biasanya ayah dan ibu kan tidak terpisahkan.


Ayah tidak menjawab, tapi dari raut wajahnya sepertinya ibu mengusirnya keluar kamar karena menggangu. Laki-laki kecil itu tertawa. Konon katanya, ayah adalah tangan kanan Tuan Saga yang paling ditakuti. Dia menyeramkan, banyak cerita yang dia dengar begitu. Tapi saat bersama ibu, dia seperti kucing kehujanan yang tidak berdaya. Padahal kata ibu, ayah itu Harimau.


Dih, harimau apanya. Dia menahan senyum.


"Ibu mengusir ayah ya? makanya jangan terlalu menggangu ibu."


"Beraninya kau menasehati ayahmu."


Sang anak malah menegakkan kepala bangga. Percaya diri dan sombongnya benar-benar menurun dari ayahnya.


"Cepatlah Bu, Kak Erina pasti sudah menunggu." Akhirnya dia berteriak memanggil ibunya.


Tangan ayahnya melayang memukul bagian belakang bahu. Plak!


"Ayah!"


"Beraninya kau memanggil Nona Erina dengan panggilan Kakak, panggil beliau dengan benar."


"Tapi Nona Erina yang minta saya memanggil begitu."


Ayahnya memukul lagi, dengan kekuatan yang sama. Sakit, gumamnya. Ketika dia melirik ayahnya, sorot mata serius itu muncul. Ketegasan yang selalu dia tunjukkan, kalau tidak ada ibu.


"Nona bilang, saya boleh memanggil begitu, beliau merasa lebih nyaman." Anak laki-laki itu tahu, kalau ayahnya belum menerima alasannya. "Baiklah Ayah, saya hanya akan memanggil Kak Erina, kalau sedang berdua, sesuai keinginan Nona. Ayah kan tahu, saya tidak bisa menolak keinginan Nona."


Cih, ayahnya mendengus.


"Jaga sikapmu, dan berhentilah bersikap kekanakan dengan mengatakan kau akan menikah dengan beliau nanti."


"Kenapa? Kak Erin bilang, kalau aku jadi anak yang baik, rajin belajar, dan makan sayur dan buah, setelah dewasa dia akan menikah denganku."


Padahal dia tahu, sikap kekanakan ini hanya dia tunjukan di depan Nona Erina saja. Ayahnya tergelak, sambil mengejek. Karena ayahnya tahu, kepribadiannya yang sebenarnya. Makanya ayahnya mengejek begitu.


"Nona Erina mengatakan begitu supaya kau tidak pilih-pilih makanan."


Aku juga tahu itu, gumamnya. Nona bersikap baik padaku karena aku masih kecil. Tapi, bagaimana ya, aku kan tidak sekecil itu sebenarnya. Aku memang menyukai Nona, dan akan menikahinya kalau dewasa nanti.


"Ayah, kalau saya dewasa saya ingin seperti ayah. Hanya melihat ibu seorang. Hanya takut pada ibu seorang."


Ayahnya menyentuh kepalanya.


"Siapa yang takut pada ibumu, ayah itu mencintai ibu mu, bukan takut pada ibu mu."


"Ia, saya percaya." Giliran anaknya yang menyeringai sekarang.


Obrolan mereka terhenti, saat langkah terdengar dari tangga. Mereka berdua menoleh, ibu terlihat cantik dengan pakaian senada yang dia pakai dengan ayah. Dua orang suster berjalan di belakangnya.


"Ibu..."


"Mana adik mu? Kenapa hanya ada kalian berdua?"


Ayah langsung merengkuh bahu ibu, mencium pipi ibu, seperti orang yang sudah lama tidak bertemu.


"Aran, kau cantik sekali hari ini. Bagaimana ini, aku jatuh cinta lagi."


"Mulai!" Sang anak mengangkat bahu. "Aku ke rumah nenek dulu." Lebih baik pergi sebelum diusir ayah.


Nah kan, tangan ayahnya bergerak mengusir, sementara itu ibu mengganguk menjawab anak pertamanya. Dua orang suster di samping ibu keluar duluan sambil menggendong bayi kecil dalam pelukan mereka masing-masing.


Tertinggalah ayah dan ibu di dalam rumah, sudah bisa ditebak, apa yang akan dilakukan ayahnya, si harimau gila yang kata ibu sudah berubah menjadi kucing menggemaskan.


Aku juga harus bersikap manis dan menggemaskan, karena Nona Erina kan suka kalau aku bersikap begitu. Dia berlari memanggil nama adiknya. Dia ingin segera pergi ke rumah utama, bertemu Nona Erina.

__ADS_1


...Spesial Episode LAS...


...πŸ’–SelesaiπŸ’–...


__ADS_2