
Sandra sampai di depan rumah besar berpagar tinggi. Rumah itu terletak di perumahan kawasan elit. Seorang lelaki membukakan pintu pagar kemudian mempersilakan Sandra masuk sambil menundukkan kepalanya.
Sandra membalas laki-laki itu dengan senyuman dan ucapan terima kasih. Sudah lama Sandra tidak pulang ke rumah ini. Tetapi, wajah lelaki penjaga pintu gerbang itu tak berubah. Masih terlihat awet muda meskipun sudah bertahun-tahun berlalu.
Sandra turun dari mobilnya. Seorang asisten rumah tangga menyambutnya dengan senyuman lebar. Raut kaget terlihat jelas pada wajahnya.
"Nona pulang?" Asisten rumah tangga bernama Ratih itu tersenyum senang. Setelah bertahun-tahun meninggalkan rumah, anak majikannya itu akhirnya pulang juga.
"Iya, Bi. Aku mau ketemu mama dan papa. Mereka ada 'kan, Bi?" sahut Sandra tersenyum ramah.
"Tuan dan Nyonya baru datang semalam dari Singapura. Kebetulan sekali, saat ini mereka sedang makan siang."
"Terima kasih, Bi." Sandra melanjutkan langkahnya menuju ruang makan tanpa menunggu jawaban dari Bi Ratih.
"Mama." Sandra menatap ke arah wanita yang kini menengok ke arahnya.
"Sandra!" Veronika memekik kaget saat melihat putrinya kini berada di hadapannya. Sudah lama sekali ia tidak bertemu dengan Sandra.
Sandra mendekati sang mama kemudian memeluknya. Sandra juga mencium kedua pipi Veronika.
"Papa." Berbeda dengan Veronika yang antusias dengan kedatangan Sandra. Bramantyo justru menatap Sandra dengan sinis.
"Papa pikir kamu sudah lupa kalau kamu masih punya orang tua," sindir Bramantyo.
Sandra mendengus kesal. Papanya memang seperti itu. Selalu menyindir dan membuatnya kesal. Sandra mendekati Bramantyo. Mengecup kedua pipi cinta pertamanya itu.
"Aku kangen sama Papa."
__ADS_1
"Tapi papa nggak kangen tuh, sama kamu." Raut wajah Bramantyo terlihat datar. Veronika menahan tawa sementara Sandra cemberut. Wanita itu menarik kursi kosong di sebelah papanya.
Bibirnya mengerucut menahan kesal. Mulutnya terus saja menggerutu.
"Papa emang nyebelin!" Veronika tertawa kecil. Sedangkan Bramantyo hanya melirik sekilas ke arah putrinya.
Pria paruh baya itu sebenarnya sangat senang karena putrinya tiba-tiba pulang ke rumah selama bertahun-tahun. Namun, pria itu tetap saja masih kecewa karena Sandra seolah tidak lagi mau peduli dengannya dan juga istrinya setelah memutuskan untuk berpisah dengan Sean.
"Setelah bertahun-tahun, memangnya kamu masih inget sama papa dan mama? Tumben-tumbenan kamu pulang dan bilang kangen segala." Bramantyo menatap sinis wajah putrinya yang semakin cantik dan terlihat lebih dewasa.
Bibir Sandra semakin mengerucut mendengar ucapan papanya.
"Sandra mau bicara sama Mama dan Papa," ucap Sandra kemudian dengan raut wajah kesal.
"Kita makan dulu, baru cerita." Veronika menyela. Ia sudah bisa menebak kedatangan Sandra. Tidak mungkin anak itu pulang kalau tidak ada sesuatu yang membuatnya memutuskan untuk pulang.
"Kamu mau menikah dengan orang yang hampir saja melecehkanmu dan membuat pernikahanmu hancur?" Bramantyo tampak terkejut. Begitupun dengan Veronika.
Sementara Sandra menunduk. Ia sudah bisa membayangkan reaksi kedua orang tuanya saat mendengar ini. Sandra tahu, kedua orang tuanya sangat kecewa saat Sandra memutuskan bercerai dengan Sean.
Mereka kecewa dengan keputusan Sandra yang dengan sengaja menghadirkan orang ketiga dalam rumah tangganya hingga membuat rumah tangganya hancur di tangan sahabatnya sendiri.
Sampai sekarang Veronika bahkan masih tetap menyalahkan Kanaya karena telah merebut Sean dari Sandra. Meskipun pada kenyataannya, putrinya sendirilah yang telah menyerahkan suaminya itu pada sahabatnya. Namun, bukankah saat itu mereka mempunyai perjanjian?
"Apa yang membuatmu ingin menikah dengannya Sandra. Kamu tahu, 'kan, dia itu kriminal? Dia bahkan pernah di penjara!" teriak Bramantyo marah.
"Papa." Sandra menatap Bramantyo dengan raut wajah memohon.
__ADS_1
"Dia sudah berubah, Pa. Dia tidak seperti dulu lagi." Sandra menatap sang papa. Berharap pria paruh baya itu memberikan restu padanya dan Bagas.
"Apa kamu sudah gila, Sandra. Bagaimana mungkin kamu menikah dengan orang yang dulu hampir saja memperkosamu? Apa kata Sean jika dia mengetahui kalau kamu menikah dengan pria itu, Sandra?" Veronika ikut memarahi Sandra.
"Sean sudah tahu, Ma."
"Apa?" Bramantyo dan Veronika berucap bersamaan. Mereka sangat terkejut mendengar ucapan Sandra.
"Bagaimana mungkin Sean membiarkan kamu berhubungan dengan pria itu? Bukankah Sean sendiri yang memasukkan pria itu ke dalam penjara?" Veronika menggeleng pelan. Dirinya masih belum mempercayai.
Sampai saat ini, perempuan itu masih berharap Sean bisa kembali dengan Sandra. Sean adalah sosok menantu yang sempurna. Terlepas dari kekayaan yang dimilikinya.
"Sudah aku bilang, dia sudah berubah, Ma. Dia sangat baik. Aku yakin, Mama dan Papa tidak akan kecewa jika memberinya kesempatan untuk menikah denganku."
"Sandra! Papa tidak mau tahu. Putuskan hubunganmu dengan dia secepatnya. Papa tidak mau menanggung malu karena mempunyai menantu seorang mantan narapidana!"
"Papa!" Sandra menatap Bramantyo dengan tatapan kecewa. Kedua matanya berkaca-kaca.
"Sandra. Mama benar-benar tidak percaya sama kamu. Bagaimana mungkin kamu akan menikah dengan orang yang bahkan tidak setara dengan mantan suamimu? Kamu lupa, papa dan mama ini siapa?" Veronika menatap putrinya yang terlihat menangis. Antara kecewa dan iba. Biar bagaimanapun, seorang ibu pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya.
"Aku hanya ingin bahagia, Ma. Semenjak berpisah dengan Sean, baru kali ini aku kembali menemukan kebahagiaanku." Sandra menangis. Apalagi, saat bayangan Bagas yang memelas agar dirinya tidak meninggalkan pria itu kembali terlintas.
"Aku mencintainya, Ma. Aku hanya ingin terus bersamanya." Sandra menangis pilu membuat kedua orang tuanya saling berpandangan. Mereka berdua tidak tega melihat putrinya yang baru kembali ke rumah bersedih bahkan sampai menangis seperti itu.
"Memangnya siapa dia? Siapa lelaki itu sampai-sampai seorang Sandra Milea menangis demi dia?"
BERSAMBUNG ....
__ADS_1