
"Tidak menemui kesulitan mas Erick?" tegur Wisnu.
"Ooo pak Wisnu. Tidak pak. Biasa-biasa saja."
"Ada teman lama saya yang perlu saya kenalkan pada mas Erick. Barangkali bisa untuk membintangi film iklan kita yang baru," kata Wisnu sambil menunjuk ke arah Balqis.
"Boleh juga orangnya," gumam Erick.
"Mari kita temui dia."
Ucap Wisnu.
Erick Pratama mengangguk. Mereka berjalan menghampiri Balqis.
"Perkenalkan Balqis. Ini sutradara film iklan di sini," kata Wisnu.
Balqis dan Erick saling bersalaman.
"Erick Pratama."
Ucap Erick.
"Balqis."
Ucap Balqis pula memperkenalkan dirinya.
"Pernah ikut main drama?"
Tanya Erick.
Balqis menggelengkan kepala.
"Main film?"
Tanya Erick lagi.
Menggeleng lagi. Erick mengamati dari ujung kaki sampai rambut Balqis yang hitam legam. Lalu Erick mengangguk-angguk. Agaknya memang bisa digarap perempuan ini Wajahnya yang anggun dan cantik sangat mempesona.
"Okey, semuanya itu bisa diatur. Yang penting anda tidak terlalu rewel sewaktu diambil gambarnya," ujar Erick sambil tertawa.
"Tapi saya tidak pernah main drama."
Jelas Balqis.
"Nanti akan diadakan latihan sebelum pengambilan gambar."
Lanjut Erick.
"Kau tak perlu minder, Balqis. Cobalah dulu kalau tidak bisa baru menyerah. Bukan begitu mas Erick?"
Ucap Wisnu.
"Betul."
Ucap Erick pula.
"Selamat bekerja lagi."
Wisnu menepuk pundak Erick, lalu mengajak Balqis meninggalkan ruang kerja itu.
"Yang penting kau mempunyai kemauan keras, pasti akan berhasil."
Jelas Wisnu.
"Kalau tidak berhasil?"
Tanya Balqis.
"Ya jadi foto model saja."
Jelas Wisnu.
"Kerja apa pun boleh saja. Yang penting hatiku senang."
Balas Balqis.
"Mulai besok kau bisa aktif di sini."
Lanjut Wisnu.
"Terima kasih, Nu. Sampai ketemu besok." Lanjut Balqis.
"Tidak perlu kuantar?"
Ucap Wisnu.
"Tidak. Tamu-tamu yang menunggumu sudah antri."
Kembali Balqis mengingatkan.
"Baik. Sampai ketemu lagi besok."
Ucap Wisnu.
Balqis berjalan melewati para tamu yang sejak tadi menunggu. Semua pandangan mata mereka tertuju padanya. Baik semua tamu yang ingin melamar pekerjaan sebagai foto model ataupun yang punya urusan bisnis dengan Wisnu. Pancaran mata mereka mengagumi pesona Balqis. Yang anggun dan cantik.
Terik matahari menyengat kulitnya yang halus dan lembut. Dia menuju ke sebuah halte. Kemudian naik bis kota pulang ke rumahnya.
***
Ruangan kerja Cevin jadi nampak kurang semarak. Cevin bekerja di ruangan itu cuma dapat mengenang senyum Balqis. Keramahannya. Keanggunannya dan segala-galanya yang ada pada diri perempuan itu. Mereka bagai ikut merasakan kesedihan dan kehancuran perempuan itu. Karena selama ini mereka tahu, bahwa antara Balqis dan Cevin saling mencinta. Tapi percintaan mereka terputuskan lantaran Cevin menikah dengan gadis pilihan orang tuanya.
Dan sejak beberapa hari ini Vani sekertaris di kantor tempat Cevin bekerja diam-diam selalu memperhatikan sikap Cevin. Sikap atasannya ini selalu diam murung dan jarang sekali bicara. Menghadapi pekerjaan kurang semangat Paling-paling diserahkan kepada Vani untuk menyelesaikannya. Terkecuali bila urusannya terlalu penting baru diselesaikan sendiri.
Betapa hancurnya perasaan Balqis. Kehancuran mana lagi yang bisa menandingi hidupnya. Orang yang begitu dicintai akhirnya menikah dengan gadis lain. Teramat menyedihkan, keluh Vani dalam hati. Sekarang apa yang mau dikata, semuanya itu telah terjadi.
"Balqis tidak pernah telpon ke mari?" tanya Cevin.
Vani tergagap karena sedang melamun.
"Ti... tidak, Pak." Ucap Vani.
"Coba kau telpon Ranti suruh kemari."
Ucap Cevin lagi.
Vani segera memutar nomor rumah Ranti, sahabat Balqis dan dia saat Sekolah Menengah Atas dan Kuliah yang kebetulan bekerja di kantornya Cevin juga. Cevin bermalas-malasan menghadapi pekerjaan.
''Bisa bicara dengan Ranti?"
Ucap Vani.
"Sebentar akan mbok panggilkan."
Jawab wanita tua yang suaranya terdengar itu.
"Adakah orangnya di rumah?" tanya Cevin tak sabar.
"Sedang dipanggilkan oleh pembantu rumahnya."
Balas Vani.
__ADS_1
Vani masih menunggu sahutan dari suara Ranti. Agak lama juga. Baru kemudian Ranti menerima telpon itu.
"Siapa nih?"
Tanya Ranti.
"Vani. Kak Ranti disuruh pak Cevin datang ke kantor sekarang juga."
Ucap Vani.
"Tunggu," sela Cevin. "Aku mau bicara sendiri dengannya." Lalu Cevin mengangkat gagang telpon di atas mejanya. Veni menaruh gagang telpon ke induknya.
"Selamat siang, Ran," suara Cevin lemah.
"Selamat siang pengantin baru. Apa kabarnya nih?"
Ucap Ranti.
"Kabar buruk. Ngomong-ngomong siang ini kita ngobrol di Warung Sate Mbak Rina mau nggak? Banyak sekali yang ingin kubicarakan denganmu."
Ucap Cevin.
"Okey boss. Kapan?" Tanya Ranti.
"Sekarang juga kita ketemu di sana."
Balas Cevin.
"Ajak Balqis ya. Aku rindu padanya."
Balas Ranti.
"Dia sudah beberapa hari tidak masuk bekerja. Justru karena itulah aku ingin bicara denganmu. Aku tunggu di sana ya?"
Lanjut Cevin.
"Baik."
Balas Ranti.
Cevin meletakkan gagang telpon ke induknya. Kemudian mengemasi pekerjaannya di atas meja.
"Vani, aku keluar sebentar. Kalau ada urusan yang penting tolong kau selesaikan."
Ucap Cevin.
"Baik, Pak."
Jawab Vani.
Cevin melangkah pergi. Vani menarik napas panjang sambil mengamati kepergian atasannya itu. Dia tahu betul apa yang dipikirkan Cevin yang kini jadi pemurung. Kasian, memang.
***
Cevin duduk berdampingan dengan Ranti di bawah tenda. Sudah sesaat mereka duduk di situ sambil menikmati es kelapa muda. Angin yang sepoi-sepoi meniup, mengingatkan Cevin pada Balqis. Dulu dia sering mengajak perempuan itu ke mari. Tapi sekarang dia datang dengan perempuan lain. Sahabatnya, yang tahu semua jalinan cinta antara dirinya dengan Balqis.
"Setelah kau menikah sudah pernah bertemu Balqis?" tanya Ranti.
"Belum."
Jawab Cevin.
"Karena kau telah menghancurkan harapannya. Seandainya aku jadi dia, aku pun akan berbuat begitu. Untuk apa terus bersamamu kalau kau sudah menikah dengan gadis lain. Sekalipun dia hidup menderita akan ditempuhnya dari pada tersiksa perasaan."
Jelas Ranti.
"Aku tahu perasaannya."
Ucap Cevin.
Tanya Ranti.
"Karena Balqos tetap menolak ku."
Jawab Cevin.
Ranti mengkerutkan dahi, terheran dia.
"Apa alasannya dia tetap menolak?"
Tanya Ranti.
"Aku tidak bisa menjelaskan."
Ucap Cevin.
"Kenapa?" Tanya Ranti.
"Jangan paksa aku untuk mengatakannya sekarang."
Balas Cevin.
"Kau masih menyembunyikan sesuatu padaku?"
Tanya Ranti lagi.
"Ya. Suatu saat kau akan tahu sendiri."
Balas Cevin.
"Tapi soal noda yang tertinggal dalam dirinya bagaimana? Kau harus ingat, bahwa kesuciannya kau renggut secara paksa. Apakah kau tega hidupnya jadi tidak menentu?"
Lanjut Ranti.
"Justru karena itu aku ingin minta bantuanmu."
Ucap Cevin.
"Apa?"
Tanya Ranti.
"Temui dia di rumahnya."
Lanjut Cevin.
"Lantas?"
Tanya Ranti lagi.
"Apakah dia masih sudi bertemu denganku, tanyakanlah hal itu padanya. Dan kalau dia belum mendapat pekerjaan, bantulah dia agar bisa bekerja pada kenalanmu. Asal kau tahu saja, Balqis sudah mengandung janinku," kata Cevin yang serak parau.
"Ya Tuhan," keluh Ranti sedih. "Kamu telah membuatnya tambah sengsara dan menderita, Vin. Betapa malu jika anaknya lahir tanpa pernikahan. Ibu dan anak akan mendapat ejekan dan hinaan. Tak kusangka kau seorang laki-laki pengecut," ketus Ranti sengit.
"Terserah apa yang kau katakan padaku. Bila kau sudah tahu latar belakang hidupnya akan bisa maklum." Balas Cevin.
"Kenapa tidak kau saja yang menemuinya?"
Tanya Ranti.
"Aku takut ditolaknya."
__ADS_1
Ucap Cevin.
"Itu resiko sebagai laki-laki pengecut"
Balas Ranti.
Cevin menarik napas berat.
"Aku mengaku bersalah, Ran. Tuduhanmu bagai sembilu yang mengiris-iris hatiku. Sebab aku sudah seringkah mengajaknya hidup bersama, tapi ia selalu menolak. Dia memang punya alasan yang dapat ku maklumi. Makanya dengan minta bantuanmu, barangkali bisa menemukan jalan lain. Kami bisa hidup bersama. Aku benar-benar minta bantuanmu, Ran. Besar sekali harapanku kau mau menolongku."
Jelas Cevin.
"Kalau misalnya aku berhasil membujuk Balqis, lantas bagaimana dengan Nabila? Apakah Nabila mau menerima kehadiran Balqis di dalam hidupnya?"
Tanya Ranti.
"Pernikahan kami hanya formalitas saja. Sebenarnya di antara kami hanya saling menjaga nama baik keluarga. Kau boleh percaya atau tidak, bahwa antara kami setiap malam tidurnya terpisah. Sejak malam pertama kami belum pernah saling bersentuhan tubuh."
Jelas Cevin.
"Ini satu masalah yang pelik, Vin. Yah, aku akan berusaha membantumu. Tapi di mana aku bisa menemuinya?"
Tanya Ranti kemudian.
Cevin menulis alamat rumah Balqis di selembar kertas.
"Temuilah di alamat ini. Semuanya akan jelas masalahnya."
***
Senja baru saja digeser datangnya malam. Ranti yang mengendarai mobil melihat ke arah kiri dan kanan jalan. Dia mencari alamat yang ditulis oleh Cevin. Alamat rumah Balqis. Dan nomor rumah itu telah diketemukan Ranti, maka dihentikan mobilnya.
Rumah yang sederhana sekali. Dalam pandangan Ranti dapat merasakan bahwa penghuninya kurang harmonis. Lalu dia turun dari mobil dan menuju ke pintu rumah yang tertutup. Daun pintu itu diketuknya, namun lama sekali ada jawaban dari penghuninya. Ranti mengetuk lagi.
"Sebentar," terdengar suara laki-laki yang nadanya serak.
Suara laki-laki? Siapa gerangan yang tinggal bersama Balqis? Belum jauh Ranti menerka-nerka, pintu rumah itu sudah terbuka. Seorang laki-laki berdiri mengenakan tongkat. Ranti jadi setengah terperangah.
"Se... selamat malam," sapa Ranti gugup.
"Malam," Sigit menjawabnya dengan dingin.
"Saya ingin bertemu dengan Balqis. Adakah dia di rumah?"
Tanya Ranti.
"Belum pulang."
Jawab Sigit.
Ranti termangu. Belum pulang? Lalu apa kesibukannya di luar rumah sekarang? Ranti tersenyum untuk menghindarkan rasa curiga laki-laki itu. Sebab mata laki-laki itu menatapnya penuh curiga.
"Boleh saya menunggu sampai dia pulang?"
Lanjut Ranti.
"Silakan masuk."
Balas Sigit.
Ranti melangkah masuk lalu duduk di kursi tamu. Sedangkan Sigit duduk di kursi rodanya.
"Kamu teman akrab Balqis?" tanya Sigit.
"Ya."
Jawab Ranti.
"Teman kerja di salon?"
Tanya Sigit memastikan.
"Tidak."
Jawab Ranti.
"Lantas kenalnya di mana?"
Tanya Sigit.
"Bekas teman sekolah dan kuliah," kata Ranti.
Hening sesaat. Ranti mengedarkan pandangan ke ruangan tamu itu. Tidak disangka kalau kehidupan Balqis semiskin ini. Pantas saja dia bekerja keras untuk hidupnya.
"Sudah beberapa hari ini Balqis pulang malam. Apakah tenaganya di salon sangat dibutuhkan sekali?" tanya Sigit.
"Mungkin," Ranti mulai menduga, bahwa selama ini Balqis tidak memberi tahu kalau sudah keluar dari pekerjaannya di salon. Dia jadi timbul tanda tanya, siapa gerangan laki-laki ini. Pasti ada sesuatu di balik kenyataan.
"Oh ya, kita belum saling berkenalan," Ranti bangkit lalu bersalaman dengan laki-laki itu. Sigit dengan dingin menyambutnya.
"Ranti."
Ucap Ranti memperkenalkan diri.
"Sigit."
Balas Sigit singkat.
"Apakah anda saudara kandung Balqis?"
Tanya Ranti.
"Tidak."
Jawab Sigit.
"Masih familinya?"
Tanya Ranti lagi.
"Tidak."
Ulang Sigit.
"Lantas?"
Tanya Ranti ingin tahu.
"Suaminya." Balas Sigit.
Ranti terperangah.
"Sudah sepantasnya kalau nada heran, sebab Balqis yang cantik cuma mempunyai seorang suami yang invalid seperti saya"
Jelas Sigit.
Ranti terpekur di tempat duduknya sambil mengamati laki-laki yang duduk di kursi roda itu. Sungguh tak disangka di balik kenyataan hidup Balqis mempunyai kegetiran.
Dia harus bekerja keras untuk menghidupi suami dan dirinya.
"Sudah berapa lama Balqis membina hidup berumah tangga?"
__ADS_1
Tanya Ranti.
"Baru satu bulan." Jawab Sigit kembali.