
"Mas," kembali Cindy menjatuhkan dirinya dalam pelukan Rangga. Disusupkan wajahnya di dada bidang pemuda yang telah membuatnya terharu dengan keputusan yang diambilnya itu.
"Aku mencintaimu, Cindy. Dan akan kutinggalkan segala yang ada demi dirimu," bisik Rangga lembut. Dengan hati terharu, Cindy pun memeluk pemuda dambaan hatinya itu erat-erat. Sungguh ia tak menyangka kalau Rangga akan mengambil keputusan seperti itu.
Ah, sesungguhnya cowok seperti Rangga-lah yang didambakannya menjadi suaminya dan ayah yang baik bagi anak-anaknya nanti.
"Sungguhkah ucapanmu itu, Mas?" lirih sekali suara itu terdengar dari bibir Cindy.
"Percayalah padaku," Rangga menatapnya penuh kesungguhan. "Kalau perlu kita tinggalkan kota ini
untuk memulai hidup baru yang jauh dari bayang-bayang menyakitkan ini." Jawab Rangga yakin.
"Mas Rangga," desisnya tak tertahankan. Dengan bola mata berbinar ceria dibalasnya tatapan cowo' di hadapannya. "Bawalah aku ke mana kau pergi, Mas..." Ucap Cindy lirih.
"Sudah pasti, Sayangku," Rangga pun mengecup dahinya lembut. "Asal saja kau tidak menyesal jika nanti aku tidak seperti sekarang ini." Lanjut Rangga jujur apa adanya.
"Jangan ucapkan itu, Mas. Aku akan menerima dan mencintaimu setulus hatiku. Marilah kita bina hidup baru walaupun itu harus kita mulai dari bawah," ucap Cindy haru.
"Tentu sayangku," bisik Rangga lirih. Lalu mereka pun saling berkecupan menuntaskan gejolak perasaan yang ada dalam hati mereka. Tak ada kebahagiaan lain yang dirasakan Cindy selain kebahagiaan kali ini saat Rangga menyatakan kesanggupan untuk meninggalkan keluarganya dan memilih untuk hidup bersamanya.
Begitulah, dua minggu kemudian secara di diam-diam Rangga pun menikahi Cindy dan memboyong gadis itu menuju Jakarta untuk melepas segala kenangan pahit yang pernah ada di hati mereka tentang kota yang ditinggalkan itu.
"Kamu melamun, Cindy?" tepukan lembut di bahu Sukma menyadarkan wanita itu dari keterdiamannya yang berlangsung cukup lama. Dibalikkannya tubuhnya memandang Ranti yang sudah berdiri di hadapannya.
"Masih memikirkan Mas Rangga? My God, sampai kapan kamu akan seperti ini?" Ranti memukul dahinya pelan.
"Aku tak pernah bisa melupakannya, Ran," desah Cindy dengan nada keluh.
"Aku paham itu, Cin," Ranti segera mengambil
tempat di hadapan Cindy "Tapi, orang yang kau cintai itu telah pergi dan tak akan pernah kembali lagi. Sadarlah, Cin. Jangan biarkan dirimu terus berkubang dalam duka. Ingat, kamu tidak hidup sendiri. Masih ada dua anakmu yang membutuhkan perhatianmu. Kalau kau masih begini terus, bagaimana kau bisa mencurahkan kasih sayangmu pada mereka?" Jelas Ranti mengingatkan keadaan yang sebenar-benarnya telah terjadi kepada Cindy.
Cindy mengangkat kepalanya yang tertunduk.
Digigitnya bibirnya dengan perasaan sedih. Apa yang dikatakan Ranti benar, Rangga sudah pergi dan tak akan pernah kembali lagi, jadi untuk apa terus meratapi kepergiannya?
"Yang lalu biarkanlah berlalu. Kamu masih muda, Cin. Masih punya harapan untuk kembali meraih hidup bahagia. Jangan sia-siakan kesempatan itu. Kau tahu, Mas Rangga di alam sana juga tak menginginkan hidupmu terus begini," suara Ranti kembali berkumandang menjegal angannya yang sempat melayang.
Ah, memang cuma Ranti sahabat yang mau mengerti isi hatinya. Tiga tahun ia tinggal di Jakarta, tanpa disangka-sangka Ranti menyusulnya.
Persahabatan mereka yang sempat terputus itu pun akhirnya berlanjut kembali. Tak terkirakan kebahagiaan Cindy bisa bertemu kembali dengan sahabat lamanya yang telah banyak menolongnya. Sama seperti dirinya, Ranti pun mengontrak sebuah rumah mungil untuk tempat tinggalnya, di Jakarta ini.
"Kau tahu, Ran. Mas Rangga sudah meninggalkan kami hampir sebulan lamanya. Mungkin saat ini aku masih mempunyai persediaan cukup untuk
menghidupi anak-anakku. Tapi bagaimana nanti,
kalau persediaan yang sempat ditinggalkan Mas Rangga mulai habis?" keluhnya kemudian tanpa canggung-canggung lagi. Dengan Ranti ia memang biasa terbuka dalam mencurahkan uneg-uneg yang ada di hatinya.
"Kau kan bisa bekerja, Cin?" ujar Ranti menenangkannya.
"Bekerja? Bekerja di mana, Ran? Kau kan tahu
aku cuma lulusan Sekolah Menengah Pertama. Apakah Jakarta yang terkenal kejam ini membutuhkan tenaga lulusan rendah seperti diriku?" Jelas Cindy sembari bertanya segala kemungkinan yang akan terjadi.
__ADS_1
"Kamu jangan pesimis begitu, Cindy. Banyak jalan menuju Roma," Ranti masih berusaha meyakinkannya.
"Yah, taruh seandainya aku bisa bekerja kembali, siapakah yang akan menjaga anak-anakku? Mereka masih terlalu kecil untuk kutinggalkan,"
desah Cindy lagi, pahit.
"Aduh, pikiranmu jangan sempit begitu dong, Cin. Kalau kamu bekerja, kamu kan bisa memelihara
pembantu yang akan menjaga anak-anakmu." Jelas Ranti memberikan jawaban.
"Pembantu? Ah, apakah gajiku mencukupi untuk membayar pembantu, Ranti? Lagi, dapatkah aku mempercayai pembantu baru begitu saja? Bagaimana kalau dia malah melarikan anak-anakku di saat aku bekerja?" ucap Cindy terlihat khawatir penuh kecemasan.
"Ah, di saat seperti ini janganlah terlalu banyak pertimbangan, Cin. Jalanilah dulu apa adanya," Ranti tersenyum kecil mengetahui apa yang dipikirkan sahabatnya. "Sebab, kalau kamu
terus berpikiran seperti ini, jangan-jangan kamu
malah stress nanti." Lanjut Ranti menenangkan sahabatnya.
"Sungguh, aku bingung dengan masa depan yang akan kuhadapi nanti, Ran. Tak pernah terlintas di pikiranku untuk membawa Farel dan Balqis pulang ke rumah orang tua ku atau ke rumah orang tua Mas Rangga yang telah menghinaku." Jelas Cindy.
"Sabarlah, Cin. Tenanglah, aku akan mencarikan jalan keluar yang terbaik untukmu. Pikiran mu sudah sedemikian ruwet. Kamu perlu suasana baru untuk menyegarkan kembali jalan pikiran mu itu," ujar Ranti lagi menawarkan segala yang ada di pikiran Cindy.
Sesaat Cindy menarik napasnya perlahan lalu
menghembuskannya kembali.
Ranti benar...!!!
"Ikutilah saranku, Cin. Kamu harus refreshing untuk menghilangkan beban berat yang membelenggu dirimu. Kali saja setelah itu, pikiranmu akan jernih kembali dan kamu siap menghadapi masa depan yang masih panjang." Lanjut Ranti menjelaskan.
"Mungkin apa yang kamu katakan benar, Ran," Cindy mengangguk pelan.
"Oya, malam Minggu nanti aku dan Sukma mau ke pesta perjamuan makan malam. Kamu mau ikut?" tanya Ranti lagi menawarkan.
"Kalau kalian tidak keberatan mengajakku, aku sih mau saja ikut, tapi bagaimana dengan Farel
dan Balqis?" Tanya Cindy kemudian.
"Ajak saja mereka, tidak apa-apa kok." Jawab Ranti.
"Apa tidak merepotkan?" Lanjut tanya Cindy.
"Kamu tak perlu khawatir. Cin. Yang mengadakan resepsi ini kebetulan teman baikku dan ia juga menyediakan tempat bermain khusus untuk para tamu yang membawa anak." Jelas Ranti.
"Sungguhkah itu, Ran?" Bola mata Cindy berbinar ceria.
"Tentu, Cin. Sebelum mengadakan acara ini, dia kan sempat kompromi dulu padaku," ucap Ranti
separuh menyombong.
"Ceilah, kayak orang penting saja, pakai kompromi dulu," Cindy tersenyum simpul.
"Lho, gimana tidak mau dibilang orang penting. Wong yang mau bikin acara itu kan masih ada hubungan saudara dengan istri kakakku," Ranti
__ADS_1
mengerjab nakal.
"Pantesan," Cindy tersenyum lebar.
***
Pesta perjamuan makan malam yang diadakan di sebuah rumah megah dengai halaman yang cukup luas itu lumayan meriah. Cindy sempat berdecak kagum melihat penampilan tamu-tamu yang datang. Semuanya serba eksklusif dan glamour. Untung saja sebelum pergi tadi ia sempat menyetujui saran Sukma yang menyuruhnya untuk mengenakan gaun pesta kepunyaan gadis itu. Kalau tidak, tentu Cindy akan merasa minder membandingkan penampilannya dengan tamu-tamu yang lain. Sejak Rangga menikahinya lima tahun lalu, belum pernah memang suaminya itu membelikannya gaun pesta yang sudah pasti mahal harganya. Karena Rangga sendiri juga tak pernah mendapat undangan untuk pergi ke pesta-pesta macam ini.
Apalagi kedatangan mereka ke Jakarta waktu itu
tanpa membawa bekal yang cukup berarti. Rangga benar-benar meninggalkan semua kekayaan orang tua nya yang akan di wariskan padanya dan lebih suka-memulai segala, sesuatunya dari bawah lagi.
Dan Cindy pun cukup merasa bersyukur, walau hidupnya serba pas-pasan tapi mereka selalu rukun dan tidak pernah ribut besar. Apalagi sejak
kelahiran kedua anak mereka, Rangga makin sayang padanya dan memutuskan untuk bekerja lebih giat lagi dalam mencari nafkah. Mungkin karena ia bekerja tanpa mengenal lelah itulah yang akhirnya membuatnya menderita sakit lalu akhirnya meninggal dunia.
Kini Cindy cuma bisa pasrah menghadapi derita
yang menimpanya. Ditambah lagi dua sahabat baiknya, Ranti dan Sukma, tak henti-hentinya menasehatinya untuk melupakan kenangan manis yang telah berlalu. Toh hidup bukan hanya untuk hari ini saja.
Sekali lagi Cindy memperhatikan penampilan
dirinya yang memang nampak lain dar biasanya.
Gaun pesta berwarna hitam di padu rompi merah
hati membuatnya Kelihatan manis dan sedap di pandang. Wajahnya yang cantik dengan make up
yang tidak terlalu menor membuat Cindy begitu
menarik dan tidak membosankan bila dipandang
terus-menerus. Sebenarnya tanpa berdandan pun
dia memang sudah cantik alamiah.
Bukankah di kampungnya dulu ia memang terkenal karena kecantikannya yang akhirnya membuat banyak pemuda yang tergila-gila padanya?
Apa yang dikatakan Ranti tentang tempat bermain yang khusus disediakan untuk anak-anak pun ternyata memang ada. Dan Cindy cukup merasa lega karena Farel dan Balqis kerasan bermain di sana dengan anak-anak sebaya, dengannya, hingga ia tak begitu merisaukan mereka. Dan Cindy pun cukup merasa lega meninggalkan mereka walaupun tempatnya agak terlalu jauh, karena pihak tuan rumah juga menyediakan empat baby sister yang akan mengawasi anak-anak yang sedang asyik bermain.
"Acara dansa hampir dimulai. Cin, Mau turun?" tanya Ranti kemudian yang baru saja kembali dari ruang dalam dengan membawa dua minuman yang segera disodorkan padanya Ranti cuma tersenyum mendengar keterangan-keterangan yang diungkapkan Cindy.
"Sekali-kali mencoba kan tidak apa-apa. Siapa tahu saja bisa," katanya kemudian.
"Sana kamu aja deh," tolak Cindy halus. "Kamu
dan Sukma kan masih single, masih pantas untuk
berlaku yang bagaimanapun." Balas Cindy.
"Lho, memang kalau kamu tidak pantas?" Tanya Ranti dengan memandangnya tanpa berkedip.
"Walaupun Mas Rangga sudah tiada, tapi aku sudah berkeluarga, Ran. Malu dong sama anak-anak kalau aku bertingkah yang berlebihan," kilahnya kemudian.
__ADS_1