
Besoknya, Balqis bangun sebelum subuh. Ritualnya agak berbeda. Kalau biasanya selesai mandi ia merapikan diri dulu baru sarapan, sekarang agak lain. Selesai mandi dan masih di balut mantel handuk tentu saja sebelumnya ia memakai underwear Balqis langsung sarapan. Kali ini hanya dengan teh manis dan roti tawar. Mamahnya Cindy, yang baru saja bangun jadi terheran-heran melihat anaknya sudah selesai mandi dan sarapan.
"Kayak tukang sayur aja, subuh-subuh udah siap," goda mamahnya saat Balqis meletakan piring dan gelas bekas sarapan di bak cuci piring. Cewek itu melirik mamahnya sambil meringis malu.
Selesai sarapan, Balqis menghabiskan waktu yang masih tersedia dengan berkutat di dalam kamar. Sibuk memusingkan diri dengan masalah-masalah yang baru ia sadari pagi ini.
Kira-kira hari ini pake tas yang mana ya?
Yang pasti yang paling mendingan di antara tas-tasnya yang jelek itu. Begitu juga sepatu dan kaus kaki.
Terus, bagusnya hari ini rambutnya digimanain?
Dikucir, dijepit, atau dibandana?
Atau dibiarin terurai gitu aja, tanpa hiasan. Balqis langsung mengenyahkan pilihan yang terakhir.
Kok miskin banget ya kesannya?
Rambut nggak dikasih hiasan apa-apa. Tapi sesaat kemudian cewek itu meralat sendiri pendapatnya. Bukan miskin, tapi sederhana. Miskin sama sederhana itu beda. Setelah hampir menghabiskan waktu satu jam, Balqis tidak juga bisa memutuskan. Bukannya mendapatkan jalan keluar, ia malah tambah pusing.
Akhirnya Balqis menyerah...!!!
"Ah, udah deh. Biasa-biasa aja kayak kemaren-kemaren. Ntar kalo mendadak heboh, malah ketauan kalo gue nervous, lagi. Lagian ini Cevin, gitu loh. Tiap hari juga ketemu." Balqis bicara sendiri. Dirapikannya barang-barangnya yang berserakan.
Mamahnya Cindy, yang diam-diam mengawasi dari celah pintu yang terbuka, tersenyum tipis, kemudian pergi tanpa suara.
Balqis duduk menunggu Cevin di teras dengan hati tenang. Soalnya ia yakin banget, wajahnya pagi ini pasti tampak cerah, kencang, bersih tidak bernoda, seperti janji produsen masker yang tertulis di pembungkus produk mereka.
Kegelisahan dan kegugupannya agak berkurang. Apalagi semalam, setelah selesai maskeran ia juga langsung luluran. Menghabiskan waktu hampir satu jam di kamar mandi, dan membuat seluruh isi rumah terpaksa menunggu giliran.
Balqis masih belum tahu bahwa efek masker dan lulur itu tidak sama dengan operasi plastik. Tidak bisa membuat orang yang melihat langsung pangling alias tidak mengenali, apalagi kalau pake masker dan lulurnya baru sekali ini, seajaib apa pun masker dan lulur itu.
Cevin muncul lima belas menit kemudian. Penampilannya tak berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Balqis jadi bersyukur dirinya nggak jadi tampil beda.
"Hai, pagi," cowok itu menyapa. Tersenyum seperti biasanya.
Ternyata masker dan lulur semalam nggak berefek. Balqis langsung gugup. Bukannya menjawab salam Cevin, ia malah langsung masuk ke rumah, mencari mamahnya. Cevin jadi mengernyitkan kening, tapi kemudian tersenyum tipis. Ia mengira sikap aneh Balqis itu masih ada kaitannya dengan peristiwa kemarin. Tak lama Balqis keluar bersama mamahnya. Kegugupannya agak berkurang.
"Ini Cevin, Mah," kata Balqis, memperkenalkan Cevin yang berdiri di teras, yang lupa ia persilahkan duduk.
Cevin tersenyum dan mengangguk sopan. Ia mengulurkan tangan sambil menyebut nama, dilanjutkan dilanjutkan dengan basa-basi menanyakan kabar mamah Cindy, mamahnya Balqis tentunya.
__ADS_1
Mamah Cindy balas tersenyum. Agak lega karena kesan pertama yang ia peroleh adalah Cevin bukan model cowok tengil.
"Kami mau langsung berangkat, Tante. Waktunya mepet, takut telat." Ucap Cevin.
"Titip Balqis, ya?" pesan mamah Cindy menitipkan putrinya Balqis.
"Iya, Tan. Permisi." kembali Cevin tersenyum dan megangguk sopan.
"Dah, Mamaaah!" Ucap Balqis.
Balqis melambaikan tangan sambil mengekor langkah Cevin ke luar pagar. Ia mulai gugup dan gelisah lagi. Sang mamah cuma tersenyum geli sambil membalas lambaian putrinya.
Balqis dan Cevin melangkah menuju halte dalam diam.
Ini Cevin! Ini Cevin! Please dooong!
Berkali-kali dalam hati Balqis mengecam dirinya sendiri. Tapi tidak berhasil membuat hatinya menjadi lebih tenang. Sekarang malah ditambah malu. Padahal cowok ini selama hampir dua bulan terakhir duduk di sebelahnya. Dan tanpa disadarinya, Cevin telah menjadi orang yang paling dekat, yang pertama kali dicarinya setiap kali tiba di sekolah, apalagi kalau lagi dapat masalah.
Sekarang, jangankan untuk meraih lalu memeluk lengan Cevin seperti kemarin-kemarin, untuk berjalan terlalu dekat saja mendadak Balqis jadi malu banget. Cewek yang biasanya senang berceloteh itu mendadak jadi pendiam. Jauh tersembunyi di dalam sikap tenangnya, Cevin sebenarnya sama gugupnya. Tapi ia memang tidak separah Balqis. Mungkin karena ia sudah "Mengenal" cewek ini berbulan-bukan sebelum akhirnya melihat Balqis untuk pertama kalinya.
Sama sekali bukan tanpa alasan jika selama ini Cevin membiarkan sifat iseng Balqis merajalela. Karena hanya dengan cara itu ia mendapatkan kepastian bahwa cewek itu tidak akan berada terlalu jauh darinya. Sifat usil dan isengnya yang kadang keterlaluan membuat Balqis memerlukan perisai yang selalu siap setiap saat. Dan seperti itulah Cevin memosisikan dirinya selama ini. Membiarkan Balqis datang atau berlari padanya setiap kali butuh perlindungan atau pembelaan.
"Elo kenapa sih, Qis? Kok diem aja dari tadi?" Cevin mengusik cewek itu, yang sampai mereka akan turun dari bus pun tetap belum mengeluarkan suara. Balqis sibuk menghindar agar tidak menatapnya, dengan cara menunduk atau melihat sesuatu entah apa di luar jendela. Balqis cuma menoleh sebentar. Tersenyum tanpa makna, lalu kembali mengarahkan pandangannya ke luar jendela.
"Takut diledekin lagi kayak kemaren, ya? Kan ada gue?" Cevin menepuk lengan Balqis pelan. "Yuk, turun. Udah sampe." Ucap Cevin.
Dari halte ke sekolah, lagi-lagi Balqis tidak mengeluarkan suara. Ia juga lebih sering berjalan dengan kepala menunduk. Karena Balqis terus menunduk itulah akhirnya Cevin menggodanya dengan mengarahkan jalan mereka tepat ke sebuah dahan pohon melintang tidak jauh di depannya, sambil tetap mengajak cewek itu ngobrol. Sedikit demi sedikit Cevin menggeser langkah, hingga akhirnya dahan pohon itu tepat berada di jalur Balqis melangkah.
Tepat menjelang kepala Balqis dan dahan pohon itu akan berbenturan, Cevin menjentikkan jari di depan wajah tertunduk Balqis dan langsung merentangkan lengan kirinya di depan kepala cewek itu. Balqis tersentak. Ia mengangkat kepala dan langkahnya terhenti saat itu juga. Tercengang saat mendapati dahan pohon, besar dan kasar, melintang tepat di depan mukanya.
"Kenapa sih dari tadi nunduk aja? Lo sadar nggak kalo gue ajak muter? Aturan kita udah sampe sekolah dari tadi." Cevin menatap dengan kedua alis bertaut heran.
Balqis memandang berkeliling.
"Eh, iya. Kita sekarang ada di mana nih?" tanya Balqis bingung.
"Tuh, kan? Nggak sadar, kan?" Cevin geleng-geleng kepala. "Lo kenapa sih jadi aneh begini? Pendiam banget. Kayak bukan elo aja." Tanya Cevin.
"Nggak apa-apa." Balqis menggeleng.
"Ya kalo nggak apa-apa jangan diem aja dong. Gue jadi kayak jalan sama cewek yang nggak gue kenal nih." Tiba-tiba Cevin teringat sesuatu. "Oh iya. Gue bawa sweter. Buat antisipasi." Ucap Cevin.
__ADS_1
"Jangan diingetin lagi kenapa sih?" muka Balqis langsung memerah. "Lagian juga nggak akan dua kali lah. Bego bener gue kalo sampe kejadian kayak kemaren lagi. Malunya bisa dua kali lipat." seketika Balqis menutupi mukanya dengan kedua tangan.
Cevin menatapnya, tersenyum geli.
"Kalo muka lo ditutupin gitu, ntar tercebur comberan gue nggak tanggung jawab, ya?" ucap Cevin sambil berjalan pergi.
Balqis menurunkan kedua tangannya. Dikejarnya Cevin, tapi tetap ia tidak berani bila posisi tubuh mereka terlalu sejajar. Menjelang sampai gerbang sekolah, Cevin menoleh ke Balqis.
"Perlu punggung gue buat ngumpet, nggak?" tanya Cevin.
"Nggak." Balqis menggeleng dan menjawab pelan.
"Oke kalo gitu." Ucap Cevin.
Begitu keduanya sampai di gerbang sekolah, beberapa anak yang sedang nongkrong di sisi lapangan menyambut dengan senyum lebar.
"Pasangan Jepang udah dateng nih."
"Yo’i. Pagi." Cevin balas tersenyum lebar dan menyapa singkat.
Begitu sampai kelas, reaksi teman-teman mereka lebih meriah. Komentar, pertanyaan, seruan, suitan-suitan menggoda bahkan tepuk tangan, seketika menyambut keduanya.
"Cieeeh, yang kemaren sore bikin sekolah heboh!"
"Kemaren waktu ditanya ngeles melulu. Nggak jadian, nggak jadian. Nggak taunya…"
"Emang jadiannya sebenarnya kapan sih? Cerita dong! Pasti bukan sejak masih sering berantem itu, kan?"
"Ah, nggak usah! Bikin bete aja dengerin cerita orang jadian. Traktir aja!"
"Iya dong! Traktir dong!"
"Kira-Kira hari ini ada bendera Jepang lagi, nggak?"
"Si Balqis suka iseng, jangan-jangan otaknya elo ya, Vin?"
"Berarti besok-besok kalo Balqis iseng, yang kita gebukin Cevin aja!"
Cevin menanggapi reaksi teman-temannya dengan santai sambil cengengesan. Sementara Balqis sibuk mengatasi rasa malunya yang, sayangnya, tidak begitu sukses.
Akibatnya, di kelas pun ia jadi pendiam. Tidak banyak bicara apalagi melakukan keisengan seperti hari-hari biasanya. Akibat yang lain, Balqis terus jadi bahan ledakan, dari pagi sampai jam pulang. Cevin jadi tak tega meninggalkannya sendirian. Terpaksa dikawalnya Balqis ke mana pun, dan kalau dilihatnya cewek itu mulai kewalahan, Cevin segera pasang badan, menanggapi ledakan itu dengan senyum, tawa, atau komentar-komentar asal.
__ADS_1