LORONG TAK BERUJUNG

LORONG TAK BERUJUNG
BAB 67 : PERTENGKARAN MEMANAS


__ADS_3

Besoknya, Balqis sudah tidak berusaha lagi datang ke sekolah pagi-pagi. Begitu tiba di kelas, cewek itu langsung menuju bangku barunya. Sepertinya ia sudah bisa menerima takdirnya, yaitu duduk di belakang. Sambil berjalan menuju bangkunya, Balqis menarik napas panjang-panjang.


"Home sweet home…," desahnya pelan, lalu menjatuhkan diri di sana. Dikeluarkannya ponsel dari tas dan dicarinya nama Ranti dari daftar kontak.


"Ran, lo di mana?" Ucap Balqis.


"Koperasi. Bolpoin gue abis. Kenapa?" Balas Ranti.


"Pinjem Pekerjaan Rumah matematik dong. Nyontek nomer delapan sama sepuluh doang. Susah banget." Ucap Balqis.


"Di tas. Ambil sendiri gih." Balas Ranti lagi.


"Oke. Tanks, ya!" Balas Balqis.


"Eh! Eh! Balqis. Tunggu dulu!" Ucap Ranti.


Balqis batal akan mematikan ponselnya.


"Apa?" Tanya Balqis.


"Lo jangan berantem kayak kemaren lagi, ya? Malu-maluin banget, tau!" Ucap Ranti.


"Bukan gue yang cari gara-gara. Cevin tuh!" Balqis langsung bete. "Udah, ah. Jangan diingeitin. Bikin broken morning aja. Gimana perkembangan lo sama si Toni?" Tanya Balqis.


"Jangan diingeitin. Bikin broken morning aja!" ganti Ranti yang jadi bete.


Keduanya tertawa. Balqis mematikan ponselnya lalu bangkit berdiri dan berjalan ke bangku Ranti. Dikeluarkannya buku Pekerjaan Rumah matematika Ranti dari tasnya.


Dan saat didapatinya Toni mengamati dengan pandang curiga, Balqis langsung berkata, "Gue udah izin sama Ranti. Ntar lo tanya dia aja kalo nggak percaya." kemudian segera kembali ke bangkunya.


Ketika datang, Cevin melihat Balqis sedang menunduk serius di bangkunya. Pasti Pekerjaan Rumah matematika, gumamnya dalam hati.


Tiba-tiba saja Cevin merasa senang, karena ada alasan untuk memarahi cewek itu.


"Ngerjain Pekerjaan Rumah tuh di rumah. Bukan di sekolah," tegurnya tajam. "Ngapain aja lo di rumah semalem?" Ucap Cevin.


Balqis mendongak dan kaget mendapati Cevin sudah ada di samping meja. Ia juga kesal karena cowok itu baru datang langsung marah-marah. Balqis sudah hendak membuka mulut, mau balik marah-marah, tapi batal. Bukan saja karena pagi-pagi marah-marah bikin jauh dari rezeki, tapi juga bikin dia jadi nggak selesai menyalin Pekerjaan Rumahnya.


"Urus aja urusan lo sendiri deh!" jawab Balqis ketus.


Cevin tidak peduli. "Pekerjaan Rumah siapa yang lo contek? Banyakan salahnya dari pada benernya." Ucap Celvin.


Balqis diam, tidak bereaksi, sibuk menyalin. Cevin melanjutkan kecamannya.

__ADS_1


"Lo kalo nyontek nggak pernah sambil mikir ya?"


Baru Balqis terusik. Ia berhenti menulis. Ditariknya napas panjang lalu diembuskannya dengan kesal.


"Lo tau definisi nyontek nggak sih?" Ditatapnya Cevin. "Nyontek itu sinonimnya nyalin. Menyalin itu artinya menduplikasi, atau membuat sesuatu yang persis sama. Jadi jelas nggak perlu pake mikir, tau!" sepasang mata Balqis menatap Cevin tepat di manik mata. "Reseh!"


Mata Cevin sontak berkilat.


"Kayaknya gue udah pernah ngomong deh. Kalo gue lagi marah, terima aja. Jangan tanya-tanya apalagi balik marah. Ntar gue jadi tambah marah!" intonasi suara Cevin mulai naik.


"Alasannya!? Orang marah tuh pasti ada alasannya!" Ucap Balqis.


"Nggak perlu alasan kalo udah menyangkut elo!" Balas Cevin.


"Emang gue kenapa?" Tanya Balqis.


"Karena elo selalu bikin gue pengin marah!" Jawab Cevin.


"Alasannya!? Orang marah tuh pasti ada alasannya, tau!" Ucap Balqis.


"Nggak perlu alasan kalo udah menyangkut elo!"


Balik lagi. Lingkaran setan, kayaknya. Apaan tuh begitu? Balqis menggerutu dalam hati.


"Bukan elo aja, gue juga bisa marah!" Ucap Balqis sewot.


"Lo kira gue takut sama elo!?" Balqis tidak mau kalah, ganti membentak. "Nggak sama sekali!"


Pertengkaran memanas...!!!


Padahal saat ini jarum jam menunjukan angka sepuluh menit menjelang bel masuk berbunyi. Dan pada jam segitu biasanya isi kelas sudah lengkap. Sebagian menunggu bel di dalam kelas, sebagian lagi di koridor. Dan pertengkaran yang memanas itu jelas merupakan tontonan yang asyik banget, sebelum delapan jam pelajaran yang bikin boooring.


"Cepet! Cepet! Beli cemilan!" seru Ian. "Nggak asyik nih kalo nggak sambil ngemil!"


"Patungan, oi! Patungan! Ceceng-ceceng!" seru Rahmat sambil mengeluarkan selembar seribuan dari kantongnya sendiri. Kemudian ia berkeliling di antara cowok-cowok untuk meminta seribu per orang.


"Buruaaaan! Sebelum pertunjukan dramanya kelar nih!" seru ia tak sabar.


Rahmat berlari ke luar kelas menuju kantin. Sementara itu Wisnu, yang belum masuk kelas, cepat-cepat meraih tasnya. Dikeluarkannya keripik singkong dari sana. Seplastik gede!


"Gue ada nih!" serunya. "Ini sebenernya buat ntar, jam kosong. Tapi nggak apa-apa, ntar beli lagi!" Ia melempar keripik singkong ke Agus. Agus menangkapnya dengan sigap kemudian berteriak keras.


"Rahmat, Woooiii! Nggak Jadi! Udah Ada!!!”

__ADS_1


Rahmat yang sudah berlari sampai melewati kelas sebelah, cepat-cepat balik lagi dan langsung bergabung dengan teman-temannya yang sudah asyik menikmati pertengkaran Cevin VS Balqis.


Kubu cowok berada di pihak Balqis, bukan Cevin. Iyalah…. Ngapain juga belain sesama cowok? Rugi!


Sementara yang cewek-cewek menyaksikan kejadian itu dengan ekspresi bingung. Ada tanda tanya besar di kepala mereka. Baru jadian kok berantem melulu? Nggak ada mesra-mesranya.


Berantemnya di kelas, lagi. Nggak peduli banyak orang, lagi. Teriak-teriak, lagi! Namun kemudian muncul tanda tanya baru. Kali ini sampai terlontar dari muluk salah satu cewek.


"Emang mereka udah jadian, ya? Apa baru pendekatan? Baru pendekatan aja berantemnya udah parah gitu, apalagi kalo udah jadian? Bunuh-bunuhan, kali!"


Sementara para cowok pendukung Balqis, tidak peduli dan sama sekali tidak ingin tahu alasan di balik pertengkaran itu. Yang penting ada tontonan seru. Dengan riuh mereka memberikan support untuk Balqis. Dan tak lupa, sambil ngemil keripik.


"Lawan aja, Qis!" seru Agus. "Ntar kalo lo kalah, gue belain!" Lanjutnya.


"Iya. Hajar aja si Cevin, Qis!" teriak Wisnu.


"Kalo Cevin mukul, pukul balik, Qis!" teriak Toni.


"Kalian teriaknya jangan kenceng-kencang dong! Jadi nggak kedengeran nih!" teriak Rahmat, dengan volume suara mengalahkan teman-temannya.


"Nah elo, sendirinya juga teriak. Paling kenceng malah!" Kepala Rahmat kemudian dijitakin dari segala arah. Sambil meringis, cowok itu cepat-cepat melindungi kepalanya dengan kedua tangan.


Dari bangku mereka, Toni dan Ranti menyaksikan pertengkaran Balqis dan Cevin dengan mulut ternganga. Cevin tidak pernah cerita dan Balqis juga tidak bilang apa-apa sebelumnya. Jadi keduanya benar-benar tidak tahu, persoalan apa sebenarnya yang terjadi di antara mantan teman-teman sebangku mereka itu.


Bel masuk berbunyi dan tidak ada satu pun yang menyadari. Teriakan riuh dan kasak-kusuk itu baru berhenti setelah sseseorang dari kelas sebelah mendatangi kelas mereka lalu berteriak di pintu.


"Udah bel, woooi! Jangan berisik! Mau pada belajar nggak sihhh!?"


Kelas langsung hening. Semua bergegas kembali ke bangku masing-masing. Cevin dan Balqis juga menghentikan pertengkaran mereka. Sesaat keduanya saling tatap dengan sorot kesal, dongkol, marah, benci, juga malu karena sudah jadi objek tontonan seisi kelas.


"Aduh, leher gue seret nih!" Agus terbatuk-batuk. "Ada minum nggak?"


Setelah berhenti teriak-teriak memberikan support, baru cowok-cowok itu sadar kalau tenggorokan mereka kering. Semuanya lalu ribut mencari minum.


"Lo gimana sih, Nu? Bawa keripik nggak bawa minum. Seret niiih!" semuanya lalu menyalahkan Wisnu. Tidak ada cara lain, cowok-cowok suporter Balqis terpaksa menahan haus sampai jam istirahat pertama nanti.


"Ssst! Bu Vitarina dateng!" seru Nelly, yang duduk dekat pintu.


Kelas langsung hening. Semua duduk manis dibangku masing-masing. Tanpa sadar, Cevin dan Balqis duduk di ujung bangku masing-masing, berusaha sejauh-jauhnya menjaga jarak. Namun dua kali pertengkaran terbuka itu kemudian memunculkan asumsi baru seputar perpindahan bangku tersebut.


Toni pindah ke bangku Balqis karena naksir Ranti. Itu udah pasti, karena cowok itu sudah mengumumkan perasaanya. Dan meskipun sudah duduk sebangku, seisi kelas tahu status mereka masih pendekatan. Dari pihak Toni, pastinya.


Sementara Ranti sendiri, sepertinya cewek itu sedang berusaha dengan sangat keras menerima kondisi itu, dan berusaha menjalaninya dengan ikhlas. Karena sudah tidak ada lagi bangku kosong di kelas, maka pilihan Ranti memang cuma dua tabah atau nggak sekolah!

__ADS_1


Asumsi berikutnya adalah Balqis pindah ke bangku Cevin karena dia naksir cowok itu. Tapi sayangnya Cevin sama sekali nggak naksir Balqis. Makanya tu cowok jadi galak sama Balqis. Balqis jadi balik galak juga, karena dia frustasi dan patah hati.


Nah, makin ruwet, kan?


__ADS_2