LORONG TAK BERUJUNG

LORONG TAK BERUJUNG
BAB 56 : GARA-GARA LONTONG


__ADS_3

"Gimana kalo mulai besok kita makan sepiring berdua? Biar hemat." Ucap Irfan.


"Idiiih! Nggak! Nggak!" Sigit langsung menolak mentah-mentah usul Irfan yang hina banget itu. "Elo sih enak. Gebetan lo, si Balqis itu, nggak satu sekolah. Jadi dia nggak bakal tau kalo lo lagi miskin. Nah kalo gue gimana? Gue lagi ngincer anak kelas satu nih. Kalo dia tau gue melarat, belum sempat pendekatan pasti tu cewek udah keburu kabur." Tolak Sigit dengan alasannya.


"Iya juga ya Git, Makan sepiring berdua di kantin kesannya emang keliatannya mengenaskan banget sih. Bisa-bisa bakalan jadi jomblo sampe di sangka apaan gitu ya!." ucap Irfan, masih dengan tampang belagak mikir, pada hal itu sudah kenyataan yang sangat jelas.


Sigit jadi ingin sekali menjitaki kepala sobatnya itu.


"Nah, itu lo tau! Kenapa juga lo ngusulin yang kayak gitu?" Balas Sigit rada kesal.


"Namanya juga usul. Nggak harus setuju, lagi...!" Balas Irfan cuek.


"Jadi sekarang gimana niiih?" Sigit memandang Irfan dengan tatapan yang membuat Irfan jadi tidak tega untuk meneruskan godaannya. Cowok itu menyeringai.


"Sori banget gue udah nyusahin elo, Git...!" Ia merangkul Sigit. "Oke deh. Hari ini terakhir gue minta traktir. Mulai besok nggak lagi." Lanjut Irfan tersenyum.


"Bukan... Bukan gitu, Fan." Sigit langsung merasa tidak enak. "Maksud gue, jangan tiap hari traktirannya. Trus, lauknya juga jangan yang mahal-mahal. Mahal boleh, tapi jangan tiap hari. Gitu loh." Balas Sigit.


"Nggak. Hari ini terakhir. Mulai besok lo nggak perlu keluar duit buat makan lagi. Gue yang tanggung." Ucap Irfan.


"Maksud lo?" Sigit semakin bingung dan tidak mengerti.


"Gue dapet ide baru. Lo liat aja besok. Yuk, kita ke kantin. Gue laper banget nih. Lauknya kalo nggak tempe, tahu ya? Oke. No problem!" Lanjut Irfan.


Masih sambil merangkul erat bahu Sigit, Sigit membawa sahabatnya yang kelihatan sangat bingung itu ke kantin.


***


Besoknya Sigit menunggu kedatangan Irfan dengan tidak sabar. Ia penasaran, seperti apa ide Irfan itu. Apakah benar-benar bisa menyelamatkan mereka berdua dari ancaman penurunan kasta.


Bukan apa-apa...! Ini masalah serius.


Tidak ada bencana yang lebih besar bagi kaum cowok selain dijadikan pilihan terakhir oleh para cewek karena terjadi bencana berskala besar. Misalnya, ancaman wabah penyakit yang tidak bisa di hentikan selama puluhan tahun yang menyerang seluruh dunia. Atau bahaya kelaparan di karenakan kekeringan yang melanda semua belahan dunia yang menenggelamkan manusia dalam keadaan terpuruk dalam kondisi terjepit dan tidak ada pilihan, berikut cowok-cowok pilihan yang menjadi penghuninya, menyebabkan semua cowok-cowok potensial lenyap, dan yang tersisa tinggal cowok-cowok yang nggak menjanjikan tapi yah, apa boleh buat.


Dari pada nggak ada...!!!


Irfan muncul saat Sigit sudah nyaris senewen. Soalnya sebentar lagi bel masuk dan bangku di sebelahnya masih juga kosong. Begitu melihat raut cemas Sigit, Irfan langsung menghampiri dengan langkah panjang.


"Sorry, Git. Ada masalah sedikit di rumah. Tapi akhirnya semua lancar. Sesuai rencana." Ucap Irfan.


"Ya udah. Cepet ceritain kayak gimana tu rencana." Ucap Sigit.


"Nggak bisa sekarang. Udah mau bel nih. Ntar aja jam istirahat ya!" Balas Irfan.


Jam istirahat pertama, Irfan mengajak Sigit ke area sekolah yang sepi. Area itu adalah gedung lama yang udah dikosongkan, yang sebentar lagi akan dirobohkan dan sebagai gantinya akan didirikan bangunan baru. Irfan memakai tas pinggang, tidak biasa-biasanya.


"Gue bawa bekal dari rumah. Lontong." katanya, setelah mereka menemukan tempat untuk duduk.


Di keluarkannya sebuah tas kresek hitam berisi lontong dari tas pinggangnya, lalu diberikannya pada Sigit. Cowok itu mengambil satu lalu membuka daun pisang pembungkusnya.


"Kok nggak ada isinya?" tanya Sigit setelah merasakan satu gigitan.


"Kan gue bilang lontong. Bukan arem-arem. Ya nggak ada isinyalah." Ucap Irfan santai.

__ADS_1


"Mana enak, lagi? Makan nasi doang gini. Emang agak-agak gurih sih, Tapi tetep aja judulnya makan nasi doang." Protes Sigit.


"Sebentar. Sabar dikit kenapa?" Irfan kembali merogoh tas pinggangnya lalu mengeluarkan satu lagi tas kresek hitam. Isinya beberapa potong bakwan.


"Tu lontong dimakannya pake ini. Enak nih. Ada udangnya. Coba deh. Bahkan yang di kantin mah lewat!" Jelas Irfan.


"Makan beginian doang, ngapain sih mesti ke tempat sepi begini?" Balas Sigit bingung.


"Gue bawanya pas. Cuma buat elo sama gue. Ntar kalo ada yang minta trus nggak kita kasih, pasti kita dibilang pelit. Kalo dikasih, perut nggak kenyang. Buntutnya, cari makan lagi di kantin. Lo masih punya duit nggak, buat traktir gue?" Jelas Irfan.


"Nggak," jawab Sigit cepat.


"Makanya nih bekal cuma buat kita sendiri. Nggak bisa dibagi-bagi." Lanjut Irfan.


"Iya deh. Apa kata elo lah," kata Sigit. "Mana bakwannya? Bagi dong." Lanjutnya.


Sambil mengobrol, keduanya lalu menikmati jatah masing-masing.


"Gimana? Enak, kan? Kenyang, lagi." kata Irfan. Setelah semua lontong dan bakwan jatah istirahat pertama habis, dikumpulkannya daun-daun pisang pembungkus lontong, lalu ia masukkan ke kantong kresek kosong.


"Iya, enak." Sigit mengangguk. "Besok bawa lagi, ya?" Lanjutnya.


"Ya iyalah. Mau nggak mau. Emang ada pilihan lain selain bawa bekal dari rumah?" Tanya Irfan.


Sigit menyeringai...!!!


"Jadi ini yang lo maksud ‘rencana’? Bawa bekal dari rumah, gitu?" Tanya Sigit kemudian.


"Yo’i! Berhubung ini hari pertama, jadi tadi persiapannya masih kacau." Lanjut Irfan.


Pak Hadi Parjono, salah seorang guru, ternyata memergoki keduanya tanpa sengaja. Beliau langsung curiga melihat dua anak didiknya berada di area sekolah yang agak sunyi. Salah satu anak selalu membawa tas pinggang, dan apa bila temannya datang, anak tersebut mengeluarkan sesuatu dari tas pinggangnya dengan hati-hati.


Bermula dari ketidaksengajaan itu, Pak Hadi Parjono jadi curiga dan berniat mengintai keduanya. Karena judulnya saja “mengintai” berarti dilakukan dari jarak jauh tentu saja Pak Hadi Parjono tidak bisa mengetahui dengan pasti apa yang sebenernya terjadi.


Setelah pengintaian yang keempat, Pak Hadi Parjono dengan yakin menyimpulkan kedua muridnya itu telah melakukan transaksi barang haram alias narkoba! Memang, yang dilihatnya kemudian kedua anak itu memakan sesuatu dengan lahap, sambil ngobrol dan tertawa-tawa, tapi Pak Hadi Parjono yakin itu cuma kamuflase. Agar orang tidak curiga, tentu saja mereka harus menutupinya dengan aktivitas yang wajar.


Suatu siang, saat istirahat pertama, Irfan dan Sigit kembali menempati salah satu pos mereka di area sekolah yang lumayan sunyi. Keduanya sedang membicarakan rencana penggantian menu dengan sangat serius. Setelah empat hari berturut-turut makan lontong sama bakwan udang, keduanya mulai bosan.


Irfan baru saja menceritakan bahwa Bi Puji, pembantunya itu, jago bikin pizza mie dan tahu isi. Kedua menu itu sama-sama bisa bikin perut kenyang. Sekarang Irfan dan Sigit sedang mendiskusikan enaknya besok makan pizza mie atau tahu isi. Tidak lama kemudian, keduanya mencapai kata sepakat.


"Oke, mulai besok, tahu isi. Tahunya yang putih gede, biar kenyang." Irfan membuka tas pinggangnya. Diambilnya lontong dan bakwan udang dari dalam plastik, lalu diberikannya pada Sigit. "Ini hari terakhir kita makan lontong pake bahwan." Lanjutnya.


Namun baru dua kunyahan, Pak Hadi Parjono mendadak muncul di hadapan mereka dengan tampang garang.


"Kalian berdua ikut saya ke kantor kepala sekolah!" katanya galak. Irfan dan Sigit melongo bingung. Mulut mereka berhenti mengunyah.


"Ayo, cepat!" bentak Pak Hadi Parjono.


"Sekarang, Pak?" tanya Irfan.


"Iya, sekarang!" jawab Pak Hadi Parjono dengan bentakan yang semakin keras, karena marah melihat sikap santai kedua anak itu.


Irfan dan Sigit saling pandang sesaat...!!!

__ADS_1


Keduanya lalu bangkit berdiri dan dengan tampang bingung mengikuti langkah Pak Hadi Parjono. Mulut mereka masih mengunyah lontong, tangan mereka masih memegang bakwan.


Sampai ditujuan, Pak Umar Yamin sang kepala sekolah menyambut kedatangan Irfan dan Sigit dengan wajah dingin. Rupanya beliau telah diberitahu perihal dugaan transaksi narkoba yang dilakukan kedua anak muridnya itu. Setelah menanyakan nama dan kelas, Pak Umar Yamin langsung ke persoalan.


"Apa yang kalian komsumsi atau perjual belikan?" tanyanya tajam.


"Lontong, Pak," jawab Irfan polos. "Sama bakwan udang." Lanjutnya.


Wajah dingin Pak Umar Yamin langsung terlihat marah.


"Kalian denger ya!" ucap Pak Umar Yamin penuh tekanan. "Lebih baik kalian bicara terus terang. Sekarang! Sebelum berita ini tersebar dan membuat malu sekolah!" Lanjut Pak Umar Yamin lagi.


Kening Irfan sontak berkerut rapat. Ia tampak tersinggung.


"Emangnya kami berdua kenapa sih, Pak? Mentang-mentang tampang kami pas-pasan, nggak ganteng, trus dibilang bikin malu sekolah. Itu kan nggak adil. Orang dari sana dikasihnya udah begini kok." Balas Irfan.


Salah satu yang membuat Sigit salut sama Irfan, ya ini nih. Kalau merasa tidak bersalah, Irfan tidak peduli siapa yang ada di depan mukanya.


"Saya tidak bercanda!" bentak Pak Kepala Sekolah sambil memukul meja. Sigit sedikit memucat, namun Irfan tetap tenang.


"Sama, Pak. Kami juga nggak bercanda. Kami nggak tau nih kenapa kita di panggil ke sini."


Melihat ketenangan Irfan, kemarahan Pak Kepala Sekolah sedikit mereda.


"Apa itu di dalam tas kamu?" tanya Pak Umar Yamin.


"Lontong, Pak. Sama dengan yang saya makan bareng teman saya tadi." Jawab Irfan lagi.


"Lontong apa? Lontong ganja? Lontong shabu-shabu?" Ucap Pak Umar Yamin.


Irfan dan Sigit ternganga. Sesaat keduanya saling pandang.


"Kok bapak kejem banget sih, nuduh kami transaksi narkoba. Di sekolah pula, pak?" ucap Irfan, dengan nada tersinggung yang tidak disembunyikan.


"Lalu kenapa kalian berdua senang menyendiri begitu?" Tanya Pak Umar Yamin.


"Ya makan, Pak. Namanya juga jam istirahat. Lontong sama bakwan udang. Itu bekal yang saya bawa dari rumah. Sumpah, pak! Lontongnya dibikin dari beras. Bukan dari ganja atau barang haram lainnya atau saudara-saudaranya itu. Boro-boro buat beli narkoba, buat jajan di kantin aja kami nggak mampu." Jelas Irfan.


"Kalau cuma untuk makan, kenapa harus di tempat tersembunyi kayak begitu?" Tanya Pak Umar Yamin masih dengan posisi curiga.


"Ya kan malu, Pak. Masa bawa bekal dari rumah? Kayak anak Taman Kanak-kanak aja. Apalagi kalau sampai ketahuan cewek-cewek. Bisa nggak bakalan laku nih kami berdua. Lagian kalo makannya nggak ngumpet atau di tempat yang sepi, nanti pasti dimintain temen-temen. Kan mau nggak mau kami terpaksa bagi-bagi. Masa mau dimakan sendiri? Dan kalo dibagi-bagi, mana bisa kenyang?" Jelas Irfan deta.


Irfan mengeluarkan kedua jenis makanan itu dari dalam tas pinggangnya, lalu meletakkan di meja Pak Umar Yamin dan Kepala sekolah itu tampak terkejut, apa lagi Pak Hadi Parjono.


"Bapak mau? Enak deh. Coba aja. Pasti bapak setuju kalo saya bilang lontong bikinan pembantu saya ini enak banget. Standar hotel berbintang. Kalo bapak mau pesan juga bisa. Buat di bawa pulang. Misalnya buat arisan istri bapak, gitu?" Ucap Irfan jadi promosi.


Sama sekali tidak di pedulikan isyarat yang di lemparkan Sigit dengan kesal. Malu-maluin aja, dagang lontong sama bakwan di kantor Kepala Sekolah!


Irfan tidak peduli. Ia lagi butuh banget duit. Jadi, peluang bisnis sekecil apa pun akan dimanfaatkannya semaksimal mungkin. Pak Kepala Sekolah memang memesan lontong dan bakwan udang, untuk dimakan bersama para guru besok. Pasti karena rasa bersalah dan Pak Hadi Parjono juga ikut memesan, untuk dibawa pulang.


Kalau yang ini jelas lebih dari merasa bersalah. Merasa berdosa!


Kedua lelaki dewasa itu kemudian meminta maaf, dan masalah itu clear. Irfan dan Sigit mohon diri. Irfan tak lupa meninggalkan dua buah lontong dan dua potong bakwan. Buat tester, katanya.

__ADS_1


Pak Umar Yamin dan Pak Hadi Parjono melepaskan kepergian kedua anak itu dengan senyum.


Senyum geli sekaligus salut...!!!


__ADS_2