LORONG TAK BERUJUNG

LORONG TAK BERUJUNG
BAB 51: ANAK YANG HILANG


__ADS_3

Kebetulan seorang karyawan bagian Akunting terhenti dan atas usul kepala bagian personalia ke atasannya, sehingga Farel mengisi lowongan tersebut, prihal Farel kuliah Akunting telah diketahui oleh kepala bagian personalia. Dengan adanya jabatan tersebut, maka gaji Farel bertambah tinggi. Ketika beristirahat makan siang, Farel berdiri sebentar di depan gedung tempat ia bekerja tiba-tiba sebuah mobil mercy putih susu berhenti di depan Farel dan buru-buru sang sopir turun membukakan pintu mobil belakang, seorang lelaki berumur setengah abad lebih turun dari mobil mercy itu. Wajahnya sabar serta bijaksana, namun berwibawa, berperawakan sedang dan ketampanannya. Farel menatapnya dengan heran. Siapa gerangan lelaki ini? Pikirnya di dalam hati.


Begitu lelaki tersebut turun dari mobil, semua orang memanggutkan kepala mereka ke arah lelaki tersebut dengan hormat sekali. Lelaki tersebut tersenyum ramah serta memanggutkan kepalanya ke arah orang-orang, ketika pandangan matanya dialihkan ke arah Farel, ia tertegun serta hatinya tergetar. Perlahan-lahan ia mengayunkan kakinya ke arah Farel dan berhenti di hadapan Farel. Farel menatapnya dengan perasaan heran dan melongo sembari memperlihatkan senyumannya, kemudian ia memanggutkan kepalanya. Termangu-mangu lelaki tersebut menatap ke wajah Farel, seolah-olah sedang mencari sesuatu di wajah Farel.


"Siapa namamu?" Tanyanya.


"Farel!" Jawab Farel sambil memandang ke arah lelaki tersebut dengan perasaan bingung.


"Umur?" Tanyanya.


"Hampir dua puluh tiga tahun!" Jawab Farel.


"Masih punya orang tua?" Tanyanya.


"Ayah saya sudah meninggal dan ibu saya dalam keadaan sehat walafiat." Jawab Farel.


"Kerja di mana?" Tanyanya.


"Di sini!" Jawab Farel. Farel menunjuk ke gedung tempat ia bekerja.


"Bagian apa?" Tanyanya.


"Bagian Akunting." Balas Farel.


"Bagus! Bagus!" Ucap lelaki tersebut sambil menatap Farel, kemudian ia berlalu dari hadapan Farel dan masuk ke dalam gedung itu. Farel masih berdiri terbengong-bengong di tempat, ia tidak mengenal lelaki itu, namun, kenapa lelaki itu mengajaknya berbicara dan menanyakan riwayat hidupnya? Farel menggaruk-garukkepalanya yang tidak gatal.


Selesai makan siang, Farel kembali ke tempat kerjanya, mendadak seorang gadis menghampiri nya. "Anda bernama Farel?"


"Ya!" Jawab Farel dengan perasaan heran.


"Berumur hampir dua puluh tiga kan?" Gadis itu tersenyum ramah.


"Ya!" Farel merasa kepalanya pusing tujuh keliling, sebab ia tidak kenal pada gadis tersebut.


"Mari ikut saya!" Ucap gadis itu.


"Ke mana?" Tanya Farel.


"Ke ruangan presiden direktur!" Jawab gadis itu.


"Hah!" Terperanjat hati Farel. "Saya tidak bersalah, kenapa saya harus menghadap pada beliau?" Tanya Farel.


"Memang anda tidak bersalah, namun saya disuruh kemari untuk memanggilmu!" Jawab gadia itu lagi.


Farel menarik nafas dan terpaksa mengikuti gadis itu ke ruangan presiden direktur. Entah berapa lama Farel berada di dalam tangga lift, setelah tangga lift terbuka, maka ia pun mengikuti terus pada gadis itu, segala ruangan telah dilalui, akhirnya tibalah di ruangan presiden direktur. Kaget hatinya, ternyata presiden direkturnya adalah lelaki tadi yang mengajaknya berbicara di depan gedung.


"Pak! Apakah pemuda ini?" Tanya gadis itu.


"Benar!" Ucap presiden direktur. "Kau kembali ke tempat kerjamu!"


"Ya! Pak!" Gadis itu menuju ke sebuah meja yang terdapat di dalam ruangan tersebut.


"Duduk!" Ucapnya pada Farel.


"Ya! Pak!" Farel duduk di hadapannya.


"Betulkah ayahmu telah meninggal dunia?" Tanyanya.


"Betul, pak!" Jawab Farel.


"Bolehkah kau memberitahukan mengenai riwayat hidupmu?" Tanyanya.


"Boleh pak!" Jawab Farel.


Andi segera memberitahukan riwayat hidupnya.


"Oh! Jadi yang meninggal adalah ayah angkatmu?" Tanyanya.


"Ya! Pak!" Jawab Farel.


"Kalau demikian berarti kau masih mempunyai ayah ibu kandung kan? Siapakah ayah ibu kandungmu?" Tanyanya.


"Maaf, pak!" Jawab Farel. "Saya sendiri juga tidak mengetahui, siapakah ayah ibu kandung saya?" Jawab Farel jujur.


"Kalau demikian..." Presiden direktur berpikir sebentar. "Kau dipungut oleh orang tua angkatmu dari mana?" Tanyanya.


"Menurut ibu saya, ketika saya berumur dua tahun tengah menangis di depan rumahnya, kemudian saya diajak ke dalam rumahnya dan mulai saat itu saya telah menjadi anak angkat mereka!" Jelas Farel polos.

__ADS_1


"Dua tahun, waktu itu kau baru berumur dua tahun!" Presiden direktur tersebut seperti sedang berpikir. "Apakah... begini, kau ikut ke rumahku!" Ucap presiden direktur itu lagi.


"Untuk apa pak?" Farel bertambah bingung.


"Ikut saja!" Presiden direktur tersebut berdiri dari tempat duduknya, kemudian ia berkata pada gadis yang mengajak Farel ke dalam ruangan tersebut.


"Lisa, belkan, supaya sopir menyiapkan mobil, aku mau pulang sebentar!" Ucap presiden direktur itu.


"Ya! Pak!" Segera gadis itu mengangkat telponnya.


"Mari kita berangkat!" Ucapnya pada Farel.


Farel mengikuti terus di belakang presiden direkturnya. Di dalam hatinya ia sedang bertanyatanya. Mau apa presiden direktur mengajaknya ke rumah? Setelah tiba di rumah presiden direktur. Kaget hati Farel menyaksikan keindahan rumahnya serta mewah dan serta elite. Farel disuruh duduk di ruangan tamu yang berhawa sejuk. Tak lama kemudian, presiden direkturnya keluar bersama seorang wanita berumur setengah abad. Ia menatap Farek dengan mata tidak berkedip.


"Pak!" Ucapnya. "Memang mirip!"


"Kalau tidak mirip, mana mungkin aku membawanya kemari?" Ucap presiden direktur itu.


"Farel!" Ucap wanita itu. "Tolong bukakan baju serta kaos dalam!" Lanjut wanita itu.


"Untuk apa bu?" Tanya Farel dengan heran.


"Buka saja!" Ucap presiden direkturnya.


"Baiklah! Pak!" Segera Farel membuka baju serta kaos dalamnya.


"Punggungmu hadap kemari!" Ucap wanita itu.


Begitu punggung Farel menghadap ke arah mereka, spontan mereka menjerit.


"Anakku!" Jerit wanita itu.


"Puteraku!" Jerit presiden direktur.


Dengan cepat mereka berdua berebut merangkul Farel, hampir Farel sesak nafas dirangkul oleh mereka dengan air mata bercucuran.


"Ada apa pak? Bu!" Tanya Farel gugup.


"Kau... adalah putera kami yang menghilang pada dua puluh tahun yang lampau!" Seru presiden direktur.


"Mana mungkin?" Farel menggaruk kepalanya.


Tercekat hati Farel. sebab tidak ada yang mengetahui tanda tersebut, kecuali ibu angkatnya. "Saya masih kurang yakin. Sebab bapak terlalu kaya!"


"Kalau misalnya kami miskin?" Tanya wanita itu.


"Segera saya mengaku!" Jawab Farel.


"Tapi kami memang orang tua kandungmu!" Ucap presiden direktur. "Mungkin masih ada bukti lain, oh ya! Apakah ketika kecil kau pernah dipotret?"


"Pernah!" Jawab Farel.


"Nah! Itu adalah bukti yang kedua!" Seru presiden direktur dengan girang. "Apakah masih ada potretanmu yang masih kecil?"


"Ada!" Jawab Farel.


"Di mana?" Tanya Presiden Direktur.


"Di rumah kontrakan saya!" Jawab Farel jujur.


"Kalau demikian aku suruh sopir mengantarmu untuk membawa potretmu kemari!" Lanjut peresiden direktur itu lagi.


"Baiklah! Pak!" Ucap Farel kemudian.


Berangkatlah Farel ke rumah, setelah tiba di rumahnya, dengan tergesa-gesa ia memasuki kamarnya sambil mengeluarkan potretannya yang masih kecil dari dalam lemari pakaian.


"Farel, ada apa?" Tanya Rahmawati. ia merasa bingung melihat tingkah laku Farel.


"Ada urusan dengan presiden direktur!" Seru Farel.


"Urusan apa?" Tanya Rahmawati.


"Nanti setelah saya pulang nanti akan saya ceritakan secara jelas." Ucap Farel.


"Kau mau pergi lagi?" Tanya Rahmawati.


"Ya!" Jawab Farel.

__ADS_1


"Untuk apa kau membawa potretanmu yang masih kecil?" Rahmawati tercengang.


"Rahma, setelah saya pulang, baru saya jelaskan!" Farel buru-buru pergi lagi.


"Farel,..." Rahmawati berseru, tapi Farel telah pergi, tinggal Rahmawati berdiri terbengong-bengong.


***


Tiba di rumah presiden direkturnya, segera Farek memberikah potretannya kepada presiden direktur.


"Benar!" Teriaknya. "Kau adalah anakku!" Serunya dengan girang.


"Terimakasih Tuhan!" Ucap wanita itu dengan air mata bercucuran. Kemudian ia memeluk


Farel dengan penuh kasih sayang. "Tidak disangka dua puluh tahun kemudian aku akan bertemu kembali dengan anakku!"


"Bu! Tunggu dulu!" Ucap Farel. "Belum tentu saya adalah anak ibu!" Lanjut Farel.


"Tidak salah lagi!" Ucap presiden direktur, ia juga mengeluarkan potretan anaknya yang berumur dua tahun. "Coba dicocokkan!"


Ketika Farel mencocokkan potretannya dengan potretan anak presiden direktur yang berumur dua tahun, menjeritlah dia. Sebab memang anak presiden direktur yang berumur dua tahun itu adalah dirinya.


"Kalau demikian ..." Ucap Farel terdiam.


"Kami adalah ayah ibu kandungmu!" Ucap mereka hampir berbareng dan dengan air mata berlinang-linang.


"Ketika kau berumur dua tahun! Kami mengajakmu ke sebuah toko untuk berbelanja, saat itu kami sedang asyik memilih ini dan itu, akhirnya tanpa disadari oleh kami, kau telah menghilang dari sisi kami. Setengah mati kami mencarimu, namun tetap sia-sia dan ibu sampai pingsan di tengah jalan, segera aku melaporkan kepada yang berwajib, tapi jejakmu tetap tidak bias diketemukan!" Tutur ayahnya.


"Tidak disangka dua puluh tahun kemudian baru kami menemukan dirimu!" Terisak-isak suara wanita itu. "Sebetulnya kau bukan bernama Farel, melainkan kau bernama Fakih Alfarizi, tapi, tidak apa-apa! Gunakanlah nama itu terus."


"Kalau demikian saya harus panggil ayah dan ibu?" Tanya Farel.


"Lho! Kenapa masih ragu-ragu?" Tanya presiden direktur.


"Sebab ayah terlalu kaya, maka saya merasa ragu-ragu!" Balas Farel.


"Anak bodoh!" Ayahnya tersenyum girang.


"Coba kau ceritakan pengalamanmu!" Ucap ayahnya.


Segera Farel menceritakan segala apa yang terjadi pada dirinya. Setelah itu mendadak seperti kesurupan ia memeluk ayah dan ibunya sambil menangis tersedu-sedu.


"Ayah! Ibu!" Serunya dengan suara terharu.


"Anakku!" Seru ibunya.


"Adikku! Eh! Salah! Anakku!" Seru ayahnya.


Setelah reda suara panggilan-panggilan tersebut, barulah ayah Farel berkata dengan tenang.


"Kalau demikian kau pernah dihina oleh pak Arif Budiman?" Ucap ayahnya.


"Ya!" Jawab Farel jujur.


"Bagaimana kalau aku membalas penghinaan itu?" Tanya ayahnya.


"Jangan, kasihan isterinya dan Rahmawati!" Jawab Farel. "Malah kalau bisa kita harus membantu usahanya." Balas Farel.


"Bagus! Tidak percuma kau menjadi anakku!" Ucap ayah Farel dengan suara girang. "Apa lagi kau memiliki hati yang bersih serta cinta kasih yang suci, aku sungguh-sungguh harus bangga."


"Aku juga!" Sambung ibu Farel. "Oh... ya! Farel, kau harus membalas budi pada ibu angkatmu dan harus juga membalas budi pada om dan tantemu! Jangan lupa!" Ucap ibunya.


"Saya tidak lupa!" Bangga juga hati Farel mempunyai orang tua yang baik hati. "Apakah ayah sering menyombongkan diri?" Tanya Farel pada ayahnya.


"Belum pernah dan hal ini tidak mungkin terjadi!" Ucap ayah Farel sambil tersenyum. "Dan aku juga harap kau jangan suka menyombongkan diri!" Lanjut ayahnya.


"Jangan kuatir, ayah!" Farel tertawa kecil.


"Oh ya! Farel!" Ucap ibunya. "Ajak istrimu Rahmawati kemari, aku ingin melihat mantuku!"


"Mantuku juga!" Ayah Farel menyeletuk.


"Mantu ayah dan mantu ibu kan sama, kenapa harus berebut?" Farel menyengir.


"Kalau demikian seharusnya disebut... mantu kami!" Ucap ayah dan ibu Farel hampir berbareng.


"Andi, cepat ajak Rahmawati kemari!" Desak ibunya.

__ADS_1


"Baik, bu!" Ucap Farel sopan.


__ADS_2