LORONG TAK BERUJUNG

LORONG TAK BERUJUNG
BAB 33 : MERANTAU


__ADS_3

Sebuah bis antar kota antar provinsi berjalan cepat melewati gerbang demi gerbang tol kota Lampung menuju kota Jakarta melalui pelabuhan Bakauheni berlabuh di pelabuhan Merak, semua tempat duduk penuh dengan penumpang, dari sekian banyak penumpang terlihatlah seorang pemuda berpakaian sederhana duduk di pinggir jendela bis antar kota antar provinsi tersebut. Matanya memandang keluar jendela, keningnya berkerut-kerut, panorama di luar jendela bis antar kota antar provinsi menyebabkan ia teringat pada ucapan-ucapan ibunya.


"Farel, kau sudah cukup dewasa, umurmu sekarang kalau tidak salah sudah dua puluh tahun, maka kau harus mencari pengalaman di luar!" ucap ibunya. "Lebih baik kau ke Jakarta ..." Terngiang di telinga pemuda itu.


"Saya tidak mau meninggalkan ibu!" potong Farel. "Saya ingin menemani ibu!" Lanjut Farel.


"Anak bodoh!" Ibunya tersenyum. "Bukankah masih ada adikmu Balqis yang menemani?" Ucap ibunya. Ibunya membelai rambut Farel. "Kau harus berjuang demi masa depanmu!" Lanjut ibunya.


"Saya berjuang di kota Lampung bukankah sama?" Farel menatap ibunya. "Kenapa harus ke kota Jakarta?" Tanya Farel.


"Sebetulnya kau bukan anak kandung kami!" Ibunya menghela nafas.


"Apa?" terkejut, ia tidak percaya. "Saya bukan anak kandung ayah dan ibu?" Mata Farel berkaca-kaca. "Ibu bohong!" Terus Farel seakan tidak percaya.


"Tidak! Ibu tidak bohong!" Ibunya menarik nafas. "Dua puluh tahun yang lalu ibu dan ayahmu Rangga tinggal di Jakarta." Tutur ibunya. "Pada Suatu sore, ketika kami pulang dari rumah family, melihat seorang anak lelaki sedang menangis di halaman rumah, buru-buru kami mendekatinya, jika tidak salah kau waktu itu baru berumur setengah tahun, segera kami menggendongmu ke dalam rumah, pada saat itu, ayahmu langsung ingin melapor pada yang berwajib, tapi ibu menahannya ...!" Jelas ibunya Farel tidak lain adalah Cindy yang menikah dengan Rangga setelah terjadi ketidaknyamanan di kampung halamannya kota Lampung dengan kejadian meninggalnya adik kandungnya Zahra akibat ingin di pisahkan oleh ke dua orang tuanya dari kekasihnya Fadly yang rencananya dinikahkan dengan orang kaya di kampung mereka yaitu pak Ruslan mengakibatkan Zahra mengambil jalan pintas pergi dari dunia ini untuk selama-lamanya. Akhirnya Cindy dan Rangga pergi dari kampung halamannya merantau ke kota Jakarta, kisah tidak bisa diubah dengan sekenario sendiri, Rangga meninggal dunia lebih cepat karena sakit yang di deritanya. Hal ini lepas dari sebuah harapan Cindy, meninggalkan dua anak yaitu Farel dan Balqis. Kemudian Cindy menikah dengan Deska, lelaki yang cukup berumur namun banyak memberikan perhatian dan kasih sayang kepada Cindy dan ke dua anaknya, Farel dan Balqis sampai mereka dewasa.


"Kenapa ibu menahan ayah akan melapor pada yang berwajib?" Farel membelalakkan matanya.


"Karena pada waktu itu, kami masih belum mempunyai anak!" Ibunya menjelaskan. "Ibu kawin dengan ayahmu selama satu tahun lebih belum mempunyai anak, maka aku berhasrat untuk merawat dirimu sebagai anak kami!" Ibunya berhenti sebentar, kemudian ia baru melanjutkan tutur katanya. "Ternyata kau membawakan kebahagiaan untuk kami, satu tahun kemudian, diluar dugaan ibu, ibu telah hamil, sehingga kami bertambah sayang padamu. Setelah adikmu lahir dan berumur dua tahun, tidak diduga, ayahmu meninggal dunia karena sakit!" Wanita setengah tua itu mulai sesunggukan.


"Adik Balqis kini sudah berumur tujuh belas tahun kan?" Tanya Farel.


"Ya! Adikmu sudah berumur tujuh belas tahun." Jawab ibunya dengan mata berkaca-kaca.


"Setelah ayahmu Rangga meninggal, ibu menikah dengan ayahmu Deska yang engkau tau sendiri baru pergi meninggalkan kita satu tahun yang lalu karena penyakit jantungnya dan untungnya perusahaan masih memberikan jatah gaji ayahmu Deska, sehingga, kita semua tidak mengalami kesukaran apa-apa!" Ibunya menatap Farel. "Farel, ibu menyuruhmu ke Jakarta dikarenakan dua hal!" Ucap Cindy pada Farel yang ternyata bukan anak kandungnya itu.


"Dua hal apa bu?" Tanya Farel tidak mengerti.


"Hal pertama supaya kau bisa menemukan ayah dan ibu kandungmu, hal kedua kau mencari pekerjaan serta kalau bisa masuk ke Universitas!" Lanjut Cindy menjelaskan tujuannya.


"Dapatkah saya menemukan ayah dan ibu kandung saya, Bu?" Farel tertawa sedih. "Dan juga mana mampu saya masuk ke Universitas?" Farel menghela nafas.


"Kalau sudah mendapat pekerjaan, kemungkinan besar kau bisa masuk ke Universitas!" Ibunya menghibur. "Sesudah kau tiba di Jakarta, sementara waktu kau tinggal di rumah family ibu dulu!" Ibunya memberitahukan alamat familynya dan dicatat oleh Farel.


"Farel, apakah kau membenci kami?" Ucap ibunya. "Sebab pada waktu yang lampau kami tidak melaporkan pada yang berwajib?" Lanjut Cindy pada anaknya.


"Tidak! Malah saya berterimakasih pada ayah dan ibu yang telah membesarkan diri saya. Sehingga saya tumbuh menjadi dewasa!" Farel menundukkan kepalanya.


"Sebelum kau berangkat, bawa serta fotomu yang masih kecil, siapa tahu ada manfaatnya untukmu!" Ibunya tersenyum. "Di bahumu terdapat sebuah tanda ...!" Lanjut ibunya.


"Tanda apa bu?" Tanya Farel.


"Tompel hitam sebesar kelereng!" Jelas Cindy.


"Di sebelah mana tanda tersebut?" Tanya Farel.


"Di sebelah kiri!" Balas Cindy.


"Kenapa saya tidak tahu?" Farel berusaha merabanya.


"Kau tidak bisa melihatnya." Ibunya tersenyum. "Apa lagi merasanya." Ibunya berkata sungguh-sungguh. "Tanda tersebut adalah ciri khas dirimu, mungkin bisa dijadikan tanda pengenalmu." Lanjut Cindy menjelaskan.


"Mudah-mudahan demikian adanya!" Farel memanggut.

__ADS_1


"Kalau Tuhan ingin mempertemukan hamba Nya. tidaklah sulit!" Ucap ibunya "Doa ibu selalu menyertaimu!" Lanjut Cindy.


"Terimakasih, bu!" Balas Farel.


"Oh ya! Jangan lupa mengirimkan surat untuk ibu serta adikmu Balqis, dia pasti sangat kehilangan!" Ibunya berkata: "Bekal ongkosmu telah ibu sediakan." Jelas Cindy.


"Terimakasih, bu." Ucap Farel.


"Farel, setelah kau tiba di Jakarta, kau boleh bergaul dengan orang-orang dari segala lapisan masyarakat." Ibunya memberi nasihat. "Jika yang benar dan baik, bisa memberi contoh bagimu! Seandainya jahat dan jelek, dijadikan suatu pengalaman." Ibunya menatap anaknya. "Jika kau mengenal kejahatan, berarti kau tidak akan terjerumus. Ingat! Jangan kau merugikan orang lain jikalau dirimu tidak ingin dirugikan, disamping itu, jangan terlalu memikirkan kepentingan diri sendiri, berpikirlah terlebih dahulu sebelum berbuat sesuatu!" Nasehat Cindy kepada putra angkatnya tersebut.


"Ya! Bu!" Farel mengangguk.


"Jangan terpengaruh oleh sesuatu demi ambisi dirimu, hal tersebut akan membahayakan dirimu. Ingatlah! Yang Maha Kuasa tidak mengizinkan hamba Nya berbuat sesuatu yang tak halal serta sesuatu yang berdosa!" Ibunya memperingatinya.


"Ya, bu." Farel mengangguk lagi, ia sangat berterimakasih pada ibunya, walau hanya merupakan ibu angkat yang baru ia ketahui, budi kebaikan dan kasih sayang yang dicurahkan oleh ayah ibu angkatnya tak terlupakan oleh Farel, di dalam hati kecil, ia tetap menganggap ayah dan ibu angkatnya adalah ayah dan ibu kandung sendiri, apa lagi terhadap adiknya yang bernama Balqis, ia sangat menyayanginya.


"Oh ya! Setelah kau tiba di rumah family ibu, kau panggil saja mereka sebagai om dan tante! Ommu bernama Ismo Harsoyo!" kata ibunya.


"Baik, bu!" Ucap Farel kembali.


"Farel, kau berkemas sekarang, besok pagi kau boleh berangkat!" Lanjut Cindy.


"Ya! Bu!" Farel siap masuk ke dalam kamarnya, Mendadak ia berkata: "Bu, haruskah saya berangkat besok?" Tanya Farel.


"Ya, besok kau harus berangkat!" Wajah ibunya agak murung, terasa berat hati kecilnya melepas Farel namun, ia menguatkan hatinya, dikarenakan ia harus mementingkan masa depan anak angkatnya. "Semoga kau akan mendapat pekerjaan yang baik serta semoga kau akan bertemu dengan ayah dan ibu kandungmu!" Lanjut Cindy.


"Mudah-mudahan, bu !" Farel masuk ke dalam kamarnya.


"Berjuanglah demi masa depanmu dan jangan sekali-kali kau berbuat hal-hal yang bertentangan dengan hukum!" Nasehat Cindy kembali.


"Ya, bu!" Balas Farel.


"Kak Farel, kalau sudah berhasil nanti jangan lupa ajak Balqis jalan-jalan ke kota Jakarta, ya?" Ucap cewe' cantik yang merupakan adik angkatnya Farel tersebut dengan mata yang berlinang.


"Aku tidak akan lupa, Balqis!" Ia merangkul adiknya yang masih kekanak-kanakkan. Farel mengenang terus mengikuti luncuran bis antar kota antar provinsi yang selesai menyeberangi Selat Sunda yang menghubungi antara pulau Sumatera dan Jawa mulai memasuki kota Jakarta. Setelah turun dari bis antar kota antar provinsi serta keluar dari terminal, Farel menarik nafas lega, ia melirik ke sana ke mari sambil menikmati keindahan Jakarta kota Metropolitan. Sebelah tangannya menjinjing sebuah koper tua. Mendadak ia menggapaikan tangannya, lantas sebuah taxi berhenti di hadapannya. Kepala sopir taxi diulurkan keluar seraya bertanya: "Mau ke mana?"


"Apakah bapak mengetahui alamat ini?" Tanya Farel sambil mengeluarkan catatan alamat omnya, Ismo Harsoyo.


"Oh! Tahu, silahkan naik!" Balas sopir taxi itu.


"Terimakasih, pak!" Farel membuka pintu mobil, setelah berada di dalam mobil taxi tersebut, ia menaruhkan kopernya di tempat duduk belakang.


"Kau dari mana?" Tanya sang sopir.


"Dari Lampung, pak!" Jawab Farel.


"Sudah berapa kali datang ke Jakarta?" Tanya sopir taxi itu lagi.


"Baru pertama kali!" Jawab Farel singkat.


"Kalau demikian, kau harus hati-hati!" Pesan sang sopir. "Sebab di kota ini banyak pencopet serta penodongan!" Lanjutnya.


"Terimakasih atas peringatan bapak!" Ucap Farel sopan.

__ADS_1


Mata Farel memandang keluar, ia menyaksikan taman yang indah serta gedung yang bertingkat-tingkat dan mendengar kebisingan luncuran mobil-mobil di jalanan. Tak lama kemudian, tiba di alamat omnya yang bernama Ismo Harsoyo itu, setelah membayar ongkos taxi, langsung ia menjinjing koper tuanya masuk ke dalam sebuah gang, ia bertanya terus tempat tinggal omnya pada orang-orang, hingga akhirnya tibalah ia di rumah omnya. Rumah yang dicarinya itu sangat sederhana, tapi bersih, terdapat sedikit pekarangan dan ditanam beberapa macam bunga.


Seorang wanita setengah tua membukakan pintu, setelah Farel mengetuk pintu rumah beberapa kali.


"Mau cari siapa?" Tanya wanita setengah tua itu.


"Maaf, tante!" Ucap Andi. "Apakah di sini rumah Om Ismo Harsoyo?"


"Benar!" Jawab wanita setengah tua itu.


Kemudian ia bertanya dengan perasaan heran. "Kau siapa!" Wanita setengah tua tersebut melirik ke arah koper tua Farel.


"Saya bernama Farel sedangkan nama ibu saya adalah Cindy ...!" Ucap Farel menjelaskan.


"Oh! Kiranya anak Mbak Cindy, silahkan masuk!" Balas wanita setengah tua itu lagi.


Farel masuk ke dalam rumah, ia dipersilahkan duduk. Kopernya ditaruh dekat tempat duduknya, ia melirik sebentar ke sekitar ruangan tamu. Di dalam ruangan tamu tersebut terdapat sebuah tivi serta sebuah lemari pajangan, tidak begitu besar dan sederhana ruangan tersebut, mungkin inilah yang disebut ruangan tamu. Pikir Farel di dalam hati.


Wanita setengah tua menyediakan minuman seraya berkata, "Silaukan minum!"


"Terimakasih tante!" Ucap Farel.


"Apa kabar dengan ayah ibumu?" Tanya wanita tersebut. Ia memakai gaun biasa.


"Ayah saya sudah lama meninggal, sedangkan ibu saya sehat-sehat saja!" Jawab Farel.


"Apa? Pak Deska telah meninggal dunia? Kenapa kami tidak tahu sama sekali!" Wanita tersebut menarik nafas. "Aku adalah isteri ommu!" Wanita itu memperkenalkan diri. Dengan cepat Andi bersalam sujud pada tantenya, setelah itu, ia baru duduk kembali.


"Om kapan baru pulang?" Tanya Farel.


"Tidak tentu!" Jawab tantenya. "Kadang-kadang sore dan sering juga pulang malam." Farel menatap tantenya seolah-olah sedang bertanya apa sebab omnya sering pulang malam? "Ommu menarik taxi gelap!" Tantenya memberi penjelasan. "Maka sering pulang malam!"


"Oh!" Farel baru mengerti.


"Kalau tidak salah kau mempunyai seorang adik kan?" Tanya tantenya mendadak.


"Ya, tante!" Kemudian Farel bertanya: "Anak tante ke mana?"


"Sedang pergi!" Tantenya berkata: "Kami mempunyai dua anak, seorang anak lelaki dan seorang anak perempuan, yang lelaki baru berumur sebelas tahun dan yang perempuan sudah berumur lima belas tahun!" Jelas tantenya.


"Sudah besar juga ya anak tante!" Farel tersenyum. "Apakah masih sekolah?" Tanya Farel.


"Masih!" Tantenya menjelaskan. "Yang perempuan sudah kelas tiga Sekolah Menengah Pertama, sedangkan yang lelaki baru kelas lima Sekolah Dasar!" Tantenya tersenyum. "Dan kau?" Lanjut tantenya bertanya.


"Hanya lulusan Sekolah Menengah Atas!" Farel menundukkan kepala.


"Maksudmu datang di Jakarta?" Tanya tantenya lagi.


"Mencari pekerjaan!" Jawab Farel singkat.


"Mencari pekerjaan?" Tantenya mengerutkan kening. "Tidak gampang mencari pekerjaan di Jakarta, apalagi tidak ada koneksi atau orang yang bersedia mengulurkan tangan masuk bekerja!" Tantenya menggelengkan kepala.


"Saya akan berusaha sedapat mungkin!" ucap Farel tegas.

__ADS_1


__ADS_2