
Hari Minggu sebelum jam delapan Farel telah menunggu Rahmawati di tempat yang telah ditentukan, pagi itu hawa udara sangat sejuk dan nyaman, hembusan angin pagi menyegarkan Farel yang sedang berdiri sambil melirik kesana kemari. Dari jauh sebuah mobil corolla hijau meluncur ke arahnya dan berhenti di hadapannya.
"Farel!" Seru Rahmawati sembari membukakan pintu mobil. "Ayoh! Naik!"
"Rahmawati!" Girang hati Farel, buru-buru ia naik ke mobil dan duduk di samping Rahmawati.
"Farel, tutup pintu mobil!" Ucap Rahmawati.
"Oh ya! Saya lupa!" Ucap Farel.
"Pak! Antar kami ke Kebon Raya Bogor dulu!" Ucap Rahmawati pada sang sopir.
"Ya! Non!" Segera sang sopir meluncurkan mobilnya dengan cepat.
"Farel lamakah kau menunggu saya?" Tanya Rahmawati.
"Tidak begitu lama!" Farel menoleh ke arah Rahmawati sembari tersenyum.
"Kita singgah sebentar di Kebon Raya Bogor, setelah itu, baru kita ke Puncak sekalian mampir di sekitar sana tempat untuk berenang!" Lanjut Rahmawati.
"Berenang?" Tercengang hati Farel.
"Ya!" Jawab Rahmawati. "Sebelum sampai di Puncak terdapat sebuah kolam renang yang indah dan airnya sangat dingin!" Terang Rahmawati.
"Kau bisa berenang?" Tanya Farel.
"Bisa, dan kau?" Balik tanya Rahmawati.
"Bisa juga!" Farel mengangguk. "Oh ya! Rahmawati, ketika kau pulang, apakah diomeli oleh papahmu?" Tanya Farel.
"Tidak!" Jawab Rahmawati tersenyum. "Papah saya sedang sibuk melayani tamu istimewa." Lanjut Rahmawati.
"Tamu istimewa?" Tanya Farel.
"Ya! Anak presiden direktur Bank!" Ucap Rahnawati.
"Oh! Pacar adikmu!" Farel mengangguk lagi sembari memandang keluar, mobil diluncurkan oleh sang sopir melewati jalan-jalan yang terkenal indah, dengan kecepatan tinggi mobil tersebut meluncur terus.
"Oh... ya! Farel!" Ucap Rahmawati. "Gara-gara tempo hari pulang kesorean, saya jadi lupa ke dokter." Lanjutnya.
"Ke dokter?" Farel menatap Rahmawati dengan bingung. "Memang kau sakit apa?" Tanya Farel.
"Sering sakit perut, kalau" Mendadak wajah Rahmawati berobah merah. "Kalau sedang datang bulan." Lanjutnya.
"Sering sakit perut kalau sedang datang bulan?" Terbelalak mata Farel. "Kalau begitu, kau harus periksa ke dokter!" Ucap Farel khawatir.
"Ya!" Jawab Rahmawati singkat.
"Saya khawatir terdapat gejala penyakit lain!" Ucap Farel gelisah.
"Baiklah! Besok atau kapan saya akan ke dokter!" Rahmawati tersenyum.
Tak lama kemudian, tibalah mereka di Kebon Raya Bogor, sang sopir memarkirkan mobilnya di tempat parkir. Turun dari mobil, Rahmawati mengajak Farel masuk ke dalam Kebon Raya tersebut.
"Waduh! Nyaman benar hawa udara di sini!" Ucap Farel setelah berada di dalam Kebon Raya. "Besar benar pohon-pohon di sini!" Farel menunjuk ke arah pohon seperti anak kecil, wajahnya berseri-seri. Rahmawati jadi geli menyaksikan kegirangan Farel, tiba-tiba ia gandengan tangan dengan Farel, tergetar hati Farel, matanya ditatapkan ke arah Rahmawati sebentar, di saat itu, mata Rahmawati juga menatap ke arah Farel, sehingga dua pasang mata saling menatap, secara otomatis langkah kaki mereka terhenti beberapa saat, segala perasaan tercurahkan melalui tatapan mata tersebut.
Mendadak Rahmawati menundukkan kepalanya.
"Rahma" Tiba-tiba Farel menggenggam tangan Rahmawati, kemudian mereka melanjutkan langkah kaki mereka. Setelah puas jalan-jalan di dalam Kebon Raya tersebut, duduklah mereka di bawah pohon sambil melepaskan lelah.
"Alangkah luasnya Kebon Raya ini." Ucap Farel. "Kalau tidak bersamamu, mungkin saya tidak bisa keluar nanti." Lanjutnya tersenyum.
"Kau senang dengan Kebon Raya ini?" Rahmawati menyandarkan kepalanya ke bahu Farel.
"Senang sekali!" Jawab Farel dengan cepat.
"Minggu depan kita kemari sekali lagi, bagaimana?" Tawar Rahmawati.
"Tidak usah!" Farel menggeleng. "Ongkosnya terlalu berat." Lanjutnya.
"Kita bisa naik bis!" Ucap Rahmawati. "Kalau naik bis, ongkosnya tidak seberapa." Lanjutnya.
"Saya tidak mau mengganggu pelajaranmu." Kata Farel.
"Tidak apa-apa!" Ucap Rahmawati.
"Rahma, ingat! Pelajaran sangat penting bagimu, apa lagi kau harus menghadapi ujian penghabisan, maka, belajarlah dengan tekun dan rajin, soal jalan-jalan jangan terlalu dipentingkan. Setelah libur, baru kita jalan-jalan sampai puas." Mata Rahmawati memancarkan cahaya yang terang.
"Mungkin saya telah bekerja!" Farel tersenyum.
__ADS_1
"Tapi... Minggu kan tidak kerja?" Tanya Rahmawati.
"Ya!" Balas Farel.
"Kita bisa menggunakan waktu hari minggu kan?" Rahmawati menatapnya.
"Memang, tapi... biar bagaimana nanti saja!" Balas Farel.
"Farel, pertemuan kita seperti di dalam mimpi, saya tidak menduga sebelumnya." Kata Rahmawati tersenyum.
"Kita bukan sedang mimpi, melainkan kenyataan." Jelas Farel.
"Farek, bagaimana sekarang kita berangkat ke Puncak!" Ucap Rahmawati mendadak. "Sebab kalau kita terlalu lama di sini, berarti waktu kita akan habis." Lanjutnya menjelaskan.
"Baiklah!" Farel dan Rahmawati berdiri, kemudian mereka bergandengan tangan berjalan menuju ke pintu keluar.
Keluar dari Kebon Raya tersebut, mereka langsung menuju ke tempat parkir. Dengan tersenyum sang sopir menyambut kedatangan mereka. Setelah mereka naik ke mobil, dengan cepat pak sopir meluncurkan mobilnya ke Puncak. Farel tidak henti-hentinya memuji pemandangan di sepanjang jalan yang dilintasi. Tanpa terasa tibalah mereka di Puncak, turun dari mobil, segera Rahmawati menuju ke loket untuk membeli karcis masuk ke dalam.
"Rahma, masuk ke dalam juga harus pakai karcis?" Tanya Farel.
"Ya!" Rahmawati mengajak Farel masuk ke dalam.
"Wah! Indah benar" Farel menarik nafas setelah berada di dalam, sebuah kolam renang dengan airnya biru bening terpentang di hadapan Farel. "Sungguh indah kolam renang ini!"
"Apa lagi airnya." Sambung Rahmawati. "Dinginnya luar biasa!"
"Kau ingin berenang?" Tanya Farel.
"Kalau kau mau!" Jawab Rahmawati.
"Saya rasa tidak perlu, cukup bagi kita untuk melihat-lihat saja." Ucap Farel sembari melihat kesana kemari.
"Farel, mari kita ke restoran itu." Rahmawati menunjuk ke sebuah restoran atau boleh juga disebut kantin. "Kita makan dulu. baru kita jalan-jalan." Lanjutnya.
"Mahal tidak?" Tanya Farel.
"Jangan kuatir, persediaan uang masih cukup banyak!" Rahmawati tertawa kecil sambil menarik tangan Farel ke kantin.
Setelah duduk, Rahmawati memesan dua piring sate ayam berikut lontongnya dan dua botol teh manis.
"Ramai juga di. sini!" Ucap Farel sambil memandang ke arah kolam renang, ia menyaksikan muda mudi sedang berenang, ada juga yang berkejar-kejaran di dalam kolam renang tersebut.
"Jangan lupa, hari Minggu!" Rahmawati tersenyum. "Tuh! Banyak anak-anak sedang bermain di lapangan rumput!" Rahmawati menunjuk ke arah sekelompok anak-anak yang sedang bermain.
Di saat itu pelayan kantin telah datang sambil membawakan dua piring sate serta dua botol teh manis.
"Ayoh, makan!" Ucap Rahmawati sesudah pelayan itu pergi. Farel menganggukkan kepala. Mereka mulai makan, Rahmawati tidak habis, namun disambung oleh Farel.
"Rahma, sayang kalau tidak dihabiskan, sebab sate ini harus dibeli dengan uang, sedangkan uang susah dicari!" kata Farel sambil nyengir.
"Bekas saya kau berani makan?" Rahmawati membelalakkan matanya.
"Kau tidak dihinggapi penyakit menularkan?" Farel tertawa dan Rahmawati juga ikut tersenyum.
Setelah membayar, mereka langsung berjalan-jalan ke segala tempat yang terdapat di situ.
"Rahma, alangkah indahnya bunga-bunga itu!" Farel menunjuk ke arah tanaman bunga, ia
menghampiri bunga itu, kemudian dipetiknya bunga itu setangkai dan diserahkan kepada Rahmawati, dengan tersenyum Rahmawati menyambutnya.
"Farel, kau penggemar bunga?" Tanya Rahmawati.
"Saya hobbi menanam bunga!" Jawab Farel. "Dari kecil saya selalu merasa suka pada bunga!"
"Bunga kan diartikan perempuan." Ucap Rahmawati.
"Yang saya sukai adalah bunga asli, bukan bunga yang diartikan perempuan!" Farel tersenyum.
"Senangkah kau pada bunga yang sudah layu?" Tanya Rahmawati.
"Tidak ada manusia yang senang dengan bunga yang layu, demikian juga dengan diri saya." Jawab Farel.
"Seandainya saya sudah tua, apakah kau masih mencintai saya?" Tanya Rahmawati lagi.
"Tetap mencintaimu!" Jawab Farel pasti.
"Bukankah kau tidak senang dengan bunga yang telah layu?" Tanya Rahmawati. "Kenapa kau masih mencintai saya yang telah tua nanti?"
"Rahma, kau jangan lupa, kalau kau sudah tua dan menjadi nenek, berarti saya juga sudah tua dan menjadi kakek, mungkinkah seorang kakek mencintai seorang gadis?" Farel tertawa lebar.
__ADS_1
"Tapi, kenapa kau tidak senang pada bunga yang layu?" Tanya Rahmawati.
"Kau adalah manusia dan bunga adalah tumbuh-tumbuhan, dalam hal ini terdapat
perbedaan yang menyolok!" Ucap Farel. "Kau mengenal cinta, sedangkan bunga tidak, saya
menyenangi bunga, apakah bunga mengetahuinya? Bunga memberikan keharuman serta keindahan, namun, bunga tidak bisa memberikan cinta kasihnya." Jelas Farel.
"Dan sekarang?" Tanya Rahmawati.
"Sekarang saya telah mencintaimu, tapi saya tetap senang pada bunga yang menyibakkan
harumnya kepada kita!" Farel tersenyum.
"Kalau saya memakai minyak wangi, mungkinkah kau akan bertambah senang pada
saya?" Tanya Rahmawati kembali.
"Rahma, minyak wangi adalah buatan manusia jika kau memakai minyak wangi, berarti itu bukan wangi asli dari tubuhmu." Ucap Farel sambil berjalan. "Walaupun kau berbau keringat, namun bau asli tubuhmu, saya malah merasa senang!"
"Farel..." Wajah Rahmawati berobah merah. "Kau ngeledek saya berbau keringat, ya?" Rahmawati mencubit lengan Farel.
"Toh! Saya tetap senang, kan?" Farel meringis.
"Kau jahat!" Rahmawati mencubit lagi, Farel mengelakkan tangannya dan berlari, dikejar oleh
Rahmawati, akhirnya mereka sampai di bangku yang terdapat di sana, segera mereka duduk di bangku itu untuk melepaskan lelah.
"Farel, benarkah kau lebih senang saya tidak memakai minyak wangi?" Tanya Rahmawati.
"Saya tidak melarang, sebab manusia mempunyai hobbi yang berlainan!" Ucap Farel. "Lagi pula wajar bagi seorang gadis memakai minyak wangi!"
"Saya sudah mengerti!" Rahmawati tersenyum. "Oh ya! Mari kita berangkat ke Puncak, jangan kita habiskan waktu di sini saja."
"Oke!" Farel mengangguk.
Mereka langsung menuju ke pintu keluar dan menuju ke tempat parkir mobil, sebelum mereka masuk ke dalam mobil, mereka membeli buah-buahan di tempat itu, kemudian baru mereka masuk ke dalam mobil. Mobil diluncurkan oleh pak sopir menuju ke arah Puncak, berselang beberapa saat. Jalanan menanjak telah dilewati oleh mobil mereka, kemudian segala tikungan juga telah dilewati, Farel mulai merasakan hawa yang dingin, ketika ia melihat keluar, alangkah kaget hatinya, tahu-tahu di bawah terdapat jurang yang dalam, agak merinding sekujur badan Farel setelah menyaksikan jurang-jurang itu, tak lama kemudian tibalah mereka di Puncak. Pak sopir memarkirkan mobilnya di tempat parkir. Rahmawati mengajak Farel turun, sedikit gemetar badan Farel setelah berada di luar mobil.
"Farel, kau merasa dingin?" Tanya Rahmawati.
"Sedikit!" Jawab Farel. "Tidak apa-apa!" Farel tersenyum. Farel melihat ke depan, pegunungan yang indah terpeta di depan matanya, ia berseru dengan suara kagum. "Rahma! Alangkah indahnya pegunungan di sini!"
"Farel, coba lihat ke bawah!" Tangan Rahmawati menunjuk ke bawah.
"Hah!" Terkejut Farel. "Apa itu yang berlenggang lenggok?" Tanya Farel.
"Husssh! Jangan bloon ah! Itu kan jalanan yang kita lewati tadi!" Balas Rahmawati tersenyum.
"Ooooh!" Wajah Farel berobah merah. "Seperti ular!" Farel tertawa. "Rahma, hawa di sini sangat sejuk serta menyegarkan tubuh, tidak sama dengan kota Jakarta yang penuh dengan debu." Lanjut Farel.
"Memang, karena Jakarta adalah kota besar. Ribuan mobil melintasi jalanan, terang saja debu beterbangan ke mana-mana, sedangkan di sini adalah daerah pegunungan, maka berbeda dengan kota Jakarta!" Jelas Rahmawati.
Kalau saya mempunyai uang nanti, saya ingin membeli sebuah villa di daerah ini, setiap Minggu bisa beristirahat dengan tenang serta badan akan menjadi sehat dan segar." Balas Farel.
"Farel, bagaimana saya sewakan sebuah villa untukmu beristirahat?" Ucap Rahmawati.
"Kapan?" Tanya Farel singkat.
"Sekarang!" Wajah Rahmawati berseri-seri.
"Tapi... sangat mahal kan?" Tanya Farel lagi.
"Jangan kuatir, uang saya masih mencukupi." Rahmawati tersenyum.
"Yeni... kau terlampau baik." Balas Farel.
"Asal kau gembira, saya juga merasakan kegembiraanmu adalah, harapan saya!" Rahmawati menundukkan kepalanya.
"Rahma..." Farel menggenggam tangan Rahmawati erat-erat. Yeni menoleh ke arahnya dengan pandangan mesra serta penuh kasih sayang. "Oh ya, Farel mari kita pergi menyewa villa."
"Tunggu dulu!" Farel mencegah. "Buah-buahan masih ketinggalan di dalam mobil!" Lanjutnya mengingatkan.
"Oh ya, lupa!" Jawab Rahmawati.
Bergegas mereka menuju ke tempat parker mobil, ternyata pak sopir sedang tidur di dalam
mobilnya. Ketika Farel membuka pintu mobil, pak sopir terkejut dan terbangun.
"Kok! Cepat!" Pak sopir tertegun.
__ADS_1
"Mau ambil buah-buahan yang tertinggal." Ucap Farel.
"Silahkan!" Jawab Pak sopir.