
Keesokan paginya, sambil menyiapkan diri berangkat ke sekolah, Balqis meneruskan berpikir soal semalam. Ketika akhirnya cewek itu membuka pintu rumah, siap berangkat ke sekolah, ia telah mengambil satu keputusan.
"Cuekin aja si Cevin. Dari pada gue ketularan sarap!"
Meskipun begitu, belajar dari pengalaman kemarin, Balqis telah menyiapkan langkah pencegahan. Semua Pekerjaan Rumah untuk hari ini telah ia kerjakan. Jadi Cevin tidak bisa lagi mengatakan, "Ngerjain Pekerjaan Rumah tuh di rumah, bukan di sekolah. Ngapain aja lo di rumah semalem?"
Balqis juga telah menyiapkan langkah pencegahan tambahan, kalau-kalau langkah pertama tidak berhasil. Ia sengaja berangkat ke sekolah dalam waktu yang benar-benar mepet. Yang kira-kira nanti sampai sekolah udah mau bel.
"Kalau perlu kurang semenit dari bel. Jadi tuh orang nggak punya kesempatan buat ngomel," katanya, ngomong sendiri sambil berjalan dengan langkah cepat ke halte bus.
Akibat berangkat terlalu mepet itu, jarum jam sudah menunjukan tujuh kurang lima saat bus yang ditumpanginya sampai ditujuan. Susah payah Balqis menyeruak di antara para penumpang yang menyesaki perut bus, resiko kalau berangkat siang, dan berusaha mencapai pintu bus secepat mungkin.
Begitu berhasil mencapai pintu, Balqis langsung melompat turun dan berlari secepat-cepatnya menuju sekolah. Cewek itu sampai di ambang pintu kelas dalam keadaan mandi keringat dan napas terengah. Dan tepat seperti dugaannya, waktu sudah menujukkan jam tujuh kurang satu menit!
Sambil mengatur napas, Balqis cepat-cepat berjalan ke bangkunya dan langsung mengempaskan tubuhnya di sana. Capek. Selain habis berlari, selama di bus dia juga terus berdiri, nggak dapat duduk.
"Baru dateng jam segini!?" Cevin menyambut kedatangan Balqis dengan teguran galak. "Lo kira emang bisa, belajar dalam kondisi keringetan begitu? Pasti tadi dari halte ke sini lari. Iya, kan? Lo berangkat dari rumah jam berapa sih? Besok berangkat lebih pagi dong!" Omel Cevin.
Balqis terkesima...!!!
Bibirnya sampai melongo. "Gue udah ngerjain Pekerjaan Rumah di rumah," lapornya. Akibat ketersimaan itu, Balqis mendadak jadi polos dan bego.
"Bagus!" ucap Cevin singkat.
Tak lama kemudian Balqis tersadar. Ngapain juga gue lapor ke dia kalo udah ngerjain Pekerjaan Rumah, ya? desisnya dalam hati. Emang apa urusannya? Gue mau dateng jam berapa kek, terserah gue, kan?
Tapi baru saja Balqis membuka mulut, mau balik marah-marah, bel masuk sudah berbunyi. Terpaksa cewek itu mengatupkan kembali mulutnya. Dalam hati ia bertekad, nanti jam istirahat pertama akan ia balas. Tapi tekad baru itu hanya bertahan sepuluh menit. Balqis segera teringat kembali tekad awalnya yang ia putuskan saat berangkat sekolah tadi, Cuekin aja si Cevin!
Kemudian ia memutuskan dalam hati, kali ini dengan niat bulat. Ya, cuekin aja! Soalnya kalo nggak gitu, kayaknya bakalan panjang urusannya. Sekarang aja, selagi masalahnya masih benar-benar gelap dan status mereka juga masih teman baru, mereka udah bentak-bentakan sampe parah banget gitu. Gimana nanti? Ih, serem! Balqis bergidik tanpa sadar.
"Kenapa?" bisik Cevin tajam. Lamunan Balqis memang tertangkap jelas olehnya, karena seisi kelas saat ini sedang sibuk mencatat dan cuma Balqis satu-satunya yang sibuk menggigit ujung bolpoinnya. Dengan serius pula.
"Ketahuan nggak nyatet, bisa abis lo diomelin…," bidik Cevin lagi. Jenis bisikan yang merupakan volume minimalis dari bentakan.
Balqis cemberut...!!!
Tapi tidak berusaha membantah. Iyalah. Meladeni orang gila di saat kelas sedang sunyi senyap begini berarti dirinya sama nggak warasnya.
Dangan senyum puas tertahan, Cevin melirik cewek di sebelahnya. Balqis mencatat dengan bibir cemberut maju beberapa senti. Cevin jadi semangat menunggu jam istirahat pertama. Karena ia yakin, pertengkaran mereka akan berlanjut. Jadi bisa dibentak-bentak dan dimarahinya Balqis seperti kemarin. Tapi kali ini, ia tidak ingin pertengkaran mereka terlalu terbuka. Tidak perlu terlalu heboh. Yang penting bisa membuat hatinya lega. Puas...!!! Tidak peduli meskipun cuma sesaat.
Cevin tidak tahu Balqis sudah tidak ingin lagi bertengkar. Sama sekali. Karena itu, saat bel istirahat pertama berbunyi dan Cevin langsung mengubah posisi duduknya jadi benar-banar menghadap ke arahnya, Balqis sudah tahu cowok itu pasti mau ngomel lagi. Dan dugaannya seratus persen tepat!
"Lo nggak punya beker, ya? Kok bisa telat banget kayak tadi!?" pacing Cevin.
__ADS_1
Balqis langsung bersyukur. Meskipun intonasi suara Cevin tinggi, volumenya sama sekali tidak tinggi. Jadi tidak sampai mengundang perhatian teman-teman sekelas. Dan sesuai tekadnya, Balqis memilih diam. Sebenarnya ia pingin langsung kabur ke kantin, tapi Ranti ada urusan sama anak kelas sebelah.
"Pasti lo nggak sempet sarapan," lanjut Cevin. Tetap dengan nada menusuk.
Balqis tetap diam. Dimasukkannya buku-buku pelajaran di atas meja ke dalam tasnya. Cevin tidak memedulikan kebungkaman Balqis. Justru ada perasaan senang karena Balqis tidak membantah kata-katanya.
"Emang bisa ya, belajar dalam kondisi perut laper dan badan keringetan? Gue jamin nggak!" Lanjut Cevin.
Balqis tidak tahan lagi, tapi tetap tidak ingin buka mulut. Dan Cevin tetap meneruskan kalimatnya. Cowok itu semakin senang. Tanpa ia sadari, perasaan senang itu muncul karena ia dalam keadaan benar-banar dapat melupakan kesedihannya, bukan karena sedang memarahi Balqis.
"Lo bangun kesiangan karena semalem ngerjain Pekerjaan Rumah, ya?" ucap Cevin lagi, lalu tertawa geli. "Gue jadi nggak tau mendingan yang mana. Lo datang nggak telat tapi begitu sampe sekolahan langsung nyontek Pekerjaan Rumah, atau lo ngerjain Pekerjaan Rumah di rumah tapi jadi dateng telat…," Cevin terdiam sejenak, kemudian meneruskan kalimatnya dengan nada yang kembali tajam. "Menurut gue dua-duanya nggak bener!"
Niat banget sih nih cowok ngomelnya! desisnya Balqis dalam hati. Akhirnya ia memutuskan untuk cepat-cepat pergi. Dari pada kesabarannya habis lalu ia langgar tekadnya dan akhirnya mereka saling bentak dan saling teriak seperti kemarin pagi.
Balqis menoleh ke arah Cevin dengan gerakan tiba-tiba, dan sikap garang Cevin sontak menghilang. Cowok itu menatap pemandangan di depannya dalam ketersentakan hebat.
Balqis menjulingkan kedua matanya!
Hanya itu…. Ya, hanya itu… tapi itulah yang ditulis Irfan! Itulah yang ditinggalkannya dalam catatan!
Balqis berdiri lalu berlari ke luar kelas. Ia tidak memedulikan ekspresi kaget di wajah Cevin. Tidak memedulikan kondisi Cevin yang mendadak berubah jadi arca hidup.
Sendirian di kelas yang terasa lengang, mendadak Cevin merasa di tempat yang asing. Rasa lega sesaat yang tadi dirasakannya saat memarahi Balqis tadi kini juga hilang. Sampai menjelang bel pulang, Cevin masih mencoba memancing kemarahan Balqis. Mencoba membuat cewek itu merespons setiap kata-kata tajamnya. Tapi Balqis benar-benar melaksanakan tekadnya, sama sekali tidak mengacuhkan Cevin dan semua pancingannya.
Balqis lebih memusatkan perhatiannya pada cowok-cowok yang duduk di belakang. Mana yang asyik diajak temenan, mana yang mendingan say hello doang. Hari ini ia juga tahu ternyata cowok-cowok itu asyik-asyik.
Sesaat sebelum istirahat kedua berakhir, Wisnu, Agus, Rahmat dan semua cowok yang duduk di deretan paling belakang, kompakan menyembunyikan buku catatan Bahasa Indonesia Bambang, yang duduk di deretan yang sama dengan Balqis.
"Iseng aja," kata Wisnu, sang pencetus ide.
Balqis yang baru saja balik dari kantin tidak sengaja mendengarkan perkataan Wisnu itu dan langsung tertarik.
Pelajaran apa pun, kalau itu ada di dua jam tarakhir, selalu memerlukan kemauan yang lebih keras. Tekad yang lebih kuat dan semangat yang lebih membaja. Kedengarannya memang hiperbolis, tapi itu kenyataan. Fakta. Boleh tanya sama semua pelajar yang masuk pagi pulang siang, Sekolah Menengah Pertama maupun Sekolah Menengah Atas. Dijamin nggak ada yang masih fresh di jam-jam itu. Kalaupun ada, cuma sebagian kecil. Mungkin di jam pelajaran sebelumnya dia sukses cabut, atau berhasil mikir tanpa ketahuan.
Jam setengah satu siang, saat matahari sedang terik-teriknya, saat kerja otak sudah menurun tajam karena belajar sejak jam tujuh pagi, wajar kalau niat iseng Wisnu itu langsung mendapat sambutan antusias. Bisa membuat tertawa minimal nyengir lebar selama sepuluh menit sebelum memulai belajar lagi sampai tepat jam dua siang jelas merupakan anugerah terindah.
Karena masih jam istirahat, kelas nyaris kosong, dengan leluasa Wisnu menarik keluar tas Bambang dari dalam laci lalu mengeluarkan buku cetak Bahasa Indonesia dari sana. Dilemparnya buku itu ke Rahmat, yang menangkapnya dengan sigap dan langsung menyembunyikannya di dalam laci.
Bambang ternyata langsung tahu. Begitu membuka tas hendak menyiapkan buku-buku dan mendapati buku cetak Bahasa Indonesianya raib, ia sudah bisa menebak oknumnya pasti anak-anak yang duduk di bangku deretan paling belakang. Cuma ia tidak tahu pasti siapa pelakunya. Cowok itu kemudian berdiri dan bertolak pinggang.
"Siapa yang ngumpetin buku gue? Elo, Nu?" Ucap Bambang menuduh.
"Nggaaaaak!" Wisnu menggeleng kuat-kuat.
__ADS_1
"Elo, Gus?" pandangan Bambang beralih ke Agus. Kedua matanya mulai melotot.
"Nggaaaaak!" Agus membeo jawaban Wisnu, juga sambil menggelengkan kepala kuat-kuat.
"Nggaaak!" belum ditanya, Didik sudah menjawab. Teman semejanya, Rahmat, jadi tetawa geli.
Balqis yang menyaksikan jalannya peristiwa itu sejak awal jadi terkikik juga, sementara sebagian teman-teman yang lain tidak menyadari peristiwa itu. Bambang mulai gusar...!!!
"Mana buku gue? Balikin cepet! Bentar lagi Bu Ernawati dateng nih!" Ucap Bambang meminta.
"Emangnya siapa sih yang ngumpetin buku lo? Jangan asal nuduh dong," kata Rahmat. Sampai Bu Ernawati memasuki ruangan, tetap tidak ada satu pun yang mau mengaku.
"Buku gue, woi! Buruan! Bu Ernawati udah dateng tuh!" seru Bambang dengan suara tertahan.
Cowok-Cowok yang duduk di deretan paling belakang itu tetap tidak ada yang mau mengaku. Mereka memandangi Bambang sambil senyum-senyum. Didik malah memeletkan lidahnya.
Bambang jadi semakin kesal. Akhirnya cowok itu mengempaskan tubuh ke bangkunya lalu berseru lantang, tepat di saat Bu Ernawati akan membuka mulut untuk meminta murid-muridnya membuka buku.
"Bu...! Buku saya diumpetin sama anak-anak belakang!!!" Ucap Bambang.
Cowok-cowok di deretan paling belakang kontan tercengang, kemudian tertawa gelak-gelak. Seisi kelas ikut tertawa. Semua mata menatap ke arah Bambang dengan penuh minat.
"Toto tukang ngadu! Jangan ditemenin!" seru Rahmat, ikut mengimbangi tingkah Bambang yang kayak anak Sekolah Dasar itu.
"Bu! Kata Rahmat saya tukang ngadu, terus nggak boleh ditemenin!!!" Seru Bambang lagi.
Seisi kelas tertawa lagi. Tapi tawa mereka kali ini terdengar berbeda. Mata mereka juga memandang Bambang dengan sorot berbeda, sedikit menerawang. Bila dipastikan, sebagian besar murid kelas itu jadi ingat waktu zaman-zaman Sekolah Dasar dulu. Ngadu ke guru gara-gara buku, bolpoin, atau barang-barang mereka yang lain disembunyikan teman dan nggak ada satu pun yang mengaku telah melakukan.
"Apa sih kalian ini?" Bu Ernawati memandang ke belakang dengan kening berkerut. "Kayak anak Sekolah Dasar aja. Kembalikan buku Bambang. Kita akan memulai pelajaran. Jangan buang-buang waktu!" Lanjut Bu Ernawati.
Rahmat mengeluarkan buku cetak Bahasa Indonesia milik Bambang dari dalam laci mejanya. Diopernya buku itu pada Didik, yang kemudian memberikannya pada Bambang.
"Bambang tukang ngadu!" katanya.
"Biarin, wee!" Bambang menyambar bukunya dari tangan Didik lalu menjulurkan lidahnya.
Balqis terkekeh. Ia teringat teman-teman dan hari-harinya di Sekolah Menengah Pertama dulu. Kejadian itu membuatnya merasa lega. Berarti musibah yang dialaminya cuma satu, sebangku dengan Cevin. Lainnya nggak ada. Malah kayaknya duduk di belakang, bareng cowok-cowok iseng tadi, bakalan bikin hari-harinya di sekolah jadi seru. Karena itu setelah pelajaran Bahasa Indonesia usai dan Bu Ernawati berjalan ke luar kelas Balqis tidak peduli saat didengarnya Cevin bicara dengan nada tajam.
"Jangan tidur malem-malem, jadi besok nggak telat kayak tadi!" Ucap Cevin.
Balqis menjawab dengan menghadapkan mukanya ke arah Cevin lalu menjulingkan kedua matanya. Kemudian cewek itu bangkit berdiri dan berjalan ke luar kelas dengan langkah cepat.
Cevin mengikuti kepergian Balqis dengan pandangan mata. Sikap garangnya langsung hilang. Kembali ia merasakan itu. Perasaan asing yang tidak dikenalnya, namun membuatnya gelisah.
__ADS_1