
Kuncup mawar itu akhirnya menghentikan semua perlawanan Cevin. Orang yang dihadapinya muncul dari ketiadaan.
Dia maya.
Dia abstrak.
Dan kemungkinan besar, dia memang tidak akan bisa dikalahkan.
Kini, setiap kali Cevin menatap Balqis, ada perasaan hubungan ini tidak selamanya. Akan ada hari terakhir, kemundian cewek itu takkan lagi dilihatnya. Sama sekali. Sama seperti kini ia tak lagi melihat Irfan.
Cevin menghela napas. Panjang dan berat. Sebenarnya ia tidak ingin pasrah, tapi ia tidak tahu apa yang bisa dilakukan.
"Tinggal ngitung mundur aja," ucapnya dengan suara serak.
Ditatapnya Sigit yang siang ini sengaja menjemputnya karena khawatir.
Sigit menatap Cevin dengan nelangsa.
"Lo yakin?" tanya Sigit pelan. "Gue rasa karena selama ini elo terus di sebelah Balqis. Lo awasin dia sampe begitu. Kalo lo lepas dia, mungkin…" lanjut Sigit.
"Percuma! Kalo gue lepas dia, nanti pasti ada cowok lain yang deketin dia. Sama saja." Cevin menggeleng lemah.
Sigit terpaksa mengakui kebenaran kata-kata itu.
***
Hanya tinggal menghitung mundur….
Sepasang mata Cevin menatap nanar kegelapan di sekelilingnya. Kamarnya gelap gulita, juga di luar sana. Listrik padam dan satu-satunya cahaya yang terlihat olehnya hanya sebatang lilin yang menyala di rumah tetangga. Di balik tirai, cahaya itu begitu buram dan tidak menerangi apa-apa.
Buram…!!!
Dan jauh…!!!
Seperti itu yang terlihat olehnya sekarang. Balqis dan hari-hari mereka harus ditinggalkannya. Harus dilupakan. Semua yang pernah terjadi. Semuanya.
Cevin mengerti, Balqis memang milik Irfan. Karena itu ia ikhlas berdiri di tempatnya sekarang, yang dulu adalah tempat Irfan, menjaga Balqis. Tidak lebih dari itu.
***
Hanya menjaga Balqis.
Satu kalimat pendek, namun berat karena Cevin harus mematikan hatinya. Cowok itu memutuskan untuk melakukan dengan cepat. Dratis. Karena mati dengan cara cepat lebih baik daripada mati pelan-pelan.
Begitu memutuskan itu, Cevin langsung mengontak Balqis, mengatakan besok pagi ia tidak bisa menjemput. Cevin juga mengatakan ia tidak bisa lagi mengantar dan menjemput setiap hari. Hanya bisa sekali-sekali.
"Kenapa?" Ada nada kaget di dalam suara Balqis.
Cevin mengatakan alasan yang paling masuk akal yang bisa ia temukan.
__ADS_1
"Gue capek. Tiap hari kudu bangun lebih pagi. Trus pulangnya udah sore. Rumah lo kan lumayan jauh, Qis!" Ucap Cevin.
"Oh? Iya sih." Balas Balqis.
"Nggak apa-apa kan berangkat sendiri?" Tanya Cevin.
"Nggak apa-apa. Santai aja." Jawab Balqis.
"Sip kalo gitu." Cevin meletakan telepon. Kedua matanya perlahan terpejam. Kalau Cevin bisa memberikan Balqis kuncup mawar itu, Irfan pasti juga bisa menjaganya.
Alasan Cevin memang masuk akal, karena itu Balqis tidak berpikir apa-apa sampai kemudian ia mendapati Cevin menjadi orang yang benar-benar berbeda, yang nyaris tidak dikenalnya. Cevin tidak hanya tak pernah lagi menjemput dan mengantarnya pulang. Cowok itu juga menjaga jarak. Setiap kali Balqis akan meraih lengannya satu tindakan yang kerap dilakukan Balqis tanpa sadar karena telah terbiasa reaksi Cevin adalah menjauh seketika.
Cowok itu berusaha keras agar Balqis tidak dapat menyentuhnya. Setelah itu Cevin akan berpura-pura itu tidak terjadi. Seakan-akan penolakan itu dilakukannya tanpa sadar.
Cevin telah menciptakan jarak. Tinggal Balqis yang kebingungan. Ia ingin bertanya, tapi urung. Malu.
Keanehan Cevin yang lain yaitu cara kedua matanya menatap Balqis. Terkadang, Cevin menatap dengan sorot seakan Balqis jauh di batas langit ke tujuh sana, bukan di depan matanya. Terkadang, cowok itu menatap dengan sorot sedih dan putus asa.
Namun untuk satu hal ini, Cevin tidak berusaha menyembunyikannya. Ia tidak bisa mengelak setiap kali Balqis memergoki tatapannya. Untuk satu keanehan ini, Balqis berani bertanya.
"Lo kenapa sih?" Tanya Balqis.
Namun jawaban Cevin juga tidak berarti apa-apa untuknya.
"Nggak apa-apa. Cuma pengin ngeliatin elo aja. Nggak apa-apa, kan? Atau nggak boleh juga?" Ucap Cevin.
"Qis, lo tuh manis, ya? Bandel, tapi manis." Ucap Cevin.
Balqis tertegun. Cevin tengah menatapnya. Dengan sorot putus asa itu. Namun kini sorot itu seakan menembusnya.
"Lo kenapa sih?" Balqis bertanya lirih. Lagi-lagi ia mengajukan pertanyaan yang itu-itu juga, karena ia tidak tahu bentuk bentuk pertanyaan bagaimana yang bisa mendapatkan jawaban. Blur tidak apa-apa, daripada gelap sama sekali.
Namun lagi-lagi, jawaban Cevin tidak memberikan penjelasan apa pun.
"Nggak apa-apa. Cuma pengin ngomong gitu aja. Nggak apa-apa, kan? Atau nggak boleh?" Ucap Cevin.
Lama-lama Balqis juga jadi ikut putus asa, dan akhirnya melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Cevin padanya. Menjauh. Mencipta jarak. Balqis malu bicara terus terang, apalagi mencecar seperti saran Ranti. Karena kalau diingat-ingat, Balqis dan Cevin dekat tanpa komitmen apa-apa. Tanpa ungkapan apa pun. Tanpa pernyataan. Dekat begitu saja, lalu merasa nyaman satu sama lain.
Akhirnya Balqis sampai pada kesimpulan bahwa mungkin Cevin ingin di antara mereka tidak ada hubungan apa-apa.
***
Esok paginya, saat berjalan dari halte ke sekolah, sendirian, Balqis masih merenungkan hal itu.
"Ya udah. Mau gimana lagi?" desisnya lirih.
Cewek itu menghela napas tanpa sadar. Ditelusurinya trotoar dengan langkah lambat dan kepala tertunduk. Sekarang berangkat ke sekolah jadi sesuatu yang membuat sedih. Di mana-mana terasa sepi. Muram...!!! Kosong...!!! Bahkan di saat kelas ingar-bingar karena cowok-cowok di bangku belakang bikin ulah, Balqis merasa keramaian itu jauh di tempat lain.
Kalau ada bangku yang kosong karena penghuninya tidak masuk, di mana pun posisinya, Balqis pasti akan langsung pindah. Toh tidak ada bedanya, di mana-mana terasa sepi dan sedih. Cewek itu juga tidak lagi bersemangat melakukan keisengan. Sudah tidak ada lagi orang yang akan melindunginya kalau ia dapat masalah gara-gara keisengannya itu.
__ADS_1
Cevin menyaksikan semua perubahan Balqis itu. Walaupun itu sudah diduganya, tak urung dia terpukul juga. Namun ia tidak bisa apa-apa selain tetap berdiri di tempatnya.
Perubahan draktis keduanya sudah pasti membuat bingung seisi kelas. Cevin dan Balqis mungkin memang pasangan paling unik. Paling membingungkan. Waktu baru jadian, hebohnya minta ampun. Sebentar-sebentar berantem. Sebentar-sebentar ribut. Tapi begitu bubaran, adem ayem. Sepi, tanpa sedikit pun huru-hura. Kebalikan dari pasangan pada umumnya.
Meskipun begitu, semua bisa melihat kesedihan keduanya. Balqis berusaha melarikan diri, dan Cevin tetap di tempatnya.
Mendung yang muncul sejak pagi membuat udara hari ini terasa lebih sejuk. Namun bagi Balqis, mendung cuma membuat hatinya tambah nelangsa. Ia kangen banget sama Cevin. Kangen sama cowok yang hanya duduk setengah meter darinya itu, kangen sama suaranya saat berbicara pada siapa pun juga, kangen sama setiap gerak tubuhnya yang tertangkap oleh ekor mata. Saat suasana kelas sedang hening, ingin sekali Balqis menoleh ke sebelah. Takut Cevin ternyata sudah nggak ada. Namun saat jam istirahat, jam kosong, atau saat-saat bebas lainnya, terpaksa cowok itu dijauhinya. Soalnya ia nggak tahu mau ngomong apa. Cevin sekarang udah nggak asyik lagi buat diajak ngobrol. Jawabannya pendek-pendek, kadang malah sekenanya. Sering juga dia nggak ngomong apa-apa. Cuma mendengarkan dengan diam, dan menatapnya dengan sorot yang kadang sedih, putus asa, atau nggak fokus itu. Pokoknya nggak jelas dan bikin bingung, serta akhirnya membuat Balqis seperti ini.
Putus asa juga...!!!
Menjelang siang, mendung bertambah pekat dan berubah menjadi hujan lebat. Balqis menatap tetes-tetes air itu dengan perasaan yang semakin
nelangsa lagi. Cevin masih di sebelahnya, tapi rasanya sepi banget. Sedih. Kosong.
Tak lama menjelang bel pulang, hujan berhenti. Perasaan Balqis tidak berubah menjadi lebih baik. Sebentar lagi ia akan mendengar kalimat yang mulai akrab di telinganya akhir-akhir ini. Ucapan perpisahan Cevin.
"Gue duluan ya, Qis. Ati-ati di jalan." Ucap Cevin seadaanya saja.
Lima menit setelah bel pulang berbunyi, Balqis berjalan pelan ke arah gerbang. Sendiri. Hujan lebat tadi telah menciptakan kubangan air kotor di depan trotoar sekolah. Mendadak keinginan itu muncul.
Ngisengin orang, ah...!!! Kali aja bikin gue jadi bahagia dikit. Gila, udah lama banget gue nggak ngusilin orang, ujar Balqis dalam hati.
Keinginan itu kemudian memang memberinya sedikit kegembiraan. Cewek itu melangkah menuju gerbang sekolah dengan perasaan yang jauh lebih ringan.
***
Sigit sedang merapikan rak bukunya, saat matanya tertumbuk pada sebuah komik yang tergeletak di rak paling atas. Dengan perasaan heran diambilnya komik tersebut. Ia langsung ingat, komik itu dibawa Irfan saat datang ke rumahnya untuk pinjam motor.
"Pinjem motor lo bentar, Git. Mau jemput adik gue sekalian mau ngeliat Balqis. Udah tinggal tiga hari nih, dia pake putih-biru." Ucap Irfan waktu itu.
Sigit masih ingat dengan jelas. Begitu ia serahkan kunci motor, Irfan langsung berlari ke luar sambil berseru, "Titip komik, ya? Di dalemnya ada fotonya Balqis tuh!" Teriak Irfan kemudian.
Sigit tersentak. Tidak perlu mencari di antara halaman-halaman komik, karena foto yang diselipkan itu sudah membentuk sedikit celah. Sigit menarik keluar foto itu. Seketika kenangan itu datang. Memunculkan rasa sedih, juga kangen yang menyakitkan.
Foto ini diambil di hari ia menemani Cevin ke sekolah Balqis. Dihari ketika dilihatnya cewek itu untuk yang pertama kali. Diambil sesaat sebelum momen satu-satunya itu terjadi. Ketika itu Irfan memutuskan untuk mengejar Balqis, menemaninya berlari kemudian melindunginya. Momen ketika akhirnya mereka saling menyebutkan nama.
Sigit menghela napas. Tatapannya meredup. Masih bisa diingatnya dengan jelas wajah bahagia Irfan saat itu, dan celotehan ramainya di sepanjang perjalanan pulang. Kembali Sigit menghela napas. Disisipkannya lagi foto itu di antara halaman-halaman komik, lalu diletakkannya komik itu di atas meja. Cover depannya yang sedikit tersibak memperlihatkan pemilik sah komik tersebut. Ia meraih kembali komik itu dan membuka halaman pertamanya.
Ternyata itu milik Cevin. Bukan hal yang mengherankan, mengingat Irfan dan Cevin sama-sama penggila komik. Keterbatasan dana membuat keduanya lalu melakukan kesepakatan. Masing-masing akan membeli judul yang berbeda, kemudian saling meminjam.
Sigit langsung memutuskan akan mengembalikan komik itu besok siang. Kalau ditunda, takutnya malah lupa. Cowok itu berjalan ke luar kamar dan menuju meja telepon. Dikontaknya Cevin. Setelah berbasa-basi menanyakan kabar, Sigit mengatakan maksudnya.
"Besok siang ketemu ya, Vin. Mau balikin komik lo sama ngobrol bentaran." Ucap Sigit saat terhubung dengan Cevin.
"Komik yang mana?" Tanya Cevin.
"Yang waktu itu dibawa Irfan ke rumah gue trus ketinggalan." Jelas Sigit.
"Oh. Oke." Ucap Cevin mengiyakan.
__ADS_1