LORONG TAK BERUJUNG

LORONG TAK BERUJUNG
BAB 55 : OVERDOSIS


__ADS_3

Lima belas menit sebelum jam pertama di mulai, Sigit melangkah masuk dengan tenang. Namun langkah tenangnya itu segera menjadi tergopoh-gopoh saat dilihatnya Irfan sedang menunduk dengan muka serius.


"Emang hari ini ada PR, ya? Perasaan nggak ada deh," tanya Sigit panik.


"Emang nggak," jawab Irfan santai.


"Trus, lo ngerjain apaan tuh?" tunjuk Sigit dengan dagu ke arah coretan-coretan angka yang dibuat Irfan di atas lembaran bukunya.


"Oh, ini…," Irfan menyeringai, agak mencurigakan.


Ditariknya Sigit sampai terduduk, lalu dirangkulnya bahu sahabatnya. "Mulai hari ini jajanin gue ya, Git. Soalnya gue mau nabung nih. Buat beli kaus sama jins baru. Sebentar lagi kan Balqis lulus Sekolah Menengah Pertama. Berarti gue udah bisa nemuin dia," ucap Irfan dengan mata berbinar.


"Waaah…," Sigit geleng-geleng kepala. , "Kayaknya nggak asyik nih." Lanjut Sigit.


"Buat sementara doang. Orang tua gue lagi bokek, soalnya adik gue, Cevin, mau masuk Sekolah Menengah Atas. Gue nggak tega minta duit buat beli kaus sama celana baru. Buat pendekatan maksimal sama cewek, lagi. Ya? Please dong. Kita kan sahabatan. Selama ini kalo elo nggak bisa ulangan matematika atau fisika, kan selalu gue bantuin. Sekarang gantian dong. Okeee?" Ucap Irfan bekicau.


Sigit mati kutu. Di dua mata pelajaran itu hidup dan matinya memang tergantung pada Irfan.


"Ngancemnya pas banget lo, ya? Mentang-mentang gue bolot matematika sama fisika." Sigit kesal.


"Lo nggak bolot kok," jawab Irfan kalem. "Cuma rada bego dikit aja. Diterangin berkali-kali nggak ngerti-ngerti juga. Bikin orang emosi. Jujur aja, tiap habis nerangin matematika atau fisika ke elo, gue bawaannya selalu pengen langsung bunuh elo sampe mati." Balas Irfan.


Sigit ternganga, membuat Irfan seketika tertawa terbahak-bahak.


"Maaf...! Maaf...! Bercanda. Oke? Traktir gue, ya?" Irfan mengetatkan rangkulannya.


Sigit berdecak keadaan dan kondisi simalakama namanya. Nggak di tolong, sudah lama mereka berdua sahabatan. Sejak Sekolah Menengah Pertama. Ini bukan sama sekali masalah kebegoannya di bidang matematika atau fisika. Kalau ikut bimbel sampai overdosis, bisa dipastikan dirinya akan berubah bisa cinta banget sama dua pelajaran yang anti huru hara itu, gara-gara mabok. Tapi kalau ia menolong Irfan, dirinya bakalan bangkrut nih. Uang sakunya tidak mungkin cukup untuk sebulan. Soalnya Irfan makannya kuat banget. Pengalaman kemarin-kemarin kalau makan berdua, Irfan selalu nambah.


"Ya nggak tiap harilah gue minta traktirnya. Kejam banget." Irfan seperti bisa membaca isi kepala Sigit. Sigit langsung merasa diawang-awang lega pake banget.


"Oooh, kalau nggak setia hari sih nggak apa-apa." Sigit tersenyum lebar dan balas merangkul Irfan.


"Oke!"


***


Piringnya sudah hampir kosong saat mendadak muncul ide yang menurut Irfan sangat brilian. Mulutnya sontak berhenti mengunyah, otaknya berputar cepat.


"Ide super-super mantap!" serunya kemudian dengan riang. Cepat-cepat dihabiskannya nasi dipiringnya, dengan pipi yang masih menggembung, cowok itu menyendokkan lagi nasi penuh-penuh ke piringnya. Tiga orang yang selalu sarapan bersamanya, kedua orang tua dan Cevin adiknya, menata ternganga.


"Nambah?" tanya Cevin takjub. "Tadi aja udah sepiring penuh." Lanjut Cevin pada kakaknya.


"Sekalian makan siang," jawab Irfan sambil mengunyah penuh semangat. Terdorong rasa gembira karena telah menemukan satu cara lagi untuk berhemat. Dengan sarapan banyak-banyak, berarti di sekolah ia tidak perlu jajan. Dan yang paling penting, tidak perlu mengancam Sigit untuk mentraktirnya.

__ADS_1


Selesai sarapan plus makan siang, Irfan pamit pada orang tua dan Cevin adiknya, lalu berjalan ke halte bus tidak jauh dari rumah. Masih semangat dengan ide barunya yang kalau sukses selama dua minggu bisa membeli kaus keren yang diincernya waktu itu.


Bus yang ditunggunya datang. Irfan melompat naik dan segera menuju salah satu bangku kosong di deret paling belakang. Dengan nyaman disandarkannya punggung. Tak lama ia mulai merasakan dampak makan siangnya yang di rapel bareng sarapan tadi dan sepertinya sama sekali tidak super-super mantap.


Ia jadi ngantuk banget...!!!


Tidak seperti biasanya, udara pagi Lampung yang masih sejuk, yang mengalir lewat jendela-jendela bus yang terbuka, memperparah kantuk Irfan. Posisinya di bangku kosong di deret paling belakang, paling kanan dekat jendela, membuatnya tidak merasakan desakan para penumpang yang berdiri di lorong bus. Kantuknya jadi semakin parah. Akhirnya Irfan menyerah. Ia tertidur pulas, dan baru tersadar tiap kali keningnya nyaris terbentur bangku di depannya.


Cowok itu tidak kebablasan, karena sang kondektur sudah hafal dengan salah satu penumpang langganannya itu. Jadi dengan ikhlas dia tidak berteriak di pintu, tapi langsung di dekat kuping Irfan. Irfan terlonjak bangun. Kepalanya sampai kebentur jendela.


"Udah sampe," kata si kondektur kalem.


Irfan menatap keluar jendela sesaat, lalu buru-buru berdiri, sambil mengusap-usap keningnya yang sedang dalam proses benjol.


"Makasih, Bang. Makasih." Ucap Irfan.


"Iye. Tapi ongkosnya bayar dulu dong." Balas si kondektur masih kalem.


"Emang belom?" Langkah buru-buru Irfan kontan terhenti.


"Ya, belomlah. Orang begitu naik lo langsung tidur." Balas si kondektur mulai nggak kalem lagi.


Sambil mengernyitkan kening karena tidak yakin belum bayar ongkos, Irfan merogoh saku dan mengeluarkan selembar lima ribuan. Kemudian dia melompat turun sambil sekali lagi mengucapkan terima kasih.


"Gila, lecek amat lo?" Tanya Sigit.


"Semalem gue begadang. Belajar buat ujian kenaikan kelas." Balas Irfan.


"Masih lama, juga." Balas Sigit.


"Justru karena masih lama. Kalau belajarnya udah deket-deket, pinter kagak, yang ada malah panik. Lo tau nggak? Semalem gue belajar sampe subuh!" Irfan bercerita dengan nada sombong.


"Ck… ck… ck… kereeen," Sigit berdecak. Dia menggeleng-gelengkan kepala dengan terkagum-kagum. Namun sedetik kemudian ekspresi kagum itu lenyap. "Bo’ong. Kayak gue nggak tau lo aja. Lo mana pernah begadang kalo besoknya nggak ada ulangan atau ujian." Ucap Sigit rada keras.


"Hehehe…!" Irfan meringis lebar. "Iya ding, bo’ong. Gue sarapan dua piring terus tadi di bus jadi ngantuk banget. Trus ketiduran sampe halte. Untung dibangunin kondektur." Jelas Irfan jujur.


"Gila! Ngapain juga lo sarapan sampe kalap gitu?" Tanya Sigit heran.


"Ya biar kenyangnya bisa sampe sore. Jadi gue kan nggak perlu jajan, atau ngancem lo buat jajanin gue." Jawab Irfan.


"Lo dapet teori dari mana kalo sarapan dua piring kenyangnya bisa sampe sore?" Tanya Sigit.


"Unta. Kan kalo mau musim panas, tuh Unta makannya gila-gilaan. Trus abis itu mereka nggak makan-makan sampe berbulan-bulan." Jawab Irfan asal.

__ADS_1


"Unya tuh abis makan kerja bergerak terus, bukan belajar!" Balas Sigit.


"Itu dia. Makanya gue sekarang juga mau bergerak terus, sumpah ngantuk banget, Git! Gue mau numpang tidur di ruang UKS. Satu jam pelajaran doang. Kalo ada yang tanya, tolong bilang gue lagi nggak enak badan. Oke?" Jelas Irfan.


"Jelas nggak okelah!" Balas Sigit.


"Tolong dooong. Sumpah, gue ngantuk banget. Di kelas juga percuma. Gue nggak bakalan bisa konsen." Lanjut Irfan.


Irfan menepuk-nepuk bahu sahabatnya dengan satu tangan, sementara tangan yang lain menutupi mulutnya yang menguap lebar-lebar. Begitu kuapnya selesai, cowok itu berdiri dan berjalan keluar kelas sambil mengusap matanya yang berair.


Terpaksa Sigit menuruti permintaan itu. Namun ia tahu, akan cukup sulit meyakinkan teman-teman sekelas, apa lagi guru, bahwa Irfan sakit. Karena selama ini cowok itu selalu terlihat sehat dan kelebihan energi.


***


Setelah lewat dari seminggu, urusan traktir- mentraktir itu mulai tidak oke lagi. Sigit terancam bangkrut. Uang saku bulanannya menipis dengan cepat. Akhir bulan masih sepuluh hari lagi, tapi sisa uang sakunya mungkin hanya bisa untuk bertahan dua atau tiga hari lagi.


Irfan ngomongnya nggak tiap hari minta traktir, tapi langsung jadi tiap hari begitu tahu harga kaus dan jins yang di incernya ternyata lumayan mahal. Ia sama sekali tidak mau memilih yang lain.


Suatu siang, saat jam istirahat pertama, Sigit terpaksa mengumumkan kebangkrutannya, tentu saja kepada satu-satunya penyebab dirinya sampai bisa benar-benar bangkrut begitu.


"Gue udah nggak punya duit lagi nih, Fan. Tinggal buat tiga hari doang, kali. Gue bangkrut gara-gara elo makannya kayak Kuli Bangunan. Emangnya nggak bisa ya, makan lo dikurangi dikit?" Jelas Sigit.


Irfan sama sekali tidak nampak kaget. Ia sudah menduga, dan sebenarnya sejak awal ia sudah merasa tak enak dan tak tega. Tapi benar-benar baru kemarin dia mendapatkan solusi. Melihat tampang Sigit yang keruh karena terancam bakalan berada di bawah garis kemiskinan, sifat jail Irfan langsung kumat.


"Wah, nggak bisa, Git," jawab Irfan enteng. "Makanya bodi gue tinggi dan atletis, kan? Dan selalu sehat. Soalnya makan gue banyak," sambungnya dengan memasang ekspresi tidak bersalah.


Sigit mendesah kesal...!!!


"Yah… kalo lo makannya emang kudu banyak, lauknya jangan pake ayam atau ikan dong. Tempe sama tahu aja, gitu." Sigit berujar kesal.


"Tapi gue kan milih ayamnya yang paling kecil. Ikannya juga kecil." Balas Irfan.


"Biar kecil tetep aja judulnya ayam dan ikan. Dan semurah-murahnya ayam dan ikan, tetap aja mahal, tau! Nggak bakalan seharga tempe atau tahu. Jadi sekarang yang mesti lo latih adalah, gimana caranya dengan tempe atau tahu satu biji, plus sayur sama sambel, lo bisa ngabisin nasi sepiring." Balas Sigit.


"Jelas nggak mungkinlah. Itu sih gila. Komposisi menu kayak gitu nggak memenuhi standar kesehatan banget. Kurang bergizi!" Alasan Ilmiah Irfan.


"Ngomong gizi jangan sama gue. Sama emak lo sana!" seru Sigit dongkol banget. Saking dongkolnya, ia sampai tidak sadar bahwa Irfan sedang setengah mati menahan seringai geli yang hampir saja tercetak di bibirnya.


"Iya sih, emang." Irfan memunculkan tampang bersalah. Sigit yang tidak tahu bahwa itu ekspresi yang sudah di atur, langsung merasa dirinya jahat. Kesannya, sama sobat sendiri kok segitu itung-itungannya.


"Jadi gimana dong?" tanya Sigit dengan suara melunak.


Irfan tidak menjawab. Cowok itu pura-pura berpikir keras, seakan-akan mengatakan dalam bahasa hening bahwa di mana pun di seluruh dunia, kelaparan adalah satu masalah yang sangat serius. Dan kelaparan di sekolah jelas merupakan masalah yang jauh lebih serius, karena dapat berakibat fatal. Pertama, jelas jadi nggak bisa konsentrasi penuh ke pelajaran. Akibat yang kedua malah lebih gawat. Nggak bisa konsentrasi ke cewek, karena gimana mau traktif cewek, kalau traktir perut sendiri aja nggak mampu.

__ADS_1


__ADS_2