
Pagi sudah menjelang. Sinar matahari yang mulai meninggi menerpa wajah Cindy begitu ia menyibakkan gorden kamarnya. Sesaat dipandangi kedua anaknya yang masih tertidur pulas. Kesedihan seketika menggayuti hatinya. Ini adalah hari kedua sepeninggal suaminya. Belum, belum ada yang ditanyakan anak-anaknya tentang papah mereka yang tidak pernah kembali itu. Tapi Cindy yakin suatu saat nanti anak-anak akan menanyakan hal itu juga padanya. Dan ia tak tahu jawaban apa yang pantas diberikan pada
mereka.
Sesaat wanita itu menarik napasnya. Diliriknya jam dinding yang sudah menunjukkan pukul enam kurang sepuluh menit. Ah, biasanya di saat-saat begini dia tengah sibuk menyediakan sarapan untuk Mas Rangga. Kemudian suaminya
pun akan menikmati nasi goreng sebagai sarapan paginya sambil sesekali mengomentari bagaimana rasa masakan yang dimasakan hari itu. Dan biasanya pula hati Cindy berbunga-bunga karena Mas Rangga lebih banyak memuji betapa lezatnya masakan buatannya ketimbang mencela.
Lalu setelah selesai makan, Mas Rangga pun akan bersiap-siap berangkat ke kantornya. Dan sebelum meninggalkan rumah, ia menyempatkan diri lebih dulu untuk mencium kedua anaknya yang biasanya masih tertidur pulas. Tak lupa pula ia mencium pipi istrinya tercinta yang menjadi tak sabar menanti waktu berlalu hingga sore pun datang menjelang, di mana mereka dapat berkumpul dan bersenda gurau kembali.
Cindy menelan ludahnya yang terasa pahit saat bayangan kejadian sehari-hari mereka bermain lagi di benaknya. Kebahagiaan mereka selama ini adalah kebahagiaan murni yang terpancar dari lubuk hati masing-masing. Rumah tangga yang telah mereka bina lebih dari lima tahun itu telah menjadi mahligai bahagia dan tali kasih yang tak akan pernah terputuskan. Hingga kemudian lahirlah anak-anak manis yang menjadi buah cinta kasih mereka.
Tak pernah Cindy bisa melupakan betapa teguhnya pendirian Rangga yang lebih rela meninggalkan kehidupan hanya untuk menikahi dirinya yang dalam keadaan terhaniaya dalam ketidak pasrian dan tak punya apa-apa. Bila pikirannya sampai ke pokok ini Cindy pun tak dapat lagi membendung air matanya. Haru dan bahagia terasa melingkupi hatinya mengenangkan betapa Mas Rangga lebih memilih untuk hidup bersamanya dan memulai semua lagi dari bawah. Mereka mengontrak, sebuah rumah mungil dengan harga yang tidak begitu mahal. Lalu untuk memenuhi kebutuhan mereka setiap harinya Mas Rangga pun mencoba melamar pekerjaan di perusahaan lain, setelah itu dia kembali sibuk dengan novel-novel karyanya.
Kembali Cindy membaringkan tubuhnya di sebelah kedua anaknya yang masih tertidur lelap. Rasa malas begitu menghantuinya. Di pagi hari begini apa yang mesti dilakukannya? Sementara orang yang biasa dilayaninya telah berpulang ke pangkuan-Nya.
Rasanya pagi ini Cindy ingin bermalas-malasan.
Di biarkannya pikirannya menerawang jauh mengenang kembali saat pertama kali berjumpa dengan Rangga, yang kini telah tiada.
Waktu pun terus berlalu dan Cindy patut merasa bersyukur pada Tuhan ternyata cinta yang ada dalam hatinya tidak bertepuk sebelah tangan.
Pada suatu malam Minggu yang indah ketika Rangga kembali mengunjunginya dari membawanya ke tepi pantai yang indah, cowo' itu pun mengungkapkan isi hatinya betapa ia amat merindukan gadis itu.
Dengan hati berbunga-bunga Cindy pun menerima perasaan hati yang disampaikan Rangga padanya. Sungguh Cindy tak menyangka kalau cintanya yang telanjur tumbuh namun belum sempat diperlihatkan itu, akan mendapatkan alasan yang serupa. Hubungan cinta pun terjalin manis di antara mereka. Dan Cindy dapat merasakan betapa cintanya kali ini lebih berkembang dan membuatnya melambung bagai di awang-awang. Melihat dan merasakan betapa dalam perhatian dan kasih sayang, yang ditunjukkan Rangga padanya, semakin yakinlah Cindy bahwa cowo' itu begitu tulus mencintainya dan tidak memandangnya hanya sebagai seorang gadis yang berpendidikan rendah. Rangga benar-benar tulus mencintainya tanpa peduli bahwa ia adalah gadis desa yang miskin yang melarikan diri dari kampung halamannya Karena tak sudi dijadikan istri oleh Romeo.
Jalinan manis yang terjadi di antara mereka mungkin akan berlanjut bahagia kalau tidak pada suatu hari seorang perempuan separuh baya dengan tubuh lumayan gemuk dan berpenampilan keren seperti tante-tante datang ke rumahnya.
"Kamu yang bernama Cindy?" tanya perempuan itu tanpa basa-basi lagi begitu ia membuka pintu.
"Benar, Tante," angguknya hormat "Silakan masuk." Ucap Cindy ramah.
'Tidak perlu!" Ketus sekali suara itu terdengar. "Kedatanganku kamari cuma ingin memperingatkan padamu, sebaiknya jauhilah Rangga." Ucap petempuan itu.
__ADS_1
"Jadi... jadi Tante ibunya Mas Rangga?" Cindy terkesiap, dan buru-buru membungkuk hormat.
Sungguh, baru kali inilah ia melihat dengan langsung orangtua yang telah melahirkan kekasih hatinya. Karena selama menjalin hubungan beberapa bulan ini belum sekali pun Rangga mengajaknya ke rumahnya untuk diperkenalkan
dengan keluarganya.
'"Benar!" Perempuan separuh baya itu mengangguk tegas. "Kau tahu, Rangga adalah
putra kami satu-satunya. Oleh sebab itu, jauhilah dia. Kami tak sudi mempunyai menantu seperti kau!" Lanjut perempuan itu lagi.
Seketika Cindy merasa hatinya bagai direjam sembilu mendengar kalimat yang terasa menusuk perasaannya itu.
"Silakan masuk dulu Tante," ujarnya lagi coba menekan gejolak yang seketika muncul di hatinya.
"Sudah kubilang, tak perlu!" bentak perempuan separuh baya itu kemudian, "Dengar kataku Ya, jangan lagi mencoba-coba untuk mendekati Rangga! Perempuan sepertimu tidak pantas menjadi menantuku!" Ketus perempuan itu keras.
Kemudian tanpa berpaling lagi, perempuan bertubuh gemuk itu membalikkan badannya meninggalkan Cindy yang masih terpaku diam. Begitu perempuan tadi berlalu dengan mobilnya, Cindy pun seperti tersadarkan. Cepat-cepat ia masuk ke dalam kamarnya dan menghempaskan tubuhnya di atas pembaringan.
Apa yang harus dilakukan kini?
Haruskah ia kembali meninggalkan orang yang dicintainya untuk kedua kalinya?
Haruskah ia kembali mengorbankan dirinya untuk kebahagiaan Rangga dan keinginan ibunya?
Mengingat itu kembali air mata Cindy tumpah dengan derasnya. Kenangan masa lalu waktu ia masih tinggal di kampungnya kembali melintas dibenaknya. Bukan Cindy tak tahu akan keadaan dirinya di mata Rangga yang baik lebih segala-galanya. Namun kebaikan dan perhatian dalam cowo' itu yang tak sedikit pun memandangnya dari sudut itu telah membuatnya berani menerima cinta cowo' itu. Tapi sayang rupanya hubungannya kali ini akan kembali kandas di tengah jalan. Dan halangan itu datang dari pihak keluarga Rangga yang tak menyetujui hubungan keduanya.
Cindy merasa hatinya seketika hancur berkeping-keping membayangkan perpisahan yang akan terjadi di antara dirinya dengan Rangga.
Ah, haruskah ia merasakan sakit hati yang tak terkirakan untuk kedua kalinya?
Tak ada keputusan tepat yang diambil Cindy saat ini. Berat rasanya untuk meninggalkan Rangga yang telah berhasil membuat ceria kembali hari-harinya belakangan ini.
Ah. haruskah ia mengadukan dan menceritakan kedatangan orang tua Rangga tadi pada cowo' itu atau dengan diam-diam meninggalkannya?
__ADS_1
Tidakkah Rangga akan merasa gelisah dan penasaran kalau ia kembali meninggalkannya tanpa kabar berita?
Tapi, bijakkah kalau ia mengeluhkan pada cowo' itu apa yang telah diucapkan ibunya barusan?
Mas Rangga... Rintih gadis itu kembali dengan air mata berlinang. Sungguh aku tak ingin berpisah darimu apalagi sampai meninggalkanmu. Tapi apa yang harus kita perbuat untuk mengatasi masalah ini? Dorongan emosi dan perasaan yang tak terbendung akhirnya membuat Cindy mengambil langkah yang terakhir.
Begitu Rangga datang kembali tiga hari kemudian, Cindy pun mencurahkan seluruh perasaan hatinya pada cowo' itu.
"Mas," Cindy pun segera menghambur memeluk kekasih hatinya yang balas memeluknya dengan hati resah. "Sungguh, sebenarnya aku tak ingin berpisah darimu. Tapi aku tak dapat menentang keinginan ibumu yang menginginkan kita berpisah..." Ucap Cindy menjelaskan.
Rangga kaget dan tercenung...!!!
Diremasnya bahu gadis dalam rengkuhannya dengan hati kacau. Beberapa minggu lalu ibunya memang pernah memergoki saat ia mengantar gadis itu pulang dari acara makan malam. Pernah pula ibunya menanyakan dengan gadis mana ia berhubungan yang segera dijawabnya dengan jujur siapa Cindy sebenarnya. Hingga akhirnya kemudian Rangga tak menyangka kalau ibunya bakal menentang keras hubungan mereka.
"Mas...," Cindy mengangkat wajahnya dan memandang wajah di hadapannya dalam-dalam. "Ibumu benar, Mas. Aku hanyalah seorang gadis yang tak berarti apa-apa. Sebaiknya, kembalilah kau pada keluargamu. Lupakanlah aku..." Ucap Cindy lirih.
"Tidak, Cindy," Rangga menggeleng tegas. "Kau tahu, sudah sejak lama orangtuaku memang berniat menjodohkanku dengan putri seorang relasi mereka. Tapi aku menolak. Sungguh aku tak suka dengan cara kolot begitu. Aku ingin memilih sendiri siapa gadis yang kelak akan menjadi istriku. Aku tak suka dipaksa-paksa begitu!" Balas Rangga tegas.
"Tapi, Mas... Orang tua mu pasti akan murka bila mengetahui kau tidak menuruti anjuran mereka." Jawab Cindy lagi.
"Aku tak peduli, Cindy," kembali Rangga menggelengkan kepalanya.
"Kemarin ibumu sempat bilang bahwa kau adalah putra satu-satunya. Tidakkah kau akan menyesal kalau kau tak menuruti apa kata mereka?" Tanya Cindy.
Rangga cuma menarik napas berat sambil berkata, "Kau tahu, Cindy, semua itu akan
kutinggalkan bila aku telah mendapatkan seorang
gadis yang mampu membuat hari-hariku menjadi
ceria. Walau mereka tidak menyetujui pilihanku
itu...." Ucap Rangga tenang dan penuh keyakinan.
__ADS_1