
Cevin membiarkan tangis Balqis berkepanjangan. Biar tangisnya perempuan itu terkuras habis. Dan Cevin membelokkan mobilnya di sebuah rumah. Balqis menatap laki-laki di sampingnya dengan mata berbinar-binar. Sisa-sisa genangan air mata bergayut di kelopaknya.
"Mau apa kau ajak aku kemari?" suara Balqis serak.
"Membicarakan kelanjutan hubungan kita. Kita bicara di sini bisa lebih enak dan santai."
Jawab Cevin.
"Aku tidak mau." Ucap Balqis.
"Balqis, banyak yang ingin kukatakan padamu. Jangan kau bikin aku kecewa, ya?" bujuk Cevin.
Seorang laki-laki menghampiri pintu mobil Cevin sambil membawa dua buah payung.
"Mau pakai rumah penginapan ini pak?" tanya laki-laki itu.
Handrian mengangguk, lalu membuka pintu mobil. Payung itu dipegangnya, dan membuka pintu mobil untuk Balqis.
"Ayo turun, Qis."
Ucap Cevin. Cevin dengan lembut memegang tangan perempuan itu. Tapi perempuan itu menolaknya. Cevin terus membujuknya, hingga akhirnya Balqis menurut juga.
Dibimbingnya Balqis menuju ke teras perumahan tersebut.
Cevin memayungi perempuan itu agar tidak ada setetes pun air hujan yang membasahinya. Penuh kasih sayang Cevin membawanya masuk ke ruang tamu. Lantas mereka duduk berdua di kursi empuk.
"Apakah kekerasan hatimu tak dapat kululuhkan, Balqis?"
Tanya Cevin.
"Tak seorang pun yang akan bisa, selain kehendak Tuhan."
Jawab Balqis.
"Terus bagaimana dengan nasib anak kita yang akan lahir?" Tanya Cevin lagi.
"Biarkan dia kuurus dengan kasih sayangku."
Jawab Balqis.
"Aku juga punya hak atas anak itu."
Balas Cevin.
"Tapi kau tak punya hak atas diriku. Kau tak bisa mengikat diriku lantaran aku mengandung darah dagingmu. Kemudian kau menuntut agar aku mau menikah denganmu,"
Jelas Balqis ketus.
"Balqis, aku mengajakmu ke mari bukan untuk bertengkar. Atau berselisih pendapat. Melainkan untuk berunding jalan keluarnya yang baik."
Jelas Cevin.
"Jalan terbaik kalau kau mau melupakan aku. Itu saja."
Jawab Balqis.
"Itu tidak mungkin."
Ucap Cevin.
"Kalau itu tidak mungkin, lantas kau menceraikan istrimu dan menikah denganku?"
Tanya Balqis.
"Itu tidak mungkin."
Jawab Cevin.
"Jadi yang mungkin apa dong?!" kesal juga Balqis. "Jadi laki-laki itu harus konsekwen. Jangan plin-plan dan maunya enak sendiri!"
Lanjutnya.
"Terserah apa penilaianmu. Asal kau tahu saja, bahwa aku menikah dengan Nabila cuma lantaran untuk menjaga nama baik orang tua. Walaupun sekarang kami tinggal serumah, tidak pernah sekalipun kami tidur bersama. Dia sibuk dengan kuliahnya, dengan pacarnya. Sedangkan aku sibuk dengan pekerjaan dan urusan kita berdua. Kami jarang bertegur sapa."
Jelas Cevin.
"Istrimu sangat cantik."
Ucap Balqis.
"Aku lebih mencintaimu."
Balas Cevin.
__ADS_1
"Lama kelamaan kau pasti akan mencintainya."
Jelas Balqis lagi.
"Aku tak dapat melupakanmu."
Ucap Cevin.
"Cobalah sedikit demi sedikit melupakan aku. Pasti kau akan mencintainya. Percayalah."
Terang Balqis.
"Balqis, jangan singgung-singgung lagi soal dia. Kau bersedia menikah denganku, ya?"
Pinta Cevin.
"Aku jadi istri yang kedua? Lantas suamiku bagaimana? Kau terlalu egois," kecam Balqis.
Cevin meraih jari tangan Balqid lembut. Tapi dikibaskan oleh perempuan itu. Dia tak ingin disentuh oleh kelembutan laki-laki itu.
"Antarkan aku pulang!"
Ucap Balqis.
"Kenapa buru-buru?"
Tanya Cevin.
"Kau mulai lupa, bahwa hubungan kita sudah tidak seperti dulu lagi. Cukup kenangan yang kau berikan dulu dan kini aku tak ingin mengulanginya."
Jelas Balqis.
"Balqis..." suara Cevin lembut mesra.
Balqis bangkit dengan cepat.
"Aku mau pulang!" Balqis melangkah pergi.
Cevin memburunya dan menghentikan di ambang pintu.
"Tunggu dulu, Balqis."
Ucap Cevin.
"Tidak." Balqis meronta hingga terlepas dari pegangan Cevin. Kesempatan itu digunakan untuk lari. Menerobos curahan hujan lebat
Penjaga perumahan itu segera datang.
"Kami tidak jadi pakai rumah ini. Itu uangnya di atas meja," kata Cevin dengan terburu-buru. Terus dia lari menghampiri mobilnya. Cepat-cepat dihidupkan mesinnya dan diluncurkan ke jalanan.
Balqis sudah hilang dari pandangan Cevin. Ke mana perginya perempuan itu? pikir Cevin bingung. Hujan yang turun lebat bagai menghalangi pandangan laki-laki itu. Setiap mobil colt oprengan disalipnya, di situ tak dilihatnya Balqis. Begitu pula setiap bis yang disalipnya perempuan itu tak ada. Cevin jadi sangat kecewa.
Dengan perasaan tak menentu dia kembali ke Bandar Lampung seorang diri. Sesekali dia melirik ke tempat duduk di sampingnya, kosong. Balqis tidak lagi bersamanya dalam perjalanan pulang ke Bandar Lampung. Pedih nian hati laki-laki ini. Ternyata kekerasan hati perempuan itu sukar untuk diluluhkan.
***
Berjalan hanya berdua di bawah sinar rembulan adalah menyenangkan. Itu dialami oleh Nabila dan Berry yang berjalan menyusuri pantai Mereka berjalan sambil berpelukan mesra sekali. Gemuruhnya ombak adalah gemuruhnya hati Nabila ingin senantiasa berdampingan dengan Berry, sekalipun sudah terikat oleh hukum perkawinan. Nabila yang sekarang adalah istri Cevin.
Dia tidak perduli. Sampai kini dia berperinsip masih seperti dulu. Masih belum dimiliki oleh siapa pun. Terkecuali hati dan cintanya telah dimiliki oleh Berry. Dia serahkan hidupnya kepada laki-laki itu seorang. Angin laut bertiup sepoi-sepoi. Lampu kapal yang berkelip-kelip di kejauhan laksana bintang. Tapak-tapak kaki mereka terhenti di dekat gerumbulan semak.
"Kita duduk di sini, Ber," ajak Nabila.
Berry menurut. Lelaki itu senantiasa menurut apa yang dikehendaki perempuan itu. Lantas mereka duduk di dekat gerumbolan semak. Beralasankan buku-buku yang biasa digunakan untuk mencatat mata kuliah.
"Apakah kita akan selamanya begini, Ber?"
Tanya Nabila.
"Sebaiknya antara kita berteman biasa lagi."
Ucap Berry.
Nabila termangu menatap Berry. Dia meneliti kesungguhan ucapan lelaki itu dari sorot matanya. Dan Nabila memang menemukan di bawah sinar rembulan sorot mata Berry bersungguh-sungguh.
"Apa yang kau ucapkan keluar dari hati kecilmu?" Tanya Nabila.
"Ya. Karena aku berpikir sudah terlampau jauh melangkah. Setiap kita berdua ke mana saja, hati kecilku senantiasa dikejar rasa berdosa. Kau adalah istri orang lain."
Jelas Berry.
"Sampai detik ini, aku tidak pernah merasa menjadi istri Cevin. Dan aku tetap mengingat janji Cevin, bahwa pernikahan kami hanya formalitas saja. Hanya untuk nama baik keluarga kami masing-masing. Dan aku bebas melakukan apa saja di luar rumah." Berry melempar pandangan ke lampu kapal yang berkelip-kelip. Dan permukaan laut yang keperakan warnanya ditimpa cahaya rembulan.
Lelaki itu menghela napas panjang.
__ADS_1
"Bagaimanapun hal itu menurutmu benar, tapi penilaian orang lain tetap buruk. Dan tidak selamanya kau akan berbuat seperti ini. Lagi pula apa kekurangannya Cevin? Dia mempunyai banyak kelebihan dibandingkan aku. Belum tentu kau lari dari Cevin, kemudian kita hidup bersama dapat bahagia. Sebab aku belum mempunyai kekuatan apa-apa untuk memilikimu. Tentunya kau tahu, aku hidup di Bandar Lampung cuma numpang di rumah kakak. Pekerjaan belum punya," tutur Berry.
"Kok pikiranmu jadi berubah begitu, Ber?"
Tanya Nabila.
"Karena demi kebahagiaan kita bersama. Kita tidak boleh menuruti emosi, Nabila. Banyak sekali contohnya di kalangan remaja yang hanya mengikuti emosi lantaran sudah saling mencinta. Mereka buru-buru menikah, tapi setelah hidup berdua banyak mengalami ketimpangan. Sebab mereka belum siap menghadapi hidup berumah tangga. Hidup berumah tangga tidak hanya cukup dengan cinta. Banyak hal-hal lain yang menunjang."
Jelas Berry.
"Lalu pendapatmu mengenai pernikahanku bagaimana? Apakah dengan kelebihan Cevin aku bisa bahagia?" Tanya Nabila.
"Seharusnya kau bahagia. Kau mempunyai seorang suami yang penuh pengertian. Jarang seorang suami memiliki pengertian seperti itu. Memberikan kebebasan sesuka hatimu."
Lanjut Berry menjelaskan.
"Sebab aku tidak mencintainya. Dan dia juga mempunyai pilihan perempuan lain."
Ucap Nabila.
Berry tersenyum. Dipeluknya bahu perempuan itu. Pelukannya tidak sehangat dulu, melainkan sebagai seorang sahabat.
"Laki-laki dan perempuan yang mempunyai banyak kelebihan sudah barang tentu diinginkan oleh lain jenisnya. Cevin yang tampan sudah wajar punya pacar sebelum menikah denganmu. Bagitupun kamu. Jadi hal ini tidak perlu dijadikan sumber rasa ketidak puasan. Jika kau dapat mengendalikan emosimu sedikit demi sedikit, niscaya akan tumbuh rasa mengasihi terhadap suamimu."
Jelas Berry.
"Kalau dasarnya aku tidak mencintainya?"
Kata Nabila lagi.
"Hati seorang wanita itu lemah. Perasa sekali. Sekali saja kau mencoba mengerti diri suamimu, selamanya akan pasrah dalam pelukannya."
Ucap Berry.
"Cintaku hanya padamu, Ber," suara Nabila terdengar parau. Dia merasa takut kehilangan lelaki ini.
"Mulai sekarang kita mencoba untuk menjadi sahabat yang baik," kata Berry.
"Mana mungkin bisa, Ber. Kita yang saling mencintai berubah jadi persahabatan?" sahut Nabila dengan suara isak tangisnya.
"Kita harus berusaha," nada ucapan Berry lembut tapi tegas.
"Kau begitu tega, Ber..." Nabila menangis dan memeluk laki-laki itu. Sejuta kesedihan dilampiaskan dalam isak tangisnya.
Berry membelai rambut perempuan itu.
"Kurasa ini cara yang terbaik. Dan aku mengharap kau mau menjadi seorang istri yang baik pula."
Ucap Berry.
"Ber..." panggil Nabila lembut dengan tatapan mata redup. Seolah-olah pancaran itu meminta sesuatu yang berarti dari laki-laki yang sangat dicintai.
"Ya?"
Jawab Berry.
"Ciumlah aku," pinta Nabila.
Berry mencium pipi perempuan itu.
"Aaah... kok cuma di situ?" Nabila mengeluh manja sambil menggeserkan bibirnya ke bibir Berry. Tapi Berry menepiskan muka.
"Kenapa Ber? Kau tidak sudi lagi menciumku?"
Tanya Nabila.
"Mulai saat ini aku menganggapmu sebagai seorang sahabat. Dan menghormatimu sebagai istri Cevin. Aku merasa makin dikejar dosa bila terus melakukan hal-hal seperti itu. Mulai sejak kemarin aku sudah memutuskan untuk bersikap begini kepadamu."
Jelas Berry.
"Beeeeer..." keluh Nabila sembari meremas kuat-kuat kemeja laki-laki itu. Perasaan hancur luluh bagai melindas hidupnya. Sebab laki-laki yang sangat dicintainya sudah berubah dingin. Tidak lagi mencintainya, melainkan menganggap sahabat. Alangkah pedihnya.
"Nabila, kita harus berusaha tabah menjalani kenyataan itu. Mari kita saling berjanji untuk menjadi sahabat yang baik," ujar Berry sambil membujuk perempuan itu.
"Kau seorang laki-laki yang mudah menyerah!" kecam Nabila yang terisak-isak. "Kau tidak berani bertindak jantan!"
"Aku tidak mau bertindak ceroboh. Karena dalam hidupku yang sekali ini harus berarti. Juga tidak ingin masa depanku hancur karena hanya menuruti emosi cinta."
Ucap Berry.
Nabila melepaskan pelukan Berry, lalu buru-buru berdiri.
"Laki-laki pengecut!" maki Nabila.
__ADS_1
Berry segera bangkit. Nabila berjalan pergi meninggalkan laki-laki itu. Berjalan dengan langkah-langkah cepat menepak di pesisir pantai.
Berry menyusulnya...!!!