
"Memang aku yang salah. Aku yang salaaaah!" teriak Cevin kesal.
"Mulai sekarang kau jangan mengganggu dia lagi. Biarkan dia menempuh jalan hidupnya sendiri. Dan kalau kau benar-benar mencintainya, bertindaklah yang baik. Berbuatlah yang baik agar hidupnya tidak sengsara."
Ucap Queena.
"Lantas dengan cara apa? Semua saran dan bantuanku ditolaknya," keluh Cevin gusar.
"Banyak cara yang bisa kau lakukan. Aku tahu bahwa sifatnya tidak mau dibelas kasihani orang lain. Tidak mau menerima bantuan orang lain tanpa melakukan jerih payah. Tapi sifat yang begitu sangat terpuji. Aku kagum. Maka satu-satunya jalan kita harus punya cara di balik layar."
Jelas Queena.
"Maksudmu?"
Tanya Cevin.
"Bila suatu ketika kita tahu tempat Balqis bekerja, melalui perusahaan itu kita bantu secara tersembunyi. Mungkin gajinya kita tambah lebih besar dan memberikan bonus melalui perusahaan itu."
Jelas Queena lagi.
"Tapi di mana kerjanya kita tidak tahu. Bagaimana bisa melakukan seperti itu."
Ucap Cevin.
"Aku bisa membantumu bersama Ranti. Buatlah selebaran secara tersembunyi, yang mana isinya minta bantuan kepada setiap perusahaan untuk memberi tahu jika ada nama karyawatinya bernama Balqis. Pada selebaran itu dicetak foto diri Balqis. Dan bila memang ada diminta perusahaan itu memberi tahu kepada pihak kita secara tersembunyi pula. Aku dan Ranti akan mengedarkan selebaran itu ke setiap perusahaan."
Jelas Queena.
"Itu rencana yang bagus. Mulai besok aku akan menyuruh percetakan membuat selebaran itu."
Ucap Cevin.
"Tapi sebelumnya kau harus berjanji."
Kata Queena lagi.
"Janji apa?"
Tanya Cevin.
"Aku akan berusaha membantumu mati-matian asalkan ..." ucapan Queena terhenti.
"Asalkan apa?" Tanya Cevin.
"Setelah kau tahu tempat kerja Balqis, jangan kau ganggu dia lagi. Sebab dia ingin hidup tentram tanpa diganggu kamu terus menerus. Dia sudah berusaha melupakanmu." Cevin menarik napas berat. Seberat hatinya jika harus menepati janji itu. Bagaimanapun juga dia sangat mencintai perempuan itu.
"Bahkan Balqis mengharapkan sekali kau dapat hidup rukun dan bahagia bersama istrimu. Dan permintaannya supaya kau mau melupakannya. Dia sudah teramat bahagia dengan bayi yang ada di dalam kandungannya. Apalagi sampai bayi itu lahir dengan selamat."
Queena kembali dengan penjelasannya.
"Mana mungkin aku bisa hidup bahagia dengan Nabila? Kau lihat sendiri sikap Nabila terhadapku. Agaknya dia masih tetap memburu kekasihnya. Lebih mementingkan kuliah sambil berpacaran," kata Cevin tak ada gairah.
"Bersabarlah. Suatu ketika Nabila akan menyadari semua perbuatannya. Dia masih terbawa emosi keremajaannya. Belum begitu dalam menimbang baik dan buruknya hidup yang dijalani Dan bagaimana sifat Berry aku sudah tahu betul. Pemuda itu sangat hati-hati sekali menjalani hidupnya."
Jelas Queena.
Cevin tersenyum pahit.
"Buktinya Berry masih tidak perduli kalau Nabila sekarang sudah jadi istriku. Dia masih saja meladeni Nabila setiap mengajak berkencan untuk berpacaran."
__ADS_1
Jelas Cevin.
"Di hari belakangan ini kuperhatikan Berry mulai menjauhi Nabila sedikit demi sedikit Aku yakin, tak lama lagi Berry akan meninggalkan Nabila."
Jelas Queena.
"Kau yakin?"
Tanya Cevin.
Queena mengangguk mantap. Lantas dia berdiri sambil membawa map.
"Aku pergi kuliah dulu. Mengenai rencana kita itu akan segera kita laksanakan kalau selebarannya sudah siap untuk dibagikan."
Ucap Queena melanjutkan.
"Secepatnya akan dikerjakan."
Balas Cevin.
Queena berjalan pergi. Cevin termenung sambil memandang puntung rokok yang menumpuk di dalam asbak. Lalu dia berdiri untuk kemudian pergi ke kamar mandi.
***
Perubahan Berry makin dirasakan oleh Nabila. Setiap pulang kuliah acapkali Nabila mencarinya, ternyata laki-laki itu sudah terlebih dahulu pulang. Setiap ditunggunya di kantin, laki-laki itu tak pernah muncul. Jadi apa yang dilakukannya setiap hari? Sejak mereka pulang dari pantai waktu itu, Nabila tak pernah menemui batang hidungnya. Apakah dia sakit? Atau dia sedang sibuk membantu kakaknya mencari nafkah? Nabila cuma mengeluh karena tidak dapat jawaban yang pasti. Dan siang itu Nabila sengaja menunggu Berry di kantin. Para mahasiswa pada saat itu banyak berkumpul di situ. Agaknya sedang berdiskusi masalah kuliah kerja nyata yang akan diselenggarakan oleh panitia. Nabila mendengar semua percakapan mereka, namun tak ada satu pengertian pun yang masuk ke otaknya. Masa bodoh saja. Dari gedung induk nampak Queena berjalan bersama Tony sahabatnya. Sepasang remaja itu nampaknya kian harmonis. Mereka berjalan santai menuju ke kantin.
"Kau lihat Nabila di kantin?" tanya Queena.
"Ya. Sekarang dia kelihatannya selalu murung."
Balas Tony.
"Nampaknya Berry mulai menjauhinya. Malah kemarin aku melihatnya pergi bersama Debby." Ucap Queena.
Tanya Tony.
"Anak fakultas kedokteran. Aku menemuinya dulu ya? Ada hal yang perlu kubicarakan dengannya. Dan kau pulang saja duluan."
Ucap Queena.
Tony mengangguk setuju. Lalu mereka berpisah di kelokan jalan. Queena menuju ke kantin dan Tony menuju ke tempat parkir mobil.
"Hay," tegur Queena.
"Hay," balas Nabila agak gugup. Dikiranya Berry yang datang.
"Sedang memikirkan siapa? Berry ya?" kata Queena sambil duduk di kursi berhadapan dengan Nabila. Mereka duduk hanya dibatasi meja.
"Ah, tidak," desah Nabila setengah gusar. Lantas dia membuang pandangan ke lorong induk gedung fakultas. Berdegup kencang jantungnya ketika dilihatnya Berry berjalan bersama Debby. Mereka nampak akrab dan harmonis sekali. Saling berbincang dan bercanda. Sebilah sembilu bagai menggores hati Nabila.
Queena jadi ikut mengalihkan perhatian ke arah Berry. O, pantas saja kalau Nabila begitu termangu memandang ke lorong sana. Sebab melihat Berry berjalan dengan gadis lain. Rasain, sekarang baru kena batunya.
"Berry sekarang nampaknya lain ya?" ujar Queena setengah mengejek Nabila. Nabila membuang muka. Dia tak sudi lagi memandang laki-laki yang berjalan bersama gadis lain itu.
"Sejak dia bergaul intim dengan Debby, ku perhatikan mulai menjauhi kamu. Apakah kalian bertengkar?"
Tanya Queena.
Nabila menggeleng.
__ADS_1
"Tapi nasibmu belum separah Balqis," gumam Queena.
"Balqis? Aku pernah ingat nama itu," Nabila segera menatap Queena.
"Apakah Cevin pernah memberi tahu tentang nasib perempuan itu?"
Tanya Queena.
"Tidak," Nabila mencoba mengingat-ingat.
"Perempuan itu sangat dicintai Cevin."
Ucap Queena.
"Kenapa dulu dia tidak menikah dengannya saja?"
Tanya Nabila.
"Itulah penyebab kemelut dalam hidupnya. Dalam hidup ini memang kadang-kadang terjadi di luar kehendak manusia. Maksudku apa yang sudah direncanakan matang-matang ternyata meleset. Yang terjadi malah berlainan dengan kehendak itu sendiri. Misalnya saja pernikahanmu dengan kakakku. Apakah hal itu kehendak kalian berdua? Tentunya bukan."
Jelas Queena.
"Lantas apa kaitannya dengan Balqis?"
Ucap Nabila bertanya.
"Banyak hal yang tidak kau ketahui," desah Queena.
Para mahasiswa yang selesai berdiskusi segera meninggalkan kantin. Suasana kantin jadi sepi. Yang tinggal hanya Nabila dan Queena.
"Semestinya tak kau biarkan Cevin jadi semakin frustrasi Sekalipun kau tidak mencintainya, berlakulah sebagai teman yang baik. Jiwanya pada saat sekarang ini menderita siksaan yang teramat berat. Tidak ada tempat untuk mengadu. Semua kemelut dipendamnya sendiri. Apakah kau sedemikian teganya terus membiarkannya begitu?"
Jelas Queena seraya bertanya balik.
"Karena aku tidak menghendaki menjadi istrinya."
Jawab Nabila.
"Sejak dulu pun aku mengerti hal itu. Tapi belum tentu Berry yang senantiasa kau harapkan memenuhi keinginanmu. Barusan kau lihat sendiri bukan? Berry nampaknya mulai tergaet dengan gadis lain. Dia kuperhatikan sudah mulai menjauhimu."
Jelas Queena.
Nabila termenung. Ingat semua ucapan terakhir laki-laki itu ketika berdua di pantai. Laki-laki itu mengharap hubungan dengannya berubah menjadi persahabatan. Dia tak ingin merusak kebahagiaan rumah tangganya. Oh, teramat menyakitkan ucapan itu. Semua harapan dan cita-cita hidupnya bagai hancur karena perubahan yang dikehendaki Berry. Padahal semua khayalannya terlampau indah, tapi kehendak Berry yang begitu dirasakan penghancur impiannya. Panghancur semua khayalannya. Dan dia harus menjalani hidup yang dirasa hampa. Apalagi sekarang Berry sudah tergaet gadis lain. Jadi sukar untuk diuraikan kegetirannya.
"Kalau semisal Berry benar-benar meninggalkanmu memang teramat menyakitkan. Tapi belum seberapa dibandingkan dengan Balqis. Perempuan itu jauh menderita dibandingkan dengan hidupmu. Suatu saat kau akan tahu bagaimana nasib perempuan yang malang itu."
Jelas Queena.
Nabila rasanya ingin menumpahkan tangisnya. Dinding hatinya mulai tersentuh perasaan iba. Iba kepada nasib Cevin dan Balqis. Dia sudah dapat membayangkan betapa menderitanya mereka.
"Aku tidak tahu antara kau dan Cevin pernah membuat janji apa. Namun sebagai seorang adik, aku merasa kasian melihat hidup kakakku yang tersia-siakan."
Jelas Queena.
Queena mengusap air matanya yang jatuh di pipinya. Lantas dia bangkit.
"Queena..." panggil Nabila parau. Queena menghentikan langkahnya hendak pergi.
"Maafkan aku," lanjut Nabila yang nampaknya menyesal.
__ADS_1
Kemudian Queena meneruskan langkahnya. Nabila termenung seorang diri di kantin. Diambilnya sehelai sapu tangan dan diusap air matanya. Tak ada lagi yang ditunggu di sini. Berry tak mungkin akan datang menemuinya.
Kepedihan hati segera dibawanya pergi meninggalkan tempat itu. Berjalan lesu seraya tertunduk memandangi jalan yang dipijaknya. Perasaannya terombang-ambing tidak menentu.