LORONG TAK BERUJUNG

LORONG TAK BERUJUNG
BAB 70 : TITIK TERENDAH


__ADS_3

Keesokan harinya, dengan berbagai cara Cevin berusaha memancing kemarahan Balqis. Minimal membuat cewek itu kesal dan akhirnya mau buka mulut. Sering alasan kemarahan Cevin itu seakan dicari-cari, tapi Balqis berusaha keras menahan diri tidak terpancing.


Sabar, sabar. Orang sabar disayang Tuhan, katanya dalam hati saat Cevin menegurnya tajam hanya gara-gara ia menggigiti tutup bolpoinnya.


Sabar, sabar. Orang sabar disayang Tuhan, Balqis berkata lagi dalam hati saat Cevin menegurnya ditengah pelajaran sejarah. Merasa bosan, cewek itu mengabaikan penjelasan guru di depan dan memilih sibuk mencoreti buku catatannya.


Jelas Cevin langsung memanfaatkan peluang itu. Ditegurnya Balqis dengan kata-kata tajam tentu saja berupa bisikan karena kelas sedang hening dan guru sedang menjelaskan di depan. Cowok itu mengakhiri tegurannya dengan memerintahkan Balqis untuk menyimak pelajaran dan mencatat apa yang ada di papan tulis.


Dari pada omelan Cevin ada bagian keduanya, Balqis memilih menuruti perintah itu. Tentu saja dengan tidak lupa menggumamkan kalimat andalannya dalam hati: Orang sabar disayang Tuhan.


Aamiin! Aamiin! Aamiin!


Tidak sampai satu jam kemudian, di tengah pelajaran kimia, kembali Balqis harus mengumandangkan kalimat andalannya itu dalam hati. Cevin memarahinya dengan suara pelan, karena mengira Balqis sedang bengong saat jam pelajaran. Walaupun kelihatannya tidak peduli, tak urung Balqis menggerutu juga. Nih cowok nggak bisa bedain orang bengong sama orang yang lagi mikir sih!


Secara keseluruhan, hasil akhir untuk hari ini meskipun mati-matian menahan marah Balqis sukses menahan diri dari semua pancingan Cevin dan tidak satu pun teman-teman sekelas mereka menyadari bahwa di antara Cevin dan Balqis sedang terjadi peristiwa "Anjing menggonggong, kafilah masa bodo".


Begitu bel pulang berbunyi, Balqis menarik napas lega. Dibereskannya buku dan alat tulisnya lalu segera kabur. Cewek itu pulang ke rumah dengan perasaan lega dan tanpa beban. Semua kejengkelan dan kekesalannya lenyap begitu ia kabur dari sebelah Cevin dan memutuskan takkan memikirkan keanehan cowok itu. Justru Cevin yang semakin emosi. Dengan geram, ditatapnya Balqis yang berjalan keluar kelas dengan langkah cepat. Sambil membereskan buku dan alat tulisnya, serta sesekali membalas lambaian tangan teman sekelas, Cevin bertekad besok harus bisa memaksa Balqis membuka mulut dan merespons semua tindakannya.


Di saat Balqis bisa pulang dengan perasaan lega, Cevin justru sebaliknya. Lagi-lagi ia merasakan suasana asing yang membuatnya gelisah.


Keesokan harinya, Cevin berangkat sekolah dengan tekad " Harus bisa membuat Balqis buka mulut". Harus! Kebetulan hari ini ada mata pelajaran olahraga di jam pertama dan kedua. Jadi ada banyak kesempatan memaksa Balqis menghadapi dirinya tanpa menarik perhatian teman-teman sekelas.


Setelah mengganti seragam dengan kaus olahraga dan celana pendek, Cevin turun ke lapangan bersama cowok-cowok sekelas lainnya. Otaknya berpikir keras, mencari cara agar tekadnya bisa terlaksana.


Semakin cepat semakin baik...!!!


Tapi belum lagi cara itu ditemukan, Cevin keburu mematung di tengah anak tangga. Ia berhenti melangkah dan berdiri dengan tatapan tertuju lurus-lurus ke satu titik di lapangan.


Kalo ngiket rambut nggak pernah rapi. Asal keiket. Tapi itu malah bikin dia jadi tambah manis.


Salah satu poin dalam catatan yang ditinggalkan Irfan, kini ada di depan mata. Menghantam Cevin dangan keras dan membuatnya kembali mengalami perasaan asing itu.


Dengan kedua rahang terkatup rapat, Cevin menghampiri Balqis yang sedang berada di lapangan voli bersama cewek-cewek sekelas lainnya. Tanpa bicara, ditariknya karet pengikat kucir rambut Balqis sampai terlepas sehingga rambut cewek itu terurai.


Balqis menoleh kaget. Cevin menyambut tatapan kaget itu dengan harapan akan keluarnya protes dari mulut Balqis, minimal gerutuan, sehingga ada alasan bagi dirinya untuk terus menyerang cewek itu dengan kata-kata. Namun Balqis tidak mengeluarkan suara sedikit pun. Bukan saja karena cewek itu ingat dengan tekadnya sendiri untuk tidak terpancing, tapi juga karena kaget dengan tindakan Cevin itu.

__ADS_1


Beberapa detik terlewat, dan Cevin merutuk dalam hati saat sadar Balqis tetap bungkam. Akhirnya ia meraih satu tangan Balqis dan meletakkan karet pengikat rambut itu di telapaknya. Kemudian Cevin balik badan dan pergi begitu saja.


Balqis hanya bisa menatap dengan mulut ternganga. Begitu juga teman-teman sekelas yang menyaksikan itu. Ketika kesadarannya telah kembali, Balqis menggerutu dalam hati sambil mengikat kembali rambutnya. Tetap dengan gaya khasnya. Asal mengikat. Berantakan.


"Ayo, lanjut! Giliran gue yang serve, kan?" serunya ke arah teman-temannya yang masih berdiri diam, terpesona dengan kejadian tadi. Mereka tersadar. Keenam cewek yang jadi tim lawan Balqis segera bergeser jauh-jauh ke luar lapangan.


"Kok pada mencar!?" seru Balqis heran.


"Elo kan biasa, Qis. Lapangannya di mana, serve-nya ntar ke mana!" seru Ririn.


Balqis terkikik. Sejak Sekolah Menengah Pertama, Balqis memang terkenal bego olahraga. Kecuali lari. Apalagi kalau olahraga itu berbentuk kerja sama tim, seperti basket atau voli.


Teman-teman yang kebagian satu tim dengan Balqis biasanya langsung patah semangat.


"Yaah, ada Balqis. Pasti kalah deh…," ucap mereka setiap kali selesai dilakukan pembentukan tim.


Seterusnya yang biasanya akan terdengar adalah seruan-seruan yang seperti saat ini sedang dilontarkan teman-temannya.


"Balqis jangan disuruh serve deh. Bolanya ke mana-mana!"


Itu kalau voli. Kalau basket biasanya…!!!


"Bolanya ditendang aja, Qis. Abis lo kalo drible ngaco."


"Khusus buat Balqis, kalo dia bisa ngelempar bola sampe setinggi tiga perempat tiang, anggap aja tuh bola hampir masuk ring. Minimal kena bibirnya ring deh."


Balqis sih cuma ketawa-ketawa mendengarnya, soalnya sudah biasa. Namun di sisi lain lapangan, seseorang sama sekali tidak mengganggap itu sebagai sesuatu yang lucu. Justru sebaliknya.


Cevin berdiri mematung. Kembali dirasakannya sensasi asing yang menggelisahkannya. Hanya dalam waktu kurang dari sepuluh menit, satu poin lagi dalam catatan yang ditinggalkan Irfan, ada di depannya.


Bego olahraga. Nggak ada satu pun olahraga yang dia bisa. Kecuali lari atau kabur.


Dengan geram kembali dihampirinya Balqis. Ada satu cara agar cewek itu tidak menjadi cewek yang disebutkan Irfan dalam catatannya itu.


"Sorry! Sorry! Break sebentar, yaaa!?" seru Cevin, sambil mengangkat kedua tangannya membentuk huruf T dan tersenyum lebar. Cevin memasuki lapangan. Cewek-cewek itu seketika menghentikan permainan. Tidak peduli dengan tatapan teman-temannya, Cevin menghampiri Balqis. Tanpa bicara, dirapikannya ikatan rambut Bakqis. Benar-benar rapi, sampai tidak ada satu helai rambut pun yang tidak terikat kecuali poni.

__ADS_1


"Kalo ngiket rambut yang bener!" Cevin menegur tajam dan dengan ekspresi galak.


Cevin sangat berharap Balqis mau buka mulut. Ia tidak lagi berminat memperpanjang pertengkaran mereka seperti kemarin-kemarin. Ia hanya ingin Balqis bicara.


Namun Balqis tetap bungkam. Meskipun dari ekspresi wajahnya jelas terlihat cewek itu benar-benar kesal, juga malu. Ini di lapangan, dan yang olahraga bukan cuma kelas mereka doang. Bikin malu aja!


Sementara itu teman-teman mereka menyaksikan adegan itu dengan ternganga dan pandangan bertanya. Tapi mereka juga harus mengakui, untuk pasangan tukang berantem model Cevin sama Balqis, sumpah, tadi itu adegan yang romantis abis!


Tidak ada satu pun yang tahu bahwa alasan Cevin melakukan itu adalah karena Balqis melancarkan aksi diam, juga karena kali ini Cevin sadar usahanya kembali galal.


Setelah sekali lagi meyakinkan ikatan rambut cewek itu benar-benar rapi, Cevin berbisik di telinga Balqis dan mengancam pelan, "Kalo lo nggak mau gue dateng terus ngiket rambut lo lagi, jangan dilepas!" ancamnya pelan. Kemudian dia balik badan, "Oke, silakan lanjut!" serunya sambil meninggalkan lapangan.


"Bego olahraga nya" Balqis memang hopelees. Tidak bisa dibenahi saat ini juga. Tapi paling tidak, ikatan rambutnya kini rapi. Jadi ini bukan Balqis yang dilihat Irfan.


***


Sekali lagi kali ini Balqis pulang dengan perasan lega dan tanpa beban. Ternyata kalau nggak ditanggepin dan nggak dipikirin memang nggak bikin emosi ya? Katanya dalam hati. Cewek itu berjalan menuju halte dengan langkah ringan. Sementara Cevin justru semakin emosi, dan tambah emosi lagi saat melihat Balqis berdiri diantara kerumunan siswa yang sedang menunggu bus di halte.


Lewat sudut mata, Balqis juga mengetahui kehadiran Cevin. Cewek itu bersyukur banget karena bus yang ditanggungnya sudah datang. Jadi ia bisa selamat. Begitu bus berhenti di hadapan,Balqis buru-buru naik dan menghilang di dalam perut kendaraan umum yang sarat penumpang itu.


"Kurang ajar tuh cewek! Sialan!" Cevin memaki pelan. Tetapi begitu bus yang ditumpangi Balqis melaju pergi, entah kenapa lagi-lagi Cevin merasakan itu… rasa asing yang selalu membuatnya gelisah.


Kegelisahan itu ternyata bertahan. Menemaninya selama perjalanan pulang. Menyertainya saat menyantap makan siang, hingga Cevin nyaris tidak merasakan apa yang sedang disantapnya.


Menjelang malam, kegelisahan itu membuat Cevin semakin kacau dan meledak tepat di saat hari tengah gelap. Dan Cevin terenyak.


Kini ia tahu pasti apa yang membuatnya gelisah belakangan ini. Karena Balqis sudah tidak lagi mengeluarkan suara. Karena cewek itu benar-benar bungkam. Karena cewek itu terang-terangan bersikap seakan ia tak terlihat, seakan ia tak ada.


Kini Cevin juga yakin, perasaan asing yang merambati hatinya belakangan ini, karena Balqis telah membuatnya berdiri di tempat yang sama seperti Irfan!


Menempatkannya di luar lingkaran. Hanya bisa melihat. Hanya bisa mengawasi. Dan hanya bisa diam.


Kemudian Cevin menyadari dirinya mulai dikecam ketakutan. Ketakutan yang ternyata membuat kemarahannya menyurut sampai benar-benar ke titik terendah, dan akhirnya hilang.


Tidak bisa! Cevin menggeleng kuat tanpa sadar. Balqis tidak bisa menempatkan gue di tempat yang sama seperti Irfan, pikir Cevin. Irfan sudah pergi. Dia sudah tidak ada lagi.

__ADS_1


__ADS_2