LORONG TAK BERUJUNG

LORONG TAK BERUJUNG
BAB 102 : BERHENTI BEKERJA


__ADS_3

"Sejak kapan Balqis kau didik sebagai gadis mode?" tegur Cevin dengan tatapan mata tajam. Dan mata itu berkilat-kilat menyimpan kemarahan.


"Sabar dulu, Pak. Sebenarnya apa yang telah terjadi dengan Balqis?" kata Wisnu berusaha mengurangi ketegangan tamunya ini.


"Seharusnya kau tidak semudah ini menerimanya bekerja di sini. Seharusnya kau hubungi aku, kau tahu sendiri Nu, kita berteman tidak hanya saat Sekolah Menengah Atas tapi juga di Perkuliahan lalu saling menjalin hubungan bisniskan!" umpat Cevin nyerocos.


"Maaf, Pak. Barangkali saya kurang tahu etika. Tapi karena dia bekas teman sekolah dan kuliah kita, saya pun ingin menolongnya. Terlepas dari urusan pribadi."


Ucap Wisnu.


"Sekarang aku ingin ketemu dia."


Ucap Cevin.


"Sebentar akan saya panggilkan."


Balas Wisnu.


"Antarkan saja aku ke ruang studio."


Kata Cevin.


"Baik."


Wisnu berucap sembari mengangguk setuju.


Wisnu menurut apa kata Cevin. Sebab Cevin mempunyai kewibawaan melebihi Wisnu. Di samping itu


tidak sebatas teman sekolah dan kuliah saja akan tetapi order perusahaannya dibidang iklan hampir seluruhnya di pesan dari studio Flamboyan. Dengan penuh hormat Wisnu mengantar Cevin ke studio Foto. Begitu Cevin masuk dilihatnya Balqis sedang beraction di depan camera.


Kehadirannya tidak diperhatikan oleh perempuan itu. Dia nampak berkonsentrasi menghadapi lensa camera. Setelah berkali-kali gayanya difoto, lalu diganti dengan gadis mode lainnya, Balqis baru melihat kehadiran Cevin. Wisnu segera memanggilnya.


"Qis, pak Cevin ingin bicara," kata Wisnu.


"Lagi malas."


Jawab Balqis.


"Tapi ini penting. Temuilah dia, Qis."


Ucap Wisnu lagi.


Dengan bermalas-malasan Balqis mendekati Cevin. Wisnu segera pergi untuk menemui tamu-tamunya. Cevin langsung mencekal pergelangan tangan Balqis dan diajaknya duduk di sudut ruangan. Di situ ada sebaris bangku yang kosong.


"Siapa yang membujukmu jadi gadis mode?!" kecam Cevin.


"Bukan siapa-siapa, tapi aku sendiri. Ini memang kemauanku. Lantas kau mau apa?!" balas Balqis sengit.


"Kau harus meninggalkan pekerjaan ini."


Ucap Cevin.


"Siapa yang mengharuskan?"


Jawab Balqis.


"Aku."


Ucap Cevin lagi.


"Punya hak apa kau melarangku?"


Tanya Balqis.


"Karena aku mencintaimu. Karena di dalam perutmu tumbuh darah dagingku. Dan kau harus menikah denganku,"


Balas Cevin tegas.


Balqis tertawa kecil yang nadanya mencibir.


"Cinta di antara kita sudah terlewatkan. Bayi dalam kandunganku tak perlu dipermasalahkan. Dan kau tidak bisa memaksaku untuk menikah denganmu, tahu?!" ketus Balqis.


"Setega itukah kau padaku?"


Tanya Cevin.


"Memang harus begitu."


Jawab Balqis.


"Kau tidak mencintaiku lagi? Kau benar-benar sudah tidak mencintai aku sekarang?" suara Cevin bergetar berat.


Dinding hati Balqis tersentuh keharuan. Sesaat dia ingat semua kenangan yang pernah diukir bersama laki-laki itu. Laki-laki yang penuh tanggung jawab. Besar cinta dan kasih sayang terhadapnya. Tapi segalanya itu harus diputuskan. Dia tak ingin membuat hancur kebahagiaan orang lain. Meskipun sesungguhnya dia tak tahu kehidupan yang dialami laki-laki itu.


Cevin masih saja memandang Balqis dengan sejuta pesona. Apalagi sekarang perempuan itu kian cantik. Dengan dandanan dan pakaian yang dikenakan jadi mirip ratu kecantikan. Dan kalau terus dibiarkan namanya akan menjulang tinggi. Jadi terkenal. Cevin jadi tambah takut kehilangan perempuan itu.


"Balqis, katakan apa yang kau kehendaki? Segalanya akan kuberikan asal kau mau meninggalkan pekerjaan ini," kata Cevin membujuk.


"Aku tidak butuh apa-apa darimu. Aku ingin bebas tanpa ada ikatan dari siapa pun." Jawab Balqis.


"Kamu keras kepala."


Ucap Cevin.


"Biar. Jangan urusi aku lagi."


Balas Balqis.


"Tapi aku bisa ambil tindakan," ancam Cevin.

__ADS_1


"Lakukanlah. Aku ingin tahu apa tindakanmu."


Tantang Balqis.


"Kau tidak akan menyesal dan malu?"


Ucap Cevin.


"Tidak."


Balas Balqis.


"Baik."


Ucap Cevin lagi.


Cevin bergegas meninggalkan studio foto itu. Dia melangkah cepat menuju ke ruangan kerja Wisnu.


Wisnu terperangah untuk kedua kalinya melihat Cevin memasuki ruangan kerjanya. Apalagi laki-laki itu masuk dengan raut wajah menyimpan emosi kemarahan. Maka Wisnu buru-buru menyudahi berbincang-bincang dengan tamunya.


"Maaf, Pak. Pembicaraan kita nanti dilanjutkan lagi."


Tamu itu terbungkuk-bungkuk meninggalkan ruangan kerja Wisnu. Cevin segera ambil alih pembicaraan.


"Perlu kau ketahui bahwa Balqis adalah istriku. Dan dia keadaannya sedang mengandung. Aku minta mulai besok, hentikan dia dari pekerjaannya di sini!" kata Cevin tegas.


Wisnu termangu.


"Kau faham, Nu?!"


Ucap Cevin.


"Baik... baik, Pak. Saya tidak tahu kalau Balqis istri Bapak. Saya mohon maaf sebesar-besarnya. Mulai besok akan saya laksanakan permintaan bapak," sahut Wisnu gemetar.


"Awas kalau tidak, akan kutuntut kau ke pengadilan!" ancam Cevin.


Setelah itu Cevin melangkah pergi. Wisnu menjatuhkan diri di kursi. Lantas dia termenung seorang diri. Sungguh diluar dugaan. Maka dia menelpon ke studio foto.


"Panggilkan Balqis suruh menghadap pak Wisnu."


Wisnu meletakkan intercom ke induknya. Sambil duduk termenung dia menggaruk-garuk dagunya yang tidak gatal. Padahal hatinya tidak tega untuk memperhentikan Balqis dari pekerjaannya. Tapi ingat ancaman Cevin merasa ngeri juga.


Tak lama kemudian Balqis yang ditunggu masuk.


Wisnu melempar senyuman hambar.


"Duduklah, Qis."


Ucap Wisnu.


Balqis sudah dapat merasakan ada perubahan pada sikap Wisnu. Kendati begitu dia tetap tenang. Pasti masalahnya ada kaitannya dengan Cevin. Dia jadi ingin tahu apa yang telah dilakukan laki-laki itu.


"Tidak usah sungkan-sungkan. Katakan saja," balas Balqis.


"Aku harap hubungan kita sebagai teman tidak akan putus," ucapan Wisnu terhenti. Berat rasanya untuk melanjutkannya.


"Jangan bertele-tele, Nu. Aku sudah tahu apa yang hendak kau katakan. Kau mau menghentikan aku bekerja di sini bukan?"


Kata Balqis kemudian.


Wisnu mengangguk, tapi enggan bersitatap dengan perempuan itu.


"Aku tahu, ini bukan kemauanmu."


Ucap Balqis.


"Begitulah. Kenapa dulu kau tidak mau berterus terang?"


Tanya Wisnu.


"Soal apa?" dahi Balqis berkerut.


"Bahwa kau sudah menjadi istri Cevin."


Jelas Wisnu.


Balqis tertunduk. Dalam hatinya mengutuk laki


laki yang bernama Cevin! Rupanya dengan alasan itu, Cevin minta supaya aku diberhentikan dari sini Sungguh tidak punya malu dan kurang ajar! Dan pasti laki-laki itu mengatakan bahwa aku sedang mengandung bayinya.


Sialan! Kenapa laki-laki semacam dia tidak disambar geledek saja!


"Maafkan bila keputusanku ini menyinggung perasaanmu."


Ucap Wisnu lagi.


"Tidak apa-apa, Nu."


Jawab Balqis.


Wisnu membuka laci mejanya, lalu memberi sisa honor Balqis.


"Terimalah sisa honormu, Qis."


Ucap Wisnu.


"Terima kasih. Permisi Nu."


Jawab Balqis.

__ADS_1


Balqis membalikkan badan dan melangkah pergi. Wisnu yang diam termenung sedih masih sempat memandang perempuan itu berlalu. Dia sama sekali tidak menduga akan terjadi begini. Betapa pun kehadiran Balqis di perusahaannya membawa bintang terang, namun terpaksa dilepaskan juga.


Dan Balqis berjalan terseok-seok menyusuri trotoar jalanan. Sengatan matahari tak diperdulikan lagi. Sementara kecamuk dalam hatinya jadi timbul dendam dan benci terhadap Cevin. Sebab laki-laki akan menyeretnya ke lembah kesengsaraan. Penderitaan. Begitu kejamnya laki-laki itu!


***


Mendung yang berarak tidak memberikan kesempatan sang matahari pagi untuk mengintai bumi. Pertanda pagi ini tak lama lagi akan turun hujan. Angin kencang sesekali meniup. Sebuah mobil sedan berhenti di pinggir jalan. Pengemudinya tidak lekas turun, melainkan duduk tenang. Sebentar-sebentar dia melihat ke belakang melalui kaca spion. Ada seseorang yang dinantikannya.


Waktu terus bergeser. Laki-laki itu sudah berkali-kali melihat jam tangannya. Belum muncul juga seseorang yang dinanti. Desah dan keluhnya sering terdengar. Dan sesaat kemudian matanya berbinar-binar. Ceria wajahnya. Ternyata di kaca spion dilihatnya seorang perempuan baru saja keluar dari sebuah rumah. Rumah yang sederhana sekali. Langkahnya yang terayun kian mendekat ke mobil yang berhenti di pinggir jalan itu. Laki-laki yang sejak tadi ada di dalam mobil segera turun dan menghadang perempuan itu.


"Balqis," panggilnya.


Balqis terperangah dan menghentikan langkahnya. Ditatapnya tajam muka laki-laki itu.


"Mau apa lagi?!" tegur Balqis sinis.


"Mau bicara baik-baik denganmu," sahut laki-laki.


"Huh! Alangkah piciknya tindakan seorang direktur muda yang terhormat seperti kamu! Aku tidak punya waktu untuk meladenimu!" ketus Balqis sembari melangkah.


Tapi Cevin mencegahnya. Dihalangi langkah perempuan itu.


"Kau mau ke mana?!"


Tanya Cevin.


"Itu bukan urusanmu!"


Balas Balqis.


Balqis meneruskan langkahnya. Cevin menyambar lengan perempuan itu, lalu ditariknya mendekat ke pintu mobil.


"Lepaskan!" bentak Balqis sambil melototkan mata.


"Tidak! Kau harus ikut bersamaku," balas Cevin sambil mendorong Balqis masuk ke dalam mobil. Kemudian pintunya buru-buru ditutup dan dikunci dari luar. Balqis meronta-ronta di dalam mobil hendak keluar, tapi sia-sia. Cevin buru-buru naik ke mobil, menghidupkan mesin, lantas melarikannya cepat Hujan turun semakin deras.


"Kau laki-laki kurang ajar!" maki Balqis jengkel.


"Biarin."


Ucap Cevin.


"Kau laki-laki bajingan!"


Lanjut Balqis.


"Biarin."


Ucap Cevin.


"Kau laki-laki tak tahu diri!"


Kembali Balqis melanjutkan caciannya.


"Biarin. Pokoknya biarin!" Ucap Cevin.


Saking kesalnya Balqis mendekap muka dengan kedua telapak tangannya. Tangis perempuan itu tak dapat dibendung lagi.


"Tidak kusangka laki-laki semacam kau tega menghancurkan hidupku. Merusak karierku," kata Balqis di sela-sela tangisnya.


"Aku tidak menghendaki kau jadi gadis mode," balas


Cevin sambil meluncurkan mobilnya di jalan Raden Intan. Menerobos curahan hujan yang kian lebat.


"Tapi aku membutuhkan biaya hidup, Vin."


Ucap Balqis.


"Aku mampu membiayai hidupmu. Aku mampu membahagiakan hidupmu. Kalau kau hanya membutuhkan uang, sekarang pun akan kuberikan berapa yang kau minta."


Balas Cevin.


"Aku tidak membutuhkan uangmu, tahu?! Aku hanya minta supaya kau melupakan aku! Jangan ganggu aku lagi!"


pekik Balqis jengkel.


"Tidak bisa. Selama kau belum mau menyerah padaku, tak kubiarkan kau terus hidup menderita. Sebab aku ingin membahagiakan hidupmu."


Ucap Cevin.


"Kau terlalu bermimpi! Jurang pemisah di antara kita sudah semakin dalam. Aku tidak mungkin meninggalkan suamiku. Aku tidak ingin merusak kebahagiaan rumah tanggamu."


Jelas Balqis.


"Kau tidak tahu. Kau belum mengerti kehidupan rumah tanggaku yang sesungguhnya," keluh Cevin.


"Aku tidak mau tahu." Balas Balqis.


"Kau harus tahu, bahwa selama ini aku hidup tersiksa."


Jelas Cevin.


"Kau kira dengan caramu yang picik itu tidak membuat hidupku menderita? Begitu teganya kau menyuruh Wisnu untuk memecatku!"


Balas Balqis.


"Karena aku mencintaimu, Qis. Jangan salah mengerti. Semua yang kulakukan supaya kau mau menjadi istriku. Demi anak kita yang bakal lahir. Aku tidak ingin anak kita yang belum mengenal dosa itu ikut menderita."


Jelas Cevin lagi.

__ADS_1


Balqis jadi terbawa arus kesedihan. Sedih karena memikirkan bayi yang dikandungnya. Tangisnya makin berkepanjangan.


__ADS_2