LORONG TAK BERUJUNG

LORONG TAK BERUJUNG
BAB 22 : TANAH PEMAKAMAN


__ADS_3

Enam Tahun Kemudian...!!!


Tanah pemakaman sudah sepi. Satu persatu para pelayat meninggalkan tempat. Namun di tempatnya, Cindy masih bersimpuh dengan hati pilu. Matanya yang sembab tidak dapat menyembunyikan betapa lara dan sedihnya hati wanita itu.


"Mas Rangga...!," panggilnya lirih, kembali ia menangis tersedu-sedu. Tak pernah dibayangkannya kalau orang yang amat dikasihi dan dicintainya akan pergi begitu cepat.


"Sudahlah, Cin. Relakan kepergiannya," bisik Ranti, teman dekatnya yang sejak tadi berada di sisinya.


"Mas...," desah Cindy lagi dengan suara parau. "Mengapa secepat ini kau meninggalkan kami?"


"Sudahlah, Cin. Tabahkan hatimu. Tuhan telah memanggilnya untuk kembali...!" kembali Ranti berbisik lirih di telinganya.


Direngkuhnya, tubuh wanita itu untuk diajaknya berdiri. Dengan tubuh lemas Cindy mencoba untuk tegak berdiri. Dipandangnya sekali lagi gundukan tanah tempat jasad suaminya dimakamkan sebelum Ranti membawanya berlalu. Dengan tangis tersendat-sendat diikuti langkah Ranti yang memapahnya menuju mobil. Betapa nelangsa hatinya saat ini. Kematian suaminya benar-benar memukul batinnya dan membuatnya begitu rapuh.


"Mana anak-anak, Ti?" tanyanya kemudian begitu melihat tak ada seorang anaknya pun yang berada di sana.


"Mereka sudah dibawa Sukma pulang lebih dulu," sahut Ranti menenangkan hatinya.


Kembali Cindy mengalihkan pandangannya kearah areal pemakaman di sisi kirinya. Tinggal beberapa orang saja yang masih berdiam di sana, itu pun tak lain dari beberapa orang penjaga pemakaman yang masih asyik membabat rumput dan membersihkan tempat pemakaman itu.


Selamat tinggal, Mas. Semoga kau damai di alam sana, bisik hatinya pedih. Dengan mata berkaca-kaca dipandangnya tanah pemakaman suaminya yang masih penuh bunga dengan tanahnya yang masih merah.


Ah, rupanya hanya sampai di sini kehidupannya yang bahagia bersama Mas Rangga. Kini suaminya yang baik dan penuh pengertian itu sudah pergi dipanggil Tuhan. Semoga Tuhan mau melapangkan jalannya dan memberi ketabahan bagi yang ditinggalkannya.


Begitu mobil yang dikendarai Ranti berlalu meninggalkan tanah pemakaman yang sunyi itu, Cindy pun merasa ada sisi hati lainnya yang tertinggal di sana. Sisi hati yang mengawang seakan tak rela dengan perpisahan yang terasa begitu berat itu.


Cindy menelan ludahnya yang terasa getir. Dibiarkan air matanya mengalir membasahi pipinya. Sementara kedua bahunya berguncang menahan kesedihan hatinya.


"Kamu harus tabah, Cin," suara Ranti kembali memecah kebisuan yang terjadi antara mereka.


"Relakan kepergian Mas Rangga dengan hati lapang dan jangan biarkan dirimu terus berkubang dalam kesedihan. Ingatlah, masih ada dua anakmu yang membutuhkan perhatian dan kasih sayangmu...." Ucap Ranti.


"Apa yang akan kukatakan kalau suatu saat nanti mereka menanyakan kenapa papanya tak pulang-pulang, Ti?" desah Cindy pedih. "Mereka masih terlalu kecil untuk kujelaskan apa yang telah terjadi." Lanjut Cindy lagi.

__ADS_1


Ranti menghembuskan napasnya yang terasa berat, la begitu memahami apa yang menjadi kekhawatiran sahabatnya saat ini. Perpisahan ini memang terlalu menyakitkan bagi Cindy dan anak-anaknya. Rangga, suami sahabatnya itu, pergi begitu saja tanpa pesan dan kesan.


Seminggu yang lalu, Ranti memang sering mendengar dari Cindy ketika ia bertandang ke rumahnya, yang mengatakan bahwa Rangga baru saja sembuh dari sakitnya. Setelah sembuh itu pula, Rangga kembali bekerja seperti biasanya. Namun siapa yang sangka, kalau lima hari kemudian penyakit itu kambuh dan menghilang kan nyawa Rangga.


"Berikan mereka pengertian yang baik yang bisa mereka terima, Cin. Kedua anakmu begitu manis-manis, aku percaya mereka mau mengerti dan menerima kepergian papanya," ujar Ranti kemudian setelah sekian lama tercenung.


Mendengar ucapan itu kembali Cindy menghembuskan napasnya yang terasa berat. Kepergian suaminya memang sungguh di luar dugaannya. Minggu kemarin dokter sudah menyatakan bahwa, penyakit Rangga benar-benar sudah sembuh total. Oleh sebab itu Cindy tak merasa khawatir begitu Mas Rangga, suaminya yang tak pernah betah duduk diam itu kembali bekerja seperti biasanya.


Namun, siapa yang sangka kemudian, kalau kemarin sore begitu suaminya kembali dari tugasnya ia terlihat pucat dan beberapa kali memuntahkan darah. Dengan panik Cindy pun segera membawa suaminya ke rumah sakit. Namun, malang tak dapat ditolak. Dalam perjalanan suaminya menghembuskan napas terakhir di pangkuannya. Tak ada pesan yang terucap. Tak ada kesan yang terlintas. Dan Cindy pun merasa menyesali, mengapa Tuhan memanggil suaminya setragis itu. Tanpa ia sempat berpikir apa lagi menduga sebelumnya.


Ah, apakah kepergian suaminya itu karena ia terlalu lelah bekerja, mencari nafkah untuk istri dan anak-anaknya? Mengapa dia tidak segera tanggap untuk membiarkan suaminya beristirahat beberapa hari walaupun dokter menyatakan suaminya sudah sembuh benar?


Sekarang semuanya sudah terlambat. Tak ada hal apa pun yang bisa mengembalikan suaminya ke pangkuannya.


Teringat itu air mata Cindy kembali mengalir deras. Begitu banyak kenangan manis di antara mereka yang takkan pernah dapat dilupakan. Rangga yang lembut, Rangga yang penuh perhatian, Pria yang amat mencintai dirinya serta-anak-anaknya.


Ah, begitu cepatnya waktu memisahkan mereka. Begitu cepatnya kisah manis itu terlewati dan takkan mungkin terulang lagi.


Cindy masih terisak begitu mobil yang dikendarai Ranti berhenti di pekarangan rumahnya Sukma yang sudah lebih dulu tiba segera keluar dan memapahnya berdua Cindy masuk ke dalam rumah.


Cindy segera menghapus air matanya begitu melihat dua anak-anaknya datang menghampiri.


"Mamah... kenapa Mamah nangis terus?" tanya si bungsu Balqis yang baru berusia dua setengah tahun dengan suara kanak-kanaknya.


Dengan manjanya gadis kecil itu pun segera menyandarkan tubuhnya ke tubuh mamahnya.


"Jangan sedih, Mah...," suara lirih Farel menguatkan batinnya untuk tidak larut dalam kesedihan terus-menerus.


Di pandangnya putra sulungnya yang masih berusia empat tahun itu dengan tatapan iba. Kepolosan terpancar di mata Farel yang kini juga ikut memeluk dirinya dengan haru.


Ah, anak seusia Farel dapatkah menyelami perasaannya saat ini?


Tampaknya anak lelaki itu terlihat tegar. Tapi, benarkah hatinya tegar karena ia sudah merelakan kepergian papahnya tercinta? atau sesungguhnya ia belum mengerti apa yang telah terjadi dan menimpa keluarganya? Tidakkah ia tahu kalau Papah yang dicintainya yang setiap sore, selalu dinanti kepulangannya, kini telah berpulang dan tak akan pernah kembali lagi?

__ADS_1


Dengan hati hancur Cindy memeluk kedua anaknya erat-erat Ranti dan Sukma yang memandang mereka pun jadi terenyuh. Tanpa sadar setitik air mata juga mengambang di pelupuk mata mereka.


"Mamah nggak usah sedih...," kembali terdengar suara Farel yang begitu dekat dengan telinganya.


"Tidak anakku Mamah tidak akan sedih lagi. Setelah kepergian Papah, Mamah akan merawat kalian sepenuh hati," ucapnya parau. Ditekannya debur hatinya yang makin menjadi-jadi antara rasa sedih, haru, dan terenyuh memikirkan nasib dua anaknya kelak.


Kepala keluarga yang biasa mencari nafkah buat mereka kini telah pergi, apa yang dapat diperbuatnya nanti?


Dapatkah ia menggantikan posisi suaminya dalam hal mencari nafkah juga memberikan perhatian dan kasih sayang?


Kalau memang ia terpaksa bekerja, siapa yang akan merawat dua anaknya yang masih kecil-kecil itu?


Padahal di Jakarta ini, ia tidak punya saudara. Begitupun juga suaminya.


"Cindy, sudahlah. Bawa anak-anakmu tidur. Kasihan, mereka kelihatan begitu lelah. Begitu pun juga dengan kamu," ujar Ranti kemudian memecah keharuan yang terjadi antara mereka.


"Tadi aku sudah menyuruh mereka tidur, Cin. Tapi mereka tidak mau dan ingin menunggumu pulang," kata Sukma menambahi Cindy menggigit bibirnya. Farel dan Balqis memang kerap bersamanya setiap hari, jadi mana mungkin mereka mau tidur bersama orang lain. Kalau tadi Sukma berhasil mengajak mereka pulang, karena ia tak tega melihat kedua anaknya berpanas-panas dengan raut wajah lelah. Untung saja dengan bujukan, Sukma berhasil membawa mereka kembali ke rumah. Walaupun pada akhirnya Sukma tak berdaya untuk mengajak kedua anak itu untuk tidur, karena mereka ngotot menunggu mamahnya pulang.


"Tidurlah, Cin," ucap Sukma kemudian dengan suara lembut. "Bawalah anak-anakmu tidur. Kasihan mereka. Aku dan Ranti akan menjaga di sini sampai kamu kembali bangun." Lanjut Sukma menenangkan.


"Kalian bersedia?" Cindy terpana mendengar ucapan itu.


"Tentu saja," Ranti dan Sukma mengangguk berbarengan.


"Terima kasih," Cindy menyahut haru. "Aku bahagia mempunyai teman sebaik kalian...."


"Sudahlah," Ranti cepat menepis. Cindy pun segera beranjak dan membimbing kedua anaknya menuju kamar. Sebelum masuk kamar, kembali ia memandang kedua sahabatnya berganti-ganti dengan hati terharu.


"Terima kasih sebelumnya nih" ucap Cindy lagi. Maaf aku sudah merepotkan kalian berdua."


"Siapa bilang merepotkan, Cin? Untuk seorang teman baik, kami pasti akan membantu sebisa dan sekuat tenaga yang ada," sahut Sukma cepat.


Cindy tersenyum.

__ADS_1


Kemudian ditutupnya pintu kamarnya. Ada perasaan lega menaungi hatinya yang sedih. Ranti dan Sukma memang dua sahabatnya yang baik dan bisa dipercaya. Kalau saja tidak ada mereka, entah apa yang akan terjadi.


Sungguh Cindy tak dapat membayangkan bagaimana seandainya di saat begini, ia tak mempunyai dua sahabat baik itu. Ayah dan ibunya berada di Lampung dan sudah sekian tahun tidak dijenguknya. Sementara keluarga suaminya sendiri tak ada yang dikenalnya, karena mereka menikah tanpa persetujuan dari kedua orang tua suaminya itu.


__ADS_2