
Berarti selama itu Balqis masih tetap perawan kesuciannya yang merenggut cuma Cevin seorang. Betapa peliknya kehidupan Balqis setelah mengandung anaknya Cevin dia lalu menikah dengan Sigit yang karena sebuah kecelakaan tak mampu melakukan sebagaimana laki-laki yang normal. Jadi siapa sebenarnya yang bersalah dalam hal ini? Ranti tak bisa menemukan jawabannya. Sesaat mereka saling termenung. Saling berkecamuk di benak mereka pikiran yang bermacam-macam. Namun kecamuk mereka tidaklah sama. Dan seorang perempuan cantik sudah berdiri di ambang pintu. Ranti menatap kehadiran perempuan itu. Terbelalak mata perempuan itu ketika mengetahui yang duduk di kursi tamu itu adalah Ranti.
"Selamat malam, Qis. Baru pulang kerja?" sapa Ranti.
Balqis mengangguk sembari melangkah masuk. Lalu dia duduk menemani Ranti di kursi tamu. Resah dan gelisah nampaknya. Sedangkan Sigit menggelindingkan kursi rodanya masuk ke ruang dalam. Ranti menatap dalam-dalam wajah Balqis yang murung.
Gelisah...!!!
"Sekarang kau kerja di mana?" tanya Ranti lirih. Dia takut pertanyaannya sampai didengar Sigit.
Balqis cuma menggeleng. Kedua matanya berkaca-kaca.
"Kau belum mendapat pekerjaan?"
Tanya Ranti.
Menggeleng lagi.
"Aku carikan pekerjaan mau?"
Tanya Ranti lagi.
Masih menggeleng.
Ranti menarik napas berat. Dinding hatinya tersentuh iba pada perempuan yang hidupnya penuh kemelut ini. Dia menghela napas panjang.
"Kau kemari disuruh Cevin?"
Tanya Balqis.
"Ya."
Jawab Ranti.
"Bilang sama dia, lupakan saja aku."
Lanjut Balqis.
"Tapi dia tetap mengharapkan kau."
Lanjut Ranti.
"Sekarang tentunya kau sudah tahu keadaanku yang sebenarnya bukan? Dan tidak mungkin aku meninggalkan suamiku yang membutuhkan perawatan kasih sayang."
Jelas Balqis.
"Aku tahu."
Balas Ranti.
"Aku tidak mau merusak kebahagiaan orang lain."
Ucap Balqis.
"Tapi kamu tidak tahu keadaan Cevin sesungguhnya."
Ucap Ranti.
"Aku tidak ingin tahu keadaannya."
Balas Balqis.
"Jadi kau benar-benar ingin melupakannya?"
Tanya Ranti.
Rosalina mengangguk.
"Terus mengenai bayi yang ada di dalam kandunganmu?"
Tanya Ranti kembali.
"Dia harapanku satu-satu di hari tua. Meskipun apa yang terjadi aku tidak perduli. Karena aku menginginkan anak ini."
Jelas Balqis lirih.
"Okey, kalau kau bersikeras melupakan Cevin, aku tidak bisa memaksamu. Tapi soal biaya hidupmu bagaimana? Kalau kau tidak bekerja."
Balas Ranti bertanya.
"Aku punya cara sendiri, Ranti. Untuk itu kau jangan terlalu memikirkan aku. Tentunya masih banyak hal-hal lain yang perlu kau pikirkan untuk hidupmu."
Ucap Balqis lirih.
Ranti memperhatikan Balqis yang memandang keluar. Di luar rumah sepi Pandangan Balqis begitu hampa. Dan Ranti dapat merasakan kehampaan hidup perempuan itu. Kegetirannya. Namun kekerasan perempuan itu sukar untuk diluluhkan.
"Jadi kau tidak mau menerima bantuanku?" Tanya Ranti.
"Terima kasih, Ran. Kau memang seorang teman yang baik. Berat rasanya aku menerima bantuanmu."
Jawab Balqis.
Ranti nampak kecewa.
"Prinsipmu tidak bisa dirubah lagi?"
Lanjut Ranti.
"Tidak."
Balas Balqis.
"Baiklah. Aku permisi, Qis." Ucap Ranti akhirnya.
"Maaf, ya, Ranti. Barangkali ada kata-kataku yang tidak berkenan di hatimu. Semuanya itu karena aku tidak ingin menyakiti perasaan kaumku juga suamiku. Biarlah apa yang terjadi akan kutanggung sendiri."
Jelas Balqis lagi.
Ranti bangkit dari tempat duduk, kemudian diantar oleh Balqis sampai di halaman rumah.
"Tidak ingin titip salam apa-apa pada Cevin?"
Tanya Ranti sebelum sebenar-benarnya pergi.
"Sampaikan agar dia melupakan aku."
Ucap Balqis.
Ranti naik ke dalam mobil.
"Okey. Lain kali aku akan datang lagi."
__ADS_1
Ucap Ranti.
"Asal bukan disuruh Cevin."
Balas Balqis.
Ranti tertawa, lalu melarikan mobilnya. Balqis mengiringi kepergian Ranti dengan lambaian tangan. Angin yang meniup dingin menerpa Balqis yang melangkah ke pintu rumah. Lantas ditutupnya pintu rumah dari dalam.
Rumah itu jadi kembali sepi dan suram...!!!
***
"Kenapa sejak dulu kau tidak mau menceritakan soal kehidupan Balqis?" ketus Ranti ketika sedang duduk bersama Cevib di sebuah restauran.
"Awal dia sengaja menyembunyikan kehidupannya. Tentu kau masih ingat, setiap kali aku bertanya keadaannya setelah kejadian penolakannya saat ku ajak kawin lari, dia selalu merahasiakannya. Bahkan walaupun aku telah merenggut kesuciannya, rasa tanggung jawabku selalu tetap ditolaknya."
Balas Cevin.
"Karena dia sekarang bersuami."
Jawab Ranti.
"Tapi dia tetap mencintaiku, buktinya sudah seringkali kuajak pergi, dia tak pernah menolak."
Balas Cevin.
"Apakah itu bukan lantaran hanya sekedar pelarian?"
Tanya Ranti.
"Pelarian?" gumam Cevin sembari tersenyum pahit. "Tidak. Dia dari dulu tetap sangat mencintaiku. Cuma karena dia tidak ingin meninggalkan suaminya, maka hatinya seperti baja. Kukuh...!!! Tapi sebenarnya di balik itu, hatinya menjerit. Perempuan mana yang bisa bertahan dalam hidup seperti itu."
Jelas Cevin.
"Buktinya dia minta agar kau mau melupakannya sekarang."
Jelas Ranti.
"Itu cuma ucapannya. Padahal hatinya lain."
Kata Cevin lagi.
"Dia hanya membutuhkan status anaknya Vin."
Balas Ranti.
"Aku tahu. Karena saat menikah dengan Sigit, suaminya sekarang tidak bisa memberikan keturunan."
Jelas Cevin.
"Suaminya impoten?" Tanya Ranti.
Cevin mengangguk. Diambil sebatang rokok lantas disulutnya.
"Setelah kejadian kehamilannya tidak di setujui mamahku, rencananya aku akan mengajak Balqis kawin lari. Akan tetapi keangkuhan mamahki dan Balqis membuat semua rencana itu tidak terjadi Ran. Lalu untuk menutupi Aib akan kehamilannya, Balqis menerima Sigit sebagai suaminya dengan keadaan seperti saat ini!" Jelas Cevin. "Sigit adalah sahabat Irfan kakakku yang sangat mencintai Balqis sebelum kematiannya yang tragis dulu. Lalu beberapa bulan kemudian Sigit mengalami kecelakaan, motornya menabrak truk hingga koma dan Alhamdulillah dia masih bisa selamat walau dengan keadaan seperti saat ini Ran!" Lanjut Cevin menjelaskan. "Oh ya, Sekarang dia bekerja di mana?"
Ucap Cevin.
"Tidak mau memberi tahu."
Jawab Ranti yang sebelumnya terdiam mendengarkan kisah yang di paparkan oleh Cevin.
"Barangkali dia nganggur?"
Tanya Cevin.
Jawab Ranti.
Cevin memegangi rambutnya, lalu diremasnya.
"Tidak kau tawari pekerjaan?"
Tanya Cevin.
"Dia tidak mau menerima bantuanku dalam bentuk
apa pun."
Jawab Ranti.
"Terlalu keras kepala," gumam Cevin mendesak.
"Bukan keras kepala, tapi dia punya prinsip."
Ucap Ranti.
"Mulai saat ini, akan kuselusuri di mana dia bekerja. Aku harus bisa meluluhkan kekerasan hatinya."
Balas Cevin.
"Cobalah kalau kau bisa."
Kata Ranti lagi.
"Kenapa tidak? Bayi yang dikandungnya adalah tetap menjadi darah dagingku. Bagaimanapun juga dia harus tunduk padaku. Kalau tidak akan kuambil anak itu setelah lahir."
Balas Cevin.
"Kau kejam. Sembilan bulan lebih dia mengandung bayi itu. Tapi setelah lahir akan kau minta secara paksa." Ucap Ranti.
"Yah, cuma itu jalan yang bisa kulakukan kalau dia tetap bersikeras menolakku."
Lanjut Cevin.
"Sadarlah, Vin. Statusmu sekarang bukan seperti dulu. Kau sudah menjadi seorang suami dari Nabila. Dan apakah kau juga tega memisahkan hidup Balqis dari suaminya yang tak berdaya itu? Jika kau tega melakukan hal itu, dua orang akan menjadi korban perbuatanmu. Pikirkanlah masak-masak."
Jelas Ranti.
Ucapan Ranti membuat laki-laki itu termenung. Dia meresapi apa yang baru saja dikatakan Ranti. Benarkah aku sekejam itu? terpetik dari hati kecilnya. Lantas apakah untuk selamanya aku begini terus? Terus membiarkan Balqis hidup tersiksa. Ditambah lagi dengan darah dagingku setelah lahir harus ikut menderita? Sedangkan hidup rumah tangga yang kubina dengan Nabila senantiasa dingin dan tak acuh. Sampai berapa lama aku harus bertahan begini?
"Kau tidak tahu kehidupan di dalam rumah tanggaku, Ranti. Setiap hari rumah yang kami tempati seperti neraka. Aku tidak betah barang satu jam pun tinggal di rumah. Sebab antara aku dan Nabila tidak pernah bertegur sapa. Dia selalu sibuk dengan kuliahnya, urusan pribadinya dan lain-lainnya," tutur Cevin yang nampak sedih.
Ranti turut sedih juga...!!!
"Apakah masalah ini orang tua kalian tahu?"
Tanya Ranti.
Cevin menggelengkan kepala. "Kami selalu tertutup agar tidak diketahui siapa pun terkecuali kau. Dapat kau bayangkan betapa pedihnya hati ini."
Jelas Cevin.
__ADS_1
"Tapi tindakanmu jangan terlalu emosi. Nanti bakal buruk akibatnya."
Balas Ranti.
"Sampai kapan aku harus bertahan? Coba katakan sampai kapan?"
Tanya Cevin.
"Aku tidak bisa mengatakannya. Semuanya itu ada pada dirimu, hingga dapat merubah keadaan yang begitu menjadi harmonis. Nabila cantik. Nabila juga mempunyai banyak kelebihannya. Cuma barangkali saja dia belum menunjukkan kelebihannya itu padamu. Aku yakin pada suatu ketika kau akan tahu."
Jelas Ranti lagi.
"Sejak kapan kau tahu kelebihan perempuan itu? Angkuhnya saja minta ampun," cibir Cevin.
"Yaaah, mungkin karena kalian belum saling mengetahui. Saling mendalami...! Trauma atas tahu kejadian kau dan Balqis akan sulit untuk di lupakan bagi Nabila, Vin. Bagaimanapun angkuh dan sombong seorang perempuan, pasti mempunyai kelebihan. Punya kelembutan dan kasih sayang."
Jelas Ranti.
"Jadi kau lebih cendrung kalau aku bisa hidup harmonis dengan Nabila?"
Tanya Cevin.
"Jelas dong. Untuk apa kau tetap mencintai dan mengejar Balqis, sedangkan dia bersikeras melupakan mu." Ucap Ranti.
"Tidak akan ada seorang yang bisa merubah keinginanku."
Jawab Cevin.
"Yaaa terserah ..."
Balas Ranti menyerah.
"Lain waktu aku minta bantuanmu lagi."
Lanjut Cevin lagi.
"Untuk menemui Balqis dan membujuknya?"
Tanya Ranti.
"Ya. Di samping itu aku ingin memberi uang untuk kebutuhannya."
Balas Cevin.
"Aku tidak mau. Dan jangan harap dia mau menerima pemberianmu. Dia pernah mengingatkan padaku, bahwa tidak akan sudi menerima kedatanganku bila disuruh olehmu."
Jelas Ranti.
Cevin jadi kesal. Dia memukul meja, nyaris minumannya tumpah. Beberapa orang memperhatikannya. Lalu Cevin buru-buru mengajak Ranti pergi dari tempat itu.
***
Waktu yang bergeser telah tiga pekan. Balqis sekarang sibuk jadi foto model dan bintang film-film iklan. Penghasilan yang diterima cukup besar. Kesempatan itu dimanfaatkan dengan baik. Sebab dia menyadari, beberapa bulan lagi perutnya sudah kelihatan membuncit. Dia bekerja siang malam untuk persiapan menyambut anaknya lahir.
Sekalipun kadang-kadang merasa khawatir karena kerja terlalu diforsir, bisa-bisa bayi dalam kandungannya mengalami keguguran. Padahal dia bekerja hanya untuk bayinya.
Sampai suatu ketika di cover sebuah majalah populer di ibukota memuat wajah Balqis. Dan sengaja Vani membawa majalah itu ke kantor.
"Pak Cevin tentunya masih ingat wajah siapakah ini?" kata Vani sambil menyodorkan majalah itu kepada Cevin.
Cevin yang melamun jadi terperangah. Lalu majalah itu segera diambilnya. Dengan termangu ditatapnya gambar Balqis di cover majalah itu.
"Sejak kapan dia memberanikan diri jadi gadis mode?" gumam Cevin bernada jengkel. Lantas dibanting majalah itu di atas mejanya.
Vani kaget dan ketakutan.
Cevin bersejingkat berdiri sambil berkata, "Aku pergi ke penerbit majalah ini. Urusi pekerjaan kantor."
Ucapnya.
"Baik, Pak."
Jawab Vani.
Cevin bergegas pergi. Rasanya tak sabar lagi ingin tahu siapa gerangan yang berani mengorbitkan Balqis jadi gadis mode. Dengan tergesa-gesa sekali dia meluncurkan mobilnya ke penerbit majalah. Kemudian langsung menemui pimpinan redaksinya.
"Maaf mengganggu sebentar, Pak."
Sapa Cevin.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya pimpinan redaksi yang bertampang angker tapi ramah itu.
"Bapak dapatkan slide foto cover majalah terbitan yang baru darimana?"
Tanya Cevin.
"Dari Flamboyan Studio ."
Jawab pimpinan redaksi tersebut.
"Flamboyan Studio?" Cevin termangu. "Apakah studio itu milik pak Wisnu?"
Tanya Cevin lagi.
"Benar."
Jawab pimpinan redaksi itu.
"Terima kasih. Permisi, Pak."
Jawab Cevin.
Cevin buru-buru pergi.
Pimpinan redaksi itu cuma termangu memandang kepergian Cevin. Karena dia tak tahu apa maksud tujuan Cevin menanyakan soal gadis mode yang baru dimuat di majalahnya.
Beberapa saat kemudian Cevin baru saja turun dari mobil. Sekarang dia sudah berada di halaman kantor advertising Flamboyan. Dengan berbagai kecamuk perasaan dia melangkah masuk ke kantor itu. Dan tanpa mau duduk menunggu di ruang tamu, langsung saja masuk ke ruang direktur. Sampai membuat penerima tamu jadi repot.
"Tunggu, Pak. Masih ada tamu."
"Saya mau ketemu pak Wisnu," sahut Cevin terus menyelonong masuk. Penerima tamu itu cuma termangu. Wisnu yang sedang berbincang-bincang dengan tamunya jadi terperangah melihat kedatangan Cevin. Lantas dia buru-buru menyambutnya.
"Pak Cevin, mari silakan duduk."
Cevin duduk. Tamu yang sejak tadi ngobrol dengan Wisnu segera mohon diri.
"Tumben pak Cevin datang sendiri kemari agaknya ada bisnis yang serius nih?" kata Wisnu sambil senyum-senyum.
"Ya. Bisnis Balqis."
Ucap Cevin.
__ADS_1
Wisnu termangu...!!!