LORONG TAK BERUJUNG

LORONG TAK BERUJUNG
BAB 61 : PERSIAPAN YANG PANJANG


__ADS_3

Pak Hadi Parjono, guru fisika yang hobi banget membawa tumpukan kertas fotokopian berisi soal-soal ciptaannya untuk dibagikan ke para murid, kali ini tidak perlu membawa tumpukan fotokopian itu. Irfan yang membawakan, dan dia datang ke ruang guru khusus untuk itu!


Sementara Bu Vitarina, guru bahasa inggris yang cantik dan bersuara lembut, masih lajang pula, yang kerap jadi bahan godaan murid-muridnya dengan belagak tidak mendengar saat beliau mengabsen, kali ini boleh merasa lega. Irfan yang melakukan tugas itu.


Berdiri di depan kelas, Irfan mengabsen temannya satu per satu. Dengan suara volume yang bisa terdengar sampai ke Irian Jaya. Cowok-cowok bengal, yang duduk di deret paling belakang, terpaksa mengacungkan tangan. Tentu saja dengan kesal, karena Irfan sudah menyebabkan meraka kehilangan kesempatan menggoda guru cantik yang lembut itu.


Dan masih banyak lagi perubahan Irfan yang menakjubkan. Tapi perubahannya yang terakhir membuat Pak Romli, guru sejarah yang jatah mengajarnya di 2 x 45 menti terakhir, kesal. Bel pulang masih lima belas menit lagi, tapi Irfan sudah sibuk membereskan buku dan alat tulisnya. Dengan cuek pula, alias mencolok. Hingga beberapa teman sekelasnya ikut-ikutan, segera beres-beres pula. Maklum, penyakit malas memang lebih cepat menular ketimbang penyakit rajin.


"Kamu mau ke mana, kok sudah beres-beres?" tanya Pak Romli heran.


"Pulang, Pak. Kan sebentar lagi bel," Irfan menjawab kalem.


"Masih lima belas menit lagi belnya." Ucap Pak Romli.


"Ya kan nggak apa-apa saya beres-beresnya sekarang. Jadi nanti begitu bel bisa lansung pulang. Bapak sekarang pasti tinggal menjelaskan aja, kan? Udah nggak ada lagi yang harus dicatet, kan? Soalnya sudah tinggal lima belas menit lagi, pak." Ucap Irfan santai tanpa masalah.


Irfan bicara dengan nada memohon. Hampir semua teman sekelasnya menahan senyum. Sisa waktu tinggal lima belas menit lagi, sementara pembicaraan kedua orang itu hampir menghabiskan sepuluh menit sendiri. Akhirnya, baru lima menit Pak Romli memulai kembali penjelasannya, bel pulang sudah berbunyi. Dengan kesal beliau terpaksa mengakhiri pelajarannya.


"Gara-gara kamu, bab hari ini jadi nggak selesai." Ucap Pak Romli.


"Maaf, Pak. Abis saya ada urusan penting banget hari ini. Harus cepet-cepet pulang." Irfan meringis.


***


Begitu Pak Romli keluar kelas, Irfan langsung berdiri dan cepat-cepat keluar kelas. Tergopoh-gopoh Sigit mengikuti langkah cepat Irfan.


"Mau ke mana sih biru-buru banget? Ntar malam lo jadi ke rumah Balqis, kan?" Tanya Sigit.


"Iya. Tapi kan kudu nyiapin dari sekarang, lagi. Gue mau mampir ke toko bunga dulu. Memastikan karangan bunga yang mereka bikin sesuai sama permintaan gue. Trus, kaus sama jins baru itu, mau gue setrika lagi. Biar benar-benar licin dan rapi." Jelas Irfan.


"Emang sama Bi Puji belum disetrika?" Tanya Sigit.


"Nggak. Mau gue setrika sendiri!" tandas Irfan. "Untuk urusan satu ini gue nggak mau campur tangan orang lain." Lanjut Irfan.


"Ih, segitunya." Sigit geleng-geleng kepala.


"Abis itu gue mau tidur sebentar. Biar ntar malam penampilan gue jadi segar." Irfan mendesah. Puas dengan urutan persiapan yang telah disusunnya.


"Eh, ntar malam gue ikut ya, Fan?" Pinta Sigit.


"Jangan dong! Ganggu aja." Larang Irfan.

__ADS_1


"Ikut nganter aja. Nggak ikut ngebuntuti elo sampe rumah Balqis. Gila, apa? Gue juga tau diri, lagi. Lagian gue juga bisa ngebayangin, pasti bakalan norak abis!" Lanjut Sigit tersenyum.


"Sialan!" Irfan mendengus. "Maksud lo, ntar lo nggak turun dari taksi, gitu?" Lanjut tanya Irfan.


"Iya. Gue langsung balik. Ya? Gue boleh ikut, ya?"


Sigit meminta dengan penuh harap. Entah kenapa, ingin sekali terlibat dalam hari terpenting Irfan ini. Ingin ikut merasakan ketegangan dan kecemasan sahabatnya. Dan seandainya semua berjalan lancar, ia juga ingin ikut merasakan kebahagiaan Irfan.


"Trus, ongkos taksi baliknya siapa yang bayar?" Irfan langsung cemas.


"Ya gue lah. Takut amat sih. Gue tau lo miskin. Udah tau nggak punya duit, pake beli buket bunga segala. Yang lumayan mahal, lagi. Miskin tapi belagu." Canda Sigit lagi.


"Ini bukan masalah miskin atau kaya, tau! Tapi image!" Irfan menyeringai. "Kesan pertama kudu yang bagus-bagus dulu yang dikasih liat." Jawabnya kalem.


"Trus ntar balik dari rumah Balqis, lo pake taksi lagi, gitu?" Tanya Sigit.


"Mau nggak mau. Makanya gue nggak bisa bayarin taksi lo balik nanti." Jawabnya.


"Iya. Kan gue udah bilang tadi. Gue bayar sendiri." Jawab Sigit.


Selain buket bunga dan yang lainnya, soal taksi juga sudah masuk dalam rencana yang disusun Irfan. Karena mau nembak gebetan yang udah lama jadi incaran, plus akan mengenakan kaus dan celana jins baru, masih ditambah akan membawa sebuket bunga yang harganya mahal pula, mau tidak mau dirinya harus naik taksi. Tidak mungkin menggunakan bus, angkutan umum yang selama ini jadi sobat karibnya, karena bisa merusak image.


Sementara bajaj juga mesti dilupakan. Karena selain suara mesinnya nggak merdu banget, bodi depannya yang monyong itu juga nggak matching dengan buket bunga cantik yang dibawanya.


Tukang sayur langganan hari ini tidak lewat. Terpaksa Bi Puji manfaatkan bahan-bahan yang ada di kulkas. Dan satu-satunya sayuran yang ada di dalam kulkas adalah jenis yang paling dibenci Irfan. Kacang panjang!


Makanya Bi Puji, pembantu yang sudah lama ikut keluarga itu, mengawasi dengan perasaan was was saat Irfan membuka tudung saji. Di kepalanya langsung terngiang-ngiang ucapan Irfan tiap kali ada masakan kacang panjang di meja makan, "Udah jelas-jelas sayuran, kok maksa ngaku-ngaku kacang?" Makanya Bi Puji jadi heran melihat Irfan makan dengan lahap. "Itu kan oseng kacang panjang, Mas. Kok tumben doyan?" Tanya bi Puji.


Seketika Irfan berhenti mengunyah. Diperhatikannya sayur di piringnya. "Wah, iya ya!" serunya, baru tersadar. "Ah, udalah. Ternyata rasanya lumayan juga kok." sambungnya cuek, lalu meneruskan makannya dengan lahap. Tinggal Bi Puji menatapnya semakin bingung. Begitu selesai makan, Irfan langsung mengambil kaus dan jins barunya dari kamar dan membawanya ke tempat menyetrika di belakang.


Cevin tiba di rumah satu jam kemudian, dan takjub melihat kakaknya yang sedang menyetrika sendiri bajunya, dengan ekspresi sangat serius pula. Dengan penuh minat, Cevin langsung menghampiri.


"Duileeeh. Nyetrikanya serius amat sih?" goda Cevin. Irfan tidak mengacuhkan. "Setrikain baju gue juga dong. Bi Puji kayaknya lagi repot. Nggak tega mau minta tolong." Lanjut goda Cevin pada kakaknya itu.


"Ya udah. Mana sini!" Irfan mengangguk ringan.


Mata Cevin kontan terbelalak. Tidak menduga.


"Serius nih?" Tanya Cevin nggak percaya.


"Serius. Mana bajunya? Bawa ke sini. Trus ntar mau digosongin bagian mananya? Depan? Belakang? Atau tangannya dua-duanya?" Ucap Irfan.

__ADS_1


Reinald tidak jadi gembira. "Kirain serius." Ucap Cevin.


"Gue kakak lo. Tau nggak sih, nyuruh orang yang lebih tua itu nggak sopan?" Balas Irfan.


"Nggak. Kalo nyuruh orang tua, baru nggak sopan." Cevin menggeleng bego, lalu tertawa geli saat sang kakak meliriknya tajam.


Kelar menyetrika, sesuai urutan rencana, jadwal Irfan berikutnya adalah tidur sebenar. Biar kalau bangun nanti badan jadi fresh.


"Jangan ganggu ya. Jangan kenceng-kenceng nyetel DVD-nya," pesanan Irfan pada adiknya Cevin, yang memang biasa melewatkan istirahat pulang sekolah kalau tidak dengan membaca komik, ya dengan memutar DVD. Film atau musik.


"Okeee. Sleep well, ya."


Irfan hanya tidur sebentar, itu juga gelisah. Berkali-kali dia mengubah posisi atau menarik napas panjang. Berkali-kali dia juga bergumam dalam tidurnya. Kalau tadi ia berpesan agar jangan diganggu, justru Cevin yang terganggu. Tapi dia tidak tega membangunkan, sampai akhirnya Irfan terbangun dengan sendirinya.


"Gimana tidurnya?" Tanya Cevin.


"Aduh. Gue gelisah banget. Jadi ngimpi yang nggak jelas gitu, Vin." Ucap Irfan.


"Lo tidur sambil mikir sih." Ucap Cevin lagi.


"Iya, kali ya?" Irfan turun dari tempat tidur lalu meregangkan badan.


"Udah…. pasrah aja. Diterima ya syukur…," Cevin mengangkat kedua alisnya, "kalo ditolak ya udah, mau gimana lagi?" Lanjut Cevin.


"Iya sih. Ya udah deh, gue mau mandi." Lanjut Irfan langsung meraih handuknya.


Tidak seperti biasanya, kali ini Irfan juga menghabiskan waktu sangat lama di kamar mandi. Sampai Queena, adik bungsunya, yang sudah tiga kali bolak-balik, terpaksa mengetuk pintunya.


"Mas Irfan kok lama sih? Pingsan, ya?" Tanya Queena.


"Iya," dari dalam terdengar jawaban Irfan sambil tertawa.


"Buruan dooong! Yang mau ke kamar mandi banyak nih." Lanjut Queena lagi.


"Kamar mandi belakang emang kenapa sih?" Tanya Irfan.


"Nggak enak. Lagian Bi Puji lagi nyuci. Makanya cepetaaan!" Balas Queena adiknya Irfan lagi.


"Iya. Iya. Cerewet!" Lanjut Irfan ngomel.


Selesai mandi, dilanjutkan dengan dandan. Ini juga makan waktu lama. Cevin memperhatikan abangnya sambil sesekali geleng-geleng kepala atau menahan senyum geli. Aneh banget soalnya. Selama ini, kalau mau keluar rumah, Irfan jarang menyisir. Paling-paling rambut pendeknya itu cuma dia rapikan dengan tangan.

__ADS_1


Sekarang? Sudah lima menit cowok itu berdiri di depan cermin, menyisir rambut dengan berbagai macam cara, tapi masih belum puas juga. Irfan baru berhenti menyisir setelah sadar, mau disisir sampai besok pagi juga hasilnya sama.


Begonya, setelah menyisir rapi rambutnya, Irfan baru sadar kalau dia belum pake baju. Alias persiapannya salah urutan. Terpaksa Irfan ikhlaskan rambutnya jadi berantakan lagi saat dipakainya kaus barunya.


__ADS_2