LORONG TAK BERUJUNG

LORONG TAK BERUJUNG
BAB 111 : MIMPI YANG INDAH SEKALI


__ADS_3

"Kau sehat-sehat, Mas?" tanya Balqis sembari memandang suaminya dalam-dalam. Penuh kerinduan.


"Seperti apa yang kau lihat," sahut Sigit tak acuh. "Temuilah istri Cevin dengan baik-baik."


Sigit menggelindingkan kursi rodanya. Balqis tidak membiarkan suaminya melakukannya sendiri. Dia membantu mendorongnya sampai masuk ke kamar. Di dalam kamar Sigit dihujani ciuman yang hangat dan penuh kerinduan.


"Mas Sigit, hari ini aku terima gaji. Gajiku sangat besar di perusahaan asuransi itu. Satu bulan aku digaji kira-kira sekitar lima jutaan dan ditambah bonusnya," kata Balqis girang. Mengharapkan suaminya ikut girang mengetahui hal itu. Lalu dikeluarkan uangnya dari dalam tas. "Ini mas, terimalah."


Tapi Sigit tidak tertarik ataupun gembira. Dia bahkan tak acuh. Melihat uang itu pun tidak. Balqis jadi sangat kecewa. Lantas karena rasa kecewanya itu, dibuangnya uang itu ke atas tempat tidur. Dia mulai terisak.


"Mas Sigit tidak percaya kalau uang itu kudapat dari jerih payahku?"


Tanya Balqis.


Sigit diam. Dia malah mengatakan: "Temuilah istri Cevin di ruang tamu."


Balas Sigit.


"Tidak!" Jawan Balqis.


"Harus! Dia datang ke mari dengan baik-baik. Kau harus menemuinya dengan baik pula," kata Sigit tegas.


Balqis menggeleng sambil terisak.


"Kau harus menuruti kataku, temui dia!"


Ucap Sigit lagi.


Dengan kesal dan berat hati Balqis meninggalkan suaminya di kamar. Dia menemui Nabila sambil mengusap air matanya.


"Kau datang ke mari untuk mendampratku?" tanya Balqis.


Nabila tersenyum mengajak bersahabat. Baru pertama kalinya Nabila dapat bertemu muka dengan perempuan itu. Perempuan yang berparas cantik, anggun dan sederhana sekali. Penuh daya pesona. Pantas saja kalau Cevin selalu mengejarnya. Tak mau ditinggalkannya.


"Saya ke mari bukan bermaksud begitu."


Terang Nabila.


"Dibujuk Cevin?" sepasang mata Balqis yang indah mengerjap-ngerjap.


"Juga tidak."


Jawab Nabila.


"Lantas?"


Tanya Balqis.

__ADS_1


"Kemauan hatiku sendiri. Karena sejak pernikahanku dengan Cevin tidak menemukan kebahagiaan. Rupanya dia tidak bisa melupakanmu. Dia sangat mencintaimu. Kalau kau tahu keadaannya sekarang, sangat menyedihkan sekali. Tubuhnya kurus, pulangnya tengah malam dalam keadaan mabok. Apakah kamu tidak kasihan membiarkan nya terus menerus begitu? Tegakah?"


Jelas Nabila.


"Lalu apa yang musti aku lakukan?"


Tanya Balqis.


"Saya mengharap jangan putuskan hubungan kalian. Aku relakan mas Cevin hidup berdampingan dengan mu," kata Nabila tulus.


"Kamu gila ya?" ketus Balqis. "Aku masih punya suami dan tak ada seorang pun yang bisa memisahkan kami selain Tuhan."


Ucap Balqis.


Nabila terdiam, tapi matanya memandang perut Balqis yang mulai kelihatan membuncit. Balqis tahu bahwa Nabila sedang memperhatikan perutnya. Maka dia berkata...!


"Bayi yang tumbuh dalam kandunganku memang darah daging suamimu. Betapapun nista dan dosanya perbuatanku, akan kupertanggung jawabkan kepada Tuhan. Sebab aku memang menginginkan seorang anak dalam hidupku. Dia adalah satu-satunya harapanku di hari tua."


Jawab Balqis.


"Saya mengerti."


Ucap Nabila.


"Jadi aku mengharapkan supaya Cevin melupakan ku. Aku ingin hidup tentram bersama suamiku. Dan untuk selamanya aku ingin tetap setia terhadap suamiku walaupun keadaannya begitu." Jelas Balqis.


"Semuanya itu tinggal bagaimana perlakuan istri terhadap suami. Sebab ketentraman dan kebahagiaan seorang suami ada di tangan sang istri. Aku telah banyak mendengar perlakuan anda terhadap suami. Justru letak kesalahannya ada pada dirimu."


Tutur Balqis lembut.


Nabila tertunduk diam. Dia mulai mengintropeksi.


"Sejak kalian menjalani hidup berumah tangga, aku sudah berbuat tidak akan mengganggu ketentramanmu. Justru aku berkali-kali menasehati Cevin agar bisa menciptakan suasana harmonis di dalam keluarga. Dan dia kupaksa untuk melupakanku. Sebenarnya aku sudah lelah menjalaniku hanya untuk menghindarinya. Untuk menjauhinya."


Jelas Balqis lagi.


Perlahan-lahan Nabila mengangkat mukanya dan memandang Balqis. Dia merasa kagum dengan sifat perempuan itu. Lalu dia berpindah ke tempat duduk di sebelah Balqis. Dipeluknya perempuan itu sambil menangis.


"Mungkinkah mas Cevin mau mencintaiku, Balqis, Karena selama ini aku selalu menyia-nyiakan hidupnya. Tak pernah mengurusnya." Nabila seperti meratap sedih.


"Aku tahu betul sifat suamimu. Asalkan kau bisa mulai menyayanginya, memperhatikannya dan sedikit bermanja padanya, pasti dia akan membalas cintamu. Mulailah dari sekarang sedikit demi sedikit membuang keangkuhanmu." Jelas Balqis.


"Akan kujalani apa yang kau sarankan."


Kata Nabila.


"Dan ciptakanlah suasana harmonis dan penuh kegembiraan agar dia bisa melupakan aku."

__ADS_1


Lanjut Balqis.


Sejak Nabila menerima saran Balqis mulai merubah sikapnya. Setiap pulang kuliah tidak lagi keluyuran ke mana-mana. Terus pulang ke rumah dan menyiapkan makan siang. Barangkali saja suaminya pulang tanpa diduga. Di setiap ruangan sengaja dibelikan bunga untuk ditaruh dalam vas. Suasana indah dan rapi semakin dirasakan olehnya. Semua kenangan yang pernah dialami bersama Berry berusaha dilupakan. Apalagi Berry dikabarkan tak lama lagi akan bertunangan dengan Debby. Jadi alangkah bodohnya kalau terus memikirkan laki-laki itu.


Siang itu Nabila mengharapkan suaminya pulang ternyata yang ditunggu tidak muncul. Sampai waktunya jam makan malam masih belum pulang juga. Kendati begitu Nabila tetap berusaha sabar. Hampir semua majalah yang tadi dibelinya sudah selesai dibaca. Sampai penat dan lelah dia menunggu. Sesaat dia berbaring di atas tempat tidur, lalu bangun lagi menonton film seri di layar tv. Hingga acara tv selesai, laki-laki yang ditunggu masih belum datang.


Pasti pulangnya malam dan mabok lagi, pikir Nabila yang mulai kesal. Di sofa pantatnya diletakkan dengan kasar. Sebab rasa jengkel dan kesal sudah menyergap-nyergap dalam dada. Dan ketika pada puncak ke kejengkelannya, ada suara mobil berhenti di depan rumahnya.


Bergegas Nabila bangkit dan membuka pintu. Terus berlari keluar membuka pintu pagar halaman. Setelah itu ditutupnya rapat-rapat lagi. Cevin malam itu pulang sendirian tanpa diantar perempuan. Laki-laki itu melangkah turun dari mobil. Langkahnya sempoyongan menuju ke teras. Nabila buru-buru memeluk laki-laki itu dan dibimbingnya masuk ke rumah. Pintu rumah segera ditutup. Meneruskan langkahnya lagi menuju ke kamar depan. Kamar yang biasa ditempati oleh Nabila.


"Setiap pulang malam pasti mabok," gerutu Nabila.


Cevin tak memperdulikan ucapan istrinya itu. Sejak mereka hidup serumah belum pernah Nabila menegurnya seperti itu kepada Cevin.


"Kalau setiap malam terus-terusan begini badanmu bisa rusak, Mas." Nabila membaringkan tubuh Cevin ke atas tempat tidur. Tempat tidur pengantin yang belum pernah digunakan untuk tidur bersama. Lalu dibukanya sepatu Cevin oleh Nabila satu persatu. "Untung dalam keadaan mabok menyetir mobil tidak sampai terjadi kecelakaan," lanjut Nabila sambil membersihkan peluh dingin di wajah Cevin.


Sepasang mata Cevin yang kuyu bagai melihat bayang-bayang wajah Balqis. "Balqis...!!!" gumamnya lemah. Nabila cuma tersenyum. Tidak cemburu.


"Tidurlah."


Ucap Nabila.


"Aku ingin tidur bersamamu."


Balas Cevin.


"Tentu. Aku buka dulu kaos kaki dan pakaianmu, karena semuanya bau minuman keras. Aku gantikan pakaian tidur ya?" bujuk Nabila lemah lembut.


Cevin cuma mengangguk lemah. Dipelupuk matanya bayangan wajah Balqis tak mau hilang. Sedangkan Nabila mulai menggantikan pakaian suaminya itu. Bulu di sekujur badan Nabila yang merinding manakala jari tangan Cevin mengusap-usap kulit wajahnya. Lembut dan mesra sekali.


"Tak tahukah kau, aku sangat mencintaimu? Jangan tinggalkan aku ya sayang?" kata Cevin mesra sekali.


Lalu direngkuhnya tubuh Nabila untuk kemudian direbahkan di sisinya. Dipeluknya.


Nabila membalas pelukan suaminya dengan jantung berdebar-debar. Betapa hangat dan menggairahkan pelukan suaminya itu. Kedua matanya lalu terpejam meresapi kehangatan itu. Dan hembusan napas suaminya mulai dirasakan menyentuh kulit mukanya. Sentuhan lain dirasakan pula mendekati bibirnya. Berdebar-debar jantung Nabila. Makin tambah berdebar lagi manakala bibir suaminya ******* bibirnya. Ah, bau minuman keras. Tapi Nabila tidak perduli. Bahkan dibalasnya ciuman itu dengan penuh gairah.


Tubuh Nabila menggelinjang seperti cacing kepanasan. Sebab tangan Cevin begitu agresif meremas dan memilin tubuhnya. Sampai seberapa jauh Nabila terbawa arus kenikmatan tak dapat diukur lagi. Pertama dalam hidupnya, tapi tak mudah dilupakan sepanjang sisa hidupnya. Dia pasrahkan kesucian diri untuk suaminya walau malam pengantin sudah lewat.


Dan malam itu rasanya Nabila bermimpi. Mimpinya indah sekali. Sampai rasanya dia ingin menggapai mimpi yang digeluti kenikmatan, namun tak jua bisa. Berkali-kali mimpi itu terjadi. Seakan-akan seluruh sisa tenaganya terkuras habis di situ. Dia kadang-kadang tersadar sesaat manakala dirasakan ada sesuatu yang perih, pedih dan tak tahu apa lagi. Dan goncangan-goncangan laki-laki itu hanya dibalas dengan dekapan erat.


***


Sinar matahari menerobos masuk melalui celah-celah ventilasi jendela kamar. Burung-burung yang berkicau saling bersahut-sahutan. Suasana pagi yang indah dan cerah. Sisa-sisa embun masih berkilau menempel di permukaan dedaunan.


Sementara itu di dalam kamar, Cevin mulai membuka matanya perlahan-lahan. Langit-langit kamar sesaat diperhatikan, lalu beralih ke sampingnya. Di sampingnya tergolek tubuh seorang perempuan tanpa busana tapi ditutupi selimut. Kulit tubuh perempuan itu putih mulus tanpa ada satu cacat pun. Keadaannya masih tertidur pulas. Cevin memperhatikan dengan cermat. Lantas dia terheran melihat keadaan dirinya yang juga tanpa busana. Oh Tuhan, apa yang telah kuperbuat semalam dengan perempuan ini? Perempuan yang bukan Balqis.


Cevin segera menyambar pakaiannya. Perlahan-lahan dia melangkah turun dari tempat tidur. Aku telah mengingkari janjiku. Mengingkari sumpahku. Betapa memalukan, pikir Cevin yang gusar. Sebelum segalanya jadi berantakan dan memalukan, lebih baik pergi. Itu keputusan yang akan diambil olehnya.

__ADS_1


Hati-hati sekali Cevin mengambil beberapa stel pakaian lalu dimasukkan ke dalam koper. Jangan sampai Nabila terbangun. Jangan sampai Nabila tahu kalau dia akan pergi. Cevin memang berhasil tidak sampai membangunkan perempuan itu sampai dia bisa keluar kamar membawa koper.


__ADS_2