
Malamnya, Cevin terduduk dalam diam dikursi milik Irfan yang ditariknya menjauh dari meja belajar. Kedua matanya tertancap lurus pada secarik kertas di dinding di atas meja.
Catatan Irfan tentang Balqis.
Perlahan Cevin bangkit berdiri dan berjalan menghampiri meja belajar Irfan. Dilepasnya kertas itu dari dinding lalu dimasukkannya ke salah satu laci. Sudah tidak diperlukan lagi. Karena semua yang tertulis di kertas itu sudah terjadi di depan matanya.
Balqis jauh lebih berharga. Sebab dia adalah kenangan yang hidup. Dan satu-satunya tempat untuk Balqis adalah di sebelahnya. Sampai semuanya terbayar. Setiap usaha Irfan. Setiap waktu yang dia habiskan. Setiap kesabaran sekaligus ketidaksabaran ya. Setiap kecemasan dan harapannya. Dan segala yang terjadi di dalam penantian yang panjang itu.
Untuk pertama kalinya sejak kematian Irfan, Cevin berani membalik foto sang kakak yang selama ini digantungnya dalam posisi terbalik. Karena sekarang ruang kosong itu sebagian telah terisi.
Dan untuk pertama kalinya pula Cevin menatap kembali wajah Irfan yang tersenyum lebar di dalam pigura. Ia menarik napas panjang dan dalam, kemudian bicara dengan suara tenang namun penuh tekad.
"Gue tahan cewek lo di sebelah gue. Dan gue jamin, dia nggak bakalan bisa ke mana-mana!"
***
"Ceviiin…!!!"
Cevin menghentikan langkah dengan kaget. Dilihatnya Balqis keluar dari kerimbunan pepohonan tidak jauh dari halte bus, lalu menghambur ke arahnya.
"Lama banget sih datengnya? Gue sampe digigitin semut, tau!" Ucap Balqis.
"Lo ngirim SMS, gue udah di bus. Emang lo kira gue bayar ongkos berapa, bisa maksa sopirnya ngebut. Ngapain ngumpet di situ?" Balas Cevin.
Balqis meringis lebar lalu terkekeh-kekeh geli. Tidak dijawabnya pertanyaan Cevin. Namun dari cara Balqis yang meraih lalu menggenggam lengan kiri Cevin dengan kesepuluh jari dan berjalan agak sedikit di belakangnya, siap menjadikan punggungnya sebagai perisai, Cevin sudah bisa menduga.
Telah sebulan berlalu sejak mereka makan di kantin berdua, setelah Cevin kena marah Bu Tika Kartini. Cevin tidak membiarkan Balqis menjauh darinya dengan cara, siap menjadi bodyguard tiap kali cewek itu mendapatkan kesulitan karena sifat isengnya. Satu cara halus yang membuat Balqis tanpa sadar membutuhkan kehadiran Cevin.
"Lo ngisengin orang lagi, kan?" tanya Cevin.
Balqis meringis. "Mereka aja yang sense of humor nya nggak bagus kayak gue." Jawab Balqis.
"Sense of iseng, kali?" dengus Cevin. Balqis terkikik geli.
Begitu sampai sekolah, Cevin jadi tahu kenapa Balqis bersembunyi di belakang pepohonan tidak jauh dari halte dan menungguinya. Di ambang pintu kelas, Kiki, yang punya nama lengkap Kiki Jaya Sentosa, berdiri sambil bertolak pinggang.
"Hai, Kikiii...!" Balqis menyapa dan tersenyum manis.
"Nggak usah senyum-senyum!" sentak Kiki. Tapi itu malah membuat Balqis tertawa geli. "Tadi gue samperin ke halte, lo nggak ada. Ngumpet di mana lo?" Tanya Kiki.
"Lo kenapa sih pagi-pagi ngamuk?” tanya Cevin.
"Mau tau!?" Kiki menatap Cevin dengan mata melotot maksimal. "Sini!"
Kiki berjalan ke mejanya. Cevin mengikuti dengan kening berkerut. Sementara Balqis mengekor di belakang Cevin, masih sambil memegangi lengangnya. Ekspresi muka cewek itu khas kalau habis melakukan keisengan. Polos...!!!
"Lo liat tuh kerjaan si tukang iseng!" Kiki menunjuk dengan dagu ke arah dua buku tulisnya yang tergeletak di meja.
Kiki tuh rapi banget. Semua bukunya disampul cokelat. Namanya yang unik selalu ditulis dengan rapi di sudut kanan atas. Sementara nama mata pelajaran di tengah-tengah.
Cevin mengambil kedua buku itu, membaliknya dan nyaris saja tawanya meledak. Dibawah setiap tulisan nama Kiki, Balqis memberikan tambahan.
Kiki Jaya Sentosa
Lampung - Bekasi
Pulang - Pergi
Sementara di buku satunya:
Kiki Jaya Sentosa
Lampung - Jakarta
Via Tegal, Semarang, Brebes, Solo
__ADS_1
Tulisan itu sama sekali tidak bisa dihapus karena Balqis menulisnya dengan sepidol. Melihat keributan itu, seketika teman-teman sekelas merubung ingin tahu. Kedua buku itu kemudian berpindah-pindah tangan, dan setiap kali berpindah selalu membuat yang melihatnya tertawa geli.
"Lo iseng banget sih, Qis? Nulisnya pake sepidol, lagi. Kan nggak bisa dihapus." Cevin melirik Balqis yang berdiri di belakangnya. Seperti biasa, Balqis langsung ngeles.
"Ini salah Kiki, lagi. Abis namanya kayak bus malem gitu. Coba kalau biasa-biasa aja, kan gue juga nggak bakalan iseng." Ucap Balqis.
Cevin berlagak berpikir sebentar, kemudian mengangguk.
"Iya, bener. Elo yang salah, Ki. Kenapa juga nama lo kayak nama bus gitu. Bikin orang pengin iseng aja." Ucap Cevin.
"Apa!? Coba bilang sekali lagi!" Kiki melotot.
Apalagi teman-teman sekelas membenarkan argumen Balqis itu.
"Gue nggak mau tau! Pokoknya gue minta sampulnya diganti. Sekarang juga!" kata Kiki, nyaris teriak.
"Warnanya cokelat juga?" tanya Balqis berlagak bego.
"Ya iyalah!" Balqis melotot gemas. "Oke deeeh". Balqis mengangguk manis.
Bel masuk masih setengah jam lagi. Masih ada waktu untuk ke koperasi dan membeli sampul cokelat buat Kiki. Sebenarnya Balqis bisa sendiri, tapi ia minta ditemani Cevin.
Masih sambil menggenggam lengan Cevin, Balqis melangkah ke koperasi diiringi tatapan kesal Kiki dan cengiran teman-teman mereka.
***
Urusan dengan Kiki beres. Tapi tampaknya Balqis belum puas mengisengi teman-temannya.
Esok harinya, dua puluh menit sebelum pelajaran pertama dimulai, Balqis memasuki kelas. Tangan kanannya menggenggam amplop cokelat berukuran lumayan besar. Cewek itu berjalan menuju mejanya lalu meletakkan tasnya di sana. Sepasang matanya langsung menatap ke salah satu sudut belakang, ke tempat beberapa cowok sedang duduk berkelompok dan asyik mengobrol. Senyum samar seketika mengembang dibibirnya. Dihampirinya kerumunan cowok itu.
Walaupun setiap kali akan melakukan keisengan Balqis jarang menceritakan niatnya, insting Cevin langsung bekerja. Cowok itu, yang juga berada di antara kerumunan cowok yang didatangi Balqis, seketika memecah perhatiannya. Sebagian tetap mengikuti obrolan ramai di depannya, sementara sebagian lagi memperhatikan gerak-gerik Balqis.
Balqis, yang tahu bahwa Cevin mengawasinya, balas menatap sambil meringis lebar.
Keberadaan cowok itu justru membuatnya merasa aman. Karena itu, dengan tenang disibaknya kerumunan cowok yang sedang asyik ngobrol itu.
Bisikan itu cukup keras hingga seketika mampu menghentikan suara riuh. Lingkaran manusia di depannya kontan hening. Semua mata menatapnya.
Terbelalak maksimal...!!!
"Apa lo bilang?" tanya Wisnu. Tanpa sadar bertanya dengan bisikan, saking tidak percayanya ada yang berani membawa gambar telanjang ke sekolah. Dan cewek pula!
"Gue punya gambar telanjang!" ulang Balqis.
"Nggak mungkin!" bantah Wisnu. "Bohong, lo. Paling lo mau iseng lagi." Lanjut Wisnu masih tidak percaya.
Yang lain mengangguk mengiyakan.
"Ya udah kalo nggak percaya. Bener nih, nggak mau ngeliat? Hot, tau nggak?" Ucap Balqis.
Gaya santai dan cuek yang diperlihatkan Balqis untuk membungkus hasutannya berhasil. Wajah-wajah tak percaya itu kini mulai ragu.
"Beneran yang lo bawa itu gambar telanjang?" tanya Didik pelan.
"Yeee…" Balqis belagak kesal. "Kan tadi udah gue bilang?" Lanjutnya.
Sikap Balqis yang seakan jengkel karena dituduh bohong menghapuskan keraguan teman-temannya. Lingkaran cowok di depannya seketika mengecil dan merapat. Semua mata terpusat kepada Balqis dan amplop cokelat di tangannya.
"Bener itu gambar telanjang, Qis?" tanya Agus lirih.
"Sumpah! Makanya gue segel amplopnya, untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan." Jelas Balqis.
"Mana? Mana? Buruan liat!" Didik langsung mengulurkan kedua tangannya.
Yang lain mengikuti dengan sangat antusias. Ada yang menggosok-gosokan telapak tangan. Ada yang mendecak-decakkan lidah. Ada juga yang berusaha merebut amplop cokelat itu dari tangan Balqis. Tapi cewek itu mempertahankan dengan sigap.
__ADS_1
Balqis lalu melirik ke sekeliling dengan waspada, kemudian dengan gerakkan cepat diserahkannya amplop cokelat itu pada Ian, yang tepat berada di sebelahnya. Cowok itu menerima dengan sangat antusias.
"Lo ternyata rusak banget ya, Qis? Gue nggak nyangka," ucap Wisnu.
"Lo ngatain gue rusak banget, tapi lo terima juga. Berarti lo juga sama rusaknya, kan?" balas Balqis.
Wisnu meringis. Ia sudah siap merobek salah satu tepi amplop, tapi Balqis buru-buru mencegah.
"Tunggu! Tunggu! Jangan dibuka sekarang. Gue nggak mau dituduh udah nyebarin gambar porno di sekolah." Ucap Balqis.
Balqis cepat-cepat berlari ke luar kelas. Kerumunan cowok yang baru saja di tinggalkannya menatapnya heran.
"Emang udah jelas-jelas dia yang nyebarin kok. Ngapain juga pake dituduh?" kata Wisnu, membuat teman-temannya tertawa.
Sementara itu Cevin hanya bisa menatap Balqis dalam ketercengangan yang benar-benar hebat. Cowok itu sampai tidak mampu bersuara. Asli, ini gila banget! Udah bener-bener kelewatan! Balqis sinting!
Kerumunan cowok di depan Cevin semakin merapat, lalu terdengar suara amplop disobek, dan sedetik kemudian terdengar… seruan marah bercampur sumpah serapah!
Balqis, yang berdiri di luar dan mengawasi dari balik jendela, lansung berlari menjauh sambil tertawa keras-keras. Kerumunan cowok di depan Cevin langsung buyar. Ekspresi dongkol, geram, jengkel, kesal, bahkan marah, terpusat pada Balqis. Mereka kemudian berjalan keluar karena mendapati Balqis sudah tidak ada lagi di koridor tempat dia tadi berdiri. Di sana, kembali cowok-cowok itu menyumpahi Balqis. Beberapa sambil mengacung-acungkan jari telunjuk atau kepalan tinju.
"Balqis sialan! Kurang ajar! Kirain gambar telanjang betulan!"
"Awas lo, Qis, ya! Liat aja ntar! Jangan dikira bisa selamet!"
Namun ancaman itu justru membuat tawa terbahak Balqis semakin menjadi-jadi. Di ujung koridor, di dekat tangga, cewek itu sampai terbungkuk-bungkuk karena tawanya yang tak putus membuat perutnya sakit.
Cevin meraih amplop cokelat yang tergeletak di meja, lalu mengeluarkan isinya. Seketika tawanya meledak keras. Balqis tidak bohong. Dia benar-benar membawa gambar telanjang. Tepatnya, foto telanjang. Tapi foto ayam. Ayam potong yang benar-benar montok yang mungkin dibeli mamanya di tukang sayur, diatur dalam posisi duduk. Satu pahanya menyilang di atas paha yang lain. Kedua sayapnya diatur seolah sedang bertolak pinggang. Lalu difoto close up. Sambil geleng-geleng kepala dan tertawa tanpa suara, Cevin memasukkan kembali foto itu ke amplop.
Setelah puas menyumpah-nyumpah dan melontarkan ancaman yang belakangan diwarnai senyum geli, para cowok itu kembali masuk kelas. Kali ini menuju bangku masing-masing, karena jam pelajaran pertama akan segera dimulai.
Tak lama ponsel Cevin berbunyi. Ada SMS masuk. Dari Balqis.
Vin, gw udh bs msk kls blm?
Sambil menahan senyum, Cevin segera membalas.
Blm! Mrk mlh blg, kl lo brani msk kls, Lo mo ditelanjangin!
Sedetik kemudian ponsel Cevin berdering, dengan ringtone yang menandakan itu dari Balqis. Begitu diangkat, langsung terdengar jeritan dari sang penelpon.
"Masa sih!? Orang gue cuma bercanda kok. Pada nggak asyik nih. Bercanda gitu doang kok marah." Ucap Balqis.
"Mereka ngomongnya gitu kok." Cevin menyeringai. "Di mana posisi lo sekarang?"
"Di depan tangga. Gimana dong, Vin? Bentar lagi bel nih." Kata Balqis lagi.
"Lo tunggu di situ. Nanti gue jemput." jawab Cevin, kemudian menutup telepon tanpa menunggu jawaban Balqis.
Balqis menyambut kedatangan Cevin dengan cengiran lebar, yang segera berubah menjadi tawa gelak. Cevin hanya bisa geleng-geleng kepala tapi akhirnya ikut tertawa.
"Elo tuh ya…" Cevin tidak mampu menyelesaikan kalimatnya. Sadar dirinya kini terlindung, begitu sampai kelas, sambil ketawa geli, Balqis menggoda teman-teman yang telah sukses dijailinya.
"Pahanya oke banget, kan? Montok dan seksi! Kayaknya itu ayam oriental deh, soalnya putih. Kalo ayam Arab, item kali, ya? Makanya nggak gue pilih. Secara di tukang sayur juga nggak ada. Lagi pula kalo ayam Arab, takutnya pas difoto pahanya kurang keliatan jelas gitu." Ucap Balqis.
Cowok-cowok itu menatap Balqis dengan tatapan dongkol, gemas, juga merasa blo’on. Kok bisa-bisanya mereka tertipu padahal sudah jelas-jelas Balqis itu tukang ngisengin orang. Cevin menoleh. Ditatapnya Balqis dengan sorot mata agak kesal. Balqis malah jadi terkekeh geli melihat muka Cevin.
"Gue punya gambar telanjang yang lain. Mau liat lagi, nggak?" sambungnya kepada teman-temannya yang masih menatapnya itu.
Cevin berhenti melangkah...!!!
"Bener-bener gue tinggal lo, Qis, ya?" ancamnya. "Gue pindah duduk nih?"
"Eh, jangan! Jangan!" serta merta Balqis mencekal satu lengan Cevin. Diikutinya langkah cowok itu menuju meja mereka. Setelah duduk manis di bangkunya selama beberapa saat dan teman-teman yang tadi diusilinya masih juga menatapnya, Balqid mengangkat kedua jari telunjuk dan tengahnya, membentuk huruf V.
"Peace! Peace! Damaaaiii!"
__ADS_1
Ketika wajah-wajah itu tidak menunjukan reaksi, Balqis tertawa geli.