LORONG TAK BERUJUNG

LORONG TAK BERUJUNG
BAB 43 : PEMUDA IDAMAN AMANDA


__ADS_3

Setelah mengambil buah-buahan yang berada di dalam sebuah kantong, Rahmawati mengajak Farel menyewa sebuah villa. Langsung Rahmawati membayar ongkos sewa villa tersebut kepada pemiliknya. Rahmawati dan Farel duduk di depan, buah-buahan diletakkan di atas meja, namun tas yang dibawa oleh Rahmawati tidak terlepas dari tangannya, mungkin ia takut ketinggalan.


"Sungguh nyaman duduk di sini, hawa segar, panorama mempesonakan, apa lagi di sisi terdapat seorang gadis yang cantik jelita." gumam Farel.


"Benarkah saya cantik jelita?" Tanya Rahmawati mendadak.


"Rahma, kau lebih cantik dari pada segala apa yang terdapat di sini, kau lebih halus dan lebih lembut dari pada kain sutera!" Ucap Farel.


"Ohoi, Farel!" Ucap Rahmawati sambil tersenyum geli. "Rayuan apa ini namanya?" Lanjut Rahmawati.


"Bukan rayuan, melainkan kesungguhan pujian untukmu!" Farel tertawa girang. "Apakah kau tidak merasa senang atas pujian saya?" Lanjutnya.


"Senang!" Wajah Rahmawati cerah. "Oh ya! Jangan lupa buah-buahan." Rahmawati membuka kantong itu. Ia mengeluarkan dua buah jeruk, sebuah diberikannya kepada Farel, Farel menyambut dengan wajah berseri-seri.


"Tidak disangka kita akan duduk di sini." Ucap Farel sambil mengupas jeruknya.


"Saya sendiri juga masih bingung, kenapa kita bisa bertemu dan duduk di sini?" Sambung Rahmawati seraya mengupas jeruknya juga.


"Apakah ini yang dinamakan takdir?" Tanya Farel.


"Mungkin juga!" Rahmawati mengangguk. Kulit jeruk ditaruh di atas meja, perlahanlahan mereka menikmati manisnya jeruk.


"Farel, kenapa jeruk ada yang manis dan ada yang rasanya asam?" Tanya Rahmawati mendadak.


"Seperti penghidupan manusia!" Jawab Farel. "Ada yang hidup senang dan ada yang hidup melarat, ada yang hidup bahagia dan ada yang hidup sengsara, seperti jeruk inilah! Malah ada semacam jeruk yang rasanya pahit!" Jelas Farel.


"Benarkali ada jeruk yang rasanya pahit?" Rahmawati membelalakkan matanya.


"Ada! " Jawab Farel. "Jeruk kempos!"


"Jeruk kempos?" Rahmawati tidak mengerti.


"Artinya jeruk yang tidak ada sarinya!" Jawab Farel menjelaskan.


"Oh!" Rahmawati mengangguk. Kemudian ia berkata dengan suara lembut: "Farel, tadi kau bilang ingin beristirahat, bagaimana istirahat saja di dalam kamar, bisa juga tidur-tiduran untuk melepaskan lelah." Lanjut Rahmawati.


"Benar juga saranmu." Farel berdiri dan diikuti oleh Rahmawati, langkah mereka diayunkan ke arah kamar, setelah berada di dalam kamar, Farel langsung menghempaskan dirinya ke atas tempat tidur, sedangkan Rahmawati mengunci pintu. Kemudian ia duduk di samping Farel sambil menatap dengan mata bersinar-sinar.


"Rahma, kau ingin beristirahat juga?" Tanya Farel.


"Em!" Balas Rahmawati.


Dengan cepat Farel menggeserkan badannya ke pinggir dalam, dengan malu-malu Rahmawati membaringkan dirinya ke atas tempat tidur, kini mereka telah tiduran seranjang atau satu tempat tidur yang sama. Hati Rahmawati berdebar-debar aneh. Sekujur badannya terasa panas, ia menggeliat sebentar, kemudian ia membalikkan badannya dan menghadap ke arah Farel.


"Farel..." Suaranya gemetar serta mendesis.


"Ada apa? Rahma!" Farel membalikkan badannya, sehingga ia berhadapan muka dengan Rahmawati.


"Saya" Mendadak Rahmawati merangkul Farel disertai hawa nafsu yang bergelora. "Saya ingin menyerahkan kesucian kepadamu!" Lanjut Rahmawati.


"Rahma!" Farel mengerutkan keningnya, perlahan-lahan ia melepaskan rangkulan Rahmawati dan bangun dari tempat tidur, kemudian ia duduk di kursi yang berada di dalam kamar itu.


"Bangun dan duduk di sini!" Farel menunjukkan sebuah kursi yang dipisahkan oleh sebuah meja.


Perlahan-lahan Rahmawati bangun dari tempat tidur dan duduk di kursi yang ditunjukkan oleh Farel, ia menatap Farel dengan perasaan heran.


"Ada apa?" Tanya Rahmawati.


"Rahma...!" Farel tersenyum. "Hampir saja kau terjerumus oleh hawa nafsumu sendiri!"


Wajah Yeni spontan berobah merah, ia tidak berani memandang ke arah Farel, kepalanya ditundukkan. "Rahma...!" Ucap Farel dengan suara halus. "Walaupun kita saling mencintai, tapi haruskah kita berbuat begitu?" Tanya Farel lembut.


Rahmawati tidak berani menjawab, mulutnya membungkam, matanya menatap ke bawah.


"Berapa banyak muda-mudi yang terjerumus lantaran perbuatan tersebut!" Suara Farel menggetarkan hati Rahmawati, sehingga matanya mulai berkaca-kaca. "Meskipun tiada yang mengetahui atau tiada yang menyaksikan perbuatan ini, namun Yang Maha Kuasa tetap menyaksikannya, haruskah kita berbuat dosa?" Mata Farel jauh memandang. "Haruskah kita mencemarkan diri kita sendiri? Hanya semata-mata menikmati senggama itu?" Setetes demi setetes air mata Rahmawati jatuh ke bawah membasahi lantai yang dipijaknya.


"Berapa banyak muda mudi yang berbuat begitu, walau akhirnya mereka kawin juga sebagai mana mestinya, namun, bahagiakah mereka? Rukunkah mereka?" Suara Farel tetap halus, malah kini bertambah lembut dan sabar. "Tahukah kau bahwa mereka telah kehilangan kebahagiaan yang semestinya mereka ingat hingga di hari tua?" Farel berhenti sebentar, kemudian ia baru melanjutkan. "Kebahagiaan apa yang harus mereka ingat selalu? Tidak lain ialah malam pertama bagi penganten baru. Apakah mereka masih mempunyai malam pertama? Tidak ada!" Farel menatap ke arah Rahmawati sebentar. "Betapa kasihannya diri mereka yang telah kehilangan malam pertama, maka, seterusnya bisakah mereka hidup dengan bahagia?" Farel menghela nafas.


"Farel ..." Tiba-tiba Rahmawati berseru, "Maafkanlah saya!" Rahmawati bangun dari tempat duduknya, kemudian ia menubruk Farel sambil menangis tersedu-sedu, perlahan-lahan badannya merosot ke bawah, buru-buru Farel mengangkat badannya sembari membelai rambutnya dengan penuh kasih sayang, sejenak kemudian Rahmawati kembali ke tempat duduknya. Pipinya telah basah oleh air matanya.


"Farel... maafkanlah saya!" Ucap Rahmawati sesenggukan.


"Rahma, kau tidak bersalah!" Ucap Farel sungguh-sungguh. "Batinmu masih kurang kuat menghadapi segala godaan, hal tersebut sangat membahayakan dirimu!" Farel menggeleng-gelengkan kepalanya. "Untung kau bertemu dengan saya dan lebih untung lagi ialah saya mencintaimu dengan kesucian hati, kalau tidak, coba kau bayangkan, bukankah sekarang kau akan menangisi nasibmu?" Farel tersenyum ramah. "Mudah-mudahan dengan adanya kejadian ini, batinmu akan bertambah kuat!" Jelas Farel lembut.


"Farel, terimakasih atas nasihatmu, sehingga saya menyadari kesalahan saya!" Ucap Rahmawati sambil menahan isak-tangisnya. "Lebih-lebih saya berterimakasih atas kesucian cintamu, sehingga saya tidak terjerumus ke perbuatan yang melanggar ajaran agama." Lanjut Rahmawati.


"Rahma...!" Farel tersenyum lembut. "Kau jangan menangis lagi." Balas Farel.


"Farel, saya menangis karena terharu oleh keluhuran hatimu, kini... saya baru mengetahui apa yang dinamakan cinta." Rahmawati mulai tersenyum.


"Rahma! Kau sudah tersenyum lagi, senyuman mu lebih manis dan lebih cerah dari pada sebelumnya." Ucap Farel tulus.


"Farel..." Mendadak Rahma berdiri dan menghampiri Farel, buru-buru Farel juga berdiri. "Farel... bolehkah saya memelukmu?" Tanya Rahmawati.


"Pelukan yang berdasarkan kasih sayang bukanlah merupakan larangan." Farel tersenyum.


"Farel..." Rahmawati memeluknya. "Terimakasih, Farel!" Ucap Rahmawati berbisik lirih.


"Rahma..." Farel juga membalas pelukan Rahma, terpadulah cinta kasih mereka yang suci murni.


"Rahma, sudah waktunya kita pulang!" Labjut Farel.


"Ya!" Rahmawati meletakkan kepalanya di bahu Farel.

__ADS_1


Sejenak kemudian, barulah mereka melepaskan pelukan masing-masing disertai senyuman yang mesra. Mereka tidak melupakan buah-buahan yang masih terletak di meja depan, apa lagi Rahmawati, tasnya tetap tergantung di bahunya.. Keluar dari villa itu, langsung mereka menuju ke tempat parkir, dengan tersenyum-senyum pak sopir menyambut mereka. Setelah mereka naik ke dalam mobil, langsung pak sopir meluncurkan mobilnya kembali ke Jakarta. Tiba di Jakarta, hari telah mulai malam, mereka singgah dulu di sebuah restoran untuk mengisi perut, selesai makan, mereka kembali ke mobil.


"Farel, saya ingin membayar ongkos mobil di sini saja!" Ucap Rahmawati.


"Bukankah lebih baik kau menyuruh pak sopir mengantarmu pulang?" Tanya Farel.


"Jangan, saya tidak mau sampai pak sopir mengetahui alamat saya!" Ucap Rahmawati.


"Oh... ya! Saya lupa!" Farel tersenyum. "Kalau demikian, setelah kau membayar ongkos mobil, berarti kita akan berpisah di sini?" Ucap Farel.


"Bagaimana kita jalan-jalan sebentar lagi?" Balas Rahmawati.


"Jangan, sebab hari sudah mulai malam, saya khawatir..." Kata Farel terputus.


"Khawatir saya diomeli." Balas Rahmawati.


"Ya!" Balas Farel.


"Baiklah! Saya akan membayar ongkos mobil dulu." Rahmawati menghampiri pak sopir, ia mengeluar kan uangnya dari dalam tas, setelah menghitung, lantas diberikannya kepada pak sopir.


"Terimakasih, nona!". Ucap pak Sopir. "Lain kali kalau nona memerlukan mobil, datang saja di pangkalan!"


"Baik, pak!" Jawab Rahmawati.


Rahmawati membalikkan badannya dan kembali ke tempat Farel.


"Sudah saya bayar!" Ucap Rahmawati. "Oh ya! Farel, apakah kau masih mempunyai ongkos?" Lanjut tanya Rahnawati.


"Masih, malah uangmu yang tempo hari belum saya pakai !" Jawab Farel.


"Gunakanlah untuk keperluanmu!" Balas Rahmawati.


"Saya merasa malu!". Jawab Farel.


"Farel, kalau kau merasa malu, berarti kau... tidak setia!" Balas Rahma sedikit merajuk.


"Rahma, saya selalu setia, tapi mengenai uang adalah urusan lain, tidak bisa saya pergunakan!" Jelas Farel.


"Farel..." Mata Rahmawati mulai berkaca-kaca. "Kenapa kau berpikiran begini?" Lanjutnya.


"Karena saya harus mencari uang dengan hasil keringat saya sendiri!" Ucap Farel tegas. "Uangmu tetap saya simpan dengan baik-baik!"


"Farel, seandainya kau merasa malu menggunakan uang saya, lebih baik pulangkan saja!" Rahmawati sesenggukan.


"Rahma... Maafkanlah, uangmu pasti saya gunakan untuk keperluan saya!" Jawab Farel.


"Betul?" Tanya Rahmawati.


"Betul!" Balas Farel.


"Baiklah! Terpaksa kita berpisah sampai di sini, jangan lupa besok bertemu di sekolahan saya!" Balas Rahmawati.


"Ya!" Jawab Farel dengan senyuman.


Setelah saling menggenggam tangan, Rahmawati pulang dengan taxi, sedangkan Farel, tetap dengan ojek. Tiba di rumah Farel melihat Amanda sedang berdiri di pekarangan rumah.


"Kak Farel!" Seru Amanda dengan girang. "Kau sudah pulang?"


"Ya!" Jawab Farel, kemudian ia bertanya. "Amanda, kau sedang menunggu papamu?"


"Bukan!" Jawab Amanda. "Saya sedang menunggu kak Farel!" Balas Amanda.


"Saya tidak perlu ditunggu!" Farel tersenyum. "Papamu sudah pulang?" Lanjut tanya Farel.


"Belum!" Jawab Amanda.


"Amanda, di mana Ilham?" Farel mulai berjalan ke dalam rumah.


"Biasa, ke rumah temannya!" Amanda mengikuti Farel.


"Waduh! Letih benar!" Farel duduk sambil menyandarkan punggungnya ke belakang.


Bergegas Amanda masuk ke dalam setelah mendengar Farel mengeluh letih, tak lama kemudian, Amanda keluar lagi sambil membawakan segelas air.


"Kak Farel, minum dulu!" Ucap Amanda.


"Ah! Amanda!" Ucap Farel. "Saya bisa ambil sendiri!" Farel menyambutnya, setelah meneguk beberapa kali, ia meletakkan gelas itu di atas meja.


"Amanda, mana mamahmu?" Tanya Farel kemudian.


"Oh! Mamah sedang ke rumah familinya!" Amanda duduk di hadapan Farel. "Kak Farel sudah mandi?" Tanya Amanda.


"Belum!" Farel menggeleng.


"Oh... ya! Kak Farel baru pulang dari Puncak kan?" Tanya Amanda sambil menatap Farel.


"Ya!" Jawab Farel.


"Senangkah kak Farel di Puncak?" Tanya Amanda.


"Senang!" Jawab Farel. "Di situ hawa udara, nya sangat sejuk." Jawab Farel lagi.


"Senangkah kak Farel berjalan-jalan dengan gadis itu?" Tanya Amanda ingin tahu.

__ADS_1


"Eh!" Ucap Farel. "Kenapa kau harus tahu?" Balas Farel.


Farel membelalakkan matanya. "Amanda, kau belum dewasa, tidak boleh mengetahui urusan orang dewasa!" Balas Farel.


"Saya hanya bertanya, bukan ingin mengetahuinya!" Amanda tersenyum.


"Bagaimana anggapanmu?" Tanya Farel mendadak.


"Anggapan saya kak Farek pasti senang, betulkan?" Amanda tertawa kecil.


"Kenapa kau menganggap demikian?" Tanya Farel.


"Dari wajah kak Farel yang tersenyum-senyum!" Jawab Amanda jujur.


"Waduh! Sampai saya tersenyum-senyum kau juga mengetahuinya." Ucap Farel. "Kalau demikian, kau sering memperhatikan wajah saya?" Tanya Farel kemudian.


"Tidak!" Wajah Amanda berobah merah. "Oh ya! Kak Farel sudah makan belum?" Tanya Amanda untuk menutupi rasa malunya.


"Sudah!" Jawab Farel tersenyum.


"Kak Farek makan di restoran bersama dengan gadis itu kan?" Tanya Amanda.


"Kalau bukan bersama dia, siapa lagi?" Farel tersenyum. "Eh! Amanda, apakah kau masih memikirkan pemuda idamanmu?" Tanya Farel.


"Setiap malam juga saya memikirkan selalu!" Jawab Amanda.


"Waduh! Amanda, saya kuatir nanti kau akan sakit rindu!" Ucap Farel. "Kau masih kecil, tidak boleh sakit rindu." Farel tertawa lebar.


"Tidak mungkin saya akan sakit rindu." Balas Amanda.


"Karena kau masih kecil, maka kau tidak mengetahui apa itu sakit rindu?" Balas Farel.


"Siapa bilang saya tidak mengetahuinya?" Balas Amanda.


"Kalau begitu, tolong jelaskan!" Farel terbelalak.


"Sakit rindu dikarenakan terlalu banyak memikirkan seseorang, jarang bertemu serta jarang berdekatan, sehingga pikiran selalu tertuju pada orang tersebut menyebabkan dirinya ingin bertemu, namun tidak kesampaian dan akhirnya menjadi rindu. Begitu kan?" Jelas Amanda.


"Saya sendiri masih belum mengetahui bagaimana saya bisa tahu?" Farel nyengir sambil menatap Amanda. "Oh... ya, saya ingin mandi dulu!" Lanjut Farel.


"Saya akan menyediakan air panas!" Amanda berdiri.


"Tidak usah, Amanda!" Tolak Farel.


"Harus!" Ucap Amanda tegas. "Kak Farel baru pulang dari Puncak dan kena hawa dingin, seandainya tidak mandi dengan air panas, nanti akan masuk angin!" Bergegas Amanda berjalan ke dalam dapur tanpa menghiraukan Farel masih duduk terbengong-bengong. Ia mengambil sebuah ember dan diisi dengan air termos yang masih panas, kemudian ia membawa ember ke dalam kamar mandi dan mengisikan air bak ke dalam ember itu. Setelah selesai, barulah ia kembali ke ruangan tamu.


"Kak Farel, air panas telah saya sediakan!" Jelas Amanda.


"Amanda, kau sangat baik!" Farel berdiri dari tempat duduk sambil membelai rambut Amanda. "Mudah-mudahan setelah kau dewasa, kau akan mendapatkan seorang pemuda yang baik." Lanjut Farel.


"Kak Farel." Ucapnya. "Saya kan sudah beritahukan bahwa saya telah mempunyai pilihan


hati..." Balas Amanda.


"Oh... ya! Saya lupa!" Farel tersenyum sambil berjalan menuju ke kamar mandi, la tidak mengetahui Amanda sedang memperhatikan dirinya. Setelah selesai mandi, Farel kembali ke ruangan tamu, ia melihat Amanda sedang membaca majalah.


"Amanda, malam ini kau tidak belajar?" Farel duduk di hadapan Amanda.


"Sudah!" Amabda meletakkan majalah ke atas meja. "Tadi saya sudah belajar."


"Ilham?" Tanya Farel.


"Ilham juga sudah selesai belajar." Mendadak Amanda teringat sesuatu. "Kak Farek, nanti malam kak Farel tidur di kamar, tidak usah di sini lagi!" Ucap Amanda.


"Kalau saya tidur di kamar, kau sendiri tidur di mana?" Tanya Farel.


"Di dalam kamar papah dan mamah!" Balas Amanda.


"Mana bisa!" Farek menggeleng. "Saya akan tidur di sini saja!" Ucap Farel lagi.


"Kemauan papah!" Ucap Amanda. "Tadi pagi papah telah membeli sebuah ranjang lipat dan ditaruhkan di dalam kamarnya, pesannya kepada saya bahwa mulai malam ini saya akan tidur bersama mamah dan papah akan tidur di ranjang lipat, maka, kak Farel malam ini tidur bersama Ilham." Balas Amanda menjelaskan.


"Mana boleh?" Farel menarik nafas.


"Kenapa tidak boleh?" Tanya Amanda. "Bukankah mamah pernah bilang, anggaplah seperti rumah sendiri." Lanjut Amanda.


"Saya di sini terlalu merepotkan orang tuamu, terutama dirimu." Ucap Farel. "Saya sering merasa tidak enak dalam hati." Farel menghela nafas.


"Kak Farel jangan berkata demikian, seperti halnya saya mencuci pakaian kak Farel, itu adalah kemauan saya sendiri, maka, kak Farel jangan menyinggung hal tersebut." Balas Amanda.


"Kau sangat baik, Amanda. Nanti kau akan kakak carikan lelaki yang baik dan saya kenalkan dengannya." Balas Farel.


"Terimakasih, kak Farel, saya tidak ingin berkenalan dengan siapa pun." Jawab Amanda tegas.


"Waduh! Saya lupa lagi!" Farel tersenyum.


"Karena kau telah mempunyai pemuda idaman di hatimu." Balas Farel.


"Kak Farel jahat, ah!" Amanda menundukkan kepalanya dengan wajah memerah. Sejenak kemudian mendadak Amanda mengangkat kepalanya sambil menatap Farel dengan pandangan aneh. Hal tersebut diketahui oleh Farel, tercekat hatinya! "Wah! Celaka!" Teriaknya di dalam hati.


"Jangan-jangan yang dimaksudkan pemuda itu adalah diri saya, waduh! Hal ini harus dicegah, tidak boleh hingga berlarut-larut, akan membahayakan dirinya." Pikir Farel di dalam hatinya, maka segera ia berkata pada Amanda dengan suara yang lembut.


"Amanda, saya harap kau jangan berpikir hal-hal yang tidak wajar, hal tersebut akan membahayakan dirimu." Ucap Farel. "Saya mengerti apa yang kau pikirkan, ingat! Amanda, hal itu akan merusak dirimu." Farel berhenti sebentar, ia menatap tajam-tajam ke arah Amanda. "Kau tidak boleh mencintai pemuda yang kau idam-idamkan, sebab pemuda itu hanya menganggap kau seperti adiknya sendiri, oleh karena itu, saya harap kau harus menghilangkan pikiran itu, supaya tidak menjadi beban pikiranmu dan beban pikiran pemuda itu!" Jelas Farel.

__ADS_1


"Kak Farel..." Mendadak Amanda berdiri dan lari ke dalam kamar ibunya.


Di dalam kamar, ia menangis tersedu-sedu dan air matanya mengucur dengan deras. Betulkah ia telah jatuh cinta pada Farel? Namun, umurnya baru lima belas tahun. Farel duduk termenung sendirian di ruangan tamu, pikirannya menjadi kusut, ia merasa kasihan pada Amanda, memang ia menyayangi dan mencintainya, namun, Amanda dianggapnya seperti adik kandung sendiri, lagi pula umurnya masih terlalu muda, mustahil Amanda sudah mengenal cinta. Farel tersenyum kecut, tiba-tiba ia teringat pada Rahmawati, begitu bayangan Rahmawati terpajang di depan matanya, spontan hatinya berobah menjadi bahagia.


__ADS_2