
"Jangan terlalu yakin dengan pikiranmu bahwa Tuhan kembali mempertemukan kita untuk dipersatukan kembali karena menurutku semuanya telah berlalu, Fadly. Lupakan tentang masa lalu yang pernah ada di antara kita. Kita kan bukan anak muda lagi." Cindy mencoba bersikap dewasa.
Namun jawaban yang keluar dari mulut Cindy membuat Fadly gelisah. Kini ia memajukan duduknya dan memberanikan diri meraih jemari tangan wanita yang pernah dicintainya. Dan itu tentu saja membuat Cindy sempat kaget. Sejak suaminya meninggal, belum pernah ia di sentuh lelaki lain walau pun hanya untuk menggenggam tangannya. Deska sendiri pun yang telah cukup lama bergaul akrab dengannya belum pernah berbuat seperti apa yang dilakukan Fadly saat ini.
"Cin," bola mata Fadly makin terlihat murung. Ditariknya jemari tangan Cindy lalu di kecupnya hangat, membuat Cindy terkesima. "Aku masih mencintaimu. Hanya engkaulah wanita idaman yang ada dalam hatiku dan selalu kurindukan siang malam," bisiknya dengan suara bergetar.
Melihat sikapnya itu sungguh Cindy hampir saja luluh. Namun bayangan istri Fadly yang tentu saja tak akan suka suaminya bermain cinta lagi dengan wanita lain tertera jelas dalam benaknya. Ditambah lagi dia tak ingin dituduh Lelah menghancurkan rumah tangga orang lain.
"Maafkan aku, Dly," ucapnya kemudian dengan lidah kelu. "Aku tahu kalau kau masih menyayangi dan mencintaiku. Tapi itu tak membuat kita harus bersatu, Dly." Ucap Cindy lirih tetap tegas.
"Kenapa?" Fadly menelan ludahnya yang terasa pahit.
"Karena... aku... aku sudah dipinang lelaki lain...," ucapan itu begitu saja meluncur dari bibir Cindy.
Mungkin, dia memang harus berdusta agar Fadly mau mengerti dan tidak memaksakan kehendaknya.
"Jadi...?" Seketika genggaman tangan Fadly lepas dari jemarinya.
"Sudah ada lelaki lain yang mengisi hatiku dan siap menjadi pengganti ayah dari anak-anakku. Dalam waktu dekat, mungkin kami akan menikah," gugup juga Cindy merangkaikan kalimat itu. Di matanya melintas wajah Deska yang amat disenangi anak-anaknya dan telah mengisi hari-harinya belakangan ini.
"Siapa lelaki yang beruntung itu, Cin?" Fadly menghempaskan napasnya yang terasa berat.
"Usianya selisih cukup jauh dariku Dly, Tapi anak-anakku sudah mengenalnya dan mereka bisa berteman baik," jelas Cindy akhirnya.
Beberapa saat keheningan melingkupi malam yang sepi itu. Kembali Fadly menghempaskan napasnya sebelum akhirnya berkata.
"Maafkan aku yang terlalu emosional tadi. Cin. Kau benar, mungkin Tuhan memang belum menjodohkan kita walau mulanya ku yakin kita akan dapat bersatu lagi karena keadaan kita yang kurasa cukup mendukung." Lanjut Fadly.
"Rencana Tuhan memang di luar perkiraan
manusia, Dly. Maafkan juga aku. Bukan maksudku untuk kembali melukai hatimu." Cindy tertunduk.
Tak terasa setitik air bening menetes dari sudut matanya.
"Tidak apa-apa," lelaki itu mencoba tegar. "Yang penting kita tetap bersahabat kan?" Lanjut Fadly.
Perlahan Cindy mengangguk. Betapa tegarnya Fadly menerima kenyataan yang tentu cukup menyakitkan baginya. Dan Cindy hanya bisa
__ADS_1
mengeluh pelan saat menyadari kembali dia harus, berpisah dengan lelaki yang pernah hadir dalam hatinya. Takdir memang tak pernah menghendaki mereka bersatu. Keinginannya untuk membahagiakan anaknya lebih besar dari kepentingan hatinya sendiri.
Biarlah kisah lalu ia pergi dari kehidupannya...!!!
Biarlah ia mencoba lagi merajut kisah baru yang tentu saja tak akan dilalui oleh dinnya sendiri saja, karena kini sudah ada dua orang buah hatinya yang harus lebih dipikirkan ketimbang dirinya sendiri.
Begitu Fadly minta diri, Cindy pun melepas lelaki itu dengan hati haru bercampur lega.
***
Malam Minggu yang cerah. Di atas langit bintang bersinar cerah. Di sebuah bangku taman dengan hamparan rumput yang menghampar hijau, dua pasang mata berseri-seri memandang ke arah sepasang bocah cilik yang sedang berlari-lari
dengan riang gembira. Seulas senyum merekah di bibir Cindy yang nampak bahagia memperhatikan dua anaknya yang kelihatan ceria. Begitupun dengan Deska yang duduk di sisinya.
Sudah beberapa hari ini Cindy mempertimbangkan dengan baik-baiknya mengenai keputusan apa yang akan diambilnya. Tak ada lagi keraguan dan kebimbangan di harinya tentang sikap Deska yang bijak dan penuh perhatian. Mungkin hari inilah keputusan itu layak diungkapkan, namun Cindy tak tahu harus memulai dari mana. Diliriknya Deska yang lurus mengerahkan pandangan pada anak-anaknya yang bermain tidak jauh dari tempat duduk mereka.
Dada Cindy berdebaran...!!!
Diam-diam dipandanginya lelaki yang sudah kelihatan matang baik usia maupun tingkah lakunya itu.
"Ah, nggak," sahut Cindy kikuk. Dibetulkannya sikapnya yang nampak canggung.
"Sepertinya kamu kelihatan gelisah," ujar Deska menebak. "Kalau memang ada yang ingin kamu katakan, katakan saja." Lanjut Deska dengan senyuman.
Cindy menarik napasnya perlahan, mencoba menenangkan hatinya yang makin berdetak kencang.
"Hm, anu, Mas," ujar Cindy kemudian begitu dapat menguasai keadaan. "Aku ingin memberi jawaban atas ungkapan perasaan yang pernah Mas katakan padaku tempo hari." Lanjut Cindy.
"Oya?" Seketika bola mata Deska berseri-seri karena aejujurnya sudah sekian lama memang Deska menanti jawaban itu.
Rupanya sekaranglah saatnya...!!!
"Katakanlah, Cindy," ujar Deska lagi dengan tak sabar. "Aku akan siap menerimanya, betapa pun itu akan menyenangkan atau menyedihkan hatiku..." Lanjut Deska tetap dengan senyuman dan perkataan yang penuh kelembutan.
"Mas...," Cindy memalingkan wajahnya kembali. "Sudah kupikirkan masak-masak, aku... aku akan menerimamu..." Lanjut Cindy.
"Ah, betulkah itu, Cindy?" Deska menarik napas. "Betulkah kau mau menerimaku menjadi suamimu dan ayah bagi kedua anakmu?" Ucap Deska seakan tidak percaya.
__ADS_1
"Sudah kuputuskan begitu, Mas," perlahan Cindy mengangguk.
Mendengar jawaban yang cukup mantap itu tanpa sungkan Deska segera meraih jemari Cindy, lalu di bawanya ke dadanya.
"Sungguh, aku senang mendengar hal ini, Cindy. Percayalah, aku akan berusaha menjadi suami dan ayah yang baik bagi anak-anak kita kelak." ucap Deska, kemudian terlihat keharuan yang dalam.
"Mas," Cindy pun tak kalah harunya mendengar kalimat itu. Perlahan disandarkannya kepalanya ke bahu kukuh lelaki di sisinya.
"Aku sudah memutuskan untuk menitip cintaku di hatimu. Jagalah dengan baik, Mas," bisik Cindy sendu.
"Tentu saja, Sayangku," Deska mengelus rambut indah yang tergerai di bahunya dengan penuh kasih. "Aku akan selalu mencintaimu, sekarang sampai selamanya." Balas Deska lirih.
"Terima kasih, Mas," seulas senyum merekah di bibir ranum Cindy. Ditatapnya bintang yang berkilap di atas langit biru. Ah, biarlah langit menjadi saksi cinta mereka yang di ikrarkan malam ini. Dengan hati berbunga-bunga Deska pun menggenggam dan *******-***** jemarinya yang lentik Tak lupa diucapkannya rasa syukur pada. Tuhan yang telah membuka jalan hidupnya yang baru.
Dalam keheningan malam hati mereka pun
bersenandung riang.
***
Sekarang bukan lagi tentang harus terlalu menganggap sesuatu berlebihan...!
Bukan lagi tentang apa yang mereka miliki harus aku punya...!
Tidak seperti itu lagi.
Karena waktu telah mengubah cara hidup seseorang...!
Dari masalah dan panjangnya perjalanan hidup, setiap manusia punya pelajaran masing-masing.
Mungkin masalah setiap manusia bisa jadi sama, akan tetapi cara menghadapinya berbeda.
Jadi untuk saat ini...!
Doaku cuma satu...!
Selalu diberi kelapangan hati serta selalu diperluas lagi ikhlas dan syukurku...!
__ADS_1