
Siang hari itu Cindy dan ibunya nampak sibuk mempersiapkan diri untuk menjemput Rangga. Wajah Cindy demikian berseri-seri. Untuk menuju
ke lembaga itu Cindy dan ibunya, Nelly naik mobil taxi. Rupanya Cindy sudah tidak sabar lagi ingin sampaidi tempat yang dituju.
Mobil taxi berhenti di depan kantor lembaga pemasyarakatan. Bergegas turun dari mobil taxi seorang gadis cantik dan seorang perempuan setengah baya. Mereka berdua langsung menuju ke kantor dan menemui komandan.
"Selamat siang pak." Sapa Cindy kepada
komandan.
"Selamat siang." Balas komandan sambil
tersenyum.
"Benarkah hari ini Rangga dibebaskan pak?" Tanya Cindy.
"Benar. Andakah yang bernama Cindy?" Tanya komandan lagi.
"Ya." Balas Cindy singkat.
"Pantas Rangga rela berkorban demi kekasihnya. Memang Rangga pemuda yang cerdik. Pilihannya bagaikan seorang bidadari." Gurau komandan.
Cindy tersipu malu. Sedangkan ibunya tersenyum ramah. Komandan memerintahkan kepada anak buahnya untuk membebaskan Rangga siang hari itu juga.
"Silahkan duduk dan menunggu Rangga nona." Kata komandan.
Cindy dan ibunya duduk di kursi tunggu.
Tanpa mereka sadari kedua wajah Cindy dan Rangga saling mendekat. Ketika bibir mereka hendak saling mengulum, komandan membentak.
"Eeee...stop !" Bentak komandan segera.
Kedua remaja itu baru menyadari keadaan sekelilingnya. Dengan perasaan malu Cindy tersipu. Wajahnya merah merona dan mata Cindy yang indah berkedip-kedip.
"Nanti di rumah masih bisa diteruskan." Ledek komandan sambil senyum-senyuim.
Rangga mengulurkan telapak tangannya dan mengajak komandan berjabatan tangan.
"Sampai berjumpa lagi pak komandan." Kata Rangga.
"Semoga kau berbahagia setelah meninggalkan tempat ini Rangga. Tapi yang jelas kau memang pemuda yang sangat cerdik. Gadis pilihanmu memang meyakinkan sekali." Gurau komandan.
"Mana mungkin akan saya belah mati-matian pak. kalau tidak seindah rembulan." Balas Rangga sambil senyum-senyum persis orang senewen.
Cindy jadi keki dibuatnya. Jari-jari Cindy mencubit pinggang Rangga. Dan Rangga meringis kesakitan. Setelah itu Rangga, Cindy dan ibunya, Nelly meninggalkan kantor polisi. Mereka bertiga naik mobil taxi. Perasaan bahagia terbawa oleh insan yang berada di dalam mobil taxi dan melaju meninggalkan asap debu berhamburan di jalan.
__ADS_1
***
Pohon flamboyan yang tumbuh disamping rumah Cindy kembali mekar. Bunganya banyak tumbuh di samping rumah Cindy kembali mekar. Bunganya banyak tumbun di ranting-ranting pepohonan berwarna coklat susu. Daunnya yang hijau dan tumbuh di sela-sela bunga, sedikit banyak memperindah pandangan mata. Begitupun dengan bunga-bunga lainnya yang tumbuh di taman, mekar indah dan mewangi baunya.
Sepasang remaja duduk di ruang tamu dalam aroma cinta yang membara. Mereka berdua terbenam dalam arus cumbu yang tercekam kerinduan. Bibir mereka hampir-hampir tak pernah berhenti untuk saling mengulum. Dekapan erat bagaikan sulit untuk dipisahkan lagi. Badai dan taufan kini telah sirna dan ditaklukkan oleh cinta suci mereka.
"Cindy aku cinta padamu sayang." Bisik Rangga di telinga Cindy lembut. Mata Cindy yang bersinar-sinar membelai lembut perasaan Rangga kala menatapnya. Bibir kenyal merah jambu ini tersenyum manis disaat jari tangan Rangga mengelus-elusnya.
"Sekarang kita telah terlepas dari belenggu rintangan Ngga. Aku bahagia sekali." Gumam Cindy.
"Kita akan segera menuju ke jenjang pernikahan, setelah kuterima kontrak pembuatan naskah." Jelas Rangga.
"Sungguhkah kau?" Balas Cindy.
"Kau masih sangsi kepadaku Cindy?" Tanya Rangga meyakinkan Cindy.
"Bukan aku sangsi kepadamu Ngga, tetapi aku sudah tak sabar lagi." Kata Cindy sembari mencubit dada Rangga pelan.
Rangga mengeliat karena geli.
"Sebaiknya kita menjenguk ayah di penjara untuk minta doa restu." Jelas Rangga kemudian.
"Kapan kita akan menengok ayah Ngga?" Tanya Cindy.
"Aku setuju." Jawab Cindy senang.
Rangga mencium kening Cindy. Lantas kedua remaja itu berjalan ke dalam kamar dan bertukar pakaian. Hari itu dirasakan oleh Rangga dan Cindy begitu indah dan berarti. Karena mereka akan menjenguk ayah dan meminta doa restu menjelang hari pernikahan nanti.
Cindy duduk di belakang setir, sementara Rangga di sisinya. Maklum karena Rangga tidak bisa menjalankan mobil. Terpaksa Cindy yang pegang setir sampai ke lembaga.
Setelah menemui komandan lembaga pemasyarakatan Tanjung Karang, Rangga dan Cindy diperbolehkan menjenguk ayahnya di balik terali besi. Seorang petugas lembaga mengantar Rangga dan Cindy sampai di kamar penjara yang ditempati Hendry. Petugas itu kemudian membuka pintu penjara Cindy melihat orang lelaki setengah tua terduduk termenung. Saking tak kuasa mengendalikan tekanan perasaan, Cindy langsung berlari memeluk ayahnya.
"Ayaaaah!" Pekik Cindy.
Cindy tak bisa lagi membendung tangisnya. Dia bersimpuh di paha ayahnya. Belaian kasih sayang telapak tangan Hendry membenamkan perasaan sedih bagi Cindy.
"Tabahkanlah hatimu Cindy." Tutur Hendry lirih.
"Ayah, bagaimana pun juga kenyataan ini membuat Cindy sedih." Balas Cindy.
"Yah... semua memang sudah harus kujalani, yang penting kalian berdua dan ibu serta adikmu
berbahagia. Biarlah penderitaan ini aku yang memikulnya." Kata Hendry mantap.
Pancaran mata Hendry berpindah ke arah Rangga yang sejak tadi masih berdiri termangu ke laki-laki setengah tua itu melempar senyumnya kepada Rangga, walau kedua matanya berkaca-kaca.
__ADS_1
"Rangga... kau baik-baik saja bukan?" sapa Hendry.
"Begitulah oom." Sahut Rangga.
"Rangga... duduklah di dekatku." Hendry menyuruh Rangga.
Pemuda itu segera menuruti kemauan Hendry. Dia sudah menduga bahwa akan ada pembicaraan yang bersilat pribadi. Maka Rangga sebelumnya bersiap-siap mendengarkan apa yang akan dikatakan Hendry...!
"Rangga kupercayakan kepadamu mengenai diri Cindy. Sebab oom tahu kau mempunyai rasa tanggung jawab besar." Tutur Hendry dengan
lunak.
Rangga hanya menganggukkan kepala.
"Disamping itu kau perlu memperhatikan perkembangan keluarga yang mana untuk lima tahun ini oom tidak bisa lagi mengawasi. Baik dan buruknya tinggal kau yang mengarahkan." Lanjut Hendry kembali.
"Justru kami berdua datang menjenguk oom, ingin mengetahui keadaan selama di sini. Disamping itu kami mempunyai tujuan tertentu oom." Sahut Rangga.
"Coba bicarakan saja dengan oom, apa yang kau maksudkan." Lanjut Hendry.
Rangga terdiam...!!!
Cindy yang masih berada dipelukan ayahnya juga diam. Suasana menjadi hening. Rupanya kedua remaja ini masih ragu-ragu untuk menyampaikan maksud hatinya.
"Katakanlah Rangga." Ujar Hendry lunak.
"Begini oom..." Ucap Rangga. Pembicaraan Rangga terputus lagi.
"Ayo jangan ragu-ragu. Katakanlah terus terang." Desak Hendry.
"Sebetulnya kami berdua datang kemari ingin meminta doa restu kepada oom, apakah kami diperbolehkan menempuh hari bahagia bersama
Cindy." Ucap Rangga meneruskan kalimatnya.
Hendry menatap Rangga sambil tersenyum gembira.
"Kalian akan menempuh hidup baru?" Tanya Hendry.
"Ya oom." Balas Rangga.
Hendry menepuk-nepuk bahu Rangga. "Oom sangat bahagia sekali bila kalian secepatnya bisa menempuh hidup baru. Oom benar-benar merestui." Kata Hendry berseri-seri.
Dipeluknya Rangga oleh Hendry. Kedua remaja itu berada di dalam pelukan Hendry yang tersenyum bahagia. Mata Cindy bertemu pandang dengan mata Rangga. Dipancaran mata mereka mengandung makna sejuta rasa bahagia yang sukar terlukiskan. Sekalipun detik kebahagiaan ini berada di dalam pelukan seorang ayah yang menjadi narapidana. Dan menemukan kebahagiaan di dalam penjara.
Telapak tangan kedua remaja itu saling berpegangan erat-erat. Seulas senyum bahagia menghiasi ketiga insan dirundung duka. Namun kenyataannya mereka menerima dengan hati lapang dan tabah.
__ADS_1