
Kebahagiaan manusia itu memang tiada yang abadi. Hatinya pun ikut terasa nyeri bila teringat kembali kenangan manisnya bersama suaminya, yang telah meninggalkannya untuk selama-lamanya. Cindy tak mengira kalau lelaki sebaik dan begitu bertanggung jawab macam Rangga akan begitu cepat meninggal dunia. Tapi mungkin itulah rahasia Tuhan yang tak akan pernah bisa ditebak manusia.
"Sudah sore, Cin," Deska melirik arlojinya dan beranjak bangkit. "Aku mau pulang dulu. Sudah capek, belum mandi lagi." Lanjut Deska menjelaskan.
Cindy tersenyum mendengar kalimat itu, la pun ikut bangkit berdiri.
"Kapan-kapan kalau ada waktu luang, bolehkan aku main ke sini. lagi?" tanya Deska sebelum menuju pintu keluar.
Entah dorongan apa, Cindy pun hanya bisa mengangguk. Lalu diantarkannya lelaki itu sampai di muka rumahnya.
"Salam buat anak-anak ya," ujar Deska, kemudian sebelum berlalu.
Kembali Cindy mengangguk. Dipandangnya mobil yang membawa Deska berlalu hingga lenyap di tikungan jalan. Lalu dengan hati yang dipenuhi berbagai macam perasaan ia pun kembali masuk kedalam.
Beberapa bulan telah berlalu. Cindy tak dapat menghitung sudah berapa kali Deska datang mengunjunginya ke rumah. Setiap lelaki itu datang tak pernah tangannya lepas dari oleh-oleh yang dibawanya. Dan ia pun tak dapat membendung betapa anak-anaknya mulai menyukai tamunya itu.
Tak dapat dipungkiri Deska dengan kelembutan dan sikapnya yang penuh perhatian itu mampu menjadi penghibur atas kepergian papa mereka. Pelan tapi pasti Cindy pun mulai merasakan adanya kedekatan di antara anak-anaknya dengan Deska. Memang pada mulanya Farel dan Balqis sering juga menanyakan di mana papa mereka dan kenapa sampai kini tidak pulang-pulang. Namun dengan pengertian yang dalam Cindy pun berhasil memberi pengertian pada anak-anaknya tentang kepergian papa mereka.
Dan Cindy juga cukup bersyukur setelah diberi pengertian itu, anak-anaknya tidak terlalu rewel dan bertanya macam-macam lagi yang dapat meruntuhkan ketabahannya. Karena itulah ia merasa senang dan haru mempunyai anak-anak
yang manis seperti mereka.
Suatu hari saat Deska kembali datang berkunjung untuk yang kesekian kalinya, tanpa di sangka-sangka Ranti pun bertandang ke rumahnya. Cindy pun bermaksud memperkenalkan keduanya kalau tidak dilihatnya perubahan paras Ranti begitu melihat Deska.
"Eh... ehm, Bapak ada di sini?" tanya Ranti gugup begitu Deska membalikkan tubuhnya karena sejak masuk tadi Ranti memang tidak bisa melihat jelas wajah lelaki itu karena Deska duduk membelakangi pintu.
"Hm. kamu...?" Deska seperti terkesima dan mencoba mengingat-ingat.
"Saya Ranti, Pak," sahut Ranti segera menyebutkan namanya untuk membantu ingatan lelaki itu.
Oya, Ranti. Kalian...." Berganti-ganti Deska memandang Cindy dan Ranti seakan ingin meminta kejelasan ada hubungan apa di antara mereka.
"Cindy teman baik saya, Pak," kembali Ranti yang menyahut sebelum Cindy sempat membuka mulutnya. "Kami kenal sudah sejak lama." Jelas Ranti melanjutkan.
"Oooh...," Deska mengangguk-angguk.
"Duduklah dulu, Ran. Sebentar ku ambilkan minuman dulu ya," Cindy pun segera menengahi setelah beberapa saat mereka saling berdiam diri Tidak lama Cindy pun sudah keluar kembali sambil membawa segelas minuman untuk Ranti, karena minuman yang untuk Deska sudah disediakannya lebih dulu.
Percakapan pun terjadi di antara mereka.
Cindy dapat melihat betapa Ranti nampak menghormati tamu satunya itu, meskipun ia belum sempat mengetahui ada hubungan apa, di antara mereka.
Tak terasa waktu pun berlalu. Pukul enam sore lewat sepuluh menit, Deska pun segera meminta diri. Dengan diantar Cindy dan Ranti, ia pun melaju meninggalkan rumah itu.
"Kamu kenal Pak Deska di mana, Cin?" tanya Ranti kemudian begitu mereka sudah duduk di ruang tamu kembali.
"Di pesta perjamuan makan malam ketika kau mengajakku waktu itu. Itu lho, lelaki yang sempat kuceritakan padamu yang selalu tanya-tanya melulu," Cindy menjelaskan.
__ADS_1
"Oh, yang itu toh?" Ranti manggut-manggut sambil memandangnya dalam-dalam. "Kok kamu nggak sebutkan namanya waktu itu?" Tanya Ranti lanjutan.
"Siapa bilang?. Aku kan sudah bilang, namanya Deska. Kamunya aja yang tidak ambil perhatian." Lanjut Cindy.
"Mungkin juga," sahut Ranti mendesah.
"Soalnya aku nggak kepikiran kalau Deska yang kau maksud Pak Deska yang tadi itu." Ucap Ranti.
"Sekarang gantian dong," Cindy tersenyum simpul. "Giliran kamu yang sebutin, di mana kau kenal dia?" Ucap Cindy gantian bertanya.
"Pak Deska?" Ranti membelalakkan matanya.
"Siapa lagi?" Ucap Cindy.
"Lha, dia itu kan direktur perusahaan Putra Kembar Suka Makmur. Adik dari direktur perusahaan tempatku bekerja," Ranti segera memberi tahu. "Kamu beruntung bisa kenal dengan dia Iho" lanjut Ranti.
"Untung kenapa?" giliran Cindy yang terbeliak.
"Dia duda kaya lho, Cin. Anaknya ada dua orang dan kini sedang sekolah di luar negeri. Kalau dipikir-pikir, kasihan juga lho sebenarnya Pak Deska. Sejak istrinya meninggalkannya beberapa tahun yang lalu, dia tetap menduda sampai sekarang." Jelas Ranti.
"'Kau tahu kenapa istrinya meninggalkannya?" Tanya Cindy.
"Entahlah. Dari kabar yang kudengar sih, istrinya menikah lagi dengan lelaki lain yang lebih muda dari Pak Deska," Ranti menerawang.
"Apa yang kamu katakan tepat seperti apa yang diceritakannya padaku, Ran," sambut Cindy kemudian.
"Mas Deska sudah mencentakan semuanya, padaku," sahut Cindy kalem.
"Terus terang dia mengakui itu, Cin?" Tanya Ranti.
"He-eh" Cindy mengangguk.
"Kalau begitu hubungan kalian sudah cukup dalam juga ya, sampai Pak Deska mau menceritakan keadaan dirinya," Ranti menebak-nebak.
"Apa maksudmu?" Cindy terperangah.
"Jangan-jangan... dia menaruh minat padamu, Cin?" sahut Ranti serius.
"Jangan bicara sembarangan, Ran. Didengar orang tidak enak aku. Lagian, hubungan kami kan baru beberapa bulan ini saja." Jelas Cindy.
"Lho, kamu ini gimana sih? Bagi orang yang sudah cukup umur macam Pak Deska itu mana suka berlama-lama sih? Sekali dia menyukai seseorang dan merasa cocok, pasti akan cepat-cepat dipinangnya wanita itu," ucap Ranti sambil tersenyum.
"Kamu ngaco ah," kilah Cindy dengan wajah tersipu. "Hubunganku dengannya hanya hubungan biasa, Ran. Jangan bikin gosip yang nggak-nggak ah." Balas Cindy kemudian.
"Tapi dia sering main kemari kan?" Lanjut Ranti dengan pertanyaan.
"Iya sih. Memang kenapa?" Jawab Cindy balik bertanya.
__ADS_1
"Ah, kamu kayak yang pura-pura tidak tahu saja, Cin. Kalau kupikir, mestinya kamu tuh lebih mengerti dari aku, karena kamu kan sudah punya pengalaman. Apa yang dicari laki-laki yang rajin datang berkunjung ke rumah kita kalau bukan perhatian dan tentu saja maksud-maksud terselubung lainnya? Apalagi Pak Deska itu sudah cukup lama menduda." Jelas Ranti.
"Ya ampun, jadi kau pikir kedatangannya selama ini adalah ingin mencari perhatianku dan mengapeliku?" Cindy terperangah. "Aduuuh, Ranti, Ranti. Kamu kan tahu aku baru saja ditinggal suami?" Jawab Cindy.
"Justru karena kau sudah tidak punya suami, maka Pak Deska berani mendekati mu dan datang mengunjungi mu. Kalau kamu masih punya suami kan mana mau dia datang ke sini? Apa lagi sampai begitu sering seperti yang kau bilang," Ranti mengerjabkan matanya nakal.
"Kamu pikir akan secepat ini aku memalingkan cintaku?" tanya Cindy gusar.
"Kenapa tidak, Cindy? Kamu kan masih muda? Masih punya banyak kesempatan untuk memulai hidup baru lagi." Ucap Ranti.
"Apa yang kamu katakan benar." Cindy menelan ludahnya yang terasa pahit. "Tapi tidak secepat ini, Ran." Jawab Cindy tegas.
"Tentu saja dong, kamu juga kan perlu berpikir matang serta mempertimbangkannya baik-baik " Ranti manggut-manggut.
"Aku tidak akan melupakan Mas Rangga secepat ini, Ranti. Lagi pula, sudah ku kubur rasa cintaku bersama jasadnya ketika dimakamkan waktu itu," desah Cindy hampir tak terdengar.
"Astaga, Cindy! Kamu jangan berkata begitu dong. Tidakkah kau pikirkan hidup anak-anakmu kelak?" Ranti tertegun mendengar ucapan yang sungguh tak disangkanya itu.
"Justru karena aku memikirkan nasib mereka, maka kuhilangkan perasaanku terhadap laki-laki lain. Aku jngin menghidupi mereka sekuatku." Jawab Cindy.
"Mana bisa begitu, Cindy? Seandainya bisa pun kau akan mengalami kesulitan dalam membagi waktu. Bagaimana mungkin kau bisa bekerja sambil mengawasi mereka? Apalagi anak-anakmu kan masih kecil. Bagaimana mungkin kau meninggalkan mereka untuk bekerja?" Ucap Ranti.
Mendengar ucapan itu Cindy, merasa Ranti seperti mengingatkannya kembali pada kata-kata yang pernah diucapkannya beberapa hari setelah meninggalnya Mas Rangga. Dan ia jadi tertegun sendiri.
Bagaimana mungkin meninggalkan Farel dan Balqis yang masih balita untuk ditinggalnya bekerja?
Siapa yang akan mengawasi dan menjaga mereka?
Taruh ia bisa menggaji pembantu, apakah gajinya akan cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dalam sebulan?
Berapa sih gaji seorang lulusan SMP?
"Aku merasa Pak Deska menaruh hati padamu, Cin. Kalau tidak, untuk apa dia meluangkan waktunya datang ke sini? Kamu tahu, sebagai seorang direktur dan mempunyai jadwal ketat selain sibuk mengurusi pekerjaan-pekerjaan-nya. Apa dong maksudnya dia datang kemari menyisihkan waktu-waktu sibuknya selain untuk menunjukkan perhatiannya pada orang yang dia sukai?" suara Ranti kembali berkumandang meluruskan jalan pikirannya. "Aku mengerti kau masih mencintai Mas Rangg dan tidak begitu saja mampu melupakannya. Tapi ingatlah, Cin. Mas Rangga itu sudah tiada, dan kau di sini masih butuh perhatian dan materi yang akan menguatkanmu untuk menghidupi anak-anak kalian?" tambah Ranti lagi bernada memberi wawasan.
"Tapi aku tak bisa secepat itu membuka pintu hatiku untuk dimasuki seseorang yang akan menggantikan kedudukan Mas Rangga. Butuh waktu panjang, Ran," sahut Cindy bernada keluh.
"Apa yang kau katakan tadi ini kedengarannya lebih enak dari ucapanmu tadi, Cin. Setidak-tidaknya, kan masih ada harapan buat seseorang yang mendambakan cintamu," Ranti mengulaskan senyumnya.
"Sudah pasti dong, Ranti. Alangkah malunya aku kalau sampai kalah bertahan dengan Mas Deska yang cukup lama menduda kalau dalam waktu dekat ini kuterima niatnya untuk memperistriku," Cindy tersipu.
"Lho, jadi serius ceritanya nih?" tanya Ranti menggoda.
"Jangan ngeledek ah, Ran. Sejak tadi ucapanmu memancingku terus. Bisa terjebak aku kalau tidak hati-hati," Cindy mencubit gemas lengan Ranti yang kontan saja menjerit kesakitan.
"Tapi apa yang ku ucapkan benar toh?" Ranti kembali mengerjab nakal sambil mengusap-usap lengannya yang baru saja dicubit. "Jangan tutup pintu hatimu pada seseorang yang telah menaruh perhatian dan harapan yang dalam padamu." Lanjut Ranti.
"Sudah ah! Dari tadi kotbah melulu. Tuh, Balqis memanggilku minta dibuatkan susu," ujar Cindy kemudian sambil beranjak meninggalkan Ranti yang tersenyum dengan sinar mata menggoda.
__ADS_1