LORONG TAK BERUJUNG

LORONG TAK BERUJUNG
BAB 71 : AMPUN DEH!


__ADS_3

Keesokan harinya Cevin berangkat sekolah kembali dengan tekad harus bisa membuat Balqis buka mulut. Namun kali ini tidak dengan kemarahan. Sengaja Cevin datang lebih pagi, berharap akan ada lebih banyak kesempatan sebelum penghuni kelas keburu berdatangan.


Tapi tidak berguna. Balqis datang hanya sepuluh menit menjelang bel, dan langsung membuat Cevin terpaku di bangkunya.


Ada begitu banyak warna biru melekat pada Balqis pagi ini. Cevin mematung menatap nuansa biru itu, dan seketika teringat pada satu kalimat yang tertulis pada lembar catatan tentang Balqis yang ditinggalkan Irfan.


Suka banget warna biru...!!!


"Lo suka warna biru ya, Qis?" mulut Cevin terbuka begitu saja.


Balqis belagak tidak mendengar. Ia juga tidak mau menoleh. Setelah memasukkan tasnya ke laci, cewek itu langsung berjalan lagi ke luar kelas. Karena tidak mau menoleh itulah Balqis jadi tidak tahu perubahan yang terjadi pada Cevin. Yang jelas-jelas tertangkap di otaknya adalah Cevin belum menyerah.


Bel masuk berbunyi. Balqis melangkah masuk dengan malas. Selalu begitu. Momen-momen menjelang dirinya harus berada di sebelah Cevin selalu bikin Balqis bete. Apalagi saat berada di sebelah Cevin, bikin bete lagi. Dan, benar saja. Baru juga dua detik ia duduk, Cevin sudah menyambutnya dengan pertanyaan.


"Qis, lo suka warna biru ya?" Tanya Cevin.


Lagi-lagi Balqis tidak menoleh, apalagi menjawab, karena di kepalanya sudah muncul berbagai dugaan. Cevin pasti mau bilang, "Apaan tuh? Selera jelek! Warna yang keren tuh silver. Warna milenium. Warna kuat. Biru? Norak! Pasti orangnya melankolis nggak jelas. Sensi. Suka berkhayal. Gampang tersinggung!"


"Iya? Lo suka warna biru?" tanya Cevin lagi, suaranya terdengar lunak.


Di saat yang bersamaan, Balqis teringat tiga buah stabilonya kuning, hijau dan biru yang kemarin dipinjam Wisnu. Cewek itu langsung merasa lega karena ada alasan untuk tidak mengacuhkan Cevin.


"Nu, stabilo gue mana? Gue mau pake nih!" serunya, bangkit berdiri dan menghampiri meja Wisnu. Kemudian Balqis sengaja berlama-lama di sana, dan baru kembali ke bangkunya setelah guru datang.


Cevin menabrak dinding!


Tiba-tiba cowok itu menyadari ia melakukan tindakan yang persis seperti yang dulu dilakukan Irfan. Mengamati Balqis dan tingkah lakunya dari kejauhan. Seperti yang sedang dilakukannya saat ini.


Di kantin, Cevin memilih duduk di antara siswa-siswa kelas lain yang tidak dikenalnya agar tidak perlu bicara. Dengan begitu ia bisa tenang memerhatikan Balqis. Dengan piring gado-gado ditangan masing-masing, Balqis dan Ranti menghampiri salah satu teman sekelas mereka, Ayu, lalu duduk di depannya.


Ayu itu religius banget. Anak-anak lain sih kalau mau makan ya makan aja. Kalaupun sebelumnya pake acara berdoa, paling berdoa ala kadarnya. Kalau Ayu lain. Berdoanya khusyuk. Pakai acara nunduk segala. Matanya merem, lagi. Sudah begitu bacaannya banyak pula. Selain berterima kasih karena Tuhan telah memberinya berkat makanan ini, ia juga berdoa untuk orang-orang disekitarnya, terutama mereka yang kesusahan. Memohon pada Tuhan agar mereka juga diberikan berkat makanan.


Ayu lupa bahwa di depannya ada setan. Dua, lagi. Begitu cewek itu selesai berdoa dan membuka mata… berkat makanannya sudah hilang!


Yang raib bagian yang paling enak, lagi. Nasi sama sayurnya sih masih utuh. Tapi ayamnya telah menghilang. Tanpa meninggalkan jejak.


Dengan bingung Ayu menatap piringnya, kemudian mencari-cari di lantai dan kolong meja. Tatapannya beralih ke Balqis dan Ranti yang duduk di depannya. Ia ingin bertanya tapi urung, karena dilihatnya kedua temannya itu sedang berdoa. Lebih khusyuk dari pada doanya sendiri tadi. Saking baiknya si Ayu ini, sampai tidak terlintas dalam pikirannya bahwa orang yang sedang berdoa dengan sangat khusyuk pun patut dicurigai. Apalagi kalau yang berdoa si Balqis.


Baru setelah Balqis dan Ranti selesai berdoa dan membuka mata, Ayu menanyakan ayamnya yang telah menghilang itu. Tentu saja jawaban yang diterimanya adalah gelengan kepala.


Balqis dan Ranti lalu membantu Ayu mencari ayam gorengnya yang raib itu. Balqis yang paling semangat. Ia sampai mencari-cari keluar kantin segala. Alasannya, "Kan lo tau sendiri, ayam suka lari-larian."


"Inikan ayam goreng gitu lho, Qis," kata Ayu kesal.


Dari tempat duduknya, Cevin menyaksikan peristiwa itu. Cowok itu tersenyum geli tanpa sadar. Namun tak lama senyum itu menghilang.


Cevin merasa tidak seharusnya ia melakukan hal yang sama seperti yang pernah dilakukan Irfan. Kalau Irfan sih punya alasan kuat. Balqis kan tidak kenal dia. Sementara Cevin mengenal Balqis. Lagi pula, masa sih harus mengamati terus cewek yang setiap hari duduk bersamanya, cuma setengah meter di sebelahnya!


Ketika kembali ke kelas, kembali Cevin bertekad harus bisa membuat Balqis bicara padanya. Harus bisa membuat Balqis menoleh dan menatapnya.


Harus bisa...!!!


Dan apa yang diinginkan Cevin terjadi, tapi sama sekali tidak seperti yang diharapkannya. Indra, teman sebangku Wisnu, minta izin untuk pulang. Sekarang Wisnu duduk sendiri. Cowok itu lalu mengajak Balqis duduk bersamanya. Balqis jelas langsung setuju karena ia bisa terbebas dari Cevin.


Sesuatu yang indah banget...!!!


Cevin jadi gusar saat mendadak sendirian dan Balqis sekarang ada di pojok, di sebelah Wisnu. Balqis, cewek yang ditaksir Irfan. Karena sang kakak itu sekarang sudah tidak ada, bagi Cevin satu-satunya tempat untuk Balqis adalah di sebelahnya.


"Balqis, balik sini. Jangan duduk di situ!" perintah Cevin.


"Apa sih tu orang?" Balqis melirik malas.


"Nggak bagus cewek duduk di belakang gitu. Di pojok, lagi. Balik sini!" perintah Cevin lagi, jadi semakin gusar.


"Lo kenapa sih, Vin? Segitu galaknya. Biarin aja. Terserah dia mau duduk di mana, lagi," kata Wisnu, Cevin tidak menggubris ucapan Wisnu.


"Kalo lo nggak mau duduk di sini, balik ke bangku lo sana!" Ucap Cevin lagi.


"Gimana bisa, lagi?' Balqis menjawab dengan kesal. "Gue mau duduk di mana? Bangku gue ditempati temen lo gitu. Kan elo yang nyuruh dia dudukin bangku gue." Jawab Balqis.


Cevin langsung mengarahkan tatapannya ke Toni. Teman-teman sekelas lainnya juga menatap ke arah Toni dengan bingung.

__ADS_1


"Ton, lo balik sini!" seru Cevin.


"Nggak, ah!" Toni menilak seketika.


"Balik sini, Ton. Please banget. Biar Balqis duduk di situ." Pinta Cevin.


Intonasi suara Cevin menurun, berusaha membujuk Toni agar bersedia pindah. Tapi Toni tatap menolak. Jelaslah. Yang membuatnya jadi bersemangat berangkat ke sekolah setiap pagi kan karena duduk sebangku sama Ranti, cewek pujaannya itu. Balik ke belakang lagi, duduk di antara kaum sejenis lagi, bakalan bikin garing dan bego, karena kebanyakan bercanda dari pada belajar.


Guru akhirnya datang ke kelas, Cevin menghentikan usahanya, terpaksa pasrah membiarkan Balqis sebangku dengan Wisnu, dan terpaksa ia duduk sendirian.


Sementara itu seisi kelas kembali bingung saat melihat Cevin begitu marah hanya karena Balqis menolak duduk di sebelahnya. Berarti asumsi yang dulu itu, bahwa Balqis naksir Cevin, salah. Yang betul adalah sebaliknya. Cevin yang naksir Balqis!


Untuk menghindari Cevin dan kemarahannya yang tidak jelas itu, lima menit sebelum bel pulang Balqis sudah membereskan buku dan alat tulisnya.


"Lo mau langsung kabur, ya?" bisik Wisnu.


"He-eh." Balqis meringis. "Gue lagi males berantem. Mending pulang. Makan trus tidur." Ucap Balqis.


"Kenapa sih dia? Segitu marahnya?" Tanya Wisnu.


"Tau tuh. Nggak jelas." Jawab Balqis.


Begitu bel pulang berbunyi, Balqis lansung ngibrit ke luar kelas. Cevin hanya bisa menatapnya geram. Ia tidak bisa mengejar karena propertinya masih berantakan, di tambah belum selesai mencatat pula.


***


Kesempatan itu datang keesokan harinya. Cevin mendapati Balqis sedang berdiri di depan Ranti dengan tampang panik. Dari pembicaraan kedua cewek itu yang tidak sengaja tertangkap olehnya, ternyata Balqis lupa membawa buku cetak Pendidikan Kewarganegaraan. Sialnya, hari ini jelas yang punya jadwal pelajaran itu cuma kelas mereka.


Balqis pantas panik. Soalnya Bu Tina Kartini, guru Pendidikan Kewarganegaraan, memang paling anti pati dan paling ngamuk kalau ada murid yang tidak membawa buku cetak pada jam pelajarannya. Tidak peduli apa pun alasannya. Informasi itu berdasarkan sumber-sumber yang sangat bisa dipercaya, yaitu para murid yang pernah tidak membawa buku cetak Pendidikan Kewarganegaraan karena berbagai alasan kemudian merasakan amukan Bu Tina Kartini.


Merasa telah menemukan celah untuk meruntuhkan dinding yang dibangun Balqis, Cevin tidak lagi mencoba mengajaknya bicara. Baru setelah pergantian jam pelajaran dan giliran Pendidikan Kewarganegaraan tiba, Cevin buka mulut.


"Kenapa?" tanya Cevin. "Lo nggak bawa buku cetak Pendidikan Kewarganegaraan, ya?"


"Lupa!" jawab Balqis.


Suara pertama yang ditunjukan untuk Cevin, setelah berhari-hari bungkam. Ketus. Kasar. Namun Cevin bersyukur karena bibir cewek itu akhirnya terbuka juga untuknya.


"Sama saja. Tetap aja judulnya nggak bawa, kan?" Ucap Cevin.


"Trus kenapa? Lo mau ikutan marahin gue juga? Boleh aja. Nggak apa-apa. Tapi tunggu giliran, ya? Bu Tina Kartini duluan, baru elo." Ucap Balqis.


"Nih!" Cevin meletakan buku cetak Pendidikan Kewarganegaraan nya di depan Balqis. "Lo pake aja. Sekarang cariin gue pinjeman buku cetak apa aja. Yang penting depannya bersampul." Ucap Cevin.


Balqis terpana menatap Cevin. Tampang judesnya langsung hilang.


"Buruan!" perintah Cevin galak. "Malah bengong, lagi. Nanti keburu Bu Tina Kartini dateng!" Desak Cevin.


"Iya! Iya!" cepat-cepat Balqis bangkit berdiri. Tidak sulit mencari buku cetak yang bersampul. Tak lama ia kembali dengan buku cetak matematika milik Ayu.


"Stroberi!?" Cevin melotot. "Ada pita-pitanya, lagi. Lo gimana sih? Ini sama aja langsung ngasih tau Bu Tina Kartini kali ini bukan buku gue." Ucap Cevin.


"Lo bilang tadi yang depannya bersampul?" Balas Balqis.


"Ya jangan stroberi pake pita dong, Qis. Mana warnanya pink pula. Ini kan cewek banget. Kecuali kalo selama ini gue punya gejala homo." Ucap Cevin.


"Nggak ada lagi. Bukunya Intan, sampulnya gambar permen warna-warni. Bukunya Fitri, sampulnya malah Winnie The Pooh." Jawab Balqis.


Cevin memandangi buku cetak matematika milik Ayu lalu mendecakkan lidah. "Ampun deh!" katanya sambil geleng-geleng kepala. Senyum pasrah tergambar di bibirnya. Melihat ekspresi Cevin, Balqis jadi tidak bisa menahan geli. Tiba-tiba tawanya lepas berderai. Cevin meliriknya.


"Ketawa, lagi!" Cevin mendengus, membuat Balqis semakin terkekeh-kekeh.


"Oh, iya!" seru Balqis kemudian. "Semua bukunya Kiki kan disampul cokelat tuh."


"Oh, iya!" Cevin menjentikkan jari. "Buruan, Qis. Pinjemin satu. Buku cetak apa aja. Tapi jangan matematika. Angka doang soalnya." Ucap Cevin.


"Iya, udah tau. Buku cetak yang banyak hurufnya, kan?" seru Balqis, yang saat itu sudah berjalan dengan langkah-langkah cepat menuju bangku Kiki.


"Sip!" Cevin berseru balik.


Berhubung Kiki selalu menuliskan namanya dan nama buku pelajaran yang bersangkutan di sampul depan, terpaksa Cevin dan Balqis melepaskan sampul cokelat dan membaliknya bagian dalam jadi bagian luar untuk menyembunyikan nama sang pemilik buku dan tulisan "Bahasa Indonesia" yang tertera di sana. Beres sudah! Buku tersebut sekarang sedang berpura-pura sebagai buku Pendidikan Kewarganegaraan.

__ADS_1


Cevin dan Balqis mengembuskan napas lega bersamaan. Tidak satu pun dari mereka menyadari bahwa ketegangan di antara mereka telah mencair. Kemarahan menghilang dan semua pertengkaran yang pernah terjadi terlupakan.


Namun beberapa saat kemudian keduanya tersadar. Dengan meminjam buku Kiki, itu sama saja langsung mengatakan pada Bu Tina Kartini bahwa buku yang sekarang ada ditangan Cevin itu bukan buku Pendidikan Kewarganegaraan. Karena di kelas mereka, yang buku-bukunya di sampul cokelat cuma bukunya si Kiki. Dan Kiki tidak mungkin punya dua buah buku Pendidikan Kewarganegaraan. Jadi salah satu dari dua buku yang saat ini bersampul cokelat pasti palsu. Dan bisa dipastikan, buku yang sedang berpura-pura sebagai buku Pendidikan Kewarganegaraan adalah buku yang sekarang sedang dipegang Cevin!


"Gue pinjam lagi bukunya Ayu yang tadi deh. Nih, buku lo." Balqis mengembalikan buku Pendidikan Kewarganegaraan Cevin lalu bangkit berdiri.


Terlambat...!!!


Bu Tina Kartini sudah muncul di ambang pintu. balqis langsung duduk kembali.


"Udah, lo pake aja," bisik Cevin sambil menggeser kembali bukunya ke depan Balqis.


"Trus lo gimana?" bisik Balqis. Ditatapnya Cevin dengan kecemasan sarat.


"Ya doain aja mudah-mudahan ntar nggak ketauan. Soalnya kalo ketauan, gue bakalan abis diomelin." Ucap Cevin.


Kemudian, mengikuti seisi kelas, Cevin membuka buku di depannya pada halaman yang diperintahkan Bu Tina Kartini.


"Muka lo jangan keliatan cemas gitu dong. Ntar gue malah langsung ketauan," bisiknya saat tak sengaja menoleh sekilas dan melihat Balqis sedang meliriknya dengan ekspresi cemas yang terlihat jelas. Cewek itu buru-buru mengubah air mukanya.


Selanjutnya adalah bagian yang paling berat. Kalau sedang menerangkan pelajaran, Bu Tina Kartini tidak pernah diam di satu tempat. Selalu sambil jalan ke sana kemari. Makanya Cevin kembali menutup bukunya, karena susunan paragraf dan letak subjudulnya yang berbeda akan membuat siapa pun yang melihat bahkan dari kejauhan tahu bahwa yang ada di depan Cevin itu bukan buku Pendidikan Kewarganegaraan.


Tapi sampul cokelat memang sudah menjadi trademarks Kiki. Jadi begitu di kelas itu ada dua buku bersampul cokelat, Bu Tina Kartini langsung tahu, buku yang dipegang Cevin adalah buku Kiki. Entah buku cetak pelajaran apa, yang jelas buku tersebut sekarang sedang menyamar sebagai buku cetak pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan.


Dengan wajah yang perlahan berubah dingin, Bu Tina Kartini menancapkan pandangannya pada Cevin lalu memberi perintah dengan nada tajam.


"Kamu yang di belakang, siapa namamu?" Bu Tina Kartini yang berdiri bersandar di meja guru segera meraih buku absensi murid dari meja di sebelahnya. "Cevin. Coba kamu baca tiga paragraf pertama!"


"Mampus gue!" desis Cevin. "Ketauan juga. Cepet, lagi!"


Di iringi Balqis yang meliriknya dengan tatapan cemas dan rasa bersalah, Cevin mengangkat kepala.


"Saya lagi sakit gigi, Bu," ucapnya dengan suara dibuat semelas mungkin.


Jelas Bu Tina Kartini tidak percaya. Selain karena beliau sudah tahu yang dipegang Cevin bukan buku mata pelajaran yang diajarkannya, juga karena tampang Cevin tidak sepeti tampang orang yang lagi sakit gigi.


"Membaca pelan-pelan saja kalau begitu," ucap Bu Tina Kartini dengan nada manis.


"Eeemmm…." Cevin kebingungan.


"Kamu tidak bawa buku, kan? Buku yang kamu pegang sekarang itu bukan buku pelajaran saya, kan?" Nada manis dalam suara Bu Tina Kartini menghilang dan berubah galak. Tatapannya lurus dan tajam ke arah Cevin.


Cevin sadar, percuma mengelak. Hanya akan memperburuk keadaan.


"Iya, Bu. Saya lupa bawa buku." Di iringi keterperangahan Balqis, Cevin mengangguk.


Begitu Cevin mengaku, Bu Tina Kartini langsung ngomel panjang lebar dan dengan nada berapi-rapi pula.


Dimulai dengan mengatakan Cevin tidak menghargai pelajaran yang dia berikan, dan berujung pada kenyataan bahwa Cevin adalah model generasi muda yang sama sekali tidak menghargai nilai-nilai perjuangan para pahlawan dan arti kemerdekaan bagi suatu bangsa.


Cevin baru tahu, juga Balqis dan seluruh isi kelas yang mengikuti jalannya peristiwa Bu Tina Kartini mengomel itu dengan sangat seksama, bahwa tidak membawa buku Pendidikan Kewarganegaraan ternyata termasuk bentuk penghianatan terhadap perjuangan para pahlawan yang rela gugur demi Kemerdekaan Negara Indonesia.


Kesimpulannya, tidak membawa buku cetak pada jam pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan adalah satu bentuk kejahatan yang sangat serius, dan kalau saja ada undang-undangnya, mungkin Cevin sudah masuk penjara.


Setelah mengomel panjang lebar begitu, ternyata masih belum cukup. Bu Tina Kartini kemudian memerintahkan Cevin untuk meninggalkan kelas.


Balqis tersentak. Ia sudah hendak buka mulut, akan mengakui dialah yang tidak membawa buku. Namun Cevin segera mengulurkan tangan. Disentuhnya tangan kanan Balqis yang terletak dipangkuan, lalu diremasnya sesaat dan pelan, mengisyaratkan agar jangan bicara apa-apa.


Kemudian Cevin bangkit berdiri dan berjalan ke luar kelas, diiringi tatapan bersalah Balqis dan tatapan iri cowok-cowok di deretan belakang. Asyik banget si Cevin, nggak belajar. Curang tuh anak, nggak ngajak-ngajak.


Jam pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan berakhir bertepatan dengan istirahat kedua. Begitu Bu Tina Kartini meninggalkan kelas, Balqis langsung berlari menuju kantin. Dugaannya tepat. Cevin ada di sana. Cowok itu menyambut kedatangan Balqis yang tergesa-gesa itu dengan senyum. Senyum yang terlihat masih agak kikuk, karena ini pertama kali Balqis menghampirinya tanpa raut dingin, cemberut, marah atau ekspresi-ekspresi nggak enak lainnya.


"Maaf ya tadi? Maaf banget. Seharusnya tadi biar aja gue ngaku." ucap Balqis begitu sampai di depan Cevin. "Trus, lo nongkrong sendirian di sini selama dua jam pelajaran, ya? Apalagi tadi Kepala Sekolah lewat. Trus, lo langsung ngumpet, kan?" seru Balqis seketika.


"Nggak ada gunanya. Emang nggak ada laporan, apa? Gue dikeluarin dari kelas gini," ucap Cevin, mendengar itu Balqis jadi semakin merasa bersalah. "Bayaran somay sama minum gue deh. Biar tampang lo nggak feeling guelty banget gitu." Ucap Cevin senyum.


"Oke!" Balqis langsung mengangguk. Dia tersenyum dan balik badan. Tak lama dia kembali dengan sepiring somay dan segelas air mineral. "Nih!" Dia sodorkan seplastik kacang kulit ke hadapan Cevin. "Buat iseng sambil nemenin gue makan." Kata-kata Balqis itu membuat Cevin tercengang. Kebetulan banget! Cevin juga sedang memikirkan alasan untuk menemani Balqis makan.


"Bego ya kita? Kok bisa-bisanya nggak sadar kalo Kiki itu mungkin satu-satunya anak Sekolah Menengah Atas diseluruh Indonesia yang buku-bukunya disampulin cokelat," ucap Cevin sambil membuka plastik pembungkus kacang kulit.


Mendengar itu, Balqis batal menyuapkan potongan somay ke mulutnya. Dia mengangguk kuat-kuat.

__ADS_1


"Iya emang. Ini semua gara-gara Kiki!" Balas Balqis.


Keduanya lalu tenggelam dalam obrolan tanpa sekat. Pertama kali berdekatan tanpa bertengkar. Pertama kali makan di kantin berdua. Dan pertama kali merasa dekat satu sama lain.


__ADS_2