LORONG TAK BERUJUNG

LORONG TAK BERUJUNG
BAB 78 : KETIADAAN ENDING


__ADS_3

"Bener lagu itu, Qis? Lo yakin?" desis Cevin dengan suara tetcekat.


"Ya yakin lah!" Balqis mengangguk. "Lo pasti nggak percaya kalo semalem, selama gue nyetel radio dan pindah-pindah channel, cuma lagu itu yang gue denger. Barangkali tujuh atau delapan kali. Sumpah!" Balqis mengangkat tangan kanannya. "Atau… jangan-jangan sekarang lagu itu jadi lagu wajibnya stasiun-stasiun radio? Kudu diputer serentak, gitu?" Lanjut Balqis.


Cevin menggeleng. Kalut...! Ingin mengatakan bukan, tapi berucap lain. "Nggak tau deh. Iya mungkin." Balas Cevin.


"Iya kali, ya?" Balqis mengangguk-angguk. Ia tidak menangkap kekalutan Cevin, karena cowok itu buru-buru memalingkan mukanya. Tak salah lagi. Cevin memang datang. Dia kembali. Dia pulang. Dan sudah bisa dipastikan… itu untuk Balqis!


***


Cevin jadi kacau. Konsentrasinya pada pelajaran benar-benar hilang. Jangankan bisa menyimak setiap penjelasan guru, memindahkan apa yang sudah tertulis rapi dan jelas di papan tulis ke buku catatan saja bisa berantakan tidak keruan. Kekacauan itu terus menyerang Cevin sampai bel pulang berbunyi. Sedikit pun cowok itu tidak berhasil membuat dirinya tenang, meskipun hanya untuk sesaat. Balqis yang bisa merasakan kegelisahan Cevin itu akhirnya tidak tahan untuk tidak bertanya.


"Lo kenapa sih?" tanyanya pelan.


"Mmm… mendadak gue nggak enak badan nih." Cevin memilih berbohong. Balqis menghentikan kesibukannya menyalin catatan dari papan tulis. Ditatapnya Reinald dengan pandangan khawatir.


"Pulang aja gih." Ucap Balqis.


"Tanggung." Cevin menggeleng. Ketika Balqis masih juga menatapnya dengan pandang khawatir, cowok itu menegaskan dengan kalimat yang dibarengi senyum. "Cuma nggak enak badan dikit. Nggak terlalu masalah." Lanjut Cevin.


Namun saat mereka berjalan bersisian menuju halte sepulang sekolah, Cevin tidak sanggup lagi berpura-pura.


"Qis, kalo nanti nemuin sesuatu yang aneh-aneh, ceritain ke gue, ya? Jangan sampe nggak." Ucap Celvin.


"Yang aneh-aneh gimana maksudnya?" Tanya Balqis bingung.


"Yah, misalnya lo denger lagunya Glen feat Dewi di radio sampe berkali-kali." Balas Cevin.


"Oh? Iya sih, aneh banget. Tapi untuk apa?" Balqis menoleh dan menatap Cevin dengan kening berkerut.


"Pengen tau aja. Soalnya aneh," Cevin berkilah. "Bener, ya?"


"Gitu, ya?" kerutan di kening Balqis semakin rapat. "I-iya deh," sambungnya.


Bus yang ditunggu Balqis telah datang, dan mereka harus berpisah. Balqis lalu menaiki tangga bus. Dilambaikannya tangan sambil tersenyum saat bus mulai bergerak. Cevin membalas senyum dan lambaian tangan itu. Ketika Balqis sudah tak terlihat lagi, Cevin juga tak lagi berusaha menekan keresahannya. Dibiarkannya rasa itu keluar dan terlihat jelas pada raut wajah dan sorot matanya. Meskipun berasal dari sekolah yang sama, ia tidak mengenal satu pun siswa-siswa yang menunggu bus bersamanya. Jadi ia tidak perlu merasa cemas akan ada yang bertanya.


Ketika turun di halte tidak jauh dari rumahnya, keresahan Cevin berubah menjadi was-was yang menusuk. Terlebih saat kedua kakinya menapaki halaman. Ia tak mampu menahan debar jantungnya. Kedua matanya menatap waspada. Kedua telinganya juga tanpa sadar berada dalam kondisi yang sama. Siap menangkap bunyi atau suara yang tidak biasa. Sekecil atau sesayup apa pun.


Kewaspadaan Reinald semakin meningkat saat ia membuka pintu rumah, dan memuncak saat membuka pintu kamar. Tanpa sadar kedua matanya bergerak liar menatap ke sekeliling.


Namun tidak terjadi sesuatu yang aneh. Semuanya terlihat seperti biasa. Normal. Wajar. Tidak tercium bau parfum Irfan. Tidak terasa suasana yang berbeda.


Malam harinya Cevin mengikuti kebiasaan Balqis, belajar sambil mendengarkan radio. Sebentar-sebentar cowok itu memutar tuning dan berhenti di setiap stasiun yang ada. Namun tetap, ia tidak menemukan sesuatu yang ganjil. Semuanya normal. Ia sama sekali tidak mendengar lagu When I Fall in Love yang kata Balqis diputar serentak dan berkali-kali di seluruh stasiun radio.


Tetap itu tak mampu menghilangkan kewaspadaan Cevin. Sampai saat tubuhnya terbaring di tempat tidur, menjelang jam sebelas malam, cowok itu masih memerhatikan keadaan di sekelilingnya dengan cermat.


Kewaspadaannya mengendur pelan-pelan seiring sepasang matanya yang perlahan menutup karena kantuk.


***


Keesokan paginya, saat Cevin terbangun karena jeritan beker, kewaspadaannya langsung muncul kembali. Dengan tatap tajam dicermatinya seisi kamarnya di pagi dini hari itu. Sekali lagi, tidak ada sesuatu yang ganjil. Semua terlihat wajar dan biasa. Akhirnya kewaspadaan Cevin mengendur. Sebagai gantinya, muncul sedikit perasan malu terhadap diri sendiri.


"Kayaknya gue nih yang terlalu parno," desisnya sambil meraih handuk lalu berjalan ke luar kamar.


Ketika sampai di sekolah, kewaspadaan Cevin semakin menguap. Cowok itu malah mulai yakin bahwa kemarin sampai tadi pagi ia memang terserang paranoid akut. Dan ia tahu pasti penyebabnya. Rasa bersalahnya terhadap Irfan!


Ketika memasuki kelas dan mendapati Balqis sedang ngobrol asyik dengan Ranti sambil tertawa-tawa, kewaspadaan dan keresahan Cevin lenyap sama sekali. Ia benar-benar yakin itu hanya ketakutannya sendiri. Apalagi setelah lima belas menit sebelum bel, Balqis meninggalkan Ranti lalu duduk di sebelahnya. Masih dengan sisa-sisa tawa. Sepertinya semuanya memang baik-baik saja.


"Ngobrolin apaan sih? Seru banget," tanya Cevin sambil mengeluarkan buku-buku untuk pelajaran jam pertama.

__ADS_1


"Oh, itu. Acara semalem di radio," jawab Balqis sama tertawa kecil.


"Ada apa di radio?" Pelan, alarm di kepala Cevin mulai berdering.


"Cerita-cerita lucu gitu. Sebenernya sih itu radio untuk dewasa. Untuk orang-orang yang udah pada kerja atau udah menikah gitu. Tapi acaranya semalem lucu banget. Tentang nostalgia. Orang-orang bergiliran nelepon trus cerita gimana mereka ketemuan pertama kali sama istri atau suami meraka. Atau sama pacar mereka, buat yang belom menikah. Gimana cara mereka pendekatan atau gimana mereka waktu zaman pacaran dulu." Ucapan Balqis terhenti. Ia sibuk menggores-goreskan bolpoinnya yang macet ke selembar kertas.


"Terus?" Tanya Celvin.


"Terus ada satu penelpon. Cowok. Dia cerita, waktu Sekolah Menengah Atas dia pernah naksir cewek tapi nggak berani pendekatan. Takut diledekin temen-temennya soalnya tu cewek masih Sekolah Menengah Pertama. Jadi dia cuma berani ngeliatin tu cewek dari jauh." Jelas Balqis.


Cevin tersentak. Kepalanya menoleh cepat. "Apa!?" desisnya tajam. "Lo yakin begitu yang lo denger!?" Ditatapnya Balqis dengan mata melebar. Sesaat Balqis tertegun, karena inilah sorot mata Cevin yang paling tajam yang pernah dilihatnya.


"Mmm…" Balqis tergagap.


"Balqis!? Lo yakin itu yang lo denger!?" tanya Cevin lagi. Terdorong oleh rasa kaget, nada suaranya jadi agak membentak.


"Iya. Lo kenapa sih?" Tanya Balqis sedikit heran.


"Dia cuma merhatiin dari jauh?" Tanya Cevin.


"Iya." Jawab Balqis singkat.


"Dia catet semua kebiasaan tu cewek? Semua ciri-ciri fisiknya? Dan dia juga motret cewek itu diem-diem. Iya?" Lanjut Balqis lagi menjelaskan.


"Iya. Kok tau sih? Dengerin juga ya?" sepasang alis Balqis terangkat. Kemudian ia tertawa geli.


"Lucu ya tu orang? Maksud gue, sampe segitunya. Trus dari suaranya ketauan kalo dia malu banget waktu nyeritainnya. Lama lho dia ngamatin diem-diem gebetannya itu. Iya, kan?" Lanjut Balqis menjelaskan.


"Nggak tau!" tanpa sadar Cevin menjawab dengan nada getas.


"Lho? Elo bukannya dengerin juga?" Ucap Balqis bertanya.


"Nggak!" Jawab Cevin.


"Mirip cerita saudara gue!" Jawab Cevin.


"Ooooh." Balqis sama sekali tidak menyadari arti kalimat terakhir yang baru saja terucap dari mulut Cevin. Bagi cevin, mengucapkan kalimat itu telah membuatnya terguncang, sehingga cowok itu tak sanggup menatap balqis dan terpaksa memalingkan muka.


"Jam berapa lo denger acara itu?" Tanya Cevin.


"Biasa, jam tujuh. Biasa jam segitu gue mulai belajar." Jawab Balqis.


Cevin terenyak!


Waktu yang sama. Gelombang-gelombang yang sama. Bukan cuma dua tiga kali ia memutar tuning bolak-balik. Berkali-kali. Bagaimana bisa dirinya tidak menangkap siaran itu?


Ketenangan sesaat yang tadi sempat hadir, seketika menghilang. Kembali Cevin dicekam kegelisahan yang kini mulai bercampur dengan ketakutan.


Tapi belum tentu, bisiknya kemudian dalam hati. Barangkali tu orang punya story yang sama kayak irfan. Itu jenis cerita yang klasik kok.


"Siapa nama tu cowok?" tanyanya kemudian.


"Nggak tau. Gue dengerinnya udah telat." Jawab Balqis.


"Trus, ending nya gimana? Mereka jadian?" Tanya Cevin.


"Itu dia yang gue kesel! Huh!" Balqis mengetuk-ngetukan bolpoinnya ke meja. "Di rumah gue semalem mati lampu! Cuma sebentar sih. Kira-kira sepuluh menit. Tapi begitu listriknya nyala lagi, cerita tu cowok udah selesai. Yang cerita udah penelpon berikutnya. Sebel! Padahal gue penasaran banget sama ending-nya." Jelas Balqis Kemudian.


Sementara muka Balqis cemberut karena kesal tidak mengetahui ending cerita yang didengarnya semalam, muka Cevin justru pucat pasi.

__ADS_1


Ketiadaan nama dan ketiadaan ending…!!!


Tidak diragukan lagi. Semuanya sudah jelas. Irfan memang telah kembali! Cevin kacau. Jauh lebih kacau daripada kemarin. Cowok itu berusaha menutupinya, meskipun dengan susah payah.


Saat bel istirahat berbunyi, Cevin segera berdiri. Tanpa peduli mejanya masih berantakan dan tanpa mengatakan apa-apa pada Balqis, cowok itu berjalan ke luar kelas. Balqis mengikutinya dengan pandangan heran dan bertanya-tanya. Cevin berjalan dengan langkah cepat menuju toilet. Dimasukinya salah satu bilik lalu dikuncinya dari dalam. Kemudian ia menyalakan keran agar tidak ada orang yang tahu bahwa ia tidak melakukan apa-apa. Hanya ingin berdiam diri. Merenung...!!! Berpikir...!!! Tanpa khawatir mengundang keheranan dan pertanyaan.


Cowok itu berdiri diam dengan punggung bersandar di salah satu sisi dinding. Kedua tangannya terlipat di depan dada. Di tengah kecemasan, kegalauan, juga ketakutan yang semakin menikam, Cevin terus berpikir dan bertanya-tanya dalam hati, apakah Irfan memang betul-betul datang kembali namun...!!!


Tak lagi kasat mata...!!!


Tak lagi terlihat...!!!


Tak lagi teraba...!!!


Pertanyaan itu jelas takkan menemukan jawaban yang pasti. Meskipun Cevin sudah menghabiskan seluruh jam istirahat dengan berdiam diri di salah satu bilik toilet, ketika ia keluar toh pertanyaan itu tetap menjadi pertanyaan. Tidak ada jawabah yang berhasil ia dapatkan kecuali kalau ia mau percaya intuisinya sendiri.


Menjelang jam istirahat berakhir, Balqis kaget melihat Cevin berjalan masuk kelas dengan muka sangat pucat.


"Lo sakit, ya?" tantanya cemas. "Muka lo pucet banget." Tanya Balqis.


"He-eh." Cevin menjawab singkat. "Punya makanan, nggak? Gue nggak sempet ke kantin tadi." Lanjutnya.


"Ada, coklat batangan. Tapi tinggal dua menit lagi bel nih." Ucap Balqis.


"Cukup kok. Mana?" Tanya Cevin.


Balqis mengeluarkan coklat batangan yang tadinya akan dibawanya pulang itu dari dalam tas dan menyerahkannya pada Cevin. Cowok itu segera merobek bungkusannya lalu melahap isinya dengan cepat.


"Thanks," Ia tersenyum dikunyahan terakhir.


Ditepuknya bahu Balqis. "Sekarang gue udah sehat," katanya, untuk mengakhiri sorot cemas di kedua mata itu.


"Cepet amat? Cuma pake coklat batangan doang, lagi." Ucap Balqis.


Cevin tertawa pelan...!!!


"Gue bukan sakit, tapi kelaperan… banget!" katanya berbohong. "Ulangan Inggris nih. Siap?" Tanya Cevin.


"Siap nggak siaplah," dengus Balqis. Cewek itu memang lemah di semua mata pelajaran yang ada judul "bahasa" nya.


Cevin tertawa tanpa suara.


Bel berbunyi...!!!


Seluruh isi kelas segera menuju bangku masing-masing. Mereka langsung mengeluarkan kertas ulangan. Bu Ekawati, guru bahasa Inggris, memang sudah memberi tahu perihal ulangan ini sejak dua minggu lalu.


Tak lama Bu Ekawati memasuki kelas. Satu tangannya memeluk sebuah map berisi foto kopian soal-soal. Tanpa banyak bicara, beliau langsung membagi tumpukan soal itu menjadi empat bagian dan menaruhnya di empat meja terdepan. Delapan murid yang duduk di meja terdepan segera mengopernya ke teman mereka di belakang, setelah meninggalkan selembar untuk diri mereka sendiri.


Seisi kelas langsung bersiap-siap dan Bu Ekawati duduk tegak-tegak di kursinya. Ia memastikan setiap murid di depannya mengerjakan soal hanya dengan menggunakan otak mereka sendiri.


Kelas hening. Meskipun sempat merasa heran karena soal yang berjumlah dua puluh itu keseluruhannya berformat jawaban Benar atau Salah, seisi kelas langsung berkonsentrasi dengan keras di hadapan masing-masing.


Termasuk Cevin. Cowok itu juga segera tenggelam dalam keseriusan menjawab deretan soal di depannya. Ketika akhirnya selesai mengerjakan kedua puluh soal tersebut, Cevin mendapati kenyataan bahwa seluruh jawabannya adalah… Benar!


Ini belum pernah terjadi. Cevin membaca ulang seluruh soal dari awal. Tetap, jawaban yang ia dapatkan adalah "Benar" untuk seluruh soal. Masih tidak yakin, sekali lagi Cevin membaca ulang seluruh soal. Sekali lagi pula, jawaban keseluruhan untuk soal itu adalah "Benar".


Seketika wajah Cevin memucat. Kini ia menyadari, inilah jawaban dari pertanyaan yang diajukannya dalam hati saat mengurung diri di dalam bilik toilet jam istirahat tadi.


"Apakah Irfan memang kembali?"

__ADS_1


Di depan matanya, jawaban pertanyaan itu diberikan dalam dua puluh kali perulangan.


BENAR!!!


__ADS_2