
"Silakah duduk nak Cevin."
Ucap Cindy.
"Terimakasih, Tante."
Balas Cevin.
Cevin pun duduk.
"Sebentar ya, Vin, aku menaruh buku dulu," kata Balqis yang diangguki oleh Cevin. Kemudian gadis itu pun berlalu meninggalkan ruang tamu, masuk ke kamarnya.
Sedang Cevin, kini duduk ditemani oleh mamahnya Balqis.
"Bagaimana kuliahnya, nak Cevin...?" tanya mamahnya Balqis membuka pembicaraan diantara mereka setelah Balqis berlalu masuk ke dalam kamarnya, untuk mengganti pakaiannya.
"Baik, Tante," jawab Cevin dengan menunjukkan kesopanannya.
"Nak Cevin..."
Ucap Cindy.
"Saya, Tante..."
Balas Cevin.
"Maaf sebelumnya, jika pertanyaan yang hendak Tante ajukan pada nak Cevin, agak menyinggung perasaan nak Cevin," kata mamahnya Balqis, Cindy kemudian dengan
hati-hati. Wanita berusia sekitar lima puluh tahunan itu, berharap pemuda yang kini diajak bicara tidak tersinggung dengan apa yang akan dia tanyakan.
"Ah, tidak mengapa, Tante. Silakan jika Tante ingin mengajukan pertanyaan, pada saya," jawab Cevin masih dengan sikap yang sopan dan santun. Bagaimana juga, dia kini tengah berbicara dengan mamah kekasihnya. Sudah sepantasnya dia harus mempertunjukkan sikap hormat dan santunnya.
"Begini nak Cevin... Sebenarnya Tante tidak ingin mencampuri urusan nak Cevin dengan Balqis, anak
Tante. Namun sebagai orang tua, Tante pun tidak bisa membiarkan anak Tante tidak menentu..."
Ucap Cindy.
"Maksud Tante?" Tanya Cevin.
"Nak Cevin... Apa benar nak Cevin mencintai anak Tante, Balqis?"
Tanya Cindy.
"Benar, Tante."
Jawab Cevin tegas.
"Sungguh-sungguh nak Cevin mencintai anak Tante?"
Tanya ulang Cindy.
"Sungguh-sungguh, Tante."
Jawab Cevin.
"Syukurlah. Tapi yang perlu Tante ingatkan, bagaimana dengan kedua orang tua nak Cevin?" tanya
Mamahnya Balqis mengingatkan.
Karena bagaimana juga, orang tua Cevin turut berperan dalam masalah percintaan Cevin dan anaknya.
Dan bagaimana juga, status ekonomi mereka, turut pula menentukan status hubungan cinta antara Cevin dengan Balqis. Itu tidak bisa dipungkiri, karena biasanya orang kaya, merasa malu mempunyai menantu orangi miskin. Dan kalau pun mau menerima menantu orang miskin, kebanyakan menantunya itu seakan dijadikan budak dalam keluarga.
Cevin terdiam untuk beberapa saat. Dia belum bisa menjawab pertanyaan yang diajukan oleh mamahnya Balqis, sebab dia sendiri belum mengetahui bagaimana tanggapan kedua orang tuanya jika mengetahui dia masih berhubungan dengan Balqis.
Ya...!!! sebenarnya mamahnya sudah mengetahui kalau dia berhubungan dengan Balqis, namun mamahnya tidak setuju. Semua itu dikarenakan mamahnya menghendaki Cevin menikah dengan gadis pilihan mamahnya, bukan seorang gadis yang menjadi penyebab kematian Irfan anaknya tertua kakak kandungnya Cevin. Dan gadis yang oleh mamahnya dikatakan masih keturunan lebih dari kebanyakan sebagaimana dengan keluarga mereka. Karena menurut mamahnya, semua itu berhubungan erat dan harus menikah dengan golongan yang sama derajatnya pula.
"Bagaimana nak Cevin?" Mamahnya Balqis kembali
bertanya. "Tante sarankan, jika memang kedua orang tua
nak Cevin tidak menyetujui hubungan nak Cevin
dengan anak Tante, sebaiknya nak Cevin pikirkan dulu baik-baik. Jangan sampai terjadi penyesalan di kemudian hari. Baik dari pihak nak Cevin, maupun dari pihak Balqis...," kata mamahnya Balqis kemudian dengan mata masih memandang lekat ke wajah Cevin yang masih menunduk dalam, sulit untuk menjawab dan memutuskan masalah itu.
"Saya kira kedua orang tua saya akan mengerti. Tante...," akhirnya Cevin menjawab, meski dia masih merasakan keraguan melilit hatinya.
Benarkah orang tuanya akan mengerti dan menyetujui hubungan cintanya dengan Balqis?
__ADS_1
Dari pembicaraannya dengan mamahnya beberapa waktu yang lalu saja, jelas mamahnya tidak menyetujui hubungannya dengan Balqis.
Cevin masih ingat kata-kata mamahnya, waktu pertama kali dia menceritakan tentang Balqis pada mamahnya. Kata-kata mamahnya waktu itu. Meski memang bukan merupakan keputusan final, namun kalimat itu merupakan suatu peringatan baginya, agar tidak meneruskan hubungannya dengan Balqis. Namun Cevin tetap pada pendiriannya. Dia pun tetap menjalin hubungan dengan Balqis, walau semua itu dilakukan oleh Cevin secara diam-diam. Dan tak pernah memperkenalkan Balqis pada kedua orang tuanya.
"Ya. kalau memang begitu syukurlah... Sebagai orang tua, Tante tidak bisa berbuat apa-apa. Tante hanya mengingatkan saja. Jangan sampai kelak ada masalah di antara kalian berdua. Tante pun tidak ingin Balqis disalahkan, begitu juga bapak tidak ingin nak Cevin dipersalahkan...." kata Cindy masih dengan sikapnya yang adil dan bijaksana.
"Iya, Tante." Jawab Cevin.
Dari dalam kamar, Balqis keluar dengan sudah berganti pakaian tidur. Di bibirnya mengurai seulas senyum manis. Senyum yang mampu menggetarkan hati lelaki. Dan senyum indah itulah, yang membuat mahasiswa tergila-gila dan berlomba untuk mendapatkan cinta Balqis. Dan karena kecantikan wajahnya serta keindahan senyumnya, Balqis pernah menjadi putri kampus. Juga primadona kampus walau pun yang mana kita ketahui bersama saat masih memakai baju putih abu-abu, Balqis terkenal dengan cewek yang penuh keisengan akan tetapi waktu berlalu kedewasaan yang muncul menghilangkan masa-masa putih abu-abunya.
"Nah tuh Balqis sudah keluar. Kalian ngobrolah. Tante ada pekerjaan yang. harus diselesaikan...," kata Cindy. "Tante tinggal dulu nak Cevin..."
Lanjut Cindy.
"Iya, Tante..."
Lanjut Cevin.
Cindy pun berlalu, meninggalkan anaknya yang kini menemani Cevin.
"Kau tidak tidur, Qis?"
Tanya Cevin.
"Masih sore..."
Balas Balqis.
"Ingat,, kau harus banyak istirahat. Jaga kesehatanmu, Qis," kata Cevin mengingatkan Balqis, kalau kekasihnya sekarang sedang dalam mengandung. Tidak baik orang yang dalam keadaan mengandung melek malam.
"Aku mengerti. Tinggal bagaimana kau, Vin..."
Ucap Balqis.
"Maksudmu?"
Tanya Cevin.
"Jika kau memang mencintai anak yang kukandung, kuharap kau tidak mengecewakan ku." Ucap Balqis.
"Aku akan berusaha secepatnya menyelesaikan masalah kita. Qis. Percayalah, aku sangat mencintai anakku.
"Aku pun berharap begitu, Vin...," lirih suara Balqis berkata. Disertai helaan napas yang berat. Matanya memandang ke wajah Cevin sesaat. Kemudian dengan lemah kepalanya ditundukkan. Semua itu semakin membuat Cevin turut haru dan trenyuh melihat kesedihan yang tergambar di wajah Balqis.
Sehingga Cevin pun turut diam...!!!
Lama keduanya berdiam diri. Sampai akhirnya Balqis kembali membuka suara.
"Aku berharap kita bisa tetap menjadi satu untuk selamanya, sampai akhir nanti. Namun jika sampai kau mengingkari atau kedua orang tuamu tidak merestui hubungan kita, entah bagaimana aku dan anakku. Sebab aku tak akan menggugurkannya. Bagaimana juga, bayi dalam kandunganku adalah bukti cintaku yang tulus padamu. Kalau memang salah, maka bukan dia yang bersalah, melainkan kedua orang tuanya yang bersalah. Entah aku yang terlalu mencintaimu dengan menggebu-gebu, sehingga aku rela menyerahkan segalanya padamu. Atau kau yang salah, karena tidak mau bertanggung jawab dan tidak mau mengakui bayi yang kukandung ini sebagai anakmu. Atau kedua orang tuamu, jika merekalah yang melarangmu menikahiku...," desah Balqis lirih agar tidak terdengar oleh mamahnya. Wajah Balqis kembali menggambarkan kemurungan. Meski belum jelas semuanya, namun Balqis merasakan ada sesuatu yang sudah sepantasnya menjadikan hatinya was- was dan merasa khawatir.
Cevin terdiam membisu. Dia pun sedang berpikir, bagaimana caranya agar mamanya menyetujui dan merestui perkawinan mereka. Karena dari pembicaraan yang pernah dilakukan dia dengan mamahnya, terkesan kalau mamahnya tidak menyetujui hubungannya dengan Balqis. Dan mamahnya kelihatannya tidak ingin mendengar dia membicarakan masalah Balqis.
Itu dulu, tiga tahun yang lalu. Ketika dia pertama kali menjalin hubungan cinta dengan Balqis. Mungkin mamahnya tidak setuju, karena masih trauma akan kejadian masa lalu yang menimpa kakaknya Irfan dan pula saat itu dia masih baru kuliah.
Namun sekarang, dia sudah tingkat akhir tentu pandangan mamahnya pun berubah. Disamping itu mungkin dengan kehamilan Balqis, mamahnya akan mau mengerti dan mau merestui hubungan mereka.
Bagaimana juga, bayi yang ada dalam kandungan Balqis, adalah darah dagingnya, yang berarti masih keturunan mamahnya. Dan mamahnya tidak bisa memungkiri kenyataan itu. Selain itu, banyak orang tua mengatakan, seorang ibu akan jauh lebih menyayangi cucunya ketimbang anaknya sendiri.
Dia harus berusaha. Siapa tahu mamahnya akan tersentuh perasaannya, setelah mendengar bahwa Balqis kini sudah mengandung darah dagingnya, yang berarti juga cucunya.
"Aku bangga mendengar ungkapanmu, Qis. Betapa di hatiku, kau adalah wanita yang sempurna. Ibu yang baik bagi anaknya. Tak akan dapat kutemui, wanita sepertimu lagi, Qid...," lirih akhirnya Cevin berkata, "Rasanya aku tak mungkin bisa menjalani hidup ini, tanpa denganmu..."
Lanjut Cevin.
Balqis menarik napas dalam-dalam. Dipejamkan matanya, disertai dengan kepalanya menengadah ke atas. Tidak terasa, air matanya meleleh, keluar dari kelopak kedua matanya. Entah apa arti air mata itu. Mungkin haru, sedih, bahagia atau pilu. Tak ada yang mengerti. Hanya Balqis sendiri yang mengerti arti air matanya yang berlinang dan akhirnya jatuh meleleh membasahi kedua pipinya yang kuning dan mulus.
"Kau menangis, Qis...?" tanya Cevin lirih dengan mata memandang ke wajah Balqis, dimana kedua pipi gadis itu kini basah oleh air mata.
Balqis menggigit bibir kuat-kuat, agar tidak mengeluarkan suara dalam tangisnya. Sedang air matanya, semakin bertambah deras keluar dari kedua matanya yang masih memejam rapat. Dia terus berusaha menahan agar tidak keluar suara tangisnya. Sebab kalau sampai mengeluarkan suara, tentu mamahnya akan mendengar. Mereka pasti akan merasa curiga. Dan mereka pasti akan keluar, untuk mengetahui apa yang tengah terjadi.
Cevin bangun dari duduknya, kemudian melangkah mendekati kursi dimana Balqis duduk. Lalu dengan lembut, jari tangannya. menyeka air mata yang meleleh membasahi kedua pipi kekasihnya.
"Jangan menangis, Qis. Percayalah, aku akan tetap bersamamu. Dan aku tetap mencintai sertai menyayangimu...," bisik Cevin di telinga Balqis, berusaha menghibur hati kekasihnya.
"Jangan kecewakan aku, Vin...," desis Balqis lirih sambil membuka kedua matanya yang tadi terpejam.
Cevin mengangguk...!!!
"Ijinkan aku pulang, Qis..."
__ADS_1
Ucap Cevin.
Balqis mengangguk.
"Hapus air matamu, lalu panggil mamahmu.
Aku akan pamit," pinta Cevin yang dengan menurut dilakukan oleh Balqis. Gadis itu. pun beranjak bangun untuk memanggil mamahnya, karena Cevin akan pamit pulang.
"Ada apa, nak Cevin?" tanya mamahnya Balqis setelah keluar menemui tamu anaknya.
"Tante, saya permisi dulu mau pulang..."
Ucap Cevin.
"Oh, silakan... Hati-hati di jalan." Ucap Cindy.
"Terimakasih sebelumnya, Tante..."
Balas Cevin.
"Sama-sama. Tantelah yang seharusnya berterima kasih pada nak Cevin, sebab anak Tante telah merepotkan nak Cevin," jawab Cindy dengan bibir tersenyum.
Cevin turut tersenyum.
"Permisi, Tante..."
Lanjut Cevin.
"Ya."
Balas Cindy tersenyum.
Dengan diikuti oleh Balqis, Cevin pun melangkah keluar menuju ke mobilnya.
"Aku pulang dulu, Qis..."
Kata Cevin pada Balqis.
Balqis mengangguk.
"Jaga dirimu baik-baik."
Ucap Cevin lagi.
Kembali Balqis mengangguk.
"Aku akan secepatnya memberi kabar padamu," kata Cevin lagi dengan mata masih memandang lekat ke wajah kekasihnya. Sepertinya dia tidak ingin pergi meninggalkan kekasihnya. Dia ingin senantiasa berada di sisi Balqis, mendampingi wanita cantik yang dicintai dan mencintainya itu untuk menyongsong kehidupan. Merawat dan membesarkan serta mendidik anak mereka yang kini masih ada dalam kandungan Balqis.
"Aku menunggu..." Balas Balqis.
"Jangan terlalu memikirkan masalah ini, Qis. Ingat, kau harus menjaga kesehatanmu, agar bayi yang kau kandung sehat dan kelak akan menjadi anak yang baik serta pintar...," desah Cevin mengingatkan.
Balqis mengangguk dengan mata masih memandang ke wajah tampan, kekasihnya. Lelaki yang telah menaklukan harinya, dan bahkan telah dia percaya untuk mendapatkan apa yang dia miliki.
"Aku pulang ya...?"
Lanjut Cevin.
Balqis kembali mengangguk. Kali ini dia berpesan.
"Hati-hati di jalan..."
Ucap Balqis.
"Ya."
Jawab Cevin.
Cevin mengulurkan kedua tangannya ke arah kepala Balqis. Kemudian dengan lembut, ditariknya kepala Balqis ke arah wajahnya. Lalu dengan lembut pula, Cevin memberi kecupan sayang di kening Balqis.
"Selamat malam, semoga kau mimpi indah, Qis. Dan jangan lupa, bawa aku dalam mimpimu..."
Ucap Cevin.
"Selamat malam juga. Aku pun berharap kau mimpi indah dan kau akan membawaku dalam mimpi indahmu...,"
Balas Balqis dengan wajah sendu.
Cevin pun menstater mobilnya. Tidak lama kemudian, mobil Jibb hitam itu melaju perlahan meninggalkan halaman rumah Balqis, menembus jalan ditengah malam yang agak sunyi. Sedang Balqis, dengan agak malas melangkah masuk dalam rumahnya.
__ADS_1