LORONG TAK BERUJUNG

LORONG TAK BERUJUNG
BAB 30 : BERTEMU FADLY


__ADS_3

Dalam diam Cindy mendesah panjang. Ada yang berdegup dalam hatinya saat mendengar kalimat yang diucapkan Deska, bahwa anak-anaknya akan merasa senang kalau papanya sudah mendapatkan pengganti mama mereka.


Dicobanya untuk menekan debur jantungnya saat membayangkan dan menelaah kalimat itu lebih lanjut. Benarkah Deska mengharapkannya untuk menjadi pengganti istrinya? Benarkah kedua anak-anak Deska dan istrinya terdahulu akan menerimanya sebagai ibu baru mereka? Kalau seandainya itu benar terjadi, lantas bagaimana dengan perasaannya sendiri? Cintakah ia pada Deska yang sudah berbulan-bulan lamanya mengisi hari-harinya yang sepi?


Dan Cindy hanya bisa mengeluh pelan saat menyadari belum ada titik-titik tertentu dalam hatinya yang mengisyaratkan, bahwa ia juga mencintai Deska. Betapapun baiknya dan penuh perhatiannya lelaki itu pada keluarganya, namun itu tak mampu menumbuhkan benih-benih cinta dalam hatinya.


Menyadari hal itu Cindy hanya bisa menghembuskan napasnya yang terasa berat.


"Cindy," kembali Deska memanggilnya begitu mereka tiba di sebuah pohon yang berdaun rindang. Kebetulan tempat itu cukup sepi dari ramainya pengunjung yang kebanyakan lebih suka bermain di pinggir pantai. "Kalau kamu bersedia," suara Deska terdengar begitu lirih. "Izinkan aku untuk menikahimu..." Lanjut Deska tetap dengan nada yang lirih.


Tidak ada kata yang terucap.


Kendati jantung Cindy sempat menggelepar mendengar kalimat yang baru diucapnya itu. namun hati dan pikirannya melayang entah kemana.


"Cin," bisik Deska lagi, lirih. Dijatuhkan pantatnya pada sebuah bangku semen yang ada di sana. "Kalau saja kau tahu, sudah sejak lama aku ingin membangun kembali kebahagiaan keluargaku yang sempat pecah. Yah, walaupun kini dengan


wanita yang berbeda, tapi aku yakin kelembutan hatimu akan mampu mengobati luka hatiku tentang trauma masa lalu yang menyakitkan itu...." Lanjut Deska kemudian.


Cindy menggigit bibirnya pelan. Sama seperti sikap yang selama ini ditunjukkan Deska, dalam mengungkapkan perasaannya pun lelaki itu Kelihatan begitu tenang dan kalem. Dalam hatinya menyesali, mengapa istri Deska meninggalkan lelaki yang begitu lembut dan kalem ini?


Beberapa saat suasana hening melingkupi mereka. Hanya debur ombak pantai saja yang terdengar dan sempat menyinggahi telinga mereka.


Dalam ketermenungannya Cindy mencoba menyusuri hatinya. Bagaimana ia menjawab pertanyaan dan curahan perasaan yang telah dilontarkan Deska? Adakah rasa lain di hatinya pada lelaki yang telah meluangkan waku dan menyempat kan diri untuk mengunjunginya selama ini? Cindy mengakui selama ini ia memang menaruh simpati yang cukup besar pada Deska. Tapi simpati bukan berarti cinta kan? Dan saat ini cintalah yang dicari dalam hatinya untuk menguat kan jawaban apa yang akan diberikannya pada Deska.


"Mas...," desahnya kemudian, pelan. "Beri aku waktu untuk berpikir lebih lanjut..." Jawab Cindy lirih.


"Oh, tentu saja, Cin," Deska segera menganggukkan kepalanya. "Kamu punya kebebasan untuk berpikir dan memahami lebih lanjut Aku bersedia menunggu jawaban apa pun yang keluar dari bibirmu." Lanjut Deska penuh pengertian.


"Terima kasih, Mas," Cindy mengulaskan senyum manisnya atas kebesaran hati lelaki itu. "Akan ku usahakan untuk memberi jawaban secepatnya." Ucap Cindy.


"Jangan terburu-buru, Cindy," sergah Deska cepat. "Pikirlah dulu sematang-matangnya sebelum kau memberi keputusan. Aku tak ingin ada penyesalan di kemudian hari bila kau tergesa-gesa mengambil keputusan itu." Ucap Deska lagi.


"Mas tak usah khawatir," ujar Cindy menenangkan. "Aku tak pernah memerlukan waktu lama untuk mengambil sebuah keputusan." Lanjut Cindy yakin.

__ADS_1


"Terserah kamulah, Cin," Deska mengangkat bahunya. Kemudian mereka kembali melangkah menyusuri pasir putih yang mengotori kaki mereka.


Hari esok masih terbentang di depan mata. Namun mampukah mereka menjangkau dan meraih apa yang ada di hari esok yang penuh misteri itu?


***


Hari belum terlalu sore ketika Cindy bersama dua anaknya tiba di pertokoan Tanah Abang yang tak pernah sepi dari pengunjung. Hari itu dia memang punya janji untuk membelikan dua anaknya masingmasing sepotong baju baru. Biar lebih praktis dipilihnya pertokoan itu yang memang letaknya tidak terlalu jauh dari rumahnya.


"Mama, baju itu bagus ya?" tiba-tiba saja Farel menunjukkan sebuah baju yang dikenakan boneka anak-anak yang terpajang di depan etalase. Sebuah baju berwarna kuning yang dipadu dengan renda dan aplikasi menarik lainnya.


"Balqis mau yang itu deh, Ma," Balqis merajuk dan menarik tangannya untuk mendekat.


Sesaat Cindy memandangi baju yang dipakai patung boneka itu. Manis juga modelnya. Cocok untuk anak seusia Balqis. Bahkan warnanya yang begitu cerah akan membuat Balqis yang manis dan berkulit putih semakin cantik bila mengenakan baju itu.


"Boleh kan Ma?" tanya Balqis lagi saat melihatnya masih terdiam.


"Coba deh kita lihat dulu," Cindy mengangguk dan mengajak Farel dan Balqis masuk ke toko busana itu. Ditunjukkannya model pakaian yang diinginkan Balqis itu pada pelayan yang datang menghampiri dan menyapanya manis. Setelah melihat harganya tak terlalu mahal dan Balqis pun terlihat begitu pantas ketika mencoba baju itu, Cindy pun segera membayar harganya.


Ya ampun, lelaki itu bukankah Fadly? Mata indah wanita itu seketika membelalak begitu merasa penglihatannya tak salah lagi. Dituntunnya kedua anaknya untuk menghampiri seorang lelaki yang nampak sedang sibuk melayani pembeli.


"Fadly...," panggilnya kemudian ketika laki-laki itu telah selesai mengembalikan uang seorang pembeli.


Refleks lelaki yarig dipanggil Fadly itu menoleh dan memandangnya separuh kaget. Hampir ia tak percaya saat memandang siapa wanita yang kini berdiri di hadapannya, "Cindy?" Kontan ia menyalami dengan hangat begitu sadar dengan dugaannya. Cindy pun membalas erat jabatan tangannya, membuat Farel dan Balqis terlongong memandang mereka.


"Kamu... jualan di sini, Dly?" tanya Cindy kemudian sambil matanya pemandang ke arah barang-barang dagangan yang digelar di bawah kakinya. Cukup variasi juga, ada tas Wanita, ikat pinggang serta keranjang kayu tempat koran atau majalah.


"Beginilah, Cin. Oya, apa kabarmu sekarang? Kenapa lama tidak pulang? Dan di mana? rumahmu sekarang?" Bertubi-tubi pertanyaan itu meluncur dari bibir Fadly.


"Ceritanya cukup panjang, Dly," Cindy mencoba untuk tersenyum. Dipandangnya lamat-lamat wajah lelaki yang pernah dicintai adiknya Zahra yang karena di jodohkan dengan orang yang tidak di cintainya akhirnya Adiknya Zahra mengambil jalan pintas segera dengan cepatnya meninggalkan dunia ini dan telah sekian tahun tak pernah dijumpainya.


"Tapi suatu saat, mau kan kau menceritakannya untukku?" tanya Fadly lagi yang segera, dijawab dengan anggukan kepala Cindy.


"Oya, ini anak-anakmu, Cin?" Perhatian Fadly beralih pada dua bocah cilik di sisi Cindy.

__ADS_1


"Iya," kembali Cindy mengangguk. "Oya, Farel,


Balqis kenalkan dong. Ini Oom Fadly, teman Mama waktu di desa dulu," ujarnya kemudian pada kedua anaknya. Dengan lembut Fadly pun segera mengulurkan tangannya ke arah anak-anak itu disambut dengan sikap lugu.


"Bagaimana kabar Ayah dan ibuku, Dly?" tanya Cindy kemudian mengalihkan pembicaraan.


"Mereka baik-baik saja, Cin. Tapi kasihan ibumu, kelihatannya ia sangat merindukanmu. Oya, tahun lalu adik sepupumu si Ririn menikah." Jelas Fadly.


"Ririn sudah menikah?" Cindy terlonjak.


"Ya, dengan lelaki ganteng anak seberang desa kita," Fadly menjelaskan.


"Syukurlah kalau ia sudah berumah tangga dan hidup bahagia," di hembuskannya napas lega.


"Kamu sendiri bagaimana, Cin? Pasti hidupmu juga bahagia ya dengan, dua anak yang ganteng dan cantik ini. Oya, kalian bertiga saja kemari? Mana suamimu? Kok tidak diajak sekalian?" Bertubi-tubi Fadly menghujami Cindy pertanyaan.


Fadly mengukirkan senyum manisnya. Sejak tadi pandangannya tak lepas dari wajah Cindy yang memang mirip sekali dengan mantan kekasihnya Zahra yang tidak lain adalah adik kandungnya Cindy dan memang pernah menjadi kekasihnya sekian tahun lalu. Ah, Cindy tetap cantik, menarik dan tak pernah bosan bila dipandang lama-lama sama halnya dengan Zahra. Malah kini ia kelihatan makin menarik dengan kematangan usianya. Dan matanya yang indah itu... ah, mata indah itulah yang pernah membuatnya jatuh cinta dulu pada Zahra yang memiliki mata yang sama dengan Cindy.


Namun sayang semuanya telah berlalu dan kini hanya menjadi kenangan yang takkan pernah dapat di lupakannya.


Belum sempat Cindy menjawab pertanyaannya, datang seorang pembeli yang melihat dan menawar barang dagangannya. Hingga konsentrasi Fadly pun jadi pecah. Cindy yang merasa tak enak hati cepat cepat menyudahi pembicaraannya dan pamit untuk meninggalkan tempat itu.


"Eh, tunggu dulu, Cin. Kamu harus menyebutkan alamat rumahmu dulu, agar suatu saat aku bisa datang main ke sana," tahan Fadly kemudian.


Cindy menahan langkahnya.


Disebutkan alamat rumahnya yang segera dicatat Fadly dengan tergesa-gesa.


"Tidak apa-apa kan kalau aku main ke rumahmu?" tanya Fadly lagi yang segera dijawab dengan gelengan kepala wanita itu.


"Oke deh kalau begitu," Fadlt tersenyum puas. "Hati-hati ya. Sampai ketemu nanti." Lanjut Fadly.


Dipandangnya kepergian Cindy yang berlalu bersama dua apaknya dengan hati berbunga-bunga. Tak pernah disangkanya kalau hari ini ia akan berjumpa kembali dengan kakak dari pujaan hatinya Zahra yang telah meninggalkannya terlebih dahulu beberapa tahun lalu. Walau pun dalam keadaan yang berbeda dan banyak terjadi perubahan dalam hidup Cindy, namun Fadly merasa gembira bertemu kembali dengan wanita yang sangat mirip sekall dengan mantan kekasihnya itu, yang merupakan kakak kandungnya dan tidak di pahami suatu rasa yang pernah menghujani hati dan menguasai perasaannya itu tiba-tiba terbangun dari tidurnya kembali. Disimpannya hati-hati kertas yang bertuliskan alamat Cindy ke dalam dompetnya. Tekadnya sudah bulat ia akan mengunjungi rumah wanita itu suatu hari nanti.

__ADS_1


__ADS_2