LORONG TAK BERUJUNG

LORONG TAK BERUJUNG
BAB 73 : SAAT PEMBALASAN


__ADS_3

Kelas hening total. Senyap sempurna. Hal ini selalu terjadi di kelas mana pun yang dimasuki Pak Hadi Parjono. Guru fisika ini sebenarnya jarang marah, tapi beliau memang punya sense of kill yang berbeda dengan guru-guru killer lainnya. Dia tidak "Membunuh" muridnya dengan omelan panjang atau tugas menumpuk, apalagi surat "Ngadu" ke orangtua murid tersebut. Cukup dengan tatapan mata.


Kalau Pak Hadi Parjono menatap tajam, setiap objek tatapannya akan langsung menciut dan seketika yakin hidup mereka dalam bahaya besar. Dan untuk keluar dari bahaya besar tersebut hanya ada dengan satu cara, yaitu menjadi murid yang baik. Contohnya, duduk manis pada jam fisika selanjutnya, mendengarkan setiap penjelasan Pak Hadi Parjono dengan ekspresi tekun dan penuh perhatian, mencatat dengan lengkap dan rapi, serta mengerjakan setiap Pekerjaan Rumah yang diberikan. Hal ini harus terus dikerjakan sampai sang guru lupa bahwa murid tersebut pernah melakukan kesalahan dan kredibilitasnya kembali baik.


Kali ini nasib malang itu menimpa Didik, yang punya nama asli Didik Kurniadi. Di tengah keheningan sempurna itu, yang hanya terisi suara goresan kapur yang digerakkan Pak Hadi Parjono di papan tulis, mendadak terdengar suara Balqis. Tidak terlalu keras dan terdengar wajar, seakan Balqis tidak bermaksud apa-apa.


"Didik, bolpoin lo gue pinjam deh. Nggak lo pake, kan? Soalnya elo kan nggak nyatet." Ucap Balqis.


Seketika semua kepala terangkat, dan semua aktifitas mencatat terhenti. Termasuk Pak Hadi Parjono. Beliau langsung menghentikan kesibukannya memenuhi seluruh permukaan papan tulis dengan berbagai rumus dan contoh soal yang bikin kepala cepat kisut. Didik langsung pucat pasi, menegang di kursinya. Sumpah demi seisi jagat raya, ini benar-benar bencana!


Seisi kelas menyaksikan dengan tegang saat Pak Hadi Parjono meletakkan buku yang dipegangnya, lalu melangkah mendekati meja Didik dengan tatapannya yang mematikan, tanpa mengeluarkan sedikit pun suara.


Sesampainya di meja tujuan, dengan tatapan yang masih tertancap pada Didik, Pak Hadi Parjono meraih buku catatan Didik yang tergelatak di meja dan membuka lembaran-lembarannya. Wajah yang kaku dan dingin semakin bertambah menakutkan saat mendapati kenyataan bahwa terakhir kali Didik mencatat pelajarannya kira-kira tahun 1500 SM.


Dan inilah kecanggihan Pak Hadi Parjono. Tanpa mengeluarkan suara sedikit pun, cukup dengan menatap tajam dan menjulangkan tubuhnya yang tinggi besar di depan si murid bermasalah, persoalan akan selesai saat itu juga.


Dan itulah yang terjadi pada Didik. Disaksikan semua mata yang ada, yang menatap antara geli dan kasihan -termasuk mata sang pencipta hura-hura, Balqis...! Didik meminta maaf pada Pak Hadi Parjono dengan kepala tertunduk dan suara terbata. Dia berjanji akan secepatnya melengkapi buku catatannya yang isinya cuma tulisan "FISIKA" gede-gede di halaman pertama dan "BAB SATU" di halaman berikutnya.


Di jam fisika-fisika seterusnya, Didik jadi objek tawa geli dan bahan ledakan teman-teman sekelasnya. Soalnya begitu Pak Hadi Parjono masuk kelas, Didik langsung bersikap bak pelajar teladan atau murid langganan juara kelas. Tekun, rajin mencatat, dan mengerjakan Pekerjaan Rumah, serta mendengarkan setiap penjelasan Pak Hadi Parjono dengan serius. Dengan sikap tubuh sempurna, kata-kata guru killer itu disimaknya habis-habisan.


Suatu pagi, sepuluh menit sebelum pelajaran fisika, Wisnu tertawa terbahak-bahak saking gelinya. "Mampus lo, Dik!" seru Wisnu.


Didik menoleh. Ditatapnya Wisnu dengan dongkol. Tatapannya kemudian beralih ke Balqis. Lebih dongkol lagi.


"Awas lo, Qis, ya. Tunggu pembalasan gue!" ancam Didik. Entah sudah berapa puluh kali Didik melontarkan ancaman itu. Sampai saat ini yang bisa dilakukannya memang hanya sebatas mengancam.


Karena keisengan Balqis kali ini lumayan gawat, lumayan tidak lucu sebenarnya, Cevin terpaksa menjaga cewek itu dengan ketat. Tak peduli dengan semua protes Balqis yang jadi terkekang karena terlalu diproteksi. Yang jelas, Didik juga tidak bisa berbuat apa-apa karena Cevin lah yang pertama harus dihadapi kalau ingin membalas keisengan Balqis.


Balqis meringis lalu memamerkan buku catatan dan Pekerjaan Rumah fisikanya dengan sangat demonstratif.


"Nggak bakalan ada kesempatan lo balas dendam ke gue. Soalnya gue selalu mencatat dengan rajin dan menyontek Pekerjaan Rumah lebih rajin lagi." Ucap Balqis.


Mendengar itu, Wisnu tambah terbahak-bahak. Cevin ikut tertawa mendengar jawaban Balqis. Namun ia tahu, Didik tidak main-main dengan ancamannya.

__ADS_1


***


Benar...!!!


Didik dendam...!!!


Meskipun sekarang nilai fisikanya lumayan, yang namanya jadi perhatian guru killer tetap bikin stres dan jantung deg-degan. Pokoknya hidup jadi nggak tenang dan nggak indah lagi deh.


Didik merasa hidupnya baru bisa kembali tenang kalau sudah berhasil membalas keisengan Balqis. Demi dendamnya terbalas itulah perhatian Didik pada Balqis tak pernah lengah, meskipun tidak kentara.


***


Suatu pagi Balqis melangkah masuk ke kelas tanpa semangat. Hari ini sebenarnya malas masuk. Tamu bulanannya datang. Dan hari ini hari kedua. Hari banjir bandang dalam siklus bulanannya.


Sayangnya hari ini ada pelajaran kimia dan matematika. Jenis mata pelajaran yang terus diikuti tanpa absen saja masih sering nggak mudeng, alias susah dipahami, apalagi pakai acara bolong-bolong. Dan sialnya, kedua mata pelajaran itu adanya di ujung-ujung. Matematika dua jam pertama, dan kimia di dua jam terakhir. Artinya, Balqis terpaksa kudu sekolah full time sampai menjelang sore. Tidak bisa minta izin.


"Kenapa? Kok lesu?" tanya Cevin.


Balqis tersenyum datar. "Mm… nggak enak badan," jawab Balqis. Jawaban itu membuat Cevin sejenak menatap Balqis sebelum meneruskan kembali obrolannya dengan Toni. Berhubung sedang banjir bandang, mau tidak mau Balqis harus bolak-balik ke kamar mandi untuk ganti pembalut. Cevin, yang tidak mengerti, jadi khawatir. Ia menyarankan untuk pulang. Jelas saja Balqis menolak.


"Nggak apa-apa. Tenang aja." Balqis tersenyum.


Senyum tidak yakin...!!!


Ternyata emang apa-apa. Di jam terakhir, di pembalut terakhir pula, justru terjadi pancak banjir bandang. Balqis yang bisa merasakan terjadinya luberan yang tidak tertampung langsung panik. Tapi kepanikan itu ditekannya mati-matian, hingga tinggal berbentuk kegelisahan. Kegelisahan yang amat sangat, karena ini masalah besar.


Gimana nanti caranya bisa pulang!?


Kegelisahan itu tertangkap mata Didik. Percuma saja ia punya empat kakak cewek kalau tidak tahu dengan segera apa penyebab kegelisahan Balqis. Sebulan sekali, setiap tanggal-tanggal tertentu, keempat kakaknya itu hobi sekali mondar-mandir ke kamar mandi. Persis seperti yang dilakukan Bakqis sekarang. Jadi, mondar-mandirnya cewek itu sudah pasti karena urusan khas cewek, bukan karena perut mules atau mencret-mencret. Dan jangan-jangan kasusnya kayak Banjir Bandang. Meluber!


Hahaha...!!!


Didik tertawa girang dalam hati.

__ADS_1


Sementara itu Balqis berpikir keras mencari siapa teman cewek yang bisa dimintai tolong karena kayaknya ini memang hari sialnya Ranti nggak masuk. Paling tidak, ia perlu sesuatu untuk menutupi bagian belakang roknya yang terkena bercak darah mens.


Di saat yang sama, Didik juga sedang berpikir keras bagaimana caranya memanfaatkan situasi ini untuk membalaskan dendamnya.


Begitu bel pulang berbunyi, Balqis langsung sibuk menoleh ke sana kemari. Didik langsung tahu Balqis sedang mencari pertolongan. Saat itu juga Didik mendapatkan ide yang menurutnya benar-benar brilian.


Cepat-cepat dihampirinya Balqis, sebelum cewek tukang iseng itu sempat menemukan dewi penolong. Didik menarik sebuah bangku ke sisi meja Balqis, dan langsung nyerocos dengan heboh dan berapi-api.


"Qis, katanya lo suka komik jepang, ya? Kakak gue juga ada yang suka. Maniak malah. Dia punya koleksi komik jepang banyak banget. Dari zaman dulu, waktu komik jepang baru masuk Indonesia. Yang judulnya apa, ya? Candy-Candy, kalo nggak salah. Trus sampe sekarang dia masih ngumpulin terus tuh!" Ucap Didik.


Balqis dan Cevin sampai nyaris terlonjak karena kaget. Otomatis kesibukan Balqis mencari pertolongan jadi terhenti.


"Eh, sori. Sori. Kaget, ya?' kata Didik, berlagak menyesal.


"Ya kagetlah. Tiba-tiba lo muncul di sebelah gue, terus suara lo kenceng banget, lagi." jawab Balqis kesal. Sementara itu Cevin meneruskan kembali kesibukannya memasukan semua buku dan alat tulisnya ke tas. Namun instingnya memberi peringatan, hadirnya Didik bukan tanpa tujuan.


"Iya itu tadi, Qis. Kakak gue yang nomer dua, yang sekarang udah gawe, koleksi komiknya banyak buanget. Sampe dia nyediain satu ruangan khusus buat nyimpen," Didik segera meneruskan ceritanya. Dengan intonasi yang tetap berapi-api. Bibir Balqis sudah terbuka untuk menghentikan cerita nggak penting banget itu. Sayangnya Didik nyerocos terus tanpa titik atau koma. Betul-betul tanpa jeda. Jadi, jangankan untuk menghentikan hujan deras kata-kata itu, untuk sekedar menoleh ke kiri atau pun ke kanan saja Balqis sudah tidak punya kesempatan.


Sambil memasukkan diktat kimianya ke dalam tas, Cevin melirik Didik, mencoba menebak-nebak apa sebenarnya tujuan cowok itu. Sayang ia tidak berhasil. Lewat sudut mata, Didik menangkap kecurigaan Cevin, tapi pura-pura tidak tahu.


"Gitu, Qis. Jadi kalo lo mau pinjem komik, bilang aja yah? Oke deh, gue balik dulu. Yuk, dah!" Cerita Didik mendadak berakhir. Cowok itu berdiri lalu berjalan ke luar kelas setelah melambaikan tangan sesaat. Balqis dan Cevin menatap kepergiannya dengan bingung.


"Apa sih tu orang? Nggak jelas gitu. Siapa juga yang pingin pinjem komik kakaknya?" gerutu Balqis.


Cewek itu segera teringat kembali masalah besar yang sedang dihadapinya. Ia menoleh ke sekeliling dan seketika mukanya pucat pasi.


"Yaaah, udah kosooong!" jerit Balqis tanpa sadar.


"Elo kenapa sih?" Cevin menatapnya bingung. "Ya jelas kosonglah. Udah bel dari tadi. Yuk, balik." Lanjut Cevin.


"Mmm…." Balqis menggigit bibir. Mukanya kembali pucat.


"Ada apa?" tanya Cevin. Jadi cemas melihat raut pucat Balqis.

__ADS_1


Sementara itu Didik diam-diam bersembunyi di belakang daun pintu yang terbuka, di luar kelas. Begitu didengarnya jeritan Balqis, cowok itu langsung berlari meninggalkan persembunyian nya sambil menyeringai lebar.


"Yes! Yes! Yes!" seru Didik begitu sudah jauh. Dia berlari sambil tertawa-tawa.


__ADS_2