LORONG TAK BERUJUNG

LORONG TAK BERUJUNG
BAB 52 : TANPA SYARAT


__ADS_3

"Farel, ingat! Kau adalah anak satu-satunya dari kami, maka segala milikku adalah milikmu!" Ucap ayahnya.


"Milik bersama!" Jawab Farel sambil berlalu dan bibirnya tersenyum.


Begitu tiba di rumah, Rahmawati segera dipeluknya serta menciumnya dengan mesra.


"Eh! Kesurupan apa lagi?" Rahmawati tercengang.


"Rahma, begini ..." Farel menutur apa yang telah terjadi.


Mendadak Rahmawati menangis dengan sedih sambil melepaskan pelukan Farel dan segera ia lari masuk ke dalam kamarnya.


"Eh! Rahma, kau kenapa?" Farel juga ikut-ikutan berlari masuk ke dalam kamar Rahmawati.


"Kini kau adalah anak orang kaya, mana mungkin kau akan mencintai saya lagi?" Terisak-isak suara Rahmawati dan air matanya mengalir terus.


"Rahma, dengar! Kini saya bertambah cinta padamu!" Farel memeluk Rahmawati dengan mesra serta penuh dengan cinta kasih yang meluap-luap.


"Benar?" Tanya Rahmawati.


"Benar!" Jawab Farel.


Farel mengajak Rahmawati ke rumah orang tuanya betapa girangnya hati orang tua Farel.


"Rahma, kau betul-betul adalah mantu kami yang baik!" Ibu Farel memeluk Rahmawati.


"Betul baik! Sungguh baik! Terbaik!" Ucap ayah Farel. "Oh... ya! Farel, aku ingin mengadakan pesta yang meriah, pesta pertemuan kita! Di samping itu akan ku umumkan hari perkawinan kalian yang sah! Bagaimana?" Tanya ayah Farel.


"Bagus!" Farel bertepuk tangan seperti anak kecil. "Itu yang saya impi-impikan!" Lanjut Farel setuju.


"Farel, sekarang kau harus bertemu dengan calon mertuamu!" Ucap ayahnya Farel.


"Ya!" Jawab Farel, kemudian ia berkata, "Mungkin Rahma juga sudah rindu pada papah dan mamahnya!" Lanjut Farel.


"Rahma!" Ucap ibu Farel. "Sudah waktunya kau bertemu dengan papah dan mamahmu!" Ucap ibunya Farel.


"Terimakasih bu!" Jawab Rahmawati bahagia.


"Tunggu dulu!" Ucap Farel mendadak. "Saya ingin mengotori baju saya dulu!" Lanjut Farel.


"Lho! Kenapa harus berbuat demikian?" Terbelalak mata ayahnya.


"Saya ingin menyaksikan reaksi papah Rahma!" Farel tersenyum.


"Benar!" Ayahnya tersenyum.


"Ayah, ibu, kami berangkat!" Ucap Farel.


"Pak, bu, permisi dulu!" Ucap Rahmawati.


Ayah dan ibu Farel tersenyum-senyum memandang ke arah punggung Farel dan Rahmawati semakin lama semakin jauh. Setelah tiba di rumah orang tua Rahmawati, kebetulan orang tua Rahmawati sedang duduk di ruangan tamu.


"Mamah..." Seru Rahmawati dan langsung ia menubruk mamahnya sambil menangis tersedu-sedu.


"Rahma." Mamahnya merangkulnya sembari mengeluarkan air mata.

__ADS_1


"Rahma..." Seru papahnya dengan suara gemetar. "Mana Farel?"


"Farel tidak berani masuk!" Jawab Rahmawati sambil melepaskan rangkulan mamahnya.


"Cepat suruh masuk!" Ucap papahnya.


Tanpa disuruh lagi Farel telah masuk ke dalam ruangan tamu.


"Pak! Bu!" Ucapnya.


"Duduk, duduk!" Suara pak Arif Budiman sangat ramah. Kaget hati Farel dikarenakan suara pak Arif Budiman yang ramah.


"Rahma, cepat ke dalam ambilkan minuman untuk Farel!" Seru pak Arif Budiman.


"Tidak usah pak!" Ucap Farel.


"Farel, jangan sungkan-sungkan!" Ucap pak Arif Budiman. "Apakah kalian telah mempunyai anak?"


"Hah! Anak? Anak dari mana?" Farel tercengang.


"Bukankah kalian telah kawin?" Kini pak Arif Budiman yang tercengang.


"Papi, begini..." Rahmawati menceritakan hubungan mereka.


"Ha! Ha! Ha!" Pak Arif Budiman tertawa terbahak-bahak. "Tidak salah Rahma memilih dirimu!" Ucap pak Arif Budiman.


"Apakah bapak tidak mengusir saya lagi?" Farel termangu.


"Tidak!" Seru pak Arif Budiman dengan suara keras. "Kau adalah mantuku, kenapa aku harus mengusirmu!" Mendadak pak Arif Budiman menghela nafas. "Sayang perusahaanku hampir bangkrut, kalau tidak kau akan kuangkat menjadi direktur." Lanjut Pak Arif Budiman lagi.


"Mah, di laci lemari masih ada uang kan? Cepat serahkan pada mantu kita!" Seru pak Arif Budiman pada isterinya.


"Pah, kau sungguh-sungguh telah berobah, aku sangat terharu!" Ucap isterinya.


"Mah, maafkanlah kesalahanku yang dulu!". Kemudian ia berkata pada Farel dan Rahmawati. "Aku harap kalian juga memaafkan kesalahanku!"


"Papah..." Buru-buru Rahmawati merangkul papahnya.


"Rahma..." Pak Arif Budiman mengelus rambut Rahmawati.


"Oh... ya! Bagaimana keadaan Dilla?" Tanya Rahmawati setelah melepaskan rangkulannya.


"Dilla...?" Mendadak wajah pak Arif Budiman berobah muram, demikian juga isterinya. "Dia sudah mempunyai anak dan sudah bercerai!"


"Bercerai?" Terbelalak mata Rahmawati, demikian juga Farel. "Kenapa Dilla bercerai?"


Dengan wajah sedih pak Arif Budiman menceritakan apa yang dialami oleh Dilla. Rahmawati ikut bersedih setelah mengetahui keadaan Dilka, kemudian ia bertanya, "Dilla di mana sekarang?"


"Sedang membawa anaknya ke dokter!" Jawab pak Arif Budiman.


"Apakah anaknya sakit?" Tanya Rahmawati khawatir.


"Biasa, batuk pilek!" Jawab pak Arif Budiman, kemudian ia menarik nafas seraya berkata: "Tidak lama lagi perusahaanku akan bangkrut, gara-gara Dulla bercerai, orang tua Toni menarik kembali uang kredit, terpaksa kukembalikan dan perusahaanku bakal gulung tikar!" Pak Arif Budiman menggelengkan kepalanya. "Kalau tidak, aku ingin mengangkat Farel sebagai direktur!"


"Terimakasih pak!" Ucap Farel. Kemudian ia bertanya: "Apakah bapak tidak menghina diri saya lagi?" Tanya Farel.

__ADS_1


"Husssh! Mana mungkin aku menghina mantu sendiri!" Ucap pak Arif Budiman. "Jangan khawatir, walaupun aku hampir bangkrut, namun, aku masih mampu membantumu berdagang!" Pak Arif Budiman tersenyum.


"Terimakasih, pak!" Terharu hati Farel.


"Sebetulnya saya adalah ...!" Ucap Farel terputus.


"Papah! Farel adalah anak presiden direktur yang terkaya!" potong Rahmawati.


"Husssh! Jangan mengoceh yang bukan-bukan, meskipun Farel miskin, dia tetap mantuku!" Tegas ucapan pak Arif Budiman.


"Oh...ya! Kenapa selama ini papah tidak mencari saya?" Ucap Rahmawati.


"Siapa bilang aku tidak mencari kalian?" Ucap pak Arif Budiman. "Sudah hampir tiga bulan aku mencari kalian, akan tapi jejak kalian entah menghilang ke mana?" Jawab pak Arif Budiman lagi.


"Apakah mamah tidak memberitahukan?" Tanya Rahmawati.


"Tidak! Ketika aku bertanya pada mamahmu, mamahmu menjawab tidak tahu, terpaksa aku mencari sendiri!" Balas pak Arif Budiman.


Isterinya hanya tersenyum saja tanpa mengeluarkan suara apa-apa.


"Pak!" Suara Farel. "Memang benar saya adalah anak presiden direktur, hal ini saya tidak membohong!" Segera Farel menutur riwayatnya serta bagaimana bertemu dengan orang tuanya.


Masih ragu-ragu hati pak Arif Budiman. Kemudian ia bertanya, "Siapa nama orang tuamu?"


Farel memberitahukan nama orang tua kandungnya.


"Oh! Kiranya kau adalah anak beliau!" Ucap pak Arif Budiman. "Kalau demikian tidak salah lagi. sebab pada dua puluh tahun yang lampau, berita kehilangan anak beliau tersiar sampai ke mana-mana, hal ini aku juga mengetahuinya pada waktu itu!" Pak Arif Budiman tertawa malu-malu.


"Karena saya adalah anak orang terkaya, maka saya bermaksud membantu bapak supaya perusahaan bapak tidak sampai bangkrut!" Ucap Farel kemudian.


"Tidak usah!" Pak Arif Budiman menolak.


"Mantu membantu mertua kan boleh?" Farel tertawa gembira.


"Boleh sih boleh, tapi...!" Ucap pak Arif Budiman terdiam.


"Tapi biar bagaimana pun juga saya harus membantu bapak mertua!" Farel mendesak.


"Lebih baik hal ini akan kurundingkan dengan orang tuamu!" Jawab Pak Arif Budiman lagi.


"Jangan khawatir, pak, tanpa syarat!" Sambung Farel.


"Baiklah! Kalau demikian, mari kita berangkat ke rumah orang tuamu!" Pak Arif Budiman tertawa girang, betul-betul ia merasa girang dan gembira.


"Aku harus ikut!" Sambung isterinya.


"Kalau kau ikut, bagaimana dengan Dilla?" Tanya pak Arif Budiman.


"Jangan khawatir!" Ucap isterinya. "Dilla membawa kunci."


"Baiklah! Kalau demikian, mari kita berangkat!" Ucap pak Arif Budiman kembali.


Setelah bertukar baju, berangkatlah semuanya ke rumah orang tua Farel. Ternyata semua persoalan menjadi sukses setelah orang tua Rahmawati bertemu dengan orang tua Farel. Dan Farel pun tidak melupakan ibu angkatnya serta kebaikan om dan tantenya. Ibu angkatnya dibelikan sebuah rumah yang bagus serta omnya dibelikan sebuah mobil.


Kemudian pesta perkawinan yang sangat meriah telah diadakan oleh ayah Farel. Farel dan Rahmawati hidup bahagia dan tidak pernah ribut atau bertengkar.

__ADS_1


Bagaimana dengan Amanda? ternyata betul-betul ia menjadi perawat dan tidak kawin, sesuai dengan ucapannya, selain dengan Farel, ia tidak akan kawin dengan orang lain. Mengenai Dilla, terpaksa ia hidup bersama anaknya dan tidak berani kawin lagi. Di samping itu, Ilham benar-benar menjadi pilot kapal terbang.


__ADS_2