LORONG TAK BERUJUNG

LORONG TAK BERUJUNG
BAB 39 : TERLALU PAGI CINTAMU TUMBUH


__ADS_3

Hawa pagi menyegarkan segala apa yang ada di permukaan bumi. Tua muda dan anak-anak berlari pagi untuk menyehatkan tubuh. Pak Ismo Harsoyo gerak badan di pekarangannya yang sempit, setelah merasa cukup, ia pun masuk ke dalam rumah dan duduk di ruangan tamu. Farel juga sedang duduk di ruangan tamu sambil membaca majalah dan surat kabar, iklan lowongan kerja tidak terlepas dari pengamatannya.


"Farel, bagaimana hasilmu mencari pekerjaan?" Tanya pak Ismo Harsoyo.


"Belum dapat om!" Jelas Farel.


"Perlahan-lahan!" Ucap pak Ismo Harsoyo. "Mencari pekerjaan bukanlah hal yang gampang, maka kau harus bersabar."


"Ya, om!" Jawab Farel.


"Minum kopi dulu, Farel!" Pak Ismo Harsoyo mengangkat gelasnya sambil menghirup kopi yang telah disediakan oleh isterinya. "Apakah hari ini kau akan berusaha mencari pekerjaan lagi?" Tanya pak Ismo Harsoyo sembari meletakkan gelasnya ke atas meja.


"Saya akan berusaha terus sebelum mendapatkan pekerjaan!" Sahut Farel.


"Apakah kau masih mempunyai ongkos?" Tanya pak Ismo Harsoyo.


"Masih om!" Farel mengangguk.


"Kalau tidak ada, bilang saja, jangan malu-malu!" Pak Ismo Harsoyo tersenyum ramah.


"Ya! Om!" Farel berterimakasih pada kebaikan pak Ismo Harsoyo. "Tidak enak saya sering mengganggu om!"


"Tidak apa-apa!" Pak Ismo Harsoyo menepuk-nepuk bahu Farel. "Ayahmu pernah berbudi padaku ... kalau bukan bantuan ayahmu pada masa yang silam, mungkin aku tidak bisa melihat dunia lagi." Pak Ismo Harsoyo menghembus nafasnya.


"Om, walau demikian, saya tetap berterimakasih pada om!" Farel menaruh majalah serta surat kabarnya ke atas meja. "Sebab saya cukup merepotkan om dan tante!"


"Tidak apa-apa!" Pak Ismo Harsoyo tertawa.


"Pah!" Isteri pak Ismo Harsoyo menghampiri mereka. "Sarapan dulu!"


"Farel, mari kita sarapan dulu!" Ajak pak Ismo Harsoyo bangkit dari tempat duduk.


"Terimakasih, om!" Farel mengikuti pak Ismo Harsoyo ke dapur, setelah selesai sarapan, berangkatlah Farel berkeliling lagi untuk melamar pekerjaan.


Terik matahari tidak memberi ampun pada Farel yang sedang berjalan dengan keringat membasahi bajunya. Sudah setengah harian Farel masuk kantor keluar kantor serta masuk toko keluar toko, namun, hasilnya tetap nihil. Sepatu yang dipakainya telah penuh dengan debu, demikian juga mukanya. "Heran? Setiap kantor pasti ada tulisan "Tidak Ada Lowongan". Sampai di toko pasti menerima ucapan yang sama "Tidak Terima Pegawai Lelaki" Bingung saya jadinya!" Farel menggoyang-goyangkan kepalanya, mungkin supaya pusingnya hilang.


Farel menghampiri sebuah gerobak es sambil mengeluarkan dua ribu rupiah.


"Bang, tolong teh dingin!" Tanpa menjawab si Abang tukang es langsung menyendok teh esnya yang telah tersedia di dalam tong kecil terbikin dari seng. Setelah minum, Farel merasa semangatnya terbangun lagi, mulailah ia mengayunkan kakinya, segala kantor-kantor telah dimasukinya, ketika ia memasuki kantor-kantor tersebut dengan semangat penuh, tapi, setelah keluar, wajahnya berobah lesu serta tak bersemangat lagi.


Ketika hari mulai sore. tiba-tiba ia teringat pada Rahmawati. Haruskah menemui Rahmawati? Pikirnya dalam hati, sebetulnya ia tidak berhasrat menemui Rahmawati, namun, kakinya tidak mau menurut, malah langkah kakinya amat cepat terayun ke jurusan sekolahan Rahmawati. "Heran nih kaki, tidak mau menurut kemauan hati!" gerutunya.


Dengan nafas tersengal-sengal tibalah ia di depan sekolahan Rahmawati, untung langkah kakinya cepat, kalau tidak mungkin ia tidak bisa bertemu dengan Rahmawati, sebab murid-murid sekolah sedang bubaran.


Rahmawati sudah menunggu di tempat biasa, betapa girang hatinya ketika dilihatnya Farel sedang menuju ke arahnya dengan nafas tersengal-sengal.


"Farel, kau baru datang?" Tanya Rahmawati dengan suara girang.


"Sudah... ta... hu orang baru datang, ma... sih bertanya!" Dada Farel turun naik sembari mengeluarkan suara nafas yang memburu.


"Kenapa dengan nafasmu?" Rahmawati heran.


"Memburu waktu hingga nafas saya tersengal-sengal!" Jawab Farel.


"Kenapa tidak naik ojek saja?" Rahmawati membelalakkan matanya.


"Wah! Kalau setiap kali kemari harus naik ojek, jangan-jangan nanti saya hanya tinggal celana dalaman saja!" kata Farel.


"Jadi pemuda hip hop dong?" Rahmawati tersenyum geli.


"Saya berkata sungguh-sungguh, kau malah bergurau!" Agak bersungut tampang Farel di saat itu.


"Jangan bersungut, nanti cepat keriput." Rahmawati berkelakar.


"Keriput bertemu dengan peot!" Farel tertawa-tawa.

__ADS_1


"Siapa bilang saya peot?" Rahmawati mendelik.


"Siapa bilang saya keriput?" Bahu Farel terangkat.


Sejenak kemudian mereka tertawa dengan hati yang girang, setelah itu, Rahmawati mengajak Farel ke tempat parkir mobil sambil menunjuk "Itu adalah mobil ayah saya!"


"Kau membawa mobil sendiri?" Farel terkejut.


"Tidak! Sopir yang bawa!" Jawab Rahmawati sambil menghampiri mobil itu.


"Non, dari mana saja?" Tanya sang sopir setengah tua ketika mereka telah sampai di mobil itu. Kemudian Rahmawati berbisik. "Pak Ucup, antar kami ke Taman Monas. Kalau papah tanya nanti, bilang saja saya ke rumah teman." Lanjut Rahmawati.


"Beres, non!" pak Ucup tersenyum mengerti, ia memang sangat nurut pada Rahmawati, karena Rahmawati sangat baik padanya, ia masih ingat ketika anaknya sakit dan membutuhkan uang, pak Arif Budiman majikannya tidak memberikan pinjaman padanya, malah membentak-bentak. Mengetahui hal tersebut, secara diam-diam Rahmawati memberikan uang tabungannya pada pak Ucup, hal tersebut menyebabkan pak Ucup amat berterimakasih pada Rahmawati.


Setelah Rahmawati dan Farel masuk ke dalam mobil, segera pak Ucup meluncurkan mobilnya ke arah Taman Monas.


Tiba di tempat tersebut, pak Ucup memarkirkan mobilnya di pinggir jalan seraya berkata: "Non, jangan terlalu lama, nanti papah non akan mengajukan banyak pertanyaan!" Jelas pak Ucup.


"Ya!" Sahut Rahmawati sambil membuka pintu mobil, turun dari mobil, dengan wajah berseri-seri ia mengajak Farel ke dalam Taman Monas. Mereka duduk di bawah pohon sambil ngobrol.


"Farel, kau masih belum mendapatkan pekerjaan?" Tanya Rahmawati.


"Belum!" Farel menarik nafas.


"Jangan berputus asa!" Rahmawati menghiburnya. "Nanti-nanti juga kau akan dapat." Lanjut Rahmawati.


"Mudah-mudahan !" Jawab Farel.


"Farel, adakah kesan di hatimu?" Tanya Rahmawati tiba-tiba.


"Kesan apa yang kau maksudkan?" Tanya Farel kurang mengerti maksud Rahmawati, sehingga ia menatap Rahmawati dengan bingung.


"Segala kesan!" Jawab Rahmawati. "Misalnya kalau tidak saling bertemu."


"Saya juga demikian!" Dengan cepat Rahmawati berkata, "Malah kalau di malam hari, saya sering membayangkan wajahmu!"


"Yang benar?" Farel tidak percaya. "Mana mungkin kau membayangkan diri saya yang miskin!" Ucap Farel.


"Saya berani bersumpah jika membohong!" Ucap Rahmawati sungguh-sungguh.


"Eh! Kenapa kau bisa begitu?" Farel membelalakkan matanya.


"Mungkin... mungkin saya telah jatuh cinta padamu!" Jawab Rahmawati malu-malu.


"Hah!" Farel kaget. "Mana mungkin?" Farel menggeleng. "Ingat! Saya seorang pemuda miskin!" Jelas Farel mengingatkan statusnya.


"Saya tidak memandang kau kaya atau miskin!" Ucap Rahmawati tegas. "Pokoknya kau adalah Farel, sudah cukup bagi saya!" Jelas Rahmawati.


"Eh! Kau lagi main-main atau sungguh-sungguh?" Tanya Farel.


"Anggapanmu?" Rahmawati berbalik tanya.


"Mustahil kalau bersungguh-sungguh!" Ucap Farel.


"Kalau seandainya saya bersungguhsungguh?" Rahmawati menatap Farel dengan matanya yang bercahaya.


"Saya bersyukur dan gembira!" Mendadak Farel mengerutkan keningnya. "Mungkinkah kau akan jatuh cinta pada saya?" Tanya Farel kemudian.


"Sejak pandangan pertama aku merasakan gejolak perasaan itu!" Tegas ucapan Rahmawati.


"Mustahil!" Tiba-tiba Farel berseru: "Kau begitu cantik serta anggun, apa lagi kau adalah puteri orang kaya, mana boleh dan mana mungkin jatuh cinta pada saya?" Ucap Farel bimbang.


"Farel!" Suara Rahmawati berobah lembut. "Segala perkataan saya berdasarkan suara hati, maka, kau tidak perlu ragu-ragu lagi!" Lanjutnya.


"Maksudmu kita tidak bertepuk sebelah tangan. Tapi, penghidupan kita berbeda." Farel berkata dengan suara perlahan. "Saya kuatir kau tidak tahan hidup melarat bersama saya di kemudian hari!" Jelas Farel.

__ADS_1


"Tiada kemelaratan yang dapat menggoyahkan pendirian saya, asalkan cinta kasih kita selalu terpadu menjadi satu!" Jawab Rahmawati.


"Kalau demikian kau betul-betul telah nekad?" Ucap Farel.


"Nekad demi kebahagiaan hidup serta kesetiaan cinta kasih adalah hal yang wajar!" Ucap Rahmawati. "Asal jangan nekad terpengaruh oleh materi atau harta benda, itu namanya tidak wajar dan merusak diri sendiri!" Lanjutnya.


"Yeni, kalau demikian, saya harus mencintaimu?" Ucap Farel.


"Farel, saya tidak memaksa!" Rahmawati menundukkan kepalanya.


"Rahma ... apakah tidak terlalu pagi cintamu tumbuh tanpa berpaling dengan keadaanku yang miskin." Ucap Farel lirih.


"Tidak!" Jawab Rahmawati tegas dan yakin. "Walau kita hanya bertemu dua kali, namun, saya yakin adalah pemuda yang penuh pengertian serta penuh rasa tanggung jawab!" Lanjutnya.


"Rahma..." Mendadak Farel menggenggam tangan Yeni erat-erat. "Saya berterimakasih padamu atas keyakinanmu pada saya!" Lanjut Farel.


"Farel..." Suara Rahmawati lembut. "Terimakasih atas genggaman tanganmu!" Ucapnya.


"Rahma, saya pasti memperjuangkan masa depan saya untukmu!" Farel masih menggenggam tangan Rahmawati, malah kini Rahmawati juga telah membalas genggaman tangan Farel.


"Kesetiaan cinta kasih saya selalu menyertai dirimu!" Balas Rahmawati.


"Terimakasih, Rahma!" Farel memejamkan matanya sebentar, hatinya sangat terharu.


"Oh ya! Farel, bagaimana kalau hari minggu kita pergi jalan-jalan?" Tawar Rahmawati tiba-tiba.


"Jalan-jalan ke mana?" Tanya Farel.


"Ke Puncak ya?" Tawar Rahmawati.


"Ke Puncak?" Farel terbengong sesaat.


"Ya! Kau belum pernah pergi?" Tanya Rahmawati.


"Belum!" Jawab Farel.


"Hawa di sana sangat sejuk serta menyegarkan badan, apa lagi pemandangan di sana, cukup mempesonakan!" Jelas Rahmawati.


"Tapi, kita pergi pakai apa?" Tanya Farel.


"Jangan kuatir!" Ucap Rahmawati. "Saya akan sewa mobil!" Lanjutnya.


"Sewa mobil?" Tanya Farel bingung.


"Ya!" Jawab Rahmawati. "Saya akan sewa taxi gelap, di samping itu mungkin kita singgah dulu di kebon Raya Bogor!" Jelas Rahmawati lagi.


"Bukankah ongkos taxi gelap sangat mahal?" Tanya Farel. "Bagaimana kalau sewa taxi om saya saja?" Balas Farel.


"Jangan!" Ucap Rahmawati.


"Sebabnya?" Tanya Farel.


"Kita kurang bebas jadinya!" Rahmawati tersenyum.


"Rahma, saya tidak mampu menyewa taxi gelap!" Farel berterus terang.


"Jangan kuatir, segala ongkos itu saya yang tanggung!" Ucap Rahmawati.


"Haruskah saya ke rumahmu?" Tanya Farel.


"Tidak usah!" Rahmawati berpikir kemudian ia berkata, "Jam delapan pagi kau tunggu saja di depan sekolahan saya, bagaimana?" Rahmawati menawarkan solusi.


"Baiklah!" Mendadak Farel mengerutkan keningnya "Kenapa saya tidak boleh ke rumahmu?" Lanjut Farel bertanya.


"Karena..." Spontan wajah Rahmawati berobah murung. "Karena papah melarang saya berteman dengan pemuda miskin!" Jelas Rahmawati kemudian Dengan jujur.

__ADS_1


__ADS_2