
Sebuah mobil sedan putih berhenti di depan kantor proyek. Mobil itu penuh debu, lantaran sehabis menempuh perjalanan jauh. Vani yang tengah berada di ruang kantor buru-buru menyambutnya. Menyambut Nabila yang baru saja turun dari mobil. Dari rumah Nabila ditemani oleh seorang sopir pribadi ayahnya.
Vani dengan agak gugup menyapanya.
Kegugupannya lantaran kedatangan Nabila tanpa terlebih dahulu memberi kabar. Apakah Nabila mengetahui Cevin tinggal di perumahan proyek? Tahu pelariannya laki-laki itu?
"Di mana mas Cevin tinggal?" langsung saja Nabila bertanya begitu.
"Nanti akan saya jelaskan, Nyonya. Lebih santai kita bicara di ruang kerja saya," ajak Vani ramah.
Kedua perempuan muda itu melangkah masuk ke kantor. Vani langsung saja mengajak Nabila ke ruang kerjanya. Pertemuan mereka nampak tegang. Dan Vani mencoba mencairkan suasana dengan seulas senyuman.
"Rasanya berat bagi saya untuk mengatakan secara terus terang mengenai pak Cevin," kata Vani.
"Aku hanya mau tahu di mana mas Cevin sekarang tinggal. Sebab dari keterangan yang aku dapatkan, mas Cevin tinggal di proyek. Sudah dihubungi selalu saja tidak ada di tempat," kata Nabila yang nadanya menuduh Vani menyembunyikan suaminya.
"Memang, dalam empat hari ini pak Cevin tidak datang ke proyek. Kalau perumahan yang ditempati ada di blok D nomor 16."
Jelas Vani.
"Lantas selama ini dia pergi ke mana?"
Tanya Nabila.
"Maaf nyonya, saya kurang tahu."
Balas Vani.
"Jangan kau sembunyikan suami saya ya?" ketus Nabila.
"Nyonya jangan sembarangan menuduh saya begitu. Sebenarnya nyonya yang harus mengintropeksi diri. Kenapa suami nyonya meninggalkan nyonya dan menuruti kehendak hatinya sendiri," balas Vani tak kalah ketusnya.
"Itu urusan kami."
Balas Nabila.
"Apakah nyonya kira saya mau turut campur urusan anda? Cuma yang selama ini saya ketahui suami nyonya semakin tidak karuan. Frustrasi dan mencari pelarian yang bisa menyenangkan dirinya."
Jelas Vani.
Nabila tak bisa menjawab apa-apa.
"Kalau nyonya ingin tahu lebih jelas, lebih baik bertanyalah langsung kepada suami nyonya."
Lanjut Vani.
"Di mana bisa kutemui?"
Tanya Nabila.
"Di rumah seorang pelacur yang bernama Ika Agustina." Jawab Vani.
Nabila terperanjat. Perasaan pedih dan malu bergejolak di dalam dadanya. Membuat kedua pipinya merah jambu. Seolah-olah mendapat tamparan yang keras.
"Dia pernah bilang kepada saya, lebih baik hidup bersama pelacur yang hina, dibandingkan punya seorang istri yang tidak menghargai suami. Dia sudah cukup menderita, nyonya. Semuanya itu karena janji dan sumpahnya yang telah dilanggar."
Papar Vani dengan penjelasannya.
Tangis perempuan itu tak dapat ditahan lagi. Sekarang dia baru bisa merasakan bahwa janji dan sumpah yang diminta mengakibatkan kesengsaraan. Penyesalan itu datang menyergap-nyergap batinnya.
"Aku memang bersalah," desah Nabila disela isaknya. "Maukah anda menolong saya mengantar ke rumah perempuan itu?"
"Maaf. Saya tidak mau ikut campur dan terlibat urusan rumah tangga anda. Silakan datang sendiri dan saya beri alamatnya."
Balas Vani.
Vani menulis di selembar kertas alamat kediaman Ika Agustina. Lalu diberikan kepada Nabila.
***
Ika Agustina bernyanyi-nyanyi kecil sembari menyapu ruang depan. Dan membersihkan kaca. Sudah lima hari dia menempati rumah itu bersama Cevin. Berarti lima hari pula dia sudah terangkat dari lembah nista. Cevin tidak mengizinkan meneruskan profesinya jadi seorang pelacur. Sekalipun Cevin tidak pernah mengutarakan cinta ataupun mengajak hidup berumah tangga, namun hatinya sudah senang.
Belum habis lagu yang dinyanyikan, sebuah mobil sedan putih berplat nomor BE memasuki halaman rumah. Diah mengamati penumpang mobil itu. Seorang sopir setengah baya dan perempuan muda cantik. Siapakah dia? Barangkali teman bisnis atau saudara Cevin.
Perempuan muda itu bergegas turun dari mobil. Diah sudah siap menyambutnya.
"Di sini rumah Ika Agustina?"
Tanya Nabila.
"Betul. Sayalah orangnya."
Jawab Ika.
"Mas Cevin juga tinggal di sini?"
Kembali Nabila bertanya.
Ika mengangguk sembari tersenyum ramah. Cantik dan manis perempuan ini, pikir Nabila.
"Mau bertemu dengan mas Cevin?"
Tanya Ika.
"Ya." Jawab Nabila singkat.
"Kebetulan sedang pergi. Mari silakan masuk dulu," kata Ika yang polos. Masih terlalu lugu dan tidak mempunyai rasa curiga.
Nabila melangkah masuk dengan tubuh yang letih. Lantas duduk di kursi sembari mengedarkan pandang berkeliling. Nyaman dan harmonis nampaknya.
"Mbak dari Bandar Lampung ya?"
Tanya Ika.
Nabila mengangguk. Diamatinya gadis yang duduk di depannya.
"Sudah berapa lama tinggal di sini bersama mas Cevin?"
Tanya Nabila.
"Lima hari."
Jawab Ika.
"Dulu kenal mas Cevin di mana?"
Tanya Nabila.
Ika gelagapan. Sesaat dia menatap Nabila dengan malu-malu. Lantas tertunduk lagi.
"Tidak usah malu-malu. Katakan saja. Ayo," desak Nabila.
"Di..." ucapan Ika terhenti. Dia tidak bisa berbohong, tapi malu untuk mengatakannya.
"Di tempat pelacuran ya?"
Tanya Nabila.
Ika mengangguk berat. Kedua pipinya merah jambu karena malu.
"Apakah selama ini mas Cevin tidak pernah bercerita apa-apa?"
Tanya Nabila.
"Tidak. Mas selalu pendiam."
Jawab Ika.
"Tidak bercerita tentang perempuan lain?"
Tanya Nabila.
"Juga tidak."
Balas Ika.
Nabila manggut-manggut.
Ika memberanikan memandang tamunya.
"Mbak siapa?"
Tanya Ika.
"Aku istrinya."
Jawab Nabila.
Ika terperangah.
"Dia tidak pernah mengatakan punya istri?"
Tanya Nabila.
Ika menggeleng. Dia merasa sangat kecewa sekali. Belum lama hidupnya tentram dan bahagia sudah datang lagi prahara.
"Ternyata saya telah dibohongi," desah Ika ingin menangis.
"Aku tidak mengehendaki di antara kita saling ribut-ribut. Tapi aku minta kepadamu jangan kau ganggu suamiku," kata Nabila tegas.
"Maafkan saya, Mbak. Saya benar-benar tidak tahu. Sekarang pun saya akan pergi," Ika bergegas bangkit.
"Sebaiknya tunggu mas Cevin pulang. Kita bisa berbicara baik-baik."
Jelas Nabila.
__ADS_1
"Tidak perlu, Mbak. Nanti malah akan menambah percekcokan."
Balas Ika.
Ika masuk ke kamar. Nabila duduk termenung seorang diri di kursi tamu. Apa yang akan terjadi dia pasrah diri. Karena sudah dapat dibayangkan, Cevin bakal marah. Ika muncul lagi sambil menjinjing koper. Nabila memandang perempuan itu dengan perasaan haru.
"Bila nanti mas Cevin pulang, jangan katakan mbak sudah bertemu saya. Saya tidak menghendaki rumah tangga mbak berantakan," kata Ika sambil mengusap air matanya.
Nabila bangkit dan memegang kedua bahu perempuan itu. Dia jadi ikut menangis. Tidak tega melihat kepergian perempuan itu.
"Kau mau pergi ke mana?"
Tanya Nabila.
"Pulang ke kampung,"
Jawab Ika.
"Tunggu sebentar," Nabila membuka tasnya dan memberi setumpuk uang puluhan ribu rupiah.
"Maaf, Mbak. Saya tidak bisa menerima uang itu." Balas Ika.
Ika lalu melangkah pergi sambil membawa kopernya. Nabila cuma dapat memandangi kepergian perempuan itu dengan hati sedih. Setelah perempuan itu lenyap dari pandangannya, dia meletakkan tubuhnya yang kian letih di kursi. Dia menangis sepuas-puasnya di situ.
Tak lama kemudian Cevin yang mengendarai mobilnya memasuki halaman. Dia termangu melihat mobil Nabila ada di situ. Buru-buru Cevin melompat turun dan berlari ke rumah. Perasaannya jadi tidak menentu. Pasti telah terjadi sesuatu di rumahnya.
Cevin masuk. Di ruang tamu berhenti karena melihat seorang perempuan tertunduk menyembunyikan muka sambil menangis.
"Hay, kenapa menangis?" sapa Cevin yang disangkanya Ika.
Tapi Nabila menoleh dan memandang Cevin. Cevin terperangah menatap perempuan itu tajam.
"Mau apa kau ke mari?!" tegur Cevin sinis.
"Mencarimu, Mas," suara Nabila memelas.
Cevin tidak memperdulikan ucapan perempuan itu. Dia langsung masuk ke kamar dan mencari Ika. Tapi yang dilihatnya lemari pakaian sudah terbuka. Isinya kosong. Diah pasti sudah pergi. Lantas Cevin kembali menemui Nabila. Perempuan itu masih menangis.
"Telah kau sakiti hati Ika dan kau usir dari rumah ini?!" tanya Cevin sengit.
Nabila menggelengkan kepala.
"Lantas kalau tidak kenapa dia pergi?"
Tanya Cevin.
"Dia pergi atas kemauannya sendiri."
Jawab Nabila.
"Bohong!"
Bentang Cevin.
"Mas..." suara Nabila memelas sambil menatap suaminya dengan bersimbah air mata. "Maafkanlah Nabila, Mas." Cevin menjatuhkan diri di kursi. Kesal bercampur jengkel. "Nabila telah menyadari semua kesalahan. Nabila menyesal sekali," kata Nabila sambil mendekati suaminya. Lalu dia menangis di pangkuan laki-laki itu.
Cevin tak perduli istrinya menangis dalam pangkuannya.
"Lupakanlah semuanya yang telah terjadi. Nabila berjanji ingin menjadi seorang istri yang baik. Yang setia kepadamu. Sudah letih rasanya Nabila mencari mas Cevin. Sekarang Nabila mohon memberi maaf dan pengampunan kepada Nabila. Mari kita kembali membangun hidup rumah tangga yang tentram dan bahagia, Mas. Jangan tinggalkan Nabila lagi," tangis Nabila makin menyayat hati laki-laki itu.
"Aku malu pada diriku sendiri," gumam Cevin.
"Lupakan hal itu Mas. Nabila sangat mencintaimu. Nabila tidak akan menyia-nyiakan hidup mas Cevin lagi." Jelas Nabila.
Wajah Cevin perlahan-lahan tertunduk memandang istrinya. Rasa iba menyentuh dinding hatinya. Dan jari tangannya membelai rambut perempuan itu.
"Nabila, aku pun sudah letih mencari di mana letak kebahagiaan, namun tak jua kutemukan. Semua tempat sudah kujelajahi sampai ke tempat pelacuran sekalipun."
Jelas Cevin.
"Makanya kita kembali ke rumah, Mas. Nabila rela hidup dimadu dengan Balqis. Semuanya itu asalkan mas Cevin dapat hidup bahagia."
Jelas Nabila.
"Balqis? Bagaimana nasibnya sekarang?"
Tanya Cevin kemudian.
"Dia dalam keadaan kritis mau melahirkan anaknya."
Jawab Nabila.
"Kalau begitu dia ada di rumah sakit?"
Lanjut Cevin.
"Ya. Kasian dia, Mas. Mari kita kembali ke rumah sakit."
Jelas Nabila.
Ucap Cevin.
***
Di kamar bersalin Balqis masih menggeliat-geliat menahan rasa sakit di perutnya. Seorang dokter dan dua orang suster cukup kewalahan juga menolong Balqis yang hendak melahirkan. Bila sudah mendekati saatnya bayi itu akan lahir, tiba-tiba tekanan perutnya mengendur lagi Bayi itu jadi tertunda lahirnya. Terpaksa dokter menyuntik Balqis supaya mengurangi rasa sakit dan bisa istirahat.
Dokter itu keluar dari kamar bersalin. Ternyata seluruh keluarga Cevin dan keluarga Nabila sudah sejak tadi menunggu kabar gembira. Tapi dokter yang menolong Balqis cuma mengeluh sambil menggelengkan kepala.
Paman dan bibi Balqis semakin cemas.
"Agaknya ada sesuatu yang ditunggu oleh bayi itu," ujar dokter sambil senyum-senyum.
"Kira-kira apa yang ditunggu, dokter?" tanya ayahnya Cevin.
"Barangkali ayahnya."
Jelas dokter tersebut.
Semua yang menanti kelahiran bayi itu diam termenung. Sebab masing-masing tahu masalah yang sebenarnya. Kecemasan mereka semakin bertambah. Satu di antara yang diharapkan oleh mereka belum juga datang.
Siapa lagi kalau bukan Cevin atau Sigit.
Beberapa saat kemudian nampak Cevin bersama Nabila berlari-lari di koridor rumah sakit itu. Dua orang perawat sudah ditabraknya. Belum lagi pasien yang berjalan di koridor itu. Membuat keadaan rumah sakit jadi agak kacau. Tak jarang mereka mengumpat kedua orang itu.
"Di mana kamar bersalinnya, Nabila," tanya Cevin sembari lari.
"Di ujung lorong ini," sahut Nabila yang terengah
engah kecapaian.
"Itu mereka sedang menunggu!"
Orang-orang yang sedang menunggu Balqis menoleh ke arah Cevin dan Nabila. Kegembiraan terpancar dari wajah-wajah mereka.
"Bagaimana, apakah bayinya sudah lahir? Laki-laki atau perempuan?" tanya Cevin tak sabar lagi.
"Belum. Cepat kau masuk barangkali bayi itu bisa cepat lahir," perintah ayahnya.
Cevin dan Nabila buru-buru masuk ke kamar bersalin. Tapi seorang suster mencegahnya.
"Eiit tunggu, siapakah anda berdua?"
Tanya dokter itu.
"Saya suaminya. Dan dia adik Balqis. Izinkan kami masuk suster," kata Cevin setengah memaksa. Akhirnya mereka diizinkan masuk.
Cevin dan Nabila mendekati Balqis yang terbaring di atas tempat tidur. Keduanya sangat terharu sekali. Dan Cevin memegang jari tangan Balqis lembut.
"Balqis," suara Cevin lembut.
Mata Balqis yang terpejam terbuka pelan-pelan. Kemudian ditatapnya Cevin dengan bersimbah air mata.
Lalu beralih kepada Nabila.
"Mas Cevin... Nabila..." panggilnya lemah.
"Tabahkan hatimu. Perjuangkan sampai anak kita lahir, sayang."
Balas Cevin.
Balqis mengangguk.
Dokter masuk kamar itu. Balqis merintih sambil memegangi perutnya yang mulai kejang lagi. Dokter segera memeriksanya lagi
"Suster, nampaknya sudah tiba saatnya," ujar dokter itu.
Dua orang suster itu mengenakan sarung tangan.
Balqis merintih panjang.
"Balqis, kuatkan hatimu. Berusahalah... berusahalah!" Ucap Cevin memberikan semangat.
Keringat membasahi wajah Balqis. Perempuan itu menarik napas panjang sambil menggelinjang-gelinjang. Cevin dan Nabila yang menyaksikan tak sampai hati Hingga mereka saling berpelukan. Dan suara tangisan bayi melengking. Cevin dan Nabila menitikkan air matanya.
Haru dan bahagia...!!!
"Bayinya laki-laki," kata seorang suster yang terus memandikan bayi itu. Balqis yang lapat-lapat mendengar ucapan suster itu tersenyum. Lantas perempuan itu tertidur pulas karena kecapaian. Cevin dan Nabila dengan perasaan lega keluar dari kamar bersalin itu.
***
Pagi itu sangat cerah. Secerah wajah Cevin yang baru turun dari mobil bersama Nabila. Kendati hampir semalaman mereka tak dapat tidur menunggu di rumah sakit sampai dini hari Mereka cuma pulang ke rumah sebentar kemudian kembali ke rumah sakit.
Sebelum menjenguk Balqis di kamar pasien, terlebih dulu mereka menjenguk bayinya. Di ruang kaca mereka hanya bisa melihat bayi itu di atas box. Mungil dan lucu sekali. Cevin dan Nabila saling bertukar senyum.
"Kita jenguk Balqis," ajak Cevin.
__ADS_1
Nabila menuruti. Dia menggandeng tangan Cevin erat sekali. Di kamar pasien, Balqis masih berbaring lemah. Cevin mencium kening perempuan itu, lalu menyusul Nabila melakukan hal yang sama.
"Kau baik-baik saja, bukan?" tanya Cevin.
Balqis mengangguk lemah. Silih berganti memandang Cevin dan Nabila.
"Selama ini kau pergi ke mana saja?"
Tanya Balqis.
"Kerja di proyek."
Balas Cevin.
"Tidak berbohong?"
Tekan Balqis.
Cevin menggeleng sembari tersenyum.
"Kasian Nabila mencari-carimu ke mana saja."
Ucap Balqis.
"Ah, sudahlah. Kau sudah melihat anak kita?"
"Sudah."
Detak-detak sepatu memasuki kamar itu. Perhatian mereka segera beralih ke pintu. Ternyata yang datang adalah Sigit bersama kedua orang tuanya. Sesuatu yang mengejutkan telah terjadi. Dan hampir-hampir Balqis tidak percaya dengan penglihatannya. Sigit yang melangkah mendekat itu seperti Sigit yang dulu. Sigit yang keadaannya masih normal. Tanpa memakai tongkat ataupun kursi roda.
"Mas Sigit...?" suara Balqis tertahan.
Sigit mengangguk memberi salam kepada Cevin dan Nabila. Lalu dia mencium kening istrinya. Balqis langsung memeluk erat laki-laki yang selama ini dirindukannya.
"Mas Sigit... apakah Balqis tidak bermimpi?" suara Balqis yang haru dan bahagia.
"Tidak, sayang. Kini kesehatanku telah pulih kembali."
Balas Sigit.
"Kenapa kau pergi tanpa meninggalkan pesan?"
Tanya Balqis.
"Itu memang ku sengaja. Aku sekarang sudah diterima kembali oleh kedua orang tuaku. Merekalah yang mengobatkan aku ke luar negeri sampai pulih."
Balas Sigit menjelaskan.
Balqis melepaskan pelukannya dan mengalihkan perhatian ke arah orang tua Sigit. Lantas ayah dan ibu Sigit mencium keningnya. Sungguh pertemuan yang mengharukan. Cevin perlahan-lahan menarik tangan Nabila dan diajaknya meninggalkan kamar itu.
"Papa dan mama mulai detik ini telah menganggapmu menantu yang baik. Setelah kesehatanmu pulih, kembalilah berkumpul bersama kami."
Jelas Sigit.
"Terima kasih, Mama."
Balas Balqis.
"Kau dengar sendiri bukan, sayang?" kata Sigit dengan gembira.
Balqis mengangguk. Pandangannya mencari Cevin dan Nabila. Ternyata mereka sudah pergi Dan kedua orang tua Sigit keluar dari kamar untuk memberikan kesempatan anaknya berbincang-bincang dengan istrinya.
"Kau sudah sembuh betul, Mas?" Tanya Balqis.
"Berkat kemajuan medis aku bisa kembali normal. Tapi..."
Ucap Sigit terhenti.
"Tapi kenapa?"
Tanya Balqis.
Sigit berat untuk mengatakannya.
"Katakan, Mas kenapa?"
Tanya Balqis.
"Aku bisa normal sebagaimana laki-laki lainnya. Tapi aku tak bisa memberikan keturunan untukmu," kata Sigit agak kecewa.
"Itu tak jadi soal. Kita kan sudah punya keturunan."
Balas Balqis.
"Tapi itu darah dagingnya Cevin," kata Sigit lirih. Takut didengar orang tuanya.
"Kau mau menganggap dia anak kandungmu sendiri bukan?"
Balas tanya Balqis.
Sigit terdiam.
"Kelak dia akan menjadi harapan kita satu-satunya di hari tua, Mas. Kau ikhlas bukan? Kau mau mengakuinya sebagai anak kandung kita?"
Lanjut Balqis.
Sigit mencium kening Balqis.
"Aku menyadari kekuranganku. Anak itu akan kuanggap anak kandungku sendiri"
Jawab Sigit.
Balqis menghela napas lega.
Sementara itu Cevin yang baru saja tiba di rumah menghenyakkan pantat di kursi. Nabila duduk di sampingnya.
Keduanya masih saling membisu.
"Semuanya harus berakhir begini," keluh Cevin.
"Apa maksud mas Cevin?"
Tanya Nabila.
"Balqis memang tidak bisa dipisahkan dari suaminya."
Jelas Cevin.
"Nabila pun demikian."
Balas Nabila.
Cevin menatap istrinya. Binar-binar di mata perempuan itu menunjukkan cinta pada kesetiaan.
"Nabila tak bisa dipisahkan lagi dengan mas Cevin. Nabila ingin jadi seorang istri seperti Balqis," ujar Nabila sambil meremas jari tangan Cevin.
"Lalu soal janji dan sumpahku masih perlu di uji lagi?"
Tanya Cevin.
"Janji dan sumpah itu sudah tidak berlaku mulai sekarang."
Jawab Nabila.
"Sungguh?"
Tanya Cevin.
"Justru sekarang Nabila yang berjanji dan bersumpah akan dapat mengetahui kemauan suami sebelum dikatakan dan dapat memberi sebelum dimintanya."
Jawab Nabila.
Cevin memeluk istrinya erat-erat. Di dalam hatinya pun berjanji ingin jadi seorang suami yang baik.
"Tak tahukah kau, Mas. Sejak kau pergi hatiku kesepian sekali. Selama itu kerinduanku semakin menyiksa."
Balas Nabila.
"Dan ternyata kita saling mencintai, sayang."
Ucap Cevin.
Tubuh perempuan itu langsung dibopongnya masuk ke dalam kamar. Lalu dibaringkan oleh Cevin di atas tempat tidur. Nabila tidak menolak apa pun yang dilakukan suaminya. Sebab sejak suaminya pergi dia pun rindu akan belaian kasih sayang dan kehangatan. Ternyata kebahagiaan yang selama ini dicari ada dalam hati sendiri.
Nabila pasrah...!!!
Impian yang indah itu kini dirasakan berulangkah. Dan janji serta sumpah yang dulu, memang sudah tidak berlaku lagi.
Sebab mereka sudah sehati...!!!
SELESAI
***
Jangan menangis sayang, segera gelap kita akan menuju terang dan secepatnya duka ini akan kurubah menjadi suka.
Jangan tundukkan kepalamu sayang, aku tahu belati yang menancap di punggungmu menimbulkan rasa sakit yang teramat hebat. Aku sadar luka yang kau rasakan menghempaskanmu dengan teramat dahsyat.
Aku akan selalu menjadi pelipur lara...!!!
Aku akan tetap mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja...!!!
Aku akan setia menegaskan bahwa semua akan indah pada waktunya...!!!
Walau tanpa kau sadari, di punggungku lebih banyak pisau yang menikam dan menghujam geram, mengalirkan darah -darah merah pekat rasa sakit yang teramat luar biasa...!!!
__ADS_1