
"Masuk angin biasan, Mah."
Jawab Balqis.
Wanita setengah baya itu menarik napas dalam
dalam. Matanya masih memperhatikan ke wajah Balqis.
Sepertinya dia belum percaya dan yakin dengan apa yang
dikatakan anaknya. Namun kemudian, wanita setengah baya
itu menarik napas dalam-dalam, seakan berusaha meyakinkan perasaannya.
"Ya sudah... Mamah sudah khawatir. kalau-kalau bukan
masuk angin. Betapa malunya Mamah, jika sampai balqis
mengalami hal seperti yang Mamah bayangkan," kata Cindy dengan wajah keras dan agak sinis. "Jika
sampai hal itu terjadi, Mamah tidak akan mengampunimu. Dan
tidak sudi Mamah tinggal bersamamu. Kau mengerti itu, Qis...?"
Ucap Cindy panjang.
"Mengerti, Mah."
Balas Balqis.
"Ingat, di rumah ini Mamahlah yang menentukan semuanya." kata wanita setengah baya itu dengan mata memandang lekat ke wajah Balqis. "Jika Mamah sudah tak senang, maka tak seorang pun yang bisa mencegahnya..."
Lanjut Cindy.
"Iya. Mah."
Jawab Balqis lagi.
"Ya sudah, makan dulu. Sebelum berangkat kuliah, jangan lupa bebenah dulu. Mamah ada urusan sebentar...," kata wanita setengah baya itu mengingatkan Balqis.
"Iya, Mah."
Jawab Balqis lagi.
"Sana makan."
Ulang Cindy.
"Baik. Mah...," jawab Balqis. "Mamah sudah makan?" tanyanya sebelum berlalu ke ruang makan.
"Sudah." Jawab Cindy.
Balqis pun berlalu meninggalkan Mamahnya untuk makan
siang. Sedang Cindy kini masuk ke dalam kamar. Tidak lama
kemudian, Cindy kembali keluar dengan dandanan rapi.
"Qis, mamah pergi dulu..."
Lanjut Cindy pada anaknya Balqis.
"Iya, Mah."
Jawab Balqis.
"Kalau sampai kau berangkat kuliah mamah belum
pulang, kunci saja pintunya dan titipkan kunci pintunya pada
Bu Tutik...," kata wanita setengah baya itu mengingatkan.
"Baik. Mah." Jawab Balqis.
Sepeninggalan Cindy pergi, Balqis kembali termenung memikirkan keadaannya. Oh Tuhan, betapa dia akan malu kalau sampai orang mengetahui keadaannya yang
sebenarnya. Dan betapa mamahnya akan marah, kalau dia tahu bahwa sekarang Balqis sedang mengandung.
Balqis akhirnya menangis, karena tidak tahu harus bagaimana menghadapi kenyataan itu. Ditambah lagi, dia
belum tahu persis bagaimana tanggapan kedua orang tua
Cevin. Juga tanggapan Cevin, kalau mengetahui dia
sudah mengandung. Apakah Cevin akan mau menerima kenyataan dan mau menikahinya? Bisakah dia menutupi apa yang terjadi pada dirinya kepada mamahnya?
Betapa mamahnya akan murka, kalau sampai mengetahui kejadian yang sebenarnya. Apalagi dia telah membohonginya dengan mengatakan bahwa apa yang dialaminya hanya masuk angin belaka.
Ingat semua itu, Balqis kembali menangis...!!!
***
Siang itu
seperti biasanya Balqis berangkat kuliah. Namun kali ini,
dia berangkat kuliah agak cepat, karena dia berharap bisa
bertemu dengan Cevin, kekasihnya. Dan dia akan menceritakan apa yang terjadi atas dirinya pada Cevin.
Namun sudah dua hari Cevin tidak datang ke kampus,
entah ada apa dan kemana. Padahal Cevin sudah ingin
sekali bertemu dengan pemuda kekasihnya itu, untuk
mengutarakan . yang tengah dia alami. Yang ada hubungan dengan hubungan cinta yang mereka jalani selama lebih dari
tiga tahun.
Ketika Balqis sampat di gerbang kampus, terdengar
suara seorang lelaki menyapanya.
"Hai Qis, tumben kau datang sangat awal..."
"Iya, Nu... lagi kurang enak di rumah."
Balas Balqis.
"Memangnya kenapa...?"
Tanya Wisnu sahabat dia dan Cevin saat masih di Sekolah Menengah Atas yang kebetulan kuliah di tempat atau kampus yang sama.
"Tidak apa-apa. Hanya kurang enak saja," jawab Balqis tetap menutupi masalahnya.
"Benar tidak ada apa-apa?"
Lanjut Wisnu.
"Sungguh. Kok kamu seperti kurang percaya sih..."
Balas Balqis.
__ADS_1
"Ya. siapa tahu kau punya masalah dengan mamahmu..."
Balas Wisnu.
"Tidak, Nu."
Jawab Balqis
"Syukurlah..." gumam pemuda itu dengan mata masih memandangi sosok gadis cantik yang berdiri di hadapannya.
"Kau sudah makan siang, Qis...?"
Tanya Wisnu lagi.
"Sudah, kenapa...?" Jawab Balqis.
"Tidak apa-apa. Kalau belum, biar kutraktir kau..."
Ucap Wisnu.
"Terimakasih, aku masih kenyang..."
Balas Balqis
Pemuda bernama Wisnu tersenyum.
"Nu..."
Kemudian Balqis melanjutkan.
"Ya...?"
Jawab Wisnu singkat.
"Apa kau melihat Cevin...?" tanya Balqis pada teman Sekolah Menengah Atas dan kuliahnya saat ini yang bernama Wisnu. Dia bertanya pada pemuda. itu, karena dia merasa Wisnulah orang yang paling
dekat dengan Cevin. Keduanya merupakan teman yang
akrab. Dan biasanya, dimana pun mereka senantiasa berdua.
Hanya semenjak Cevin berpacaran dengan Balqis, Wisnu
agak tahu diri. Dia agak menjauhi dengan Cevin, karena tidak
ingin mengganggu hubungan mereka. Namun persahabatan mereka tetap berjalan baik.
"Tidak tuh..."
Balas Wisnu.
"Sudah dua hari dia tidak nongol. Kemana ya...?." Tanya Balqis.
"Iya tuh...! Ngapain sih sampai dua hari bolos kuliah?" Wisnu ikut kesal dengan temannya. Bagaimana juga, hubungan persahabatan diantara mereka terjalin erat. Jadi
jika salah seorang ada yang tidak datang, mereka akan saling
mempertanyakan. Lebih-lebih Balqis yang memang sudah
tiga tahun menjadi pacar Cevin, dia merasa kehilangan
jika Cevin tidak berangkat kuliah. Dan lagi memang dia
ingin bertemu dengan pemuda itu, sebab ada yang hendak
dia bicarakan dengan Cevin. Tapi sudah dua hari dia tidak melihat kekasihnya datang ke kampus. Itulah yang
membuatnya jadi khawatir. Dan hatinya jadi bertanya-tanya,
ada apa sebenarnya dengan Cevin?
dari mulutnya, ditujukan untuk dirinya sendiri.
"Entahlah... Ada apa sih, Qis?" tanya Wisnu, ingin tahu ada masalah apa yang sedang dihadapi oleh Balqis.
Bagaimana juga, sebagai seorang teman, Wisnu ingin
membantu Balqis jika memang memerlukan bantuan.
Apalagi Wisnu pernah menyukai Balqis. bahkan mungkin
sampai sekarang. Hanya saja karena cinta Balqis jatuh pada
Cevin, sehingga sebagai seorang teman yang baik, Wisnu
terpaksa mengalah. Namun begitu, jika Balqis memerlukan
pertolongan, dia akan semampunya berusama membantu.
"Tidak ada apa-apa..."
Ucap Balqis.
"Kuharap kau tak perlu sungkan-sungkan padaku, Qis...," kata Wisnu dengan mata masih memandang lekat ke
wajah Balqis, seakan dia berusaha untuk menyelidiki
masalah yang sedang dihadapi oleh Balqis. "Jika memang
ada masalah antara kau dan Cevin, sebagai seorang teman
aku akan berusaha membantu memecahkan masalah
kalian. Katakanlah, ada apa...?" tanya Wisnu setengah
mendesak, berharap Balqis akan mau menceritakan
masalah yang dihadapinya.
"Percayalah kami tidak ada masalah. Aku hanya ingin bertemu dengannya saja... Bagaimana juga, sudah dua
hari dia tidak masuk kuliah. Aku mengkhawatirkan dirinya
saja," jawab Balqis masih tetap tidak mau mengatakan hal
yang sebenarnya.
"Baiklah, aku percaya... Kau mau kemana?"
Tanya Wisnu.
"Aku mau ke taman. Kalau nanti Cevin datang, tolong katakan aku menunggunya di taman kampus ya,
Nu?" pinta Balqis.
"Baiklah, akan kusampaikan..."
Balas Wisnu.
"Terimakasih sebelumnya, Nu..."
Ucap Balqis.
"Ah, lupakanlah... Sebagai teman, aku sudah sepantasnya membantumu." jawab Wisnu dengan bibir
__ADS_1
tersenyum, berusaha meyakinkan temannya akan ketulusan
niat hatinya.
"Aku duluan, Nu..."
Balas Balqis.
"Ya. Akan kutunggu dia di sini..."
Jawab Wisnu.
Balqis pun berlalu meninggalkan Wisnu menuju ke
taman kampus dimana biasanya dia menunggu Cevin
sambil mengenang kenangan indah saat bersama Cevin yang berawal dari Sekolah Menengah Atas dengan kejadian kematian kakak kandungnya Irfan yang mencintai Balqis secara diam dan kemudian dilanjutkan dengan hubungan cinta antara dia dan Cevin.
Sesampainya di taman kampus, seperti biasanya Balqis duduk sendirian sambil termenung. Pikirannya meladang pada kejadian kemarin malam, ketika perutnya
dirasa mual. Sehingga dia muntah-muntah. Dan kejadian itu,
membuat mamahnya, bertanya
dengan wajah menggambarkan kekhawatiran. Entah apa
yang membuat mamah seketika mengkhawatirkan dan
mencurigai dirinya. Dua hari dia menunggu Cevin untuk
bertemu dan dia akan mengadukan semua yang terjadi padanya kepada Cevin. Tapi kekasihnya, sampai sekarang
belum juga datang ke kampus. Entah kenapa.
Balqis menarik napas dalam-dalam, berusaha untuk
sedikit menenangkan perasaannya. Entah bagaimana lagi
dia akan berbuat, jika sampai Cevin tidak datang ke
kampus hari ini. Akankah dia mendatangi rumah Cevin
dan menceritakan masalahnya di rumah Cevin? Entahlah.
Dia masih bingung menghadapi semuanya. Apalagi dia selama ini belum kenal dekat dengan keluarga Cevin. Balqis
semakin terhanyut dalam lamunan dan pikirannya. Dia terus
berkutat dengan masalah yang tengah dialaminya, yang memerlukan sebuah penyelesaian untuk membebaskan
dirinya dari masalah tersebut.
Mentari siang terasa memanggang bumi dan isinya.
Balqis masih duduk di taman kampus. Masih terhanyut
dengan lamunan dan pikirannya tentang apa yang kini
terjadi pada dirinya. Dia hamil. Itu merupakan masalah yang
harus secepatnya diselesaikan. Sebab kalau tidak segera
diselesaikan, akan membuat aib yang sangat besar. Apa
jadinya nanti, kalau semua orang tahu bahwa dia mengandung sebelum menikah? Dia harus bertemu dengan
Cevin, untuk membicarakan masalah yang sedang dihadapinya. Karena masalah itu, adalah hasil hubungannya
selama ini dengan Cevin. Namun lelaki itu, sudah dua hari
tidak datang ke kampus. Entah kemana. Dan semua itu
semakin membuat perasaan Balqis bertambah gelisah.
Sementara itu, dari jalan raya sebuah mobil jeep warna hitam yang dinaiki seorang pemuda, masuk ke pelataran
parkir sebuah universitas swasta yang ada di wilayah
Bandar Lampung. Pemuda tampan dengan tubuh tegap dan
rambut sedikit gondrong itu. di wajahnya nampak menggambarkan keceriaan. Pemuda tampan itu bernama
Cevin, saat ini sebagai anak seorang pengusaha yang cukup berhasil karena kerja keras yang dilakukan Ayahnya.
Setelah memarkir mobilnya di pelataran parkir, Cevin bergegas turun. Dia hendak menuju ke kampus, ketika seorang teman kuliahnya datang menghampirinya.
"Hai Vin..."
Sapa Wisnu.
"Hai juga..."
Jawab Cevin.
"Kemana saja lu dua hari? Kok kagak nongol dikampus?" tanya pemuda itu.
"Gue agak sibukan, Nu..."
Balas Cevin.
"Oh ya, Balqis nungguin elo tuh..."
Ucap Wisnu lagi.
"Ada apa memangnya?"
Tanya Cevin.
"Kagak tahu. Doi hanya ngomong kalau lu datang,
suruh cepet nemuin dia...," kata Wisnu memberitahukan,
sekaligus menyampaikan amanat yang dia terima.
"Ada apa ya?"
Tanya Cevin.
"Lebih baik lu temuin aja sendiri..."
Ucap Wisnu.
"Dimana dia...?"
Tanya Cevin.
"Di taman barang kali.:."
Lanjut Wisnu.
"Oke , deh. gue temui dia dulu. Takut ngambek...,"
Cevin tersenyum setengah berseloroh, kemudian setelah
__ADS_1
menepuk pundak temannya, dia pun bergegas meninggalkan
Wisnu.