
Semenjak Cevin mengantar Balqis sampai rumahnya malam itu, sampai sekarang sudah hampir setengah bulan Cevin kembali menghilang tidak ada kabar beritanya. Padahal Balqis sudah tak sabar menunggu. Ingin mengatahui, bagaimana keputusan kedua orang tua Cevin.
Disamping itu, bayi dalam kandungannya, semakin hari akan semakin membesar. Dan jika dibiarkan berlarut-larut tanpa ada penyelesaian, maka semua orang pasti akan mengetahui kehamilannya. Dan betapa malunya dia, jika sampai orang akan memperbincangkan dirinya. Lebih pahit lagi, kalau sampai orang-orang mengecapnya mahasiswi yang nyambi karena keluarganya orang kurang mampu.
Oh, bukankah secara tidak langsung dia telah menghinakan keluarganya. Mamahnya tentu akan sangat marah sekali. Bisa jadi, mungkin dia akan diusir dari rumah itu.
Selama ini, Balqis masih bisa menutupi kehamilannya. Karena baru tiga bulan usia kandungannya. Namun jika sampai empat dan lima bulan, tentu dia tidak akan bisa lagi menutupi keadaan tubuhnya yang sudah berbadan dua. Oh Tuhan, bagaimana jadinya nanti? Pikir Balqis dengan hati pilu, setiap kali ingat akan apa yang bakal dia hadapi jika sampai kandungannya kelihatan. Dan semua orang akan mengetahuinya.
Sudah berulang kali mamahnya Cindy menanyakan perihal Cevin yang sudah hampir setengah bulan tidak lagi nongol ke rumah mereka. Beruntung Balqis masih bisa menutup-nutupi dengan memberi alasan yang masuk akal dan bisa diterima oleh kedua orang tuanya.
Semalam, kembali ketika dia dan mamahnya Cindy
duduk, kembali mamahnya menanyakan tentang Cevin.
"Cevin kok tidak pernah datang lagi, Qis?" tanya mamahnya. "Apa ada masalah denganmu...?"
Lanjut Cindy.
"Tidak, mah."
Jawab Balqis.
"Biasanya Cevin sering datang. Kok sudah hampir setengah bulan tidak menampakkan batang hidungnya...?"
Mamahnya bertanya.
"Mungkin dia sedang sibuk, mah."
Jawab Balqis.
"Sibuk apa?"
Tanya Cindy.
"Menyelesaikan diktat barangkali, mah."
Jawab Balqis lagi.
"Diktat?"
Tanya Cindy sedikit heran.
"Iya, mah... Sebab Cevin mempunyai kredit semester." Jelas Balqis memberi alasan pada Cindy.
"O..."
Nada suara Cindy kemudian.
Untuk sementara Balqis agak tenang, ketika dilihat
Mamahnya diam. Namun tidak lama kemudian, Mamahnya kembali mengajukan pertanyaan. Dan kali ini, cukup membuat Balqis kaget bercampur was-was. Khawatir mamahnya sudah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
"Qis..."
Panggil Cindy.
"Ya. Mah..."
Jawab Balqis.
"Mamah perhatikan, kondisi badanmu semakin hari kian bertambah menyusut. Dan ibu perhatikan akhir-akhir ini kau sering suka makan-makanan yang pedas dan asam..."
Jelas Cindy pada anaknya.
"Ah, Balqis rasa tidak apa-apa kok Mah."
Jawab Balqis.
"Benar kau tidak apa-apa?"
Tanya Cindy lagi.
"Benar. Mah..."
Jawab Balqis.
"Ya, syukurlah kalau memang begitu. Mamah hanya khawatir, kalau-kalau kau hamil..."
Kata Cindy lagi.
"Ah mamah..."
Balqis berkata lirih.
Kecemasan Balqis, semakin bertambah-tambah karena Cevin belum juga datang. Pada hal dia sudah tidak sabar lagi menunggu. Mau ke rumahnya, dia masih takut. Yang bisa dilakukannya hanyalah menunggu dan menunggu dengan perasaan semakin bertambah tidak menentu.
Siang itu Balqis nampak tengah duduk termenung dan melamun di taman kampus. Tempat yang biasanya dia jadikan sebagai tempat penantian. Juga tempat pertemuannya dengan Cevin. Lalu memadu janji. Tempat itu juga membawa kenangan indah bagi Balqis. Itulah sebabnya Balqis senantiasa duduk di situ, jika ingat akan Cevin. Atau jika kekasihnya tidak kuliah, sehingga mereka tidak bertemu.
Siang itu pun Balqis duduk di taman kampus sambil melamun.
Pikirannya tengah melayang tak menentu. Ya pada janin yang dikandungnya, yang tentunya semakin lama akan semakin bertambah besar. Juga pada Cevin, yang sudah hampir setengah bulan tidak menunjukkan batang hidungnya.
Ke mana Cevin?
Kekasihnya memang sering tidak ke kampus, namun hanya dua tiga hari. Tapi sekarang, sudah setengah bulan Cevin tidak datang ke kampus. Ada apa sebenarnya? Dan Balqis juga sampai sekarang, belum mendengar kabar beritanya. Pada hal dia juga menunggu kedatangan Cevin, sebab dia ingin mengetahui bagaimana hasil kekasihnya yang akan memperkenalkan dia pada kedua orang tua Cevin.
Bahkan Cevin berjanji akan menikahinya dalam waktu dekat, sebelum janin dalam kandungan. Balqis semakin besar. Tapi ditunggu-tunggu, sampai setengah bulan tidak juga datang.
Niat Balqis ingin datang ke rumah Cevin dan ingin mengetahui apa yang terjadi pada diri kekasihnya. Sedang semakin hari, Balqis semakin bertambah bingung serta cemas dengan keadaan kandungannya yang akan semakin bertambah besar.
Bagaimana jadinya, kalau semua orang mengetahui bahwa dia hamil?
Oh Tuhan... kenapa Cevin belum juga datang melamarnya?
Sehingga dia bisa segera menikah dan tidak akan malu, kalau orang mengetahui bahwa dirinya sudah mengandung. Sebab ada suaminya. Dan anaknya pun tidak akan malu, kalau bertanya siapa papahnya. Karena anaknya memang mempunyai seorang ayah.
Balqis masih duduk melamun seorang diri di taman kampus sambil melamun, ketika seorang gadis melangkah mendekati. Kemudian gadis itu duduk di samping Balqis, dengan kening mengerut gadis itu memperhatikan wajah temannya yang nampak murung dan tengah melamun.
"Balqis..."
Ucap gadis itu.
__ADS_1
Balqis tersentak, sadar dari lamunannya. Dia menengok. "Eh kau, Ranti... Bikin kaget saja..."
Ucap Balqis.
"Ngapain sepagi ini sudah melamun?" tanya Ranti tanpa menanggapi keluhan temannya yang kaget dengan kedatangannya yang tidak diketahui oleh Balqis karena memang gadis itu sedang melamun. Sehingga meski matanya terbuka, namun sesungguhnya konsentrasi pikirannya tidak tertuju pada apa yang dipandangnya. Melainkan tengah melayang dengan berbagai masalah yang sedang dihadapinya.
"Ah, tidak..." Balqis mencoba tersenyum, untuk menutupi kemurungan yang tengah melanda harinya.
Sekaligus untuk sekedar meyakinkan temannya, kalau dia memang tidak sedang melamun. "Aku hanya sedang
menikmati suasana pagi ini," katanya kemudian sambil menyapukan pandangan matanya ke sekeliling taman, seakan dia benar-benar tengah berusaha menikmati suasana pagi.
"Qis..."
Ucap Ranti.
"Ya," kembali Balqis menengok ke arah temannya.
"Ada berita untukmu," kata Ranti dengan lirih.
Nampaknya Ranti sangat berhati-hati sekali bicara. Ada sesuatu yang tidak dia inginkan terjadi pada Balqis, jika temannya itu nanti mendengar berita yang akan dia sampaikan. Berita yang mungkin akan mampu mengguncangkan jiwa Balqis jika mendengarnya nanti. Dan karena itulah, Ranti berusaha untuk mengatakannya dengan sangat hati-hati sekali.
"Berita tentang apa...?" Tanya Balqis.
Ranti tidak langsung menjelaskan apa yang akan dia katakan. Namun sesaat dia diam dengan mata memandang ke wajah Balqis, seakan dia tengah berusaha meyakinkan diri mampukah Balqis menerima berita yang bakal dia sampaikan?
Namun kalau tidak dia katakan, tentu Balqis akan semakin bertambah penasaran dan terus mendesaknya. Sebab dia sudah mengatakan kalau ada berita yang akan dia sampaikan. Tetapi jika dia sampaikan dan beritahukan berita yang dia dengar, dia khawatir Balqis akan terguncang jiwanya.
Salah-salah bisa berbahaya...!!!
"Ran, kenapa kau...?"
Tanya Balqis.
"Tidak apa-apa."
Jawab Ranti.
"Tadi kau mengatakan ada berita untukku. Kenapa kau diam?" tanya Balqis. "Katakanlah, ada apa?" desak Balqis sambil memandang ke wajah temannya dengan tatapan lekat. Seakan menuntut Ranti agar mau mengatakan tentang berita yang hendak disampaikan kepadanya.
Kembali Ranti menarik napas dalam-dalam. Seakan dia berusaha untuk menguatkan perasaannya, agar dia bisa menceritakan berita yang dia dengar.
"Kau sungguh belum mendengarnya?" tanya Ranti, dengan mata memandang lekat ke wajah. Balqis, seakan berusaha memastikan kalau temannya benar-benar belum mendengar akan berita yang dibawanya. Berita yang bisa mengguncangkan jiwa bagi Balqis. Balqis menggelengkan kepala. Matanya masih memandang lekat ke wajah temannya dengan pandangan penasaran, ingin mengetahui berita apa yang dibawa oleh temannya.
Ranti kembali menghela napas dalam-dalam. Perasaannya masih diliputi kebimbangan dan keraguan.
Haruskah dia memberitahu berita tersebut atau tidak?
Pikirnya dalam hati yang dilanda. kebimbangan dan kekhawatiran kalau-kalau berita itu akan membuat Balqis terguncang jiwanya.
"Ayo Ranti, ceritakanlah ada apa...?" desah Balqis nampak tak sabar, ingin segera mengetahui akan berita yang hendak disampaikan oleh temannya.
"Kau sudah dengar tentang Cevin...?" tanya Ranti sambil kembali memandang ke wajah temannya.
"Tentang Cevin...?"
Tanya Balqis. "Belum. Bahkan aku sekarang sedang menunggunya,
"Justru itu yang hendak kusampaikan padamu." jawab Ranti.
"Maksudmu...?" Tanya Balqis.
"Ada sesuatu yang berkaitan dengan ketidak hadirannya Cevin beberapa minggu ini. Bahkan hampir setengah bulan," kata Ranti menjelaskan.
"Kenapa dengan Cevin...?" tanya Balqis belum mengerti akan maksud temannya. Juga Sehingga mata indah dengan bulu mata lentik Balqis, seketika memandang ke wajah temannya.
"Aku mendengar Cevin akan menikah."
Ucap Ranti perlahan.
"Menikah...?" ulang Balqis.
"Ya."
Jawab Ranti singkat.
Balqis menarik napas dalam-dalam. Hatinya agak lega mendengar kalau Cevin akan menikah. Dia berpikir, tentunya Cevin benar-benar akan bertanggung jawab kepadanya. Dan kedua orang tua Cevin nampaknya sudah mau mengerti. Sehingga mereka akhirnya menyetujui hubungan mereka dan bermaksud menikahkan Cevin dengannya.
"Oh ya...?" tanya Balqis dengan wajah masih menunjukkan ketenangan, sebab dia tetap menduga kalau yang bakal menjadi mempelai wanitanya tentu dirinya.
Karena Cevin sudah berjanji akan bertanggung jawab dan menikahinya.
"Ya..."
Jawab Ranti.
"Kapan rencananya?" Tanya Balqis.
"Minggu depan..."
Jawab Ranti.
"Minggu depan?!"
Ucap Balqis dalam pertanyaan yang heran. Balqis baru tersentak kaget dengan mata membeliak setelah mengetahui kapan Cevin menikah. Matanya memandang tajam ke arah Ranti, sepertinya dia berusaha memastikan kesungguhan omongan temannya.
Bagaimana mungkin minggu depan?
Kenapa Cevin atau kedua orang tuanya tidak menghubungi keluarganya agar keluarganya siap-siap terlebih dulu?
Ah, apa mungkin keluarga Cevin mau membuat kejutan?
Pikir Balqis, masih menyangka bahwa dialah yang akan menjadi mempelai wanitanya. Mendampingi Cevin yang tampan dan selama ini, telah dia pasrahkan apa yang dia miliki.
"Ya. Kau nampak kaget. Kau tidak apa-apa, Qis?"
Tanya Ranti meyakinkan Balqis.
"Tidak..."
Jawab Balqis.
__ADS_1
"Sungguh kau tidak apa-apa?"
Tanya Ranti lagi.
"Sungguh," jawab Balqis. "Oh ya, menurut berita Cevin hendak menikah dengan siapa...?" tanya Balqis.
"Katanya sih dengan seorang gadis yang baru saja menyelesaikan kuliahnya di Jakarta... Katanya pula, gadis itu merupakan pilihan kedua orang tua Cevin dan mereka sudah dijodohkan, jauh ketika mereka masih kecil," jawab
Ranti memberitahukan berita yang dia dengar.
Bergetar tubuh Balqis mendengar penjelasan Ranti, yang mengatakan kalau gadis yang akan mendampingi Cevin bukan dirinya. Tetapi seorang gadis yang baru menyelesaikan kuliahnya di Jakarta. Ditatapnya Ranti tajam, seakan berusaha meyakinkan hatinya. Jiwanya seketika terguncang hebat. Kepalanya terasa berdenyut-denyut dan agak pening.
"Benarkah apa yang kau katakan, Ranti?" tanya Balqis kemudian, kali ini suaranya terdengar lirih.
"Sungguh, Qis. Masa aku berbohong padamu..."
Jawab Ranti.
"Oo..."
Balqis mengeluh sambil memegangi keningnya. Kepalanya terasa semakin keras berdenyut dan pening. Bumi yang dipijaknya bagaikan berputar, setelah dia mendengar kabar bahwa kekasihnya akan menikah dengan gadis lain. Matanya seketika berkunang-kunang, kemudian tubuhnya bergetar. Sampai akhirnya Balqis terkulai pingsan, membuat Ranti seketika menjadi panik melihat keadaan temannya.
"Qis, kenapa kau...?" tanya Ranti dengan mata membelalak kaget.
Ranti berusaha menyadarkan Balqis, namun temannya tetap saja diam. Semua itu semakin membuatnya panik, sehingga Ranti segera berteriak meminta pertolongan pada teman-temannya yang lain.
"Tolong Balqis pingsan... tolong...!"
Teriak Ranti.
Teman-teman kuliahnya yang mendengar teriakan Ranti segera berdatangan. Mereka segera menolong membopong tubuh Balqis ke ruangan kelas kuliah. Salah seorang dari temannya, berusaha menghubungi ambulan untuk membawa Balqis ke rumah sakit.
Balqis siuman, setelah diberi pertolongan oleh teman-temannya dengan cara sebisa mereka. Bahkan Ranti menggigit ibu jari tangan Balqis, sehingga Balqis mengaduh dan sadar dari pingsannya.
"Dimana aku.. ?" tanya Balqis seperti kebingungan.
"Kau masih di kampus."
Jelas Ranti.
"Ranti..."
Panggil Balqis.
"Ya."
Jawab Ranti.
"Kau mau menemaniku ke rumah Cevin...?" Tanya Balqis.
"Ya, aku mau. Kau mau kesana?"
Jawab Ranti.
Balqis mengangguk.
"Memang sebaiknya kau kesana, Qis."
Ucap Ranti lirih.
"Kau mau kan mengantarku. Ran? Ke rumah Cevin." Ucap Balqis lagi.
"Sebaiknya kau tenangkan pikiranmu dulu, Qis. Kau perlu istirahat. Besok saja kesananya," saran Ranti. Dia khawatir terjadi sesuatu pada temannya, karena Balqis baru saja pingsan. Perlu istirahat. Di samping itu, nampaknya fisik Balqis lemah.
"Tidak Ran. aku harus ke rumah Cevin sekarang."
Ucap Balqis lagi.
Ranti hanya bisa menarik napas dalam-dalam mendengar keinginan temannya yang setengah memaksa itu. Dia tak mengerti, apa yang sebenarnya telah terjadi pada Balqis, sehingga mendengar kekasihnya mau menikah Balqis pingsan.
Apa mungkin Balqis sudah hamil hasil, hubungan cintanya dengan Cevin?
Sehingga Balqis begitu terpukul mendengar Cevin mau menikah dengan gadis lain?
Ranti berusaha menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi pada temannya dalam hati. Ya, hanya dalam hati. Karena dia tidak ingin temannya tersinggung. Apalagi di kelas itu banyak mahasiswa-mahasiswi lainnya, teman mereka. Kalau sampai mereka tahu Balqis hamil, bukankah akan geger sekampus? Dan Balqis akan menjadi bahan pergunjingan diantara mereka.
"Baiklah kalau kau memang memaksa mau kesana." Ucap Ranti.
"Sebaiknya nanti saja, Qis," kata Wisnu turut menasehati. Perhatian Wisnu sangat besar pada Balqis, karena dia sebenarnya masih mengharapkan balasan cinta dari Balqis. "Kau baru pingsan, Qis...," katanya kemudian, "Kalau sampai terjadi sesuatu padamu, Balqis tak akan sanggup menolongmu seorang diri."
Lanjut Wisnu.
Balqis mencoba tersenyum, untuk sekedar menutupi kegundahan hatinya.
"Aku tak apa-apa, Nu. Percayalah... Kuucapkan terima kasih atas perhatianmu dan juga teman-teman lainnya," kata Balqis dengan bibir tersenyum.
"Ya, kalau kau tetap memaksa, kami pun tak bisa mencegah," kata mahasiswa itu menyerah pasrah. "Kami hanya mengkhawatirkan keadaanmu, Qis."
"Ranti, sebaiknya kalian naik taksi saja. Karena keadaan Balqis tidak memungkinkan kalau naik bus kota," saran mahasiswi lainnya.
"Ya."
Jawab Ranti.
"Ini ada uang sakuku lebih," seorang mahasiswi memberikan uang sisa sakunya, diikuti yang lainnya.
Sehingga terkumpul sebanyak dua ratus lima puluh lima ribu rupiah.
"Tidak usah. Aku punya kok." Balqis berusaha menolak.
"Jangan menolak, Qis. Kami ikhlas memberimu kok," timpal mahasiswa lainnya.
"Iya, terimalah. Siapa tahu uang yang tak banyak jumlahnya itu bisa dipergunakan untuk keperluan sewaktu-waktu," kata mahasiswi yang pertama memberikan uang menambahkan.
"Terimakasih sebelumnya. Selama ini kalian telah banyak membantu saya. Entah bagaimana saya nanti membalas kebaikan kalian," kata Balqis dengan wajah menunduk haru atas kebaikan yang diberikan teman-temannya. Dan memang selama ini, teman-temannya telah banyak berbuat baik kepadanya.
"Sudahlah, jangan pikirkan semua itu... Kami hanya merasa turut prihatin atas masalah yang tengah kau alami, Qis Dan jika kau memerlukan bantuan, kami berharap kau tidak perlu sungkan-sungkan mengatakannya pada kami."
"Sekali lagi terimakasih banyak. Ayo Ran," ajak Balqis.
Dengan didampingi Ranti, Balqis keluar dari kelas. Menyetop taksi yang akan membawanya pergi ke tempat yang hendak dia tuju. Rumah Cevin, kekasihnya yang menurut Ranti akan melangsungkan pernikahan dalam waktu dekat.
__ADS_1