LORONG TAK BERUJUNG

LORONG TAK BERUJUNG
BAB 65 : JADI RUWET


__ADS_3

Besoknya, Balqis menunggu kedatangan Cevin dengan sengaja duduk di bangku cowok itu, di barisan kedua belakang. Dengan begitu tu cowok nggak bisa cuek pagi. Enak banget dia, pas mau dilabrak balik malah pura-pura cuek. Curang banget!


Ketika muncul, Cevin kaget banget mendapati bangkunya sudah berpenghuni. Ia surprise begitu tahu siapa tang sedang menghuni bangkunya itu. Dengan langkah cepat dan kening berkerut, dihampirinya Balqis. Sementara Balqis segera bersiap-siap begitu dilihatnya Cevin muncul di ambang pintu, dan langsung menyambut cowok itu dengan kata-kata ketus.


"Kemaren kenapa lo nggak marah-marah? Lupa? Apa udah bosen?" Ucap Balqis ketus.


"Itu pertanyaan buat gue?" tanya Cevin, kembali merasa surprise. Soalnya sampai terakhir kali ia marah-marah dua hari lalu, reaksi Balqis cuma bingung atau diam. Kalaupun mengeluarkan suara, pilihan kata dan intonasi suaranya begitu hati-hati.


"Iya, elo! Orang yang sekarang bangkunya lagi gue dudukin!" jawab Balqis.


Semua rasa yang ditahannya selama berhari-hari muncul sekaligus. Marah, kesal, dongkol, heran. Terlihat jelas dari ekspresi muka dan cara kedua matanya menatap Cavin. Namun Balqis juga berusaha agar tidak satu pun teman sekelasnya menyadari pertengkaran mereka. Ia segera mengubah air muka dan memunculkan senyum manis instan tiap kali seseorang mendekat atau melewati mereka berdua.


"Berdiri cepet! Pindah ke bangku lo sendiri sana!" perintah Cevin.


Balqis jadi tambah marah. "Nggak mau. Gue mau duduk di sini!" jawab Balqis. Sesaat Cevin tercengang dengan jawaban kasar dan ketus itu.


"Gitu ya? oke, nggak masalah," ucap Cevin enteng. Cowok itu lalu sedikit membungkukkan sedikit tubuhnya, melongok laci meja Toni.


Dilihatnya teman sebangkunya itu udah datang karena tasnya ada. Cevin lalu mengeluarkan ponsel dari saku celana.


"Ton, kayaknya lo harus pindah. Soalnya ada yang pengin semeja sama gue." Ucap Cevin.


Tidak berapa lama Toni datang. Melangkah masuk kelas dengan ekspresi kesal.


"Siapa yang mau duduk di bangku gue!?" tanya Toni.


"Gue. Soalnya bangku gue ada yang nempatin," jawab Cevin.


"Siapa?" Balas Toni.


"Tuh." Cevin menunjuk Balqis dengan dagu.


"Elo, Qis?" kekesalan Toni seketika menghilang.


Ditatapnya Balqis yang terbingung-bingung dengan mata melebar dan alis terangkat tinggi.


"Iya, dia!" Cevin yang menjawab.


"Serius lo mau duduk di belakang? Di sini nggak ada cewek lho." Balas Toni.


"Serius!" lagi-lagi Cevin yang menjawab. "Udah dari tadi dia duduk di bangku gue. Gue suruh pergi, nggak mau. Terpaksa gue duduk di bangku lo, Ton. Dan elo…," Cevin tersenyum, "Terpaksa duduk sama cewek-cewek." Ia menunjuk tempat duduk Balqis, di baris kedua dari depan, dengan pandangan mata. Selain baris terdepan, baris kedua juga dihindari para cowok.


Toni sudah akan menolak mentah-mentah, tapi kemudian tatapan Cevib membuatnya ingat akan sesuatu. Sesuatu yang beberapa kali dibicarakan dengan Cevin, yang awalnya rahasia tapi kemudian Toni mengatakannya terus terang. Sesuatu yang ditahannya mati-matian, bingung akan terus maju atau tidak, dalam tanda tanya besar akan kemungkinan sang topik pembicaraan masih sendirian atau sudah…!!!

__ADS_1


Ya, Toni naksir Ranti, teman semeja Balqis!


"Oke!" Toni langsung menyetujui pertukaran bangku itu. Mukanya mendadak sumringah. Berseri-seri. Gila, ini dream come true banget!


"Sekarang kan pindahnya?" tanya Toni penuh semangat, sambil menarik keluar ranselnya dari laci meja.


"Iya, sekarang," Cevin menjawab sambil tersenyum geli. "Sekalian bawain ke sini tasnya Citra, ya." Balas Cevin.


"Oke!" Toni melangkah menuju bangku barunya dengan girang. Sementara Balqis mengikuti renteten kejadian itu dengan agak-agak nggak sadar. Soalnya ini benar-benar di luar dugaannya. Begitu juga Ranti. Cewek itu kaget banget karena mendadak sebangku sama cowok, yang datang dengan wajah bahagia pula.


"Elo yang dateng ke sini ya, Qis. Bukan gue yang ngundang, apalagi ngajak. Jadi kalo lo ntar kenapa-kenapa, gue nggak tanggung jawab."


Peringatan pertama itu diucapkan Cevin dengan tenang. Cowok itu memasukkan ranselnya ke laci kemudian duduk di sebelah Balqis, di bangku Toni yang baru ditinggalkan pemilik sahnya. Balqis jadi mengernyitkan kening mendengar itu.


"Kenapa-kenapa gimana maksudnya?" Tanya Balqis.


"Di belakang sini nggak ada cewek. Semua cewek ngumpulnya di barisan tengah sama depan. Jadi kalo ntar lo digodain, diisengin, dijailin, jangan ngambek apalagi nangis, ya? Gue paling males sama cewek-cewek kayak gitu." Jelas Cevin.


Mulai terlihat keragu-raguan di muka Balqis.


"Jadi gue kasih tau dari sekarang. Jangan dikira kalo lo duduk di tempat gue, trus gue bakalan peduli atau harus peduli kalo lo kenapa-kenapa!" tandas Cevin.


Wah, kayaknya gawat nih! desis Balqis dalam hati.


"Qis, lo duduk di belakang sekarang?" tanya Ranti. Kedua matanya menatap Balqis lebar-lebar. "Iiih. Di situ kan serem. Isinya perampok sama penyamun doang." Ucap Ranti.


"Qis, bener sekarang lo duduk di belakang?" tanya Ranti lagi. "Kok nggak bilang-bilang sih? Jadi kita udah nggak sebangku lagi nih?" Ada nada kesal dalam suara Ranti. Juga sedih dan tersinggung.


Balqis sudah akan bangkit berdiri dan kembali ke bangkunya, tapi Cevin menangkap pergelangan tangannya dan menahan geraknya. Peristiwa itu tidak terlihat oleh Toni dan Ranti karena terhalang meja.


"Lo yang dateng ke sini, kan?" Cevin berbisik tajam. "Jangan pergi seenaknya!" Lanjunya.


Balqis menoleh dan tertegun. Wajah Cevin… Ia melihat kemarahan di sana. Kemarahan dan kebencian. Dan genggaman tangan cowok itu di pergelangan tangannya benar-benar kuat hingga terasa menyakitan.


"Jangan seenaknya!" sekali lagi Cevin mendesis tajam, tatapannya menghunjam lurus ke kedua bola mata Balqis. Tapi saat ia menoleh ke Ranti, semua ekspresi itu lenyap. Berganti senyum dan wajah ramah.


"Iya, Ran. Sekarang Balqis duduk sama gue. Biar ada cewek di belakang sini. Jadi nggak garing-garing amat. Toni duduk sama elo. Biar di situ juga nggak garing-garing amat. Ada cowok kerennya gitu." Balas Cevin.


Cowok keren? Ranti langsung menoleh ke cowok di sebelahnya. Seketika Toni menampilkan senyum yang menurut cowok itu paling manis. Juga ekspresi muka yang menurutnya paling ganteng dan paling charming.


"Ton, mana tas Balqis? Bawa ke sini dong. Kok jadi lupa sih?" tanya Cevin.


"Oh, iya!" Toni menepuk kening. "Iya nih, jadi lupa!" Dikeluarkannya tas Balqis, yang terdesak oleh ranselnya, dari dalam laci. Kemudian Toni

__ADS_1


menghampiri Cevin dan Balqis dengan seringai malu dibibirnya. , "Iya, sori lupa. Soalnya gue lagi bahagia banget. Tanks ya, Qis." Ia menyerahkan tas itu kepada pemiliknya. Lalu buru-buru kembali ke tempat duduk barunya.


Balqis memerhatikan tingkah Toni dengan bingung. Ia menoleh ke Cevin dengan pandang bertanya.


"Toni udah naksir Ranti dari MOS kemaren," ucap Cevin tak acuh.


"Oh!" Balqis tercengang.


***


Dua deret bangku paling belakang itu isinya memang cowok doang. Dan cowok deret belakang yang pertama kali menyadari ada member baru, cewek pula, adalah Wisnu. Dari Wisnu lah Balqis menerima ucapan selamat datang yang pertama, dalam bentuk ungkapan keheranan.


"Eh, ada Balqis? Sekarang lo duduk di belakang, Qis? Kereeen! Ini baru cewek pemberani!"


Ucapan selamat datang dengan intonasi keheranan yang persis sama bertubi-tubi di terima Balqis lima menit menjelang bel masuk.


"Eh, ada Balqis? Lo sekarang duduk di sini, Qis?" ucap para cowok itu sambil menuju bangku masing-masing.


Tapi ucapan welcome dari Rahmat agak mengundang kecemasan. "Eh, ada Balqis? Lo duduk di belakang sekarang, Qis? Asyiiik, sekarang di belakang ada ceweknya!" Balqis menatap muka sumringah Rahmat. Kenapa ya, tu cowok seneng banget gitu? batinnya bingung. Dan seharian itu Balqis jadi bahan godaan cowok-cowok deret belakang. Sampai sejauh ini godaan-godaan itu bentuknya masih verbal dan dilakukan saat pergantian jam pelajaran. Bentuk godaan verbalnya juga masih yang basi-basi.


"Balqis rumahnya di mana? Kasih tau dong."


"Iya dong. Biar kita bisa main. Boleh kan kapan-kapan main ke rumah?"


"Balqis udah punya cowok, belom?"


"Balqis rambutnya bagus deh. Pake sampo apa sih?"


Godaan yang dilemparkan Rahmay malah jadul banget. Kayaknya sudah ada zaman bokap-nyokap anak-anak itu masih pada Anak Baru Gede. Bahkan mungkin sudah ada sejak para Anak Baru Gede di zaman penjajahan Belanda.


"Balqis. Balqis. Dipanggilin kok diam aja? Balqis sombong atau budek sih?"


Balqis mendesis geram. Sumpah, basi banget. Tapi tetep aja nyebelin.


Cowok-cowok itu tertawa geli begitu Balqis menoleh dan menatap mereka dengan muka cemberut. Cevin, yang duduk di sebelah Balqis, ternyata benar-benar tidak peduli. Ia mengikuti peristiwa itu dengan senyum, bahkan ikut tertawa.


Sementara Toni kebagian godaan, "Cieeeh, yang sekarang duduk sama cewek. Langsung lupa deh sama-sama yang di belakang sini!" seru Didik di saat kelas kosong karena pergantian pelajaran.


Toni menoleh kebelakang lalu menyeringai lebar-lebar. Kemudian tanpa rasa malu, ia mengatakan bahwa itu takdir. Karena akhirnya dia bisa duduk semeja dengan Ranti, cewek yang langsung dia sukai begitu melihatnya pertama kali di MOS kemarin. Masih kata Toni, mereka berdua kayaknya udah jodoh, soalnya nama mereka mirip. Ujungnya pakai akhiran "i", kalau di pikir nggak ada hubungannya sama sekali kan.


Ranti ternganga! Ya jelaslah. Kalau cowok naksir cewek atau sebaliknya, kan harus ngomong dulu sama orang yang ditaksir, baru setelah itu buat pengumuman. Bukan begini, langsung diumumkan besar-besaran. Orang yang ditaksir sama orang yang mendengarkan pengumuman jadi sama kagetnya.


Teman-teman sekelas lainnya tadinya bingung saat mendadak Balqis pindah ke belakang. Mereka lansung berasumsi Balqis naksir Cevin dan pingin dekat-dekat cowok itu, atau Cevin naksir Balqis tapi malas duduk di depan, jadi Balqis yang disuruh pindah. Tapi sekarang mereka mengerti bahwa Balqis pindah ke belakang karena Toni naksir Ranti. Ranti nggak mau disuruh pindah, jadi terpaksa Balqis yang pindah. Begitu...! Tapi lalu muncul asumsi baru. Balqis nggak akan mungkin mau pindah kalau sama sekali nggak ada feeling sama Cevin. Jadi pasti Balqis juga naksir Cevin!

__ADS_1


Jadi kesimpulannya ajaib banget opini ini bisa terbentuk di benak setiap kepala tanpa melalui musyawarah mufakat sebelumnya perpindahan itu terjadi karena Toni naksir Ranti, dan Balqis naksir Cevin!


Jadi ruwet...!!!


__ADS_2