
Seperti biasanya Cevin senantiasa berusaha untuk menunjukkan sikap yang bertanggung jawab sebagai seorang kekasih pada wanita yang dicintainya. Sehingga akan mendatangkan keyakinan kekasihnya, kalau dia memang bersungguh-sungguh dalam menjalin cinta dengan gadis itu.
"Kita pulang bersama, Qis..."
Ajak Cevin.
Balqis mengangguk.
"Ayo." ajak Cevib membimbing kekasihnya meninggalkan ruangan kampus. Mereka keluar dari kampus bersama. Menuju ke mobil jeep warna hitam milik Cevin. Keduanya naik ke mobil itu, yang tidak lama kemudian perlahan melaju meninggalkan halaman parkir kampus. Turun dan kemudian menyelusuri jalan raya.
"Kita mau kemana..,?" tanya Cevin sambil menengok ke arah Balqis yang duduk disampingnya. Dia meminta pendapat kekasihnya, setiap kali mereka jalan bersama. Cevin ingin Balqid yang menentukan kemana-mereka akan pergi. Semua itu Cevin lakukan, karena dia ingin menyenangkan hati kekasihnya...!!!
"Maumu kemana...?" Balqis balik melimpahkan pertanyaan dan juga keputusan pada Cevin. "Kau kan yang pegang setir. Sedang aku hanya menumpang... Aku akan mengikuti kemana pun kau pergi," kata Balqis kemudian sambil balas memandang ke arah kekasihnya yang semakin gagah duduk di belakang stir mobil jeepnya.
"Bagaimana kalau kita makan dulu, Qis?" ajak Cevin.
"Terserah kau," jawab Balqis. Dia sepertinya menyerahkan segala keputusannya pada Cevin. Sebagai seorang kekasih, Balqis pun tidak ingin mengecewakan kekasihnya dengan menolak ajakan kekasihnya. Toh dengan begitu, akan semakin mempererat hubungan cinta di antara mereka berdua.
"Kau nampak gelisah tadi, Qis...," kata Cevin sambil terus menjalankan mobilnya. "Apa ada yang kau pikirkan...?" tanya Cevin kemudian.
"Entahlah, aku merasa tidak tenang tadi..."
Ucap Balqis.
"Kenapa...? Apa memikirkan masalah kita?"
Tanya Cevin.
"Mungkin..."
Jawab Balqis.
"Apa yang kau pikirkan?" Tanya Cevin lagi.
"Entahlah... aku merasa takut, cemas dan banyak lagi masalah yang mengganggu pikiranku, disamping masalah kehamilanku, Vin," desah Balqis lirih. "Sebab jika berlarut-larut, janin dalam kandunganku semakin lama, akan semakin bertambah besar. Apa jadinya nanti...?" keluh Balqis sambil menggigit bibir kuat-kuat, berusaha menahan kegelisahan hatinya yang membuatnya merasa pilu dan was-was serta gelisah tak menentu.
"Tadi itu belum seberapa, Vin, dibandingkan keadaan ku kemarin malam. Kemarin malam, aku tidak bisa tidur. Pikiranku tidak menentu. Bagaimana tidak? Dua hari kau tidak kuliah tanpa kabar berita. Sedang aku merasakan ketidak menentuan... Kau memang jahat, tidak berperasaan...!" kecam Balqis sengit dengan wajah menggambarkan kekesalan.
"Loh, kok marah...?"
Ucap Cevin.
"Siapa yang tidak marah. Aku kebingungan, kau malah enak-enakkan di rumah. Bukankah itu menunjukkan kalau kau tidak mempunyai perasaan...!" kembali Balqis mengecam, dengan mata tajam memandang ke wajah kekasihnya.
"Aku tidak tahu...," elak Cevin membela diri.
"Kalau kau sudah tahu, apa yang akan kau lakukan?" tanya Balqis dengan suara masih tegas.
"Ya, aku senang..." Jawab Cevin.
"Kau senang. Sedang aku..."
Perkataan Balqis terhenti...!!!
"Memangnya kenapa...?"
Tanya Celvin.
"Kenapa...?" sungut Balqis dengan wajah cemberut. "Ya bingung," katanya kemudian masih dengan wajah cemberut.
"Bingung kenapa...? Kehamilan bagi wanita biasakan? Lagi pula, kau hamil ada yang berbuat. Kecuali tiba-tiba hamil begitu saja, baru boleh kau bingung," kata Cevin masih tetap menggoda, berusaha mengajak kekasihnya bercanda. Namun justru godaannya semakin membuat Balqis bertambah cemberut.
"Kau sih lelaki, enak... Berbuat berapa kali pun tidak akan kelihatan. Sedang aku... wanita, sekali berbuat akan nampak kelainan pada tubuhku...," sungut Balqis semakin bertambah sengit, dengan mata semakin tajam memandang ke wajah kekasihnya yang masih tersenyum-senyum. "Sekarang, bagaimana aku...? Semua orang pasti akan menuduhku yang bukan-bukan, Vin... Semua orang akan menyangka aku kuliah sambil ngompreng... Betapa aku akan malu sekali, Vin... Malu..."
Lanjut Balqis dengan nada sedih.
Senyum yang semula melekat di bibir Cevin seketika menghilang. Kini wajahnya berubah menjadi murung. Dia menyadari, bagaimana perasaan Balqis. Ya, tentunya Balqis merasakan kegelisahan dan kecemasan.
Karena bagaimana juga, orang akan memandang hina kepadanya jika sampai orang mengetahui kalau dia hamil.
Padahal saat itu dia masih kuliah.
"Kuharap kau mau bersabar dan tenang. Aku akan berusaha secepatnya menyelesaikan masalah kita. Aku juga tahu dan mengerti apa yang kau rasakan, Qis," kata Cevin berjanji, berusaha memberikan keyakinan dan ketenangan pada kekasihnya.
"Itu yang kuharapkan, Vin..."
Ucap Balqis lirih.
"Ya, aku mengerti. Dan memang ini merupakan tanggung jawabku sebagai lelaki. Kita telah berbuat, maka kita pun harus mau menanggung resikonya...," desah Cevin lirih.
Matanya masih memandang lurus ke arah jalanan.
Mobil jeep berwarna hitam yang dinaiki kedua sejoli itu terus melaju, menuju ke sebuah rumah makan untuk makan dan untuk sekedar menenangkan pikiran mereka, sekaligus untuk kembali membicarakan hubungan cinta di antara mereka.
Juga kalau mungkin, merencanakan tindakan mereka selanjutnya dalam menghadapi masalah yang sedang di alami oleh Balqis yang kini sudah mengandung tiga bulan, hasil hubungan mereka yang selama tiga tahun terjalin. Sesampai di depan sebuah rumah makan, Cevin menghentikan mobilnya. Kemudian dia membimbing kekasihnya masuk ke dalam rumah makan itu. Mengambil tempat duduk, lalu memesan makanan dan minuman yang menjadi kesukaan mereka.
Sambil menunggu pesanan yang mereka pesan datang, Cevin mengajak Balqis ngobrol tentang mereka dan hubungan mereka berdua selama ini.
"Bagaimana yang baik menurutmu, Qis?" tanya Cevin membuka pembicaraan diantara mereka. Matanya memandang lekat ke wajah gadis yang duduk di depannya.
Gadis cantik jelita yang telah menyerahkan segalanya pada dirinya. Dan kini menghasilkan sebuah janin yang dikandung oleh gadis itu.
"Tentang apa...?"
Tanya Balqis.
"Rencana kita?"
Balas Cevin.
"Aku ingin menikah secepatnya, Vin."
__ADS_1
Lanjut Balqis.
"Ya, aku tahu..."
Jawab Cevin.
"Aku tidak ingin semua orang mengetahui kalau bayi yang ku kandung hasil hubungan diluar nikah, Vin. Betapa aku akan malu sekali kalau semua terjadi," lirih suara Balqis. "Itu sebabnya, aku mengharap kau segera menikahiku..."
Lanjutnya lagi.
"Ya, aku akan berusaha secepatnya."
Jawab Cevin.
"Lalu kapan kau akan memperkenalkan aku pada kedua orang tuamu, Vin...? Atau kedua orang tuamu datang ke rumahku untuk memintaku pada kedua orang tuaku, Vin...?" tanya Balqis, karena selama tiga tahun mereka berhubungan menjalin cinta, belum sekali pun Cevin memperkenalkan dia pada kedua orang tuanya secara khusus dan keterusterangan karena kedua orang tua Cevin mungkin sudah tahu akan tetapu sebagai teman Cevin saja.
Cevin tidak langsung menjawab, namun untuk sesat dia nampak terdiam. Sulit baginya untuk menjawab dan mengabulkan permintaan Balqis. Sebab selama ini, sebenarnya kedua orang tuanya terutama mamahnya tidak setuju dia berhubungan dengan Balqis, karena kejadian yang terjadi dengan Irfan kakak kandungnya Cevin membuat mamahnya trauma akan anaknya dalam mencintai seorang Balqis lagi. Dia khawatir Balqis akan kecewa, kalau sampai bertemu dengan mamahnya. Karena bisa jadi, mamanya akan mengeluarkan ucapan yang bisa menyinggung perasaan Balqis. Dan itulah yang membuat Cevin senantiasa tidak memperkenalkan hubungan mereka sebagai kekasihnya ke rumah. Dia tidak ingin Balqis kecewa dan tersinggung, setelah mengetahui bahwa mamahnya tidak menyetujui hubungan mereka.
"Vin..." Balqis menegur kekasihnya yang masih diam, sepertinya ada sesuatu yang membebani pikiran kekasihnya. Sehingga Cevin terdiam, di tanya kapan akan memperkenalkan langsung akan hubungan mereka pada kedua orang tua lelaki itu.
"Ya..:" Cevin tersadar dari diamnya.
"Kok kamu diam...? Ada apa...?" tanya Balqis dengan mata memandang lekat ke wajah kekasihnya, seakan ingin tahu apa yang sedang membebani pikiran kekasihnya.
"Tidak apa-apa...," jawab Cevin berusaha menutupi kebingungannya. "Aku akan ngomong pada kedua orang tuaku."
Lanjut Cevin.
"Mengapa harus ngomong dulu?" Tanya Balqis.
"Karena selama ini, mereka belum mengetahui hubungan kita, Qis. Mereka hanya tahu kalau kita hanya teman biasa saja tidak lebih dari itu. Kau mau sabar bukan...?" kata Cevin
sambil menggenggam tangan gadisnya, berusaha memberikan keyakinan dan ketenangan pada kekasihnya.
Balqis terdiam. Dia agak kaget mendengar ucapan kekasihnya. Balqis benar-benar tidak menduga sama sekali, kalau selama tiga tahun dia berhubungan dengan Cevin, pihak keluarga Cevin belum mengetahui akan hubungan anak mereka dengannya secara khusus.
"Qis..."
Panggil Cevin.
"Ya."
Jawab Balqis.
"Kenapa kau diam...?" tanya Cevin dengan mata memperhatikan wajah Balqis. Sepertinya dia khawatir kalau-kalau Balqis akan merasa tersinggung setelah mengetahui bahwa hubungan mereka selama ini belum di ketahui oleh pihak orang tua Cevin.
"Tidak apa-apa."
Ucap Balqis.
"Kau marah padaku, Qis...?" kembali Cevin bertanya, ingin kepastian dari kekasihnya. Matanya masih memandang lekat ke wajah Balqis. Wajah cantik jelita, namun kini menggambarkan kemurungan atas perubahan yang terjadi pada tubuhnya.
Balqis menggelengkan kepala. Matanya masih memandang lekat ke wajah kekasihnya. Kemudian dia nampak menghela napas dalam-dalam, seakan dia berusaha memahami kesulitan yang dialami oleh Cevin dalam menghadapi keluarganya.
"Baiklah, aku akan sabar menunggu kepastian darimu, Vin... Kuharap kau dan kedua orang tuamu akan secepatnya datang ke rumahku untuk melamarku," harap Balqis.
"Terimakasih atas pengertianmu, Qis. Aku berjanji akan secepatnya mengajakmu ke rumahku untuk kuperkenalkan pada kedua orang tuaku. Atau aku akan meminta kedua orang tuaku untuk datang ke rumahmu dan melamarmu," kata Cevin berjanji dengan tangan masih menggenggam erat tangan kekasihnya. Berusaha meyakinkan kekasihnya akan kesungguhan niatnya mempertemukan Balqis dengan kedua orang tuanya. Sehingga masalah yang sedang dihadapi Balqis, akan secepatnya selesai.
Pesanan yang mereka pesan akhirnya datang. Pelayan segera meletakkannya di atas meja, dimana mereka duduk saling berhadapan dengan kebisuan. Ada sesuatu yang menyelimuti perasaan mereka saat itu. Entah apa yang sedang mereka pikirkan. Hanya mereka berdua yang mengetahui. Namun tentunya apa yang mereka pikirkan, masih ada hubungannya dengan masalah yang tengah mereka hadapi. Masalah kehamilan Balqis akibat hubungan cinta yang selama ini mereka bina.
"Qis..." Cevin menegur.
Balqis memandang ke wajah kekasihnya. Wajahnya nampak agak murung. Bagaimana juga, perasaannya seketika berkecamuk tidak karuan setelah mendengar keterangan Cevin, kalau selama ini kedua orang tua Cevin belum mengetahui hubungan mereka.
"Maafkan aku..."
Ucap Cevin.
"Tidak apa," desah Balqis lirih. "Aku mengerti kesulitanmu, Vin. Namun aku berharap kau dapat menyelesaikan masalah kita secepatnya. Karena aku tidak ingin orang mengetahui kalau aku hamil diluar nikah, Vin..."
Lanjut Balqis menjelaskan ke khawatirannya.
"Aku tahu, Qis. Aku berjanji akan secepatnya menyelesaikan masalah kita," jawab Cevin disertai helaan napas dalam-dalam. "Kita akan segera menikah..."
Lanjutnya.
"Bagaimana kalau kedua orang tuamu tidak setuju?" tanya Balqis ingin mengetahui bagaimana keputusan kekasihnya kalau sampai kedua orang tuanya tidak menyetujui hubungan dan juga rencana mereka untuk menikah.
"Aku akan tetap menikahimu."
Jawab Cevin.
"Meski kedua orang tuamu tidak merestui?"
Tanya Balqis.
"Ya." Jawab Cevin singkat.
Balqis kembali terdiam dengan pikirannya. Entah mengapa, dia merasa ada sesuatu yang masih mengganjal dibenaknya. Perasaannya lebih khawatir kalau-kalau kedua orang tua Cevin tidak setuju dengan rencana mereka, ketimbang berhasilnya. Dari pernyataan Cevin yang mengatakan kalau sampai sekarang kedua orang tuanya tidak mengetahui hubungan mereka saja, sudah nampak bahwa ada sesuatu yang menjadi perintang cinta mereka. Dan tentunya masih berhubungan dengan cinta mereka berdua.
"Sudahlah... untuk sementara sebaiknya kita lupakanlah dulu masalah kita ini. Sebaiknya kita makan dulu. Percayalah, aku akan berusaha memberi pengertian pada kedua orang tuaku. Sehingga mereka mau mengerti dan merestui pernikahan kita," kata Cevin terus berusaha menenangkan hati kekasihnya, sambil memandang ke wajah Balqis. "Ayo kita makan dulu," ajaknya kemudian, yang dengan segera dituruti oleh Balqis.
Keduanya pun makan bersama. Untuk beberapa saat keduanya hanya diam membisu, tak ada yang berusaha untuk bicara. Balqis hanyut dengan pikirannya. Hatinya masih dilanda kecemasan. Khawatir kalau-kalau kedua orang tuanya Cevin tidak menyetujui hubungan mereka.
Apa jadinya?
Bagaimana dengan bayi yang dikandungnya?
Haruskah dia menggugurkannya?
Tidak...! Itu tidak mungkin. Disamping biaya abortus sangat mahal dan jarang ada dokter yang mau melakukannya, juga tindakkan abortus sangat tidak baik. Disamping dilarang oleh agama, juga dilarang oleh negara. Karena tindakkan abortus, merupakan tindakkan kejahatan. Karena secara tidak langsung, abortus juga merupakan sebuah tindakan pembunuhan.
__ADS_1
Keduanya kembali diam, menikmati makanan yang telah dihidangkan. Setelah selesai makan, Cevin mengajak kekasihnya meninggalkan rumah makan. Dia harus mengantar kekasihnya sampai ke rumah, agar mamahnya balqis akan merasa tenang, tidak mencemaskan anak mereka. Disamping itu, Cevin juga tidak ingin Balqis mendapat marah dari mamahnya.
"Ayo kita pulang..."
Ucap Cevin.
Cevin membimbing kekasihnya, keluar meninggalkan rumah makan. Menuju ke mobil Kemudian keduanya naik ke atas mobil yang tidak lama kemudian, melaju meninggalkan halaman parkir rumah makan.
"Vin..."
Sapa Balqis.
"Ya."
Jawab Cevin.
"Jika kita menikah nanti, kita akan tinggal dimana?"
Tanya Balqis.
"Di rumahku..."
Jawab Cevin.
"Kenapa harus di rumahmu?"
Tanya Balqis lagi.
"Ya, kurasa di rumahku lebih baik untuk anak kita,
Qis." Jawab Cevin
"Kalau rumahku?"
Tanya Balqis.
"Aku tidak ingin merepotkan keluarga-mu."
Jelas Cevin.
"Di rumahmu juga merepotkan keluargamu," jawab Balqis. "Aku juga tidak ingin kita senantiasa dibantu. Aku ingin kita bisa hidup sendiri. Karena menurutku, nasi yang kita makan akan lebih enak jika kita usaha sendiri, ketimbang diberi oleh orang lain. Meski itu keluarga kita sendiri, Vin..."
Jelas Balqis.
"Ya, kalau begitu nanti sebaiknya kita ngontrak"
Jawab Cevin.
"Itu lebih bagus."
Balas Balqis.
"Aku harus bekerja."
Ucap Cevin.
"Kalau memang memungkinkan, aku pun akan pekerja."
Balas Balqis pula.
"Lalu bagaimana dengan anak kita?"
Tanya Cevin.
"Aku yang ngurus. Aku akan kerja, setelah anak kita besar. Aku ingin anak kita menjadi anak yang baik dan berhasil menjadi orang. Tidak seperti kita..."
Jelas Balqis.
"Apa kita tidak bisa menjadi orang?" tanya Cevin sambil memandang ke arah kekasihnya yang duduk di sampingnya dengari tatapan lurus ke depan. Pandangan mata Balqis seakan kosong. Sepertinya pikiran Balqis tidak sedang tertuju pada pembicaraan yang tengah berlangsung.
Tapi entah kemana...!!!
"Entahlah... Mungkin kita bisa menjadi orang. Mungkin juga tidak..." jawab Balqis dengan wajah masih hampa, tanpa ada ekspresi sikap sebagaimana kalimat yang tengah diucapkannya, Sepertinya meski dia sedang ngobrol dengan Cevin, namun pikirannya tidak berada, di tempat itu. Pikirannya melayang tidak menentu, entah kemana tujuannya.
"Kenapa kau bicara begitu?" tanya Cevin, "Apa alasanmu mengatakan hal seperti itu...?" tanyanya kemudian sambil kembali memandang ke arah kekasihnya yang masih bersikap diam dan wajahnya menggambarkan kekosongan.
"Ya, jadi tidaknya kita menjadi orang yang berguna, tergantung niat kita..."
Ucap Balqis.
"Aku belum mengerti maksudmu..."
Tanya Cevin meminta penjelasan.
Balqis menarik napas dalam-dalam. Menengok ke arah kekasihnya sebentar, kemudian kembali mengarahkan pandangannya ke jalanan. Disertai *******, napas berat, Balqis pun. kembali berkata menjelaskan maksud ucapannya,
"Maksudku begini... Jika kita memang berniat sungguh-sungguh membina rumah tangga, maka kita akan mempunyai gairah dan semangat untuk membangun kehidupan yang baik. Namun sebaliknya, jika kita tidak bersungguh-sungguh membinanya, atau setengah-setengah. Maka kita pun tak akan bisa menjadi orang yang berhasil. Dengan kata lain hidup tidak, mati pun tidak." Paparan Balqis.
"Kau menganggapku tidak sungguh-sungguh?"
Tanya Cevin.
"Aku tidak bicara begitu," tukas Balqis.
Keduanya kembali diam. Mobil tenis melaju, membawa keduanya semakin jauh meninggalkan rumah makan dimana tadi mereka makan. Keduanya masih sama-sama diam dengan pikiran masing-masing. Hanya sesekali keduanya nampak menghela napas dalam-dalam, seakan berusaha menenangkan perasaan di hati masing-masing.
Malam terus beranjak.Sepertinya turut membuat kedua insan itu hanyut dalam lamunan mereka. Kadang Cevin prihatin dan kasihan pada Balqis, setiap kali ingat kalau kekasihnya kini harus menghadapi banyak masalah. Sejak kecil, Balqis ikut dengan mamahnya dan hidup penuh penderitaan. Itu sebabnya, dia berusaha untuk bersungguh-sungguh mencintai Balqis dan ingin menjadikan Balqis sebagai istrinya.
Mobil berhenti di depan rumah keluarga Balqis.
Cevin dan Balqis segera turun. Pemuda itu ikut menuju ke teras rumah kecil itu. Bahkan ketika pintu rumah dibuka oleh seorang wanita berusia sekitar lima puluh tahunan.
__ADS_1
Wanita setengah baya yang tidak lain mamahnya Balqis, Cindy... mempersilakan Cevin masuk, pemuda itu pun menurut
masuk.